Miss Yeti Bukan PSK Biasa

Miss Yeti Bukan PSK Biasa
Tidak Seperti Yang Terlihat


__ADS_3

Yati meminta kepada supir, untuk mengantarkan dirinya pergi ke salon. Dia ingin tampil lebih baik lagi, saat bertemu dengan kakeknya Mr Ginting.


"Pak, tolong antar Saya ke salon ya Pak," kata Yati, saat dirinya bertemu dengan supir, di pos security rumah.


Yati, tidak meminta bantuan pada kepala pelayan, untuk menemukan supir dan meminta bantuannya. Dia mencarinya sendiri, karena ini bukan tugas dari Mr Ginting, tuan muda mereka.


"Baik Miss," jawab pak supir, yang segera berdiri dan keluar dari dalam pos security.


"Saya sudah meminta ijin pada Mr Ginting kok Pak, jadi tenang saja ya," kata Yati, memberitahu pada supir, jika dirinya sudah meminta ijin pada suaminya.


Supir mengangguk mengiyakan. Dia segera berjalan dengan cepat, untuk menyiapkan mobil.


Tak lama, Yati sudah masuk ke dalam mobil. Supir pun melajukan mobilnya menuju ke salon yang diinginkan oleh Yati.


Salon yang dituju oleh Yati adalah salon kecantikan yang mempunyai fasilitas lengkap.


Di salon tersebut, tersedia jasa perawatan meditasi juga, jadi tidak hanya sekedar untuk perawatan rambut, wajah dan kulit saja, tapi juga semacam tempat untuk meditasi dengan aroma terapi, yang membuat pengunjung salon, merasakan sensasi ketenangan hati dan pikiran setelah selesai dan keluar dari salon tersebut.


Pengunjung, bisa memilih sesuai dengan keinginan mereka, untuk perawatan kecantikan yang mereka inginkan.


Ruangan yang hangat dan di desain khusus untuk meditasi, membuat siapa saja yang masuk ke dalam, merasakan sesuatu yang berbeda. Ada ketenangan yang bisa langsung dirasakan. Apalagi di saat petugas mulai melakukan perawatan yang khusus, untuk pelanggan.


Pijatan tangan dan aroma terapi yang juga merupakan pendukung, membuat pelanggan merasa sangat nyaman saat treatment.


Yati, meminta kepada petugas salon, untuk membawakan aroma terapi sakura. Aroma khas bunga dari Jepang itu sangat di sukai oleh Yati. Aromanya tidak terlalu menusuk, dan menenangkan, seakan-akan sedang berada di taman sakura Jepang. Dengan bunga-bunga sakura nya yang sedang bermekaran dan mengugurkan kelopak-kelopaknya, membentuk sebuah permadani di bawah pohonnya.


Yati jadi teringat saat berada di Jepang. Dia sangat senang, saat bunga-bunga sakura itu gugur, dan dia ada di bawah pohon.


Kelopak-kelopak sakura itu, seperti sedang menaburkan dirinya untuk bisa mengenai tubuh Yati. Dan itu membuat Yati bisa merasakan kebahagiaan, ketenangan dan kenyamanan.


Yati merindukan negara Jepang yang damai. Meskipun, di sana dia tidak lama, hanya dua tahun, tapi sangat berkesan dan tentu saja, tidak akan bisa untuk dilupakan oleh seorang Yati, yang waktu kecilnya dulu, hanya bisa memandang negara Jepang dari peta, dan tiruan bola dunia yang ada di sekolah.


Yati, mencintai negara Jepang dari kedisplinan mereka dalam belajar dan juga kehidupan mereka yang sebenarnya sangat kekeluargaan.

__ADS_1


Orang-orang Jepang, memiliki loyalitas yang tinggi, kepada keluarganya. Mereka akan mementingkan kepentingan keluarganya terlebih dahulu, sebelum memenuhi kepentingan pribadi. Mereka mempunyai rasa memiliki dan rasa saling membutuhkan, antara satu sama lain di dalam keluarga. Mereka juga diminta untuk bisa menunjukkan perlakuan yang istimewa, kepada sesama anggota keluarganya.


Orang-orang Jepang, akan berpikir dua kali, jika ingin melakukan kejahatan, karena itu akan mempengaruhi nama baik keluarga mereka.


Nama-nama orang Jepang, juga menunjukkan identitas keluarga mereka. Sama seperti sebuah marga, jika untuk masyarakat Batak pada umumnya.


Yati menghela nafas panjang, mengingat semua hal yang dua pelajari tentang kebudayaan dan masyarakat di Jepang.


Sopan santun orang-orang di Jepang, sebenarnya sangat ramah dan suka menolong. Tapi karena kemajuan teknologi dan informasi, semua semakin tergeser, dari jiwa dan kebiasaan anak-anak muda pada umumnya.


Kebebasan yang mereka dapatkan, kadang membuat seseorang menjadi salah dan itu juga yang seringkali terjadi pada anak-anak muda di Indonesia.


