Miss Yeti Bukan PSK Biasa

Miss Yeti Bukan PSK Biasa
Sebuah Tantangan


__ADS_3

Kamar, atau lebih mirip dengan sebuah ruangan kerja, milik kakek Mr Ginting, sangat luas.


Perabotan yang ada di dalam ruangan tersebut, juga lengkap. Dari mulai kursi dan meja kerja, satu set sofa ukuran ukuran sedang, dan ada juga beberapa rak buku yang cukup besar dengan berbagai macam jenis buku tebal.


Yati sendiri mungkin tidak akan pernah sanggup untuk membacanya, meskipun diberikan waktu yang lama untuk bisa membaca buku-buku tersebut.


Di dalam ruangan tersebut, juga ada kamar mandi yang cukup besar, untuk ukuran ruang kerja. Ada juga pintu penghubung yang lain. Mungkin pintu itu, menuju ke arah kamar kakek Mr Ginting sendiri, sehingga dia dengan mudah bisa langsung pergi beristirahat, jika merasa lelah saat bekerja di rumah.


Yati, memperhatikan semua itu, tanpa terlihat jelas sedang memperhatikan. Arah pandangnya, tidak terlihat seperti orang yang sedang membaca situasi.


"Cucuku, ayo duduk di sini!"


Kakek Mr Ginting, sudah menyapa mereka berdua terlebih dahulu, begitu dia masuk dari arah pintu yang lain. Yang diperkirakan oleh Yati, sebagai pintu penghubung antara ruangan kerja ini, dengan kamarnya kakek Mr Ginting sendiri.


Saat ini, Yati dan Mr Ginting, masih berdiri di samping sofa dan belum duduk, karena menuggu kedatangan kakek nya.


"Ah, Aku pikir Kakek tidur. Hampir saja kami keluar lagi tadi," jawab Mr Ginting dingin, tanpa ekspresi.


Yati melirik sekilas ke arah suaminya, Mr Ginting. Dia berpikir jika tadi, Mr Ginting tidak memiliki niatan untuk pergi-pergi dari ruangan kerja kakeknya ini. "Sepertinya, hubungan antara kakek dan cucunya, tidak begitu harmonis. Entah apa permasalahan mereka berdua, sehingga tidak layak disebut sebagai, kakek dan cucu yang biasanya hangat," batin Yati dalam hati.


"Jangan heran cucuku, Kiara. Cucuku yang satu ini, memang datar dan sama seperti salju. Semoga Kamu bisa mencairkan kebekuan nya, dan sabar mengahadapi dirinya yang tidak peka. Hehehe... ayo-ayo, duduklah!" kata kakek Mr Ginting, sambil terkekeh dan menunjuk ke arah sofa.


Kakek Mr Ginting, lebih dulu duduk, disusul dengan Mr Ginting dan Yati, yang duduk berdampingan.


Kakek tampak mengangguk-anggukkan kepalanya tanpa Yati tahu, kenapa dia melakukan hal itu.


"Kakek mau tanya pada Kamu Kiara."

__ADS_1


Tiba-tiba, kakek mengatakan jika dia ingin bertanya pada Yati. Entah apa yang ingin dia ketahui dari Yati, yang tadi di puji-puji olehnya, karena bisa menaklukkan hati cucunya, Mr Ginting.


"Apa yang ingin Kakek tanyakan?" tanya Yati ingin tahu.


"Hahaha... Kamu tidak sabar juga ya, sama seperti Ginting. Cucuku ini, juga orangnya tidak sabaran. Kamu harus berlatih lebih sabar lagi, supaya dia betah, tapi tidak juga. Jika Kamu terlalu sabar, dia akan marah dan kesal juga. Ah, entahlah. Dia tidak tertebak, sama seperti cuaca di kutub Utara sana. Hahaha..."


Kakek Mr Ginting, malah tertawa-tawa senang, karena bisa menjadikan cucunya itu, Mr Ginting, sebagai bahan olok-oloknya.


Yati jadi merasa tidak enak hati. Dia tersenyum canggung. Apalagi, Mr Ginting membuang nafas kesal, melihat kakeknya yang tertawa senang karena mengatai dirinya.


"Tidak usah kaget Kiara. Dia memang seperti itu. Tidak sabar jika sedang berada di dekat orang tua ini," kata kakek Mr Ginting, dengan menunjuk ke arah dadanya sendiri.


