
"Apa mau anda Tuan?"
Yati segera menghindar, saat tangan tuan Wasito ingin mencekal lengannya.
"Jawab! Siapa Kamu?"
Tuan Wasito memaksa Yati, untuk menjawab pertanyaan darinya, yang ingin tahu, siapa sebenarnya Yati.
"Apa itu penting?"
Dengan kesal, tuan Wasito mengepalkan tangannya. Mungkin jika Yati adalah seorang laki-laki, yang sama dengannya, Tuan Wasito sudah memberikan bogem mentah untuknya.
Tuan Wasito tidak mungkin memukul seorang wanita, karena itu akan membuat martabatnya sebagai seorang Tuan Besar di daerah ini akan direndahkan.
Ternyata, di kota kecil ini, tuan Wasito terkenal sebagai seorang pengusaha sukses, di bidangnya. Yaitu toko-tokonya, yang tidak hanya ada di depan hotel ini, tapi tersebar di berbagai tempat di kota kecil ini.
"Apa yang Kamu inginkan?" tanya tuan Wasito lagi.
Sebenarnya, Yati sudah enggan untuk bicara lagi. Dia juga bermaksud untuk segera pergi, dan tidak mencampuri ataupun penasaran lagi, dengan ayah kandungnya itu.
Ada rasa kecewa yang begitu besar, yang Yati sesali, karena harus menemukan ayah kandungnya yang seperti sekarang ini.
Kemarin-kemarin, Yati berpikir bahwa, ayahnya hidup di daerah kota kecil, atau pedesaan dalam kesederhanaan.
Hidup membaktikan diri pada masyarakat, karena keterampilan yang dia miliki, pada saat ikut bersama dengan sang Kakek, yang dulunya adalah Tuan Besar-nya.
Tapi ternyata ayahnya itu, tuan Wasito, mempraktekkan apa yang dia pelajari dan pahami, selama ikut bekerja dengan sang Kakek di waktu mudanya dulu. Yaitu mengekspos para gadis-gadis cantik, untuk dijadikan sebagai penghibur di hotelnya ini, atau di pesan melalui online, oleh pelanggannya yang berasal dari berbagai macam kalangan.
Kepiawaian tuan Wasito memberdayakan potensi gadis-gadis muda itu, sama seperti bisnis gelapnya sang Kakek, yang membawa gadis-gadis cantik ke luar negeri.
Tuan Wasito menerapkan ilmu yang dia dapatkan dari Tuan Besar-nya dulu, di kehidupannya yang sekarang ini.
Dan karena dia adalah mantan pengawal pribadi seorang jenderal, tentu saja, postur tubuhnya masih terlihat bagus hingga di usianya yang tidak lagi bisa di sebut muda.
Apalagi bisnisnya ini terus berkembang, dan dia juga tidak memiliki keluarga sebagai orang-orang normal lainnya.
Tuan Wasito tidak menikah, dan hanya bermain-main saja dengan para gadis-gadis, yang ikut dengannya sebagai pelayan toko-toko miliknya, yang tersebar di berbagai tempat.
Jika siang hari, gadis-gadis itu akan melayani pembeli, dan menjadi penghibur pada malam harinya.
Yati sangat miris, membayangkan bagaimana keadaan ayahnya yang sekarang. 'Pantas saja, kehidupanku juga tidak jauh-jauh dari kehidupan yang dilakukan oleh ayah. Ternyata, semua ada hubungannya, meskipun Aku tidak melayani berbagai macam jenis laki-laki yang berbeda-beda setiap malam.'
Dalam hati, Yati sungguh tidak menyangka, jika seperti itulah kehidupan sang ayah, yang hampir sama dengan dirinya sendiri.
__ADS_1
'Bearti, Mr Andre tahu bagaimana kelakuan ayah yang sebenarnya. Dan dia tidak mau, jika wanita-nya sang Kakek, ibuku sendiri, akan lebih kecewa, jika tahu, kebenaran tentang laki-laki selingkuhannya itu. Atau bisa juga, hidup ibu akan lebih sengsara lagi, jika saat itu harus hidup bersama dengan ayah.'
Yati kembali berkata dalam hatinya. Dia tidak tahu, jika tuan Wasito, sudah merencanakan sesuatu untuk mencegahnya pergi dari hotelnya ini.
"Maaf Tuan. Saya harus kembali pulang ke rumah."
Yati berusaha untuk pamit secara baik-baik. Dia sudah tidak berkeinginan untuk mengatakan semua kebenaran tentang hubungan dirinya, dengan tuan Wasito itu.
Tuan Wasito tidak bisa mencegahnya lagi. Tapi ada sebuah senyuman yang tampak misterius di wajah Tuan Wasito, sehingga Yati harus lebih waspada.
Dan itu disadari oleh Yati, saat dia sampai di dekat mobilnya berada.
