
Saat Biyan pergi ke kamar, mama Cilla mengatakan bahwa, dia ingin berbicara dengan Yati, tapi di tempat yang lain. Dia tidak ingin jika putranya, Biyan, mendengar apa yang mereka bicarakan nantinya.
Yati hanya bisa mengikuti, apa yang diinginkan oleh