Miss Yeti Bukan PSK Biasa

Miss Yeti Bukan PSK Biasa
Mis Yetiku


__ADS_3

Perjalanan Yati ke Jakarta cukup melelahkan karena sudah lama dia tidak menyetir sendiri dengan jarak yang begitu jauh. Selain itu, perjalanan ini tidak hanya melibatkan dirinya sendiri, tapi juga ayahnya yang sedang sakit dan membutuhkan perhatian ekstra.


Yati merasa bertanggung jawab untuk merawat dan menjaga ayahnya selama perjalanan, membuatnya tidak bisa berbuat seenaknya.


"Is-tii-rahaatt du-uluu," kata Tuan Wasito selalu, mengingatkan Yati.


Selama perjalanan, Yati yang merasa lelah karena harus mengemudi dalam waktu yang cukup lama, hanya bisa beristirahat jika ayahnya meminta.


Dan pria tua itu tahu apa yang dirasakan anaknya, sehingga sering meminta untuk beristirahat di rest area terlebih dahulu dengan berbagai alasan.


Tapi Yati tidak mengeluh. Jalan yang panjang dan juga kondisi lalu lintas yang padat membuat perjalanan semakin berat. Dan Yati terus berusaha tetap fokus agar dapat mengantarkan ayahnya dengan aman dan nyaman.


Saat perjalanan, Yati juga harus memastikan ayahnya mendapatkan perawatan yang cukup dan sesuai dengan kondisinya. Dia memantau kondisi ayahnya secara terus-menerus, mengingat ayahnya mengalami sakit stroke yang memerlukan perhatian khusus.


"Ayah butuh sesuatu?" tanya Yati setiap saat.


Kecemasan Yati terhadap ayahnya membuatnya merasa sedikit tegang sepanjang perjalanan. Dia harus berusaha menenangkan diri dan tetap tenang agar bisa menghadapi situasi dengan baik.


Jadi, meskipun dia merasa lelah, Yati tidak ingin menunjukkan kelemahannya pada ayahnya. Dia ingin memberikan rasa nyaman dan percaya pada ayahnya bahwa semuanya akan baik-baik saja.


Dan sekarang, mereka sudah berada di rumah sakit yang menjadi tujuan setelah menempuh perjalanan jauh selama satu hari penuh!


"Semoga ayah jauh lebih baik setelah mendapatkan perawatan di sini," kata Yati berharap.


Ibu Nina, menganggukkan kepalanya, menggamini harapan Yati barusan.


Yati merasa bahagia karena bisa melakukan perjalanan bersama ayahnya. Meskipun melelahkan, momen seperti ini sangat berarti baginya karena memberikan kesempatan untuk lebih dekat dengan ayahnya dan memberikan dukungan penuh selama perjalanan.


Meskipun perjalanannya menantang dan melelahkan, Yati tetap berusaha dengan sepenuh hati. Setiap rasa lelah terbayar dengan kebahagiaan dan kebersamaan yang dirasakan saat merawat dan mengantar ayahnya. Menunjukkan betapa besar rasa cinta dan kasih sayang Yati pada ayahnya, dan dia siap melakukan apa pun untuk kebaikan dan kenyamanan sang ayah selama perjalanan dan seterusnya.


Setelah Tuan Wasito mendapatkan perawatan cek up, Yati langsung mencari rumah kontrakan yang sudah dibooking terlebih dahulu sedari kemarin.


"Kapan Mbak Yati mendapatkan rumah ini?" tanya Ibu Nina bingung.


Dia tentu saja heran, karena sedari tadi Yati bersama mereka dan tidak pernah pergi untuk mencari rumah.

__ADS_1


"Lewat online, dua hari yang lalu." Yati memberikan penjelasan.


Sebuah rumah sederhana dengan harga terjangkau agar dapat tinggal di dekat rumah sakit tempat sang ayah dirawat.


Dia sangat mengutamakan lokasi yang dekat agar bisa lebih mudah dan cepat merawat ayahnya setiap hari.


Yati, menemukan rumah kontrakan yang terletak dekat dengan rumah sakit lewat iklan yang biasa ada di sosial media. Rumah ini sederhana dengan fasilitas yang cukup memadai.


"Ini cukup untuk tempat tinggal kita bertiga. Saya, tidak mencari rumah yang besar karena hanya untuk sementara waktu."


Pria tua itu, yang terbiasa hidup berkecukupan mengangguk setuju. Dia tidak mempermasalahkan besar kecilnya ukuran rumah, yang penting bersama dengan anaknya.