Ban depan dan belakang mobil Yati, kempes.
"Wowww... sempurna!"
Ucapan Yati terdengar luar biasa di telinga siapa saja, yang mendengarnya. Termasuk tuan Wasito sendiri.
Dia bahkan merasa heran, karena tidak ada caci maki yang keluar dari mulut gadis yang tadi berdebat dengannya. Apalagi, ban kempes mobil itu, memang direncanakan oleh tuan Wasito sendiri, untuk menyabotase gadis tersebut, agar tetap berada di hotelnya.
"Kenapa harus ban mobil yang menjadi korbannya?" tanya Yati, tanpa menoleh ke arah tuan Wasito.
Tapi, tentu saja tuan Wasito paham dengan maksud pertanyaan Yati. Karena pertanyaan tersebut, ditujukan untuk dirinya.
Karena mendengar jawaban yang merupakan sebuah pertanyaan juga, dan itu terkesan lebih sebagai sebuah tantangan untuk Yati, akhirnya dia berjalan mendekat lagi, ke tempat tuan Wasito berdiri.
Dengan langkah pasti nan elegan, Yati melihat dengan tatapan mata yang tajam, meskipun dia tahu, tuan Wasito tidak akan tahu, karena kacamata besar dengan lensa hitamnya, masih bertengger manis di wajahnya.
"Anda menantang Saya Tuan?" tanya Yati, dengan aksen menggoda.
Sebuah senyum mekenangan, tampak menghiasi wajahnya tuan Wasito. Kepercayaan dirinya yang tinggi, untuk bisa menaklukkan wanita, kembali naik, karena wanita yang tadi menantangnya dan mendebatnya, kini datang ke hadapannya.
"Apa kita masih perlu berbasa-basi lagi?" tanya tuan Wasito, yang tampak berbeda, dengan tatapan matanya.
Ada sesuatu yang ingin dia lampiaskan, saat melihat keberadaan Yati, yang saat ini sudah ads di depan matanya.
Yati tertawa dalam hati. 'Aku akan melakukannya dengan ayahku sendiri? Ini gila, dan Aku masih waras!' kata Yati tanpa bisa di dengar oleh tuan Wasito.
"Mari," ajak tuan Wasito, dengan memposisikan tangannya, agar bisa di gandeng oleh Yati.
Tapi Yati menepis tangan tersebut. Dia berjalan menuju ke arah loby hotel, yang saat ini terlihat sepi.
"Kamu yakin, akan melakukan di sini, bukan di kamar?" tanya tuan Wasito, yang masih percaya diri bahwa, Yati kembali karena terpesona dengan apa yang dia miliki.
__ADS_1
"Aku tidak perlu basa-basi lagi."
Dan jawaban yang diberikan oleh Yati, membuat tuan Wasito terbelalak mendengarnya.
Dia tidak menyangka, kalau akan mendapat ikan besar, dengan jenis langka.
Pasti ini akan memberikan pengalaman baru, untuk permainan selama ini.
"Benar mau di sini?" tanya tuan Wasito sekali lagi, pada Yati. Meskipun sebenarnya, pertanyaan itu, untuk menyakinkan dirinya sendiri.
"Yakin," jawab Yati, dengan senyumannya yang manis dan memikat hati.
Tuan Wasito tidak tahu, kejutan apa yang akan dia terima dari gadis cantik ini.
Perasaannya yang sudah tidak bisa dia tahan, membuatnya lupa, jika tadi dia ingin menyelidiki siapa sebenarnya gadis yang tampak menantang dan tidak takut apa-apa.
Sayangnya, saat dia duduk di sofa yang ada di loby hotel, dan Yati masih berdiri di tempatnya, handphone miliknya berdentang.
Tang Ting Tung!
Tang Ting Tung!
"Ahhh, sial!"
Tuan Wasito mengumpat sambil memeriksa handphonenya.
Yati ingin tertawa, saat melihat bagaimana rasa kesal yang tampak jelas di wajah tuan Wasito.
Tapi, tentu saja Yati tidak ingin menyingung perasaan ayahnya itu. ( Tuan Wasito adalah ayahnya Yati, yang bernama asli Tama )
Dan di saat tuan Wasito ingin menerima panggilan telpon tersebut, dia tampak kaget, saat melihat Yati menunjukkan Bros Bunga, yang baru saja diambil dari dalam tasnya.
Deg!
"Ka_kamu si_siapa sebenarnya?"
Dengan gagap, tuan Wasito bertanya dengan wajahnya yang tampak pias.
"Perhatian dengan baik."
Hanya itu jawaban yang diberikan oleh Yati.
Dan itu sudah membuat tuan Wasito semakin pucat pasi, karena tidak menyangka bahwa, kehidupannya yang dulu, dan sudah dia kubur dalam-dalam, kini muncul tanpa dia duga sebelumnya.
__ADS_1