
Yati duduk di kursi belakang, bersama dengan sang Kakek. Sedangkan dua bodyguard, duduk di kursi depan, dengan satu dari mereka yang bertugas sebagai supir.
Sang Kakek diam saja, sambil memperhatikan jalanan, melalui jendela mobil.
Yati juga hanya bisa diam, karena tidak tahu, apa yang bisa dia katakan untuk membuka suatu pembicaraan. Dia merasa bukan siapa-siapa, yang banyak wawasan dan pengetahuan, untuk bisa berbicara dengan sang Kakek, yang bukan orang sembarangan.
"Kiara," panggil sang Kakek pelan.
Yati segera menoleh. Dia berpikir bahwa, sang Kakek sudah memulai suatu pembicaraan dengannya, entah itu terkait apa. Tapi Yati yakin, jika ini ada kaitannya dengan hubungan antara dirinya dengan suaminya, Mr Ginting, yang merupakan cucu dari sang Kakek sendiri.
Sebenarnya, Yati sudah curiga saat pertama kali di hubungi suaminya sendiri, untuk berangkat ke kantor karena diminta sang Kakek ini, untuk menemani dirinya jalan-jalan.
Meskipun Yati juga tahu jika, suaminya itu tidak tahu, apa yang sebenarnya ingin disampaikan oleh sang Kakek.
Karena dengan alasan bahwa dia sedang merasa kesepian dan ingin ditemani untuk sekedar jalan-jalan sore, seperti yang disampaikan oleh suaminya tadi saat menghubungi dirinya, semua itu, terdengar tidak masuk akal untuk seorang Yati.
"Boleh Kakek minta sesuatu padamu?"
Akhirnya, sang Kakek bertanya pada Yati, karena tadi, sat dipanggil, Yati hanya menoleh saja, tanpa bertanya atau mengatakan apa-apa.
"Kakek minta apa dari Kiara? Bukankah kakek sudah punya segalanya?" jawab Yati balik bertanya.
"Bukan. Bukan begitu maksudnya Kiara."
Sepertinya, sang Kakek mulai kesulitan untuk berkata-kata, dengan maksud yang sebenarnya dia inginkan. Dan sang Kakek, akhirnya menghela nafas panjang, untuk membuat dirinya lebih tenang, karena akan mengatakan sesuatu yang sangat penting, untuk dirinya dan keselamatan hidupnya di masa depan.
"Kakek mau bertanya padamu, bisakah Kamu menjawab pertanyaan dari Kakek dengan sejujurnya?" Akhirnya, hanya pertanyaan itu yang bisa diajukan oleh sang Kakek.
Yati tersenyum mendengar pertanyaan dari sang Kakek, yang terdengar ambigu. Karena dia tidak tahu, apa yang sebenarnya diinginkan oleh sang Kakek darinya.
"Kakek ingin Bros Bunga milikmu. Jika boleh, Kakek ingin membelinya. Apakah Kamu berkenan untuk menjualnya untuk Kakek?"
__ADS_1
Pertanyaan yang diajukan oleh sang Kakek kali ini, pastinya membuat Yati heran. "Buat apa Bros Bunga itu untuk Kakek?" tanya Yati memancing.
Sebenarnya, Yati mulai curiga dengan keinginan sang Kakek, yang ingin memiliki Bros Bunga tersebut. Tidak mungkin, seorang laki-laki, yang sudah tua seperti sang Kakek, tertarik dengan aksesoris wanita seperti Bros itu. "Apa mungkin..." tanya Yati dalam hati, yang tidak bisa dia ajukan pada sang Kakek saat ini.
Yati jadi berpikir jika, sang Kakek ada hubungannya dengan misteri Bros Bunga, yang dia miliki. Apalagi, semua itu ada hubungannya dengan jadi dirinya. Dan Bros Bunga itu juga, yang penghubung antara dirinya dan orang tua kandungnya yang sesungguhnya.
"Bagaimana Kiara?" tanya sang Kakek lagi, mendesak Yati untuk segera menjawabnya.
"Buat apa Kek?" tanya Yati, mencoba untuk mencari tahu alasan sang Kakek.
"Kakek hanya mau koleksi saja. Sepertinya, Bros Bunga itu barang yang langka. Dan Kakek ingin tahu, apakah ada Bros Bunga yang lain, yang sama seperti itu di dunia ini."
Jawaban yang diberikan oleh sang Kakek, sebenarnya tidak masuk akal untuk didengar oleh siapapun. Tapi Yati hanya bisa mengangguk saja, tanpa bertanya lagi. Dia hanya mencoba untuk menghubungkan semuanya, untuk diambil kesimpulan dari berbagai sudut pandang dari semua pertanyaan dan jawaban yang diberikan oleh sang Kakek padanya.
Karena sang Kakek tidak lagi bertanya atau mengatakan apa-apa, akhirnya Yati mencoba untuk memberanikan diri bertanya sesuatu yang sedikit sensitif, karena ini mengorek informasi tentang masa lalunya sendiri.
"Apakah Kakek tahu, bagaimana... maksudnya, sedikit cerita mungkin, dari kisah Bros Bunga itu?"
