Miss Yeti Bukan PSK Biasa

Miss Yeti Bukan PSK Biasa
Pesta Belum Berakhir


__ADS_3

Yati semakin berkeringat. Badannya juga terasa dingin. Dia tidak mau jika sampai bertemu dengan Mr Andre. Semua bisa menjadi kacau, jika dia harus bertemu dengan Mr Andre di pesta pernikahan mereka ini.


"A_aku merasa sangat pusing," kata Yati dengan suara yang bergetar.


Mr Ginting, yang merasakan jika tubuh istrinya memang berbeda dari biasanya, segera mengajaknya pergi ke kamar peristirahatan di gedung tersebut.


Dia tidak ingin terjadi sesuatu pada istrinya, jika hanya untuk bertemu dengan tamu yang menurutnya tidak penting itu. Apalagi, dia sendiri juga tidak terlalu dekat dan mengenal tamu kakeknya tadi.


"Kita beristirahat sebentar di kamar," ajak Mr Ginting, dengan membantu istrinya itu untuk berjalan, supaya bisa segera sampai di dalam kamar.


"Lho Ginting, Kiara. Mau kemana kalian?" teriak sang kakek bertanya, yang bertanya pada Mr Ginting dan juga Yati.


Sang kakek yang melihat kepergian kedua cucunya itu, hanya bisa melihatnya dengan mata memicing. Apalagi panggilannya tidak digubris oleh Mr Ginting. Jadi, akhirnya sang kakek berpikir jika ada sesuatu yang terjadi pada istri cucunya itu.


"Kenapa itu Kiara?" tanya sang kakek pada cucunya yang lain, Surya Jaya.


"Tidak tahu Kek. Mungkin kelelahan jadi pusing. Atau bisa jadi, mereka berdua sudah bosan di atas panggung pelaminan dengan terus tersenyum tanpa bisa melakukan apa-apa yang enak. Hehehe..." jawab Surya Jaya, dengan terkekeh. Dia juga menaikkan kedua bahunya, tanda jika dia tidak tahu apa-apa.


Sang kakek menghela nafas panjang, kemudian beralih kepada kedua tamunya yang baru saja datang.


"Maaf ya. Sepertinya istrinya Ginting merasa pusing. Maklum, sedari tadi di atas panggung menyambut para tamu. Apalagi ini juga sudah sore," kata sang kakek, meminta maaf pada tamunya, karena tamunya itu jadi tidak bisa memberikan selamat pada kedua mempelai secara langsung.


"Iya tidak apa-apa Paman. Justru kami yang meminta maaf, karena terlambat datang."


"Ya, maafkan kami Paman," kata Mr Andre, yang jadi tidak enak hati, karena keterlambatannya.


"Hahaha... tidak apa-apa. Justru Paman yang berterima kasih, karena kalian masih menyempatkan diri untuk datang. Maaf ya, Paman jadi merepotkan kalian, dan suami Kamu ini harus pulang ke Indonesia, hanya untuk bisa memenuhi undangan Paman."


Sang kakek juga ikut merasa tidak enak hati, karena beberapa hal yang tidak dia ketahui.


"Ayo-ayo, kalian makan dulu!" Kakek menyarankan kepada tamunya itu untuk makan terlebih dahulu, sebelum pulang.

__ADS_1


Sang kakek mengajak tamunya itu menuju ke tempat prasmanan, yang masih ada banyak hidangan. Dia juga menyapa beberapa tamu yang masih ada di pesta dan sedang menikmati makanan dengan hiburan yang ada. Pesta yang meriah dan berjalan dengan lancar.


*****


Di dalam kamar peristirahatan gedung, Yati dibantu oleh Mr Ginting, membuka gaun pengantin yang terasa berat saat dipakai.


Apalagi dia juga memakai beberapa aksesoris yang terbuat dirinya memang benar-benar terlihat sebagai seorang pengantin, yang membuat banyak wanita merasa iri dengan keberuntungan seorang Yati, yang mereka kenal dengan nama Reina Akiara.


Meskipun Yati juga merasa sangat senang dengan pesta tadi, tapi semua yang kenakan itu membuatnya terasa sangat sesak dan tersiksa. Ini karena dia yang tidak bisa bergerak dengan leluasa, karena tubuhnya yang berbalut gaun pengantin yang sangat mahal tentunya, tapi juga sangat berat.


Membahagiakan tapi juga menyiksa bagi seorang Yati yang terbiasa dengan gaun-gaun yang bermodel simple.


"Susah juga membukanya," kata Mr Ginting berkomentar tentang gaun pengantin yang dikenakan oleh Yati. Dia ikut menarik resleting gaun tersebut, yang menurutnya juga sangat panjang.


Yati hanya meringis dengan membelakangi suaminya itu.


Tadi, sebenarnya Yati sudah meminta pada Mr Ginting, untuk memangil tukang riasnya, MUA, yang memang bertugas mendandani dirinya. Tapi Mr Ginting menolak, dan mengatakan jika dia juga bisa membantu Yati, jika hanya untuk membuka gaun pengantin saja.


