
Setelah berpikir berulang-ulang, akhirnya Yati memutuskan untuk pulang ke kampung halaman terlebih dahulu. Dia ingin memberikan penghormatan yang terakhir kalinya, untuk kang Yoga, yang selama ini sudah banyak membantu mbok Minah di kampung, selama dia ada di kota.
Yati mengirimkan pesan kepada sang Kakek terlebih dahulu, sebelum berangkat ke kampungnya.
Kiara; 'Kek, Kiara ke kampung terlebih dahulu. Ada kerabat Kiara yang meninggal dunia. Jadi, kita ke Singapura beberapa hari kemudian saja. Atau jika Kakek tidak keberatan, jemput ibu Kiara, dan nanti, Kiara akan jemput ibu, di mana Kakek menempatkan ibu, sepulangnya dari Singapura.'
Send.
Yati bersiap untuk berangkat ke kampung. Dia harus segera berangkat, karena tidak ada banyak waktu untuk tetap berada di kamar kost miliknya, tanpa melakukan apa-apa.
Pesan yang tadi Yati kirim untuk sang Kakek, baru dibalas oleh sang Kakek, saat dia ada di tengah perjalanan pulang.
Sambil beristirahat sejenak di rest area,
Yati membuka pesan balasan dari sang Kakek.
Kakek; 'Lebih baik ke Singapura untuk menjemput ibumu, menunggu hingga Kamu kembali ke kota. Kakek tidak akan memintamu untuk segera kembali. Ibumu juga aman di sana. Kamu tenang saja.'
Yati menghela nafas panjang, saat membaca pesan balasan tersebut. Dia merasa lebih lega, karena bisa ada di kampung dengan tidak terburu-buru.
masih ada waktu juga, sebelum dirinya bertemu dengan Mr Akihiko, untuk menyelesaikan permasalahan pernikahannya dengan Mr Ginting.
Setelah dirasa cukup beristirahat, bahan bakar mobil juga sudah diisi penuh, Yati melanjutkan perjalanan lagi dengan tenang.
Hampir tengah malam, Yati sampai di rumah, yang ada di kampung. Suasana sama seperti biasanya, sepi dan gelap, meskipun ada banyak bohlam lampu, yang sekarang terpasang di jalan-jalan perkampungan. Bahkan, lampu juga sudah banyak terpasang di tiap-tiap gang dan teras depan rumah orang-orang kampung.
Tapi, karena Yati terbiasa di kota, yang terang benderang dengan kekuatan lampu pada malam hari, tetap saja merasa jika, kampungnya ini gelap.
Tok tok tok!
Tok tok tok!
Yati mengetuk pintu rumah. Tak lama kemudian, pintu dibuka dari dalam, kemudian muncul mbok Minah.
"Oalah Nduk-Nduk, Alhamdulillah. Akhirnya sampai juga di rumah," ucap mbok Minah, saat melihat kedatangan cucunya itu.
Yati memeluk mbok Minah, setelah menyalami dan mencium tangannya.
__ADS_1
"Maaf Mbok. Yati jadi tidak bisa ikut menghadiri pemakaman kang Yoga."
Yati meminta maaf pada mbok Minah, karena terlambat datang, dan akhirnya tidak bisa menyaksikan jenazah kang Yoga, saat dikebumikan.
Di kampung, jenazah akan segera dimakamkan, dan tidak menunggu lama. Karena jika terlalu lama, kasihan dengan yang meninggal dunia.
Itu juga ada di dalam ajaran agama, yang dianut oleh masyarakat di kampung Yati.
Menurut kesehatan, jenazah juga harus segera dimakamkan karena, orang yang sudah meninggal dunia, akan mengeluarkan cairan, yang berbau tidak sedap. Dan itu pasti akan menganggu penciuman orang yang masih hidup. Dan jika ada penyakit, yang mungkin bisa menular, bisa jadi, jenazah tersebut, juga akan menyebarkan virus dan bakteri yang bisa menular pada orang lain, yang ada di sekitarnya.
Itulah sebabnya, jika ada orang yang meninggal dunia, sebaiknya segera dimakamkan.
"Iya Nduk. Tidak apa-apa. Besok pagi, kita ke rumah kang Yoga. Ke-dua orang tuanya masih ada kok. Mereka berdua juga berpesan pada simbok, jika Kamu sudah datang, diminta untuk menemui mereka," kata mbok Minah, dengan menyampaikan pesan dari kedua orang tuanya kang Yoga.
"Ada apa Mbok?" tanya Yati, yang merasa heran dengan pesan itu.
"Ndak tau simbok. Katanya, ini pesan wasiat dari kang Yoga sendiri, untuk sampaikan sama Kamu."
Yati mendengarkan jawaban dari mbok Minah dengan mengerutkan keningnya. Dia merasa bingung, dan tidak tahu, apa yang sebenarnya ingin disampaikan oleh kang Yoga padanya.
"Kamu mandi dulu ya, Simbok siapkan air anget untuk mandi."
Sambil menjerang air, mbok Minah juga menyiapkan makanan untuk Yati.
"Dia pasti lapar. Meskipun tadi makan waktu berada dalam perjalanan, tapi sampai di rumah, pastinya sudah merasa lapar lagi."