Setelah bertanya demikian, Yati mengeluarkan nafas lega, meskipun masih ada banyak kekhawatiran dalam hatinya, mengenai jawaban yang akan diberikan oleh sang Kakek padanya nanti.
Setelah sama-sama saling diam, akhirnya terdengar helaan nafas panjang dari sang Kakek.
"Hemmm..."
Yati melirik sekilas. Dia masih menunggu dengan sabar, meskipun ada perasaan cemas dan was-was, yang dirasakannya.
"Sebenarnya, Kakek tahu sedikit tentang Bros Bunga itu. Tapi boleh Kakek bertanya, darimana Kamu mendapatkan Bros Bunga itu?" tanya sang Kakek, yang ingin memastikan bahwa, Kiara yang dia kenal sebagai istri dari cucunya itu, adalah anak dari wanita-nya.
Anak yang tidak bersalah, yang berpuluh tahun lalu, dia perintahkan untuk dibuang sejauh mungkin, pada salah satu pengawalnya, yang sayangnya sudah meninggal, dalam kecelakaan setelah selesai bertugas. Dan dia belum sempat bertanya, di mana daerah tempat bayi itu dibuangnya.
Yati memicingkan mata, mendengar pertanyaan dari sang Kakek, soal dari mana Bros Bunga itu dia dapatkan. "Apakah Aku harus bercerita tentang asal usul ku? tapi ini akan membuat masalah baru untuk Mr Ginting," tanya Yati, dalam hati.
__ADS_1
"Dari mana Kiara?" desak sang Kakek ingin tahu.
"Apa Kakek bisa bercerita sedikit tentang Bros Bunga itu? Maksud Kiara, sejarahnya?" jawab Yati, balik bertanya pada sang Kakek.
Sang Kakek tampak menghela nafas panjang. Dia harus bisa mendapat Bros Bunga itu, bagaimanapun caranya. Meskipun itu harus membongkar rahasianya sendiri selama ini.
Tapi untuk semua itu, sang Kakek harus merencanakan sesuatu, untuk bisa mempertemukan Kiara dengan wanita-nya. Meskipun itu harus ke Singapura lagi, dengan alasan yang baru juga.
Namun masalah yang baru akan terjadi jika, Mr Ginting tidak diajak juga ke Singapura. Karena Mr Ginting, tidak mungkin membiarkan istrinya itu ikut dengan sang Kakek sendiri, tanpa dirinya, kemanapun itu, apalagi di negara Singapura sana. Sedangkan tadi saja, dia sudah tampak keberatan saat sang Kakek pergi sendiri bersama dengan Yati, meskipun hanya untuk sekedar jalan-jalan sore.
"Apa Kamu ingin tahu, siapa pemilik Bros Bunga itu untuk pertama kalinya?" tanya sang Kakek, untuk memancing rasa penasaran dari Yati.
Dan ternyata pancingan dari sang Kakek berhasil. Yati tampak menatap sang Kakek dengan wajah serius.
"Apa Kakek benar-benar tahu, siapa pemilik Bros Bunga itu, sebelum Aku?" tanya Yati menyakinkan.
Yati merasa curiga, jika sang Kakek adalah...
"Ya Aku tahu. Tapi dia tidak ada di Indonesia."
jawaban yang diberikan oleh sang Kakek, kembali membuat Yati merasa curiga. "Apa mungkin Kakek ini adalah suami dari wanita itu?" tanya Yati, yang berpikir dan membuat kesimpulannya sendiri.
"Jika wanita itu benar ibuku, dan Kakek adalah ini suaminya, jadi Aku..." Yati tidak berani melanjutkan pemikirannya itu. Karena jika itu benar, selama ini dia sudah 'bermain-main' dengan keponakannya sendiri. Bukankah Mr Ginting adalah cucu dari sang Kakek, sedangkan dia sendiri adalah...
"Dia adalah seorang wanita yang tidak pantas mendapatkan maaf, karena sudah berselingkuh dengan laki-laki lainnya. Itulah sebabnya, dia diasingkan jauh dari rumahnya di Indonesia, dan ditaruh di negara Singapura sana."
Yati menghembuskan nafas lega, mendengar perkataan dari sang Kakek, yang melanjutkan kata-katanya lagi.
Sekarang, Yati bertekad untuk berani mengatakan apa-apa yang dibutuhkan sang Kakek. Dia ingin segera tahu, apa misteri tentang Bros Bunga itu, dan juga teka-teki asal usul dirinya sendiri.
Karena dari Mbok Minah sendiri, Yati tidak pernah tahu, karena mbok Minah juga memang tidak tahu apa-apa, tentang latar belakang keluarga dirinya sendiri.
__ADS_1
Mbok Minah hanya mengatakan bahwa, dia menemukan seorang bayi, yang di buang di pinggir jalan area perkebunan dan sawah, di kampungnya.
Jadi, Mbok Minah benar-benar tidak tahu, apa dan bagaimana bisa bayi itu ada di kampungnya, karena setelah dia membawa bayi itu pulang ke rumah, tidak ada orang yang membawa berita tentang hilangnya bayi atau pencurian bayi.