Tapi ternyata itu tidak sama seperti yang dia pikirkan. Membuka gaun pengantin itu, sama seperti waktu membuka sebuah brangkas yang tidak diketahui no rahasia untuk membuka pintu brangkas tersebut.


Yati memberitahu pada suaminya itu, dengan mempraktekkan apa yang seharusnya dilakukan oleh Mr Ginting, dengan cara memegang resleting celana Mr Ginting.


Tentu saja, ini membuat Mr Ginting jadi terdiam dan memandang ke arah bawah, di mana tangan Yati saat ini berada.


Ibarat kata, Yati seperti sedang membangunkan sesuatu yang ada di area tersebut, yang membuat Mr Ginting harus menahan nafas tanpa disadari oleh istrinya, Yati.


Disaat Mr Ginting masih terdiam dan tidak bergerak, Yati bertanya, "Kayak gitu lho Mr. Paham kan?"


Mr Ginting segera sadar dan mengangguk mengiyakan pertanyaan dari Yati.


Sekarang tangannya terasa gemetar, saat menarik resleting gaun pengantin yang ada di bagian belakang.

__ADS_1


Yati yang membelakangi suaminya itu, tidak tahu, apa yang saat ini terjadi pada Mr Ginting.


Tapi karena Mr Ginting lama dan tidak selesai-selesai menarik resleting gaun yang dia kenakan, akhirnya Yati menolehkan kepalanya, untuk melihat keadaan Mr Ginting.


Yati menghela nafas panjang, saat sadar jika suaminya sedang menahan sesuatu.


Akhirnya, Yati berbalik dan dengan cepat dia mencuri kecupan di bibir Mr Ginting. Dia tersenyum, saat melihat Mr Ginting yang kaget dan terbelalak karena ulahnya itu.


"Mr buruan narik resletingnya, jika mau melakukan apa yang mau Mr lakukan," kata Yati memancing.


"Emhhh, a_apa boleh di sini?' tanya Mr Ginting dengan sedikit gugup.


"Kenapa tidak?" tanya Yati yang ikut bingung, dengan pertanyaan dari suaminya.


"Kalau tiba-tiba ada yang masuk dan melihatnya bagaimana?" tanya Mr Ginting, yang seperti orang linglung.


Yati menahan rasa geli nya, mendengar pertanyaan suaminya itu. Dan setelahnya, Yati melirik ke arah pintu, agar Mr Ginting tahu, apa yang harus dia lakukan agar bisa bermain-main dengan aman.


Mr Ginting yang melihat lirikan mata istrinya, akhirnya paham dan segera berjalan menuju ke arah pintu kamar. Dia mengunci pintu tersebut, supaya tidak ada yang bisa masuk dan melihat dirinya dengan istrinya itu sedang bermain.


Sedangkan Yati sendiri, sudah berhasil membuka resleting gaun pengantin, lewat cermin yang ada di meja rias kamar peristirahatan gedung.


"Untungnya ada cermin ini. Aku jadi bisa membukanya sendiri, dan tidak perlu memangil orang lain untuk membantuku. Ini bisa-bisa Mr Ginting gak sabar dan merobeknya nanti." Yati, berkata sendiri setelah merasa enteng, karena ditubuhnya hanya ada lingerie tipis, yang tadi dia kenakan untuk dalaman saat memakai gaun pengantin itu.


Mr Ginting melihat semua yang dilakukan oleh Yati. Dia juga menelan saliva, saat gaun pengantin itu berhasil lepas dari tubuh istrinya.


Dengan pelan namun pasti, Mr Ginting melangkah menuju ke arah istrinya berdiri. Dua memeluk istrinya itu dari arah belakang, disaat Yati sedang mencoba melepaskan mahkota yang masih ada di atas kepalanya.


Dari arah belakang, Yati tampak seksi dengan posisi seperti tadi. Dan Mr Ginting, jadi tidak sabar ingin segera memainkan perannya yang sesungguhnya.


Yati kaget, mendapat perlakuan yang secara tiba-tiba dari Mr Ginting. Tapi karena dia juga merasa senang, dia segera menyambutnya dengan membalikkan badannya, setelah berhasil membuka mahkota yang tadi ada di kepalanya.

__ADS_1


Mereka berdua tidak lagi peduli dengan pesta pernikahan mereka, yang masih berlangsung di luar sana. Dan yang ada di pesta tersebut, juga tidak tahu, apa yang sedang dilakukan kedua pengantin tersebut di dalam kamar peristirahatan gedung.


Tapi, Surya Jaya dan sang kakek tentu saja tahu. Karena mereka berdua sangat paham, jika akhir-akhir ini, Mr Ginting tidak bisa fokus pada pekerjaannya, dan selalu gelisah dengan melihat layar handphonenya saja.


__ADS_2