Begitulah kira-kira pemikiran mbok Minah, sehingga dia pun akhirnya sibuk dengan pekerjaannya memasak.
"Mbok, sedang apa?" tanya Yati, yang sudah bersiap untuk pergi mandi. Dia melihat simbok_nya, yang sedang sibuk dengan mengiris-iris bahan makanan.
"Eh, arep ados? Iki banyune wes panas," kata Mbok Minah, tanpa menjawab pertanyaan dari Yati.
"Wes ben Yati Dewe Mbok. Yati bisa kok," ujar Yati, meminta pada Mbok Minah, supaya membiarkan dirinya sendiri, yang menyiapkan air panas itu, untuk mandinya.
Setelah selesai menyiapkan air, Yati pergi ke kamar mandi, untuk segera membersihkan dirinya, karena baru saja pulang dari perjalanan jauh. Sedangkan mbok Minah, melanjutkan acaranya, untuk memasak makanan, supaya Yati bisa menikmati makanan tersebut, setelah selesai mandi.
Dan begitulah akhirnya, setelah Yati selesai mandi, dia dipaksa oleh mbok Minah, untuk makan terlebih dahulu, sebelum beristirahat dan tidur.
__ADS_1
Yati pun tidak bisa menolak permintaan dari mbok Minah. Dia tidak mau mengecewakan mbok Minah, yang sudah berusaha untuk menyiapkan semuanya ini untuknya.
Akhirnya, Yati menikmati makanan yang sudah disiapkan untuknya. Meskipun tidak terasa lapar, ternyata, Yati makan dengan porsi yang cukup banyak.
Mungkin suasana di rumahnya, yang ada di kampung ini, dan adanya mbok Minah yang memasak makanan dengan ikhlas dalam kasih sayangnya, membuat Yati menjadi lahap menyantap makanan tersebut. Sehingga membuat mbok Minah tersenyum senang, melihatnya makan dengan lahapnya.
Mereka berbincang-bincang, setelah Yati menyelesaikan makan malamnya yang terasa nikmat.
"Mbok. Yati sudah ketemu dengan ibu kandung Yati."
Mbok Minah terkejut, mendengar perkataan dari Yati. Sekarang, dia berpikir bahwa, Yati tidak akan kembali ke rumahnya ini, setelah bertemu dengan ibunya. Bisa jadi, Yati akan tinggal bersama mereka nanti.
"Tapi dia tidak dalam keadaan baik-baik saja Mbok. Ibu Yati depresi. Dia tidak normal. Tapi Yati ingin bisa merawatnya sendiri, di rumah ini. Apa boleh Mbok?" kata Yati lagi, melanjutkan kalimatnya yang tadi.
Mbok Minah masih diam. Dia menuggu Yati, untuk melanjutkan ceritanya tentang ibu kandungnya, yang sekarang ini sudah diketahui keberadaannya.
Akhirnya, Yati menceritakan tentang keadaan ibu kandungnya, seperti yang dia ketahui, dari sang Kakek ataupun dari Mr Andre.
Yati juga memberitahukan kepada mbok Minah, jika Bros Bunga itu adalah salah satu penyebab ibunya mengalami depresiasi.
Semua itu karena tekanan yang diberikan oleh sang Kakek, karena telah menghilangkan Bros Bunga, yang ada mikro chip nya.
Meskipun Mbok Minah tidak mengerti, apa yang dimaksud oleh Yati dengan semua rahasia yang ada di dalam Bros Bunga tersebut, tapi mbok Minah merasa sangat yakin, jika itu bukan sesuatu yang sederhana.
"Terus, saiki neng dhi ibumu Nduk?" mbok Minah bertanya kepada Yati, dengan keberadaan ibunya sekarang ini.
"Sekarang, dia ada di rumah sakit jiwa, di negara Singapura sana. Seharusnya, dua hari lagi Yati menjemputnya, tapi karena kang Yoga meninggal dunia, akhirnya Yati ke sana seminggu lagi."
"Apa boleh Yati membawa ibu ke sini?" tanya Yati, melanjutkan kalimatnya sendiri.
"Iya, gowo wae mrene Nduk. Sopo reti, ibumu iku iso waras mengko," sahut mbok Minah, yang merasa bersimpati pada ibunya Yati, saat mendengar cerita tentang ibunya Yati.
"Suwun ngeh Mbok. Yati juga akan tinggal di kampung, dan tidak kembali ke kota. Yati ingin merawat ibu, dan menemani Simbok di rumah ini."
Sekarang, mereka berdua, Yati dan mbok Minah, saling berpelukan. Mereka berdua, mengungkapkan rasa peduli terhadap satu sama lain, meskipun tidak harus selalu dengan kata-kata.
Setelah itu, Yati juga mengatakan jika, dia ingin mencari keberadaan ayahnya, yang saat ini belum diketahui keberadaannya.
__ADS_1
Mbok Minah hanya mengangguk saja. Dia hanya bisa berdoa, agar Yati bisa segera menemukan keberadaan ayahnya juga. Agar hidupnya tidak lagi dipenuhi oleh berbagai pertanyaan, yang tidak bisa dia jawab sedari dulu.