Walaupun tidak sebesar rumahnya di desa dan rumah ayahnya, Yati merasa bahwa kenyamanan serta kemudahan untuk merawat ayahnya lebih penting daripada hal-hal yang mewah.


"A-yaahhh ti-idddaaak maaa-saaa-lahhh," ungkap pria tua itu terbata-bata.


Yati mengangguk mengerti. Tapi tetap kenyamanan ayahnya menjadi perhitungannya, karena itulah dia mencari lokasi yang dekat dengan rumah sakit.


Rumah sakit yang dituju Yati adalah rumah sakit besar dan terkenal di Jakarta. Rumah sakit ini memiliki fasilitas lengkap dan tenaga medis yang berpengalaman.


"Iii-nnii rum-mahh saaa-kittt maaa-haaalll!"


Tuan Wasito, yang menghabiskan waktu mudanya di kota besar Jakarta, tentu paham.


Dengan rumah kontrakan yang dekat dengan rumah sakit sebesar tadi, tentunya Yati membayar mahal rumah kontrakan ini!


"Tidak apa, Yah. Yang penting bisa lebih mudah ke rumah sakit."


Yati merasa lega karena dia bisa lebih cepat merespons jika ada kondisi darurat atau apapun yang membutuhkan perhatian pada ayahnya. Selain itu, dekatnya lokasi juga memudahkan Yati untuk mengunjungi ayahnya secara teratur dan memberikan dukungan dan kehadiran yang dibutuhkan sang ayah selama masa perawatan nanti.


Yati menyadari bahwa ini adalah langkah yang tepat dan perjuangan yang tak mudah untuk merawat ayahnya di Jakarta. Namun, dia siap menghadapinya dengan penuh tekad dan cinta.


Dia berharap agar rumah kontrakan yang dipilihnya dan rumah sakit yang dituju dapat memberikan kenyamanan dan perawatan yang terbaik bagi sang ayah.


***

__ADS_1


Setiap hari, Yati dan Ibu Nina secara bergantian merawat Tuan Wasito. Mereka berdua rutin memberikan latihan-latihan yang dibutuhkan penderita stroke.


"Kita berangkat sekarang?" tanya Yati, yang diangguki Tuan Wasito.


Hari ini, Yati membawa ayahnya ke rumah sakit dengan penuh perhatian dan kehati-hatian. Dia memastikan segala persiapan telah dilakukan sebelum berangkat, termasuk membawa semua dokumen medis dan resep obat ayahnya.


Selain itu, dia juga memastikan membawa barang-barang yang dibutuhkan selama perawatan di rumah sakit.


"Ayah akan dirawat beberapa hari di rumah sakit. Ibu bisa, berjaga secara bergantian dengan saya."


Ibu Nina mengangguk mengiyakan. Dia sudah tahu jadwal Tuan Wasito selama berada di Jakarta!


Saat tiba di rumah sakit, Yati dengan penuh kesabaran mengantar ayahnya menuju ruang pendaftaran. Dia berjalan perlahan, karena ayahnya berada di kursi roda dan didorong Ibu Nina.


"Ayah yang semangat, ya! Ayah masih muda dan berhak untuk sehat, bahagia juga bersama dengan Yati."


"Yati mau Ayah sembuh."


Yati selalu mengucapkan kata-kata penuh semangat dan dukungan agar ayahnya merasa tenang dan nyaman.


Setelah pendaftaran selesai, Yati mengantarkan ayahnya ke ruang perawatan yang telah ditentukan. Dia memastikan ayahnya mendapatkan kenyamanan selama menunggu proses penerimaan dan pemeriksaan lebih lanjut. Yati senantiasa bersikap sabar dan menghibur ayahnya selama menunggu.


"Ibu Nina, tolong jaga ayah sebentar. Saya mau beli air minum dulu."


Yati pamit keluar untuk membeli air minum untuk mereka.


"Iya, Mbak."


Ibu Nina mengangguk mengiyakan. Dia tentu saja akan menjaga Tuan Wasito, sebab itu memang tugasnya.


Pria tua itu tersenyum meskipun gagal, tapi Yati tahu jika ayahnya tidak keberatan.


Tapi, sebelum Yati melangkah lebih jauh, ada seseorang yang memanggilnya. Orang yang sama seperti kemarin!


"Mis Yeti, tunggu!"

__ADS_1


__ADS_2