Yati hanya tersenyum tipis, mendengar perkataan dari kakek Mr Ginting, yang sepertinya mempunyai selera humor yang tinggi. Tidak sama seperti cucunya, yang terlihat serius dan jadi terkesan kaku. Tidak ada santai-santainya sama sekali.


"Oh ya, Kakek ingin bertanya pada Kamu Kiara. Kira-kira, kapan Kamu mau diadakan pesta pernikahan kalian berdua? Kakek ingin secepatnya, agar bisa menutup mulut-mulut jahat, yang tidak bertanggung jawab, dengan membawa kabar jika, Ginting ini tidak normal. Aku ingin mereka semua tahu, jika penerusku ini, adalah laki-laki sejati. Bahkan, kalau bisa, di pesta pernikahan kalian nanti, sudah ada kabar gembira, jika Kamu sudah mengandung cicit untukku juga. Hahaha... maaf Kiara. Orang tua ini, terlalu banyak permintaan."


Meskipun dalam hati Yati merasa bersalah, karena sudah membohongi kakek tua yang terlihat baik hati ini. Meskipun pada awalnya, kesan sangar dan menakutkan.


Tapi begitu sudah mengenalnya, banyak sekali hal yang sama sekali tidak sama seperti yang terlihat.


Mr Ginting tersenyum miring, disaat kakeknya itu, selesai berbicara. Dia tidak merasa bersalah, karena sudah melakukan semua sandiwara pernikahan mereka ini.


"Bagaimana Kiara?" tanya kakek lagi.


"Saya terserah Shunjin saja Kek. Bagaimana dia akan mengatur waktu dengan jadwal pekerjaannya yang padat. Saya tidak ingin, dia merasa terbebani, hanya karena pesta itu," jawab Yati pada akhirnya.


Yati berharap, Mr Ginting membantunya untuk menjawab pertanyaan dari kakeknya. Karena Yati tidak mau menjawab sesuatu yang bisa membuat suaminya itu marah dan jengkel, seandainya dia salah dalam menjawab dan menentukan sesuatu.

__ADS_1


"Hemmm, kalau menuggu Ginting, pesta pernikahan itu tidak akan terlaksana dalam waktu dekat ini Kiara. Kamu tahu sendiri, jika sekarang ini saja, Aku harus memaksa dia supaya bisa datang. Dia akan menghilang lagi, jika tidak ada sesuatu yang penting."


Yati hanya bisa tersenyum tipis. Dia melirik ke arah suaminya itu, dari sudut matanya.


"Dua minggu lagi saja. Apa semua bisa di handle?"


Tiba-tiba, Mr Ginting memberikan jawaban. Tapi sepertinya itu juga terkesan jadi sebuah tantangan untuk kakeknya sendiri.


"Hahaha... Kamu tidak sabar ya? Ingin semua orang tahu, jika Kamu sudah punya istri yang cantik ini? Hemmm, Kakek harus segera memerintahkan pada orang-orang, untuk membuat pesta secepat itu ya..."


Kakek Mr Ginting, terlihat berpikir setelah tadi sempat tertawa juga.


"Apa baju pengantinnya juga bisa siap?" tanya Mr Ginting lagi. Dia benar-benar membuat sebuah tantangan bagi kakeknya itu.


Yati merasa, ada bendera perang yang sedang mereka berdua kibarkan. Meskipun tidak secara langsung dengan kata-kata yang keras dan kasar.


"Kamu ingin sebuah pesta pernikahan yang seperti apa?"


Akhirnya, kakek Mr Ginting ganti membuat sebuah tantangan untuk cucunya itu.


"Aku ingin, sebuah pesta pernikahan yang belum pernah ada sepanjang tahun ini. Berkesan dan tentu saja mewah."


Mr Ginting, menjawab pertanyaan dari kakeknya dengan sebuah tantangan, yang menurut Yati itu terlalu berlebihan.


"Tega banget ini orang! Ini namanya pemerasan yang terselubung," kata Yati, mengomentari jawaban suaminya, Mr Ginting. Tapi tentu saja, semua itu hanya dikatakan oleh Yati dalam hati.


Kakek tersenyum tipis, mendengar ucapan cucunya, yang terkesan arogan.

__ADS_1


"Apa Kamu meragukan Kakek Ginting? hehehe..." tanya kakek Mr Ginting, sambil terkekeh dan menggelengkan kepalanya beberapa kali.


__ADS_2