
Yati tidak tahu, apa yang terjadi antara ibunya, dengan Mr Andre, sehingga apapun yang diingat oleh ibunya itu, hanya nama Andre saja.
"Aku harus bertanya langsung pada Mr Andre, apa yang sebenarnya terjadi waktu dulu. Kenapa ibu begitu mengingat namanya dengan benar. Bahkan, nama ayah, laki-laki yang sudah berselingkuh dengan ibu, hingga memiliki anak, tidak dia ingat. Ada apa dengan mereka berdua?"
Berbagai macam pertanyaan, hadir dalam pemikiran Yati. Ini karena dia tidak pernah mendengar ibunya menyebut nama Tama, nama asli ayahnya Yati.
Ibunya Yati, justru menyebut-nyebut nama Andre. Laki-laki lain, yang tidak ada hubungannya dengan ibunya itu.
"Pasti depresi yang dialami oleh ibu, bukan hanya karena kakeknya Mr Ginting saja. Tapi ada kaitannya dengan Mr Andre juga. Besok, kebetulan dia akan ke sini. Aku harus memastikan bahwa dia benar-benar datang. Aku akan bertanya pada dia, apa yang sebenarnya terjadi pada ibuku."
Dengan bertekad untuk mencari kebenaran tentang ibunya, Yati akan mengenyampingkan perasaannya pada Mr Andre. Dia hanya ingin fokus untuk mengungkap kebenaran tentang ibunya, dengan Mr Andre.
Sebenarnya, Yati tidak mau meninggalkan ibunya sendiri meskipun hari sudah mulai malam. Dia ingin bersama dengan ibunya itu, dan menjaganya sendiri.
Sayangnya, pihak rumah sakit tidak memberikan ijin pada Yati.
Pihak keluarga pasien, harus meninggalkan tempat, rumah sakit, jika waktunya sudah malam. Dan itu tidak ada pengecualian. Termasuk dengan Yati, yang ibunya dalam perawatan intensif.
Tapi karena patuh pada aturan yang berlaku di rumah sakit ini, Yati akhirnya pulang ke kamar penginapan. Dia menyerahkan penjagaan ibunya, pada pihak rumah sakit. Dia percaya bahwa, pihak rumah sakit, akan menjaga ibunya itu, dengan sebaik-baiknya.
Namun saat Yati hampir sampai di pintu keluar, ibunya sadar.
"Anakku. Anakku. Mana anakku?"
Yati segera kembali ke tempat tidur ibunya. Dia mengengam tangan ibunya, yang bergerak-gerak dengan cepat, mencari-cari keberadaan dirinya.
"Aku di sini Bu. Aku ada di dekat Ibu."
Ibunya Yati, membuka matanya perlahan-lahan, untuk melihat siapa yang ada di sampingnya itu.
"Anakku? Bukan. Kamu bukan anakku," kata ibu tersebut, dengan suara pelan.
"Aku Yati Bu. Aku anak Ibu. Apakah Ibu ingat? Dulu, ibu sangat menyayangi Aku. Tidak ada yang memisahkan kita Bu."
Ibu Yati terbelalak, mendengar kata 'memisahkan.'
"Tidak. Tidak, jangan!"
Yati mulai waspada, terhadap sikap ibunya sekarang ini. Jika dalam keadaan seperti ini, busa jadi, ibunya akan mengamuk lagi.
Tapi ternyata dugaan Yati salah.
Ibunya terdiam, dan memandang ke arah wajahnya.
Tangan ibunya menggapai wajah Yati. Sepertinya, dia ingin memegang pipi anaknya itu.
__ADS_1
Yati mendekatkan pipinya, agar ibunya itu bisa lebih mudah untuk memegang pipinya.
"Anakku?"
Mendengar pertanyaan dari ibunya itu, Yati mengangguk-anggukkan kepalanya tanpa berpikir panjang.
"Iya Bu. Aku anakmu."
Ibu Yati tampak tersenyum, dengan memegangi pipi anaknya.
"Hati-hati. Andre bisa membuatmu celaka."
Setelah berkata demikian, ibunya Yati, kembali menangis. Yati semakin curiga dan juga bingung. Apalagi saat ibunya memberikan pesan kepadanya, supaya berhati-hati dengan Andre.
Itu artinya, dia harus bisa menjaga jarak dan berhati-hati, dengan Mr Andre.
"Maksud ibu, ada apa dengan Mr Andre itu?"
Dengan penasaran yang ada di dalam hatinya, Yati memberanikan diri untuk bertanya pada ibunya, tentang Mr Andre.
Tapi ternyata, jawaban yang diberikan oleh ibunya, membuat Yati tidak pernah percaya.