Dan mungkin, Yati termasuk salah satu dari mereka.


"Maaf Miss. Untuk wajah sudah selesai, apa mau langsung ke perawatan selanjutnya, atau nanti saja, menuggu untuk beberapa menit lagi?"


petugas salon, bertanya pada Yati, untuk perawatan yang dia inginkan tadi. Ini karena biasanya, Yati meminta waktu sebentar, untuk melakukan perawatan selanjutnya. Dia ingin menikmati aroma terapi sakura tanpa melakukan apa-apa. Meskipun hanya untuk beberapa menit saja.


"Langsung saja Mbak. Saya sedang tidak banyak waktu," jawab Yati, sambil memposisikan dirinya dengan berbaring telungkup.


Setelah beberapa jam kemudian, Yati tampak keluar dari salon kecantikan dan spa. Dia terlihat lebih segar, dan tampak lebih cantik, dari pada tadi, disaat dia baru saja datang.


"Pak, kita langsung pulang ya!"


Yati meminta kepada supir, yang tadi menunggunya di kafetaria, yang ada di salon itu juga, untuk mengantarnya langsung pulang ke rumah.


Supir mengangguk, kemudian berdiri dan berjalan mengikuti langkah Yati dari arah belakang. Dia menjadi bodyguard jika sedang tidak berada di dalam mobil.


Ini juga sudah menjadi tugasnya, dari Mr Ginting.


*****


Mr Ginting menerima panggilan dari kakeknya. Dia diminta untuk datang ke ruangan sang kakek.

__ADS_1


"Apa sih maunya si tua itu. Nanti malam, di minta untuk datang. Sekarang, di kantor, juga sama. Palingan juga ngomong soal itu-itu saja!" Mr Ginting mengerutu sendiri, karena panggilan dari kakeknya itu.


Dia merasa terganggu, dengan pembicaraan yang akan dilakukan oleh kakeknya.


Bukan tanpa sebab, jika Mr Ginting mengerutu. Ini karena dia yakin, jika sang kakek, akan memintanya untuk segera memiliki anak, agar dia bisa segera pensiun dari mengurus semua usaha yang sebenarnya milik papanya.


Jadi, perusahaan yang saat ini dikelola oleh sang kakek, saham terbesar adalah milik papanya Mr Ginting, tapi itu bisa dia miliki jika dia sudah menikah dan memiliki anak dari pernikahannya itu.


Jika semua itu belum terjadi, saham tersebut masih akan dipegang oleh sang kakek.


Entah apa yang sebenarnya dipikirkan oleh papanya dulu, sehingga membuat surat wasiat semacam itu. Padahal dulu, papanya Mr Ginting, belum mempunyai rencana untuk perjalanannya, yang mengakibatkan kecelakaan pesawat dan membuat papa serta mamanya pergi meninggalkan dirinya untuk selama-lamanya.


Mr Ginting menghela nafas panjang, kemudian berdiri. Dia keluar dari dalam ruangannya, dan berjalan menuju ke arah ruangannya sang kakek.


Tok tok tok!


"Masuk."


Dari dalam ruangan, kakek mempersilahkan Mr Ginting untuk masuk.


"Ada apa Kakek memintaku datang?" tanya Mr Ginting, dan langsung duduk di kursi yang ada di depan meja kerja sang kakek.


Dia terkesan sangat arogan, dan juga tidak sopan, pada kakeknya sendiri. Tapi Mr Ginting tidak memperdulikan semua itu. Dia tetap bersikap seperti biasanya.


"Apa seperti itu, jika berbicara dengan orang yang lebih tua?" tanya sang kakek, tanpa menjawab pertanyaan dari Mr Ginting.


Mr Ginting hanya tersenyum miring, mendengar pertanyaan dari sang kakek. Dia tidak merasa bersalah, dan juga cuek saja.


"Apa Kiara sudah Kamu beritahu, jika nanti malam akan ke rumah Kakek?" tanya kakek lagi, karena pertanyaannya yang tadi, diabaikan begitu saja oleh cucunya itu.


"Kenapa, apa itu penting?" jawab Mr Ginting, dengan pertanyaan yang sebenarnya tidak perlu dijawab juga.


Sang kakek menghela nafas panjang, kemudian membuangnya perlahan-lahan. Dia tidak tahu lagi, apa yang harus dia lakukan, untuk membuat cucunya itu bisa lebih tenang dan lunak, terhadap dirinya.

__ADS_1


"Maaf. Kakek memang tidak bisa memberikan yang terbaik. Kasih sayang yang seharusnya, dan juga membawamu jalan-jalan, sama seperti anak-anak yang lain, yang sedang bersama dengan kakek mereka."


Sang kakek merasa sangat bersalah, karena dia dan cucunya itu, tidak memiliki hubungan yang baik, sama seperti layaknya seorang kakek dengan cucunya.


__ADS_2