
Perjalanan yang akan ditempuh sekitar satu jam ke depan, membuat Yati merasa capek dan mengantuk. Apalagi, tadi pagi juga dia menyetir mobil sendiri ke bandara, untuk mengantarkan suaminya, yang sedang pergi menjalankan tugasnya, untuk pergi je beberapa negara di Eropa sana.
"Istirahat saja di kamar Kiara. Masih lama," kata sang Kakek, saat melihat Yati menguap beberapa kali.
Yati hanya tersenyum mendengar perkataan dari sang Kakek. Tapi karena dia memang merasa sedikit mengantuk, akhirnya dia berdiri dan pamit pada sang Kakek, untuk beristirahat dan tidur terlebih dahulu di kamar, yang ada di dalam pesawat tersebut.
Sang Kakek mengangguk mengiyakan. Dan sekarang, sang Kakek melihat-lihat berita, yang dia baca dari majalah yang disediakan oleh pramugari, di atas meja.
Tak terasa, pesawat yang membawa mereka berdua ke Singapura akan segera mendarat.
Sang Kakek meminta tolong kepada pramugari, untuk membangunkan cucunya tadi, "Sis, tolong bangunkan miss Kiara ya. Pesawatnya sudah mau mendarat."
"Baik Tuan Besar," jawab perawat dengan patuh.
Beberapa menit kemudian, Yati tampak keluar dari dalam kamar pesawat, dalam keadaan yang lebih baik. Dia juga sudah tampak mencuci mukanya dan memperbaiki penampilannya sendiri.
"Maaf Kek. Kiara malah tidur dan tidak menemani Kakek," kata Kiara, yang merasa sungka.karena meninggalkan kakeknya itu sendirian.
"Tidak apa-apa. Kamu sudah merasa lebih baik?" tanya sang Kakek, sambil memperhatikan bagaimana penampilan istrinya Mr Ginting, cucunya.
Yati tersenyum mendengar pertanyaan dari sang Kakek. Dia juga tampak mengangguk.
Dari pengeras suara yang ada di dalam pesawat, kapten pesawat memberitahu bahwa, pesawat akan mendarat dalam waktu lima menit lagi.
Setelah pesawat mendarat dan melakukan segala sesuatu yang diperlukan, sang Kakek dan Yati, langsung di jemput mobil, yang saat ini sudah berada di depan anak tangga pesawat. Karena sang Kakek, sudah mempersiapkan segala sesuatunya untuk kedatangan mereka ke Singapura kali ini.
Dan sekarang, Yati bersama dengan sang Kakek, melakukan perjalanan kembali ke rumah kecil yang ada di pinggir kota, dimana wanita-nya sang Kakek berada selama ini.
Yati merasa deg-degan. Perasaannya tidak menentu, dengan semua yang akan terjadi nanti. Pada saat dia akan bertemu dengan ibunya, yang selama ini tidak diketahui keberadaannya ataupun sosoknya. Bahkan Yati juga tidak tahu, siapa nama dari ibunya sendiri.
__ADS_1
"Kek," panggil Yati dengan sungkan.
"Ya, ada apa Kiara?"
Yati tidak langung bertanya pada sang Kakek, meskipun sang Kakek sudah menjawab panggilannya.
"Apa Kamu tidak siap untuk bertemu dengan wanita itu?" tanya sang Kakek, yang mungkin saja bisa menebak bagaimana perasaan cucunya saat ini.
Yati mengangguk, tapi dengan cepat mengeleng juga. "Bukan. Bukan itu maksudku," jawab Yati sambil tetap mengelengkan kepalanya beberapa kali.
"Lalu?" tanya sang Kakek lagi, meminta jawaban yang pasti.
Akhirnya Yati menjawab pertanyaan dari sang Kakek bahwa, dia ingin supaya sang Kakek menceritakan sedikit tentang masa lalu wanita-nya itu. Bukan hanya sekedar cerita yang kemarin dia ungkapkan, saat ada anak kecil yang dia bawa pergi. Tapi lebih pada latar belakang dari wanita itu sendiri. Dari mana dia dan bagaimana bisa wanita itu ada bersama dengan sang Kakek, bahkan bisa sampai melakukan perselingkuhan dengan pengawal sang Kakek sendiri.
Dari permintaan Yati ini, sang Kakek tentu kesulitan untuk bercerita. Karena akan membuatnya, mau tidak mau harus menceritakan juga bagaimana dirinya yang dulu. Dan itu adalah masa lalunya, yang ingin dia buang dan tidak diketahui oleh siapapun.
"Apa yang harus Aku ceritakan? Bukannya itu tidak penting?" Sang Kakek mencoba untuk mengulur waktu, supaya mereka sudah tiba di rumah wanita-nya itu, sebelum dia sempat bercerita.