Yati merasa yakin, jika semua ini hanya karena ibunya sedang tidak baik-baik saja. Karena secara mental, ibunya memang terganggu. Dan ini, bukanlah keegoisan semata, yang ada pada dirinya terhadap Mr Andre.
*****
Pagi ini, Yati begitu bersemangat, untuk berangkat ke rumah sakit.
Selain untuk bertemu dan menjaga ibunya, Yati juga akan bertemu dengan laki-laki, yang dia cintai. Tapi juga memberikan banyak pertanyaan dalam lingkaran misteri kehidupannya yang berliku-liku.
Setelah selesai membersihkan tempat tidur dan kamar, Yati bergegas menuju ke kamar mandi.
Sarapan sudah tersedia, karena dia selalu memesan makanan di penginapan ini, untuk sarapan pagi. Jika siang dan malam hari, dia akan membelinya di luar, karena posisinya juga ada di luar penginapan.
Tak lama kemudian, Yati mengisi perutnya, agar dia tetao ada tenaga dan staminanya juga terjaga dengan baik.
Yati tidak mau mengabaikan kesehatannya sendiri, karena dia tidak ingin mengalami sakit, di saat waktunya harus dia habiskan di rumah sakit.
Setelah semua selesai, Yati keluar dari dalam kamar penginapan. Dan seperti biasanya, Yati berjalan kaki menuju ke arah rumah sakit.
Dari kabar yang dia terima kemarin, Mr Andre akan datang ke rumah sakit lada siang hari. Karena ada beberapa urusan pekerjaan dinasnya, yang harus dia selesaikan terlebih dahulu.
Saat berpapasan dengan beberapa perawat dan pegawai rumah sakit, Yati tersenyum seperti biasanya. Kesedihan yang ada pada hatinya, terlihat tidak ada lagi.
Padahal sebenarnya itu hanya alasan, supaya orang lain tidak ikut merasakan kesedihan juga.
__ADS_1
Tok tok tok!
Clek!
"Bu," sapa Yati, begitu membuka pintu kamar ibunya.
Ibunya Yati, ternyata sedang duduk sambil memakan potongan buah-buahan, yang disediakan oleh perawat untuknya.
Yati tersenyum melihat semua itu. Ada kemajuan yang sangat baik pada ibunya, dari apa yang dia lihat sekarang ini. Tentu saja, ada harapan juga untuk bisa membawa pulang ibunya, jika kondisinya bisa terus stabil seperti sekarang ini.
Ibunya menyambut kedatangan Yati, dengan merentangkan kedua tangannya. Dia ingin memeluk Yati.
Tentu saja, dengan senang hati Yati menyambut keinginan ibunya itu.
Sekarang, mereka berdua saling berpelukan, dan sama-sama meneteskan air mata haru, karena baru sekarang ini, dengan kesadaran penuh, mereka berdua bisa berpelukan.
"Ibu..."
"Anakku."
Setelah beberapa lama kemudian, mereka berdua saling melepaskan pelukan. Mereka berdua sama-sama menangis, karena merasa bersalah satu sama lain.
"Maafkan Ibu Nak."
"Tidak. Ini bukan salah Ibu."
Yati mengeleng beberapa kali, saat mendengar perkataan dari ibunya itu, yang meminta maaf, karena merasa bersalah atas semua yang sudah terjadi selama ini.
"Apa... Ibu ingat, si_siapa nama ayahku?"
Yati bertanya dengan hati-hati. Dia merasa takut jika, ibunya akan mengalami depresiasi lagi, jika diingatkan pada masa lalunya, yang membuatnya seperti sekarang ini.
"Ayah. Ayah Kamu?"
Yati mengangguk mengiyakan. Dia ingin sekali mengetahui tentang ayahnya. Apakah benar, jika ayahnya itu bernama Tama, sama seperti yang pernah di sebutkan oleh Mr Andre padanya.
"Dia... dia pergi. Dia pergi, dan itu karena Andre."
Yati kembali bertanya-tanya. Kenapa ibunya selalu menyebut nama Andre, di saat menyinggung masa lalunya.
"Maksud ibu, ayah pergi jauh?" tanya Yati lagi, untuk memastikan kebenaran yang dia ketahui dari Mr Andre.
"Tidak. Dia... dia... pergi. Andre... dia pergi!"
Yati memegang tangan ibunya dengan erat. Dia merasa jika, ibunya sudah tidak bisa lagi diajaknya bicara tentang ayahnya, ataupun masa lalunya.
__ADS_1
Untungnya, ibunya itu tidak sampai mengamuk. Dia hanya terus menerus menggelengkan kepalanya. Tanpa bisa di ajak bicara lagi.
Dan Yati, tidak mungkin bisa memaksakan dirinya, untuk terus bertanya-tanya, apa yang terjadi deng Mr Andre dan juga ayah kandungnya.