"Tapi setidaknya Kiara bisa memancing wanita itu untuk mengingat kembali semua yang dulu pernah dia alami bersama dengan Kakek," sahut Yati memberikan alasan, kenapa dia bertanya seperti tadi.
"Dia pasti mengingat Kakek Kiara, seandainya melihat Bros Bunga itu. Karena adalah salah satu dari benda yang sangat berarti untuknya."
Jawaban yang diberikan oleh sang Kakek, membuat Yati mengangguk-anggukkan kepalanya tanpa sadar. Tapi ada satu hal yang juga ingin dia katakan pada sang Kakek.
"Kenapa Kakek tidak berusaha untuk membuat tiruannya, jika Bros Bunga itu bisa membuat wanita itu lebih baik, daripada dalam keadaan yang seperti sekarang ini?"
Pertanyaan yang diajukan oleh Yati, membuat sang Kakek tertegun. Dia tidak mungkin membuat tiruannya, karena chip rahasia ada di Bros Bunga yang asli.
Tapi sepertinya sang Kakek kesulitan untuk menjawab pertanyaan dari Yati. Jadi, dia hanya bisa menggeleng.
__ADS_1
Dan itu sudah membuat Yati terdiam, dan tidak lagi bertanya-tanya. Dia berpikir bahwa, Bros Bunga miliknya itu, ada rahasianya sendiri. Oleh karena itulah, sang Kakek tidak mungkin membuat duplikat atau tiruannya. Karena tiruan itu, tidak ada artinya sama sekali, untuk kepentingan sang Kakek sendiri.
Yati tahu, jika sang Kakek sebenarnya lebih mementingkan dirinya dibandingkan dengan wanita-nya itu. "Pasti ada sesuatu yang disembunyikan oleh sang Kakek, dengan adanya Bros Bunga itu. Tapi apa ya? Aku tidak bisa menemukan apa-apa pada Bros Bunga tersebut." Yati terus bertanya-tanya dalam hati.
Setelah menempuh perjalanan yang panjang dan jauh, sekarang mereka berdua sudah sampai di depan sebuah rumah, dengan bangunan yang sedikit berbeda dengan bangunan rumah-rumah di sekitarnya.
Tembok tinggi yang mengelilingi rumah tersebut, membuatnya tidak terlihat jelas dari luar. Dan Yati jadi lebih heran lagi, saat pintu gerbang rumah di buka. Ternyata halaman rumah itu cukup luas, dibandingkan dengan halaman rumah-rumah, yang tadi mereka lewati.
Benar-benar diluar dugaan Yati, jika rumah ini sama seperti rumah-rumah disekitarnya. Kecil dan tidak ada istimewanya. Yang membedakan hanya tembok tinggi tadi, bersama dengan gerbang rumahnya, dan sekarang adalah halamannya yang luas.
Di beberapa sudut bangunan, ternyata ada juga cctv yang terpasang. Dan ada juga beberapa pengurus rumah, yang tampak biasa saja, meskipun di dalam hatinya Yati yakin, bahwa mereka adalah para bodyguard yang berpenampilan seperti layaknya pengurus rumah biasa.
Yati turun dari mobil, sama seperti yang dilakukan oleh sang Kakek, saat salah satu pengurus rumah membukakan pintu.
"Bagaimana keadaannya?" sang Kakek bertanya kepada pengurus rumah, sama seperti biasanya jika dia datang ke rumah ini.
"Seperti biasanya Tuan. Tidak ada sesuatu yang terjadi."
Jawaban yang biasa juga terdengar sedikit aneh ditelinga Yati. Entah apa dan siapa sebenarnya wanita yang disembunyikan oleh sang Kakek. Karena Yati berpikir jika, tidak mungkin sang Kakek merawat wanita itu sendiri seperti ini, jika dia sudah tidak bisa memberikan kepuasan pada sang Kakek, bagaimana layaknya wanita pada umumnya, yang dijadikan simpanan. Apalagi keadaan wanita itu juga sudah tidak baik-baik saja sejak dulu.
Jika tidak ada sesuatu, pasti sang Kakek sudah membawanya ke rumah sakit jiwa atau dibiarkan terlantar di jalan. Apalagi dengan pengkhianatan yang dilakukan oleh wanita itu sendiri dengan pengawal sang Kakek.
Tidak mungkin sang Kakek mau membiayai semahal itu, dengan biaya yang tentunya tidak sedikit dan juga fasilitas yang sangat baik. Adanya pengawasan dari beberapa pengawal dan keadaan rumah yang tetap kayak di huni.
Yati merasa semakin yakin, jika ada rahasia besar dibalik semua ini.
"Apa yang sebenarnya disembunyikan oleh sang Kakek? Dan Bros Bunga itu, apa yang sebenarnya ada di balik Bros Bunga tersebut?"
Yati semakin curiga dengan apa yang dia lihat saat ini, dan juga dia rasakan, dari semua cerita yang dia dengar dari sang Kakek sendiri.
__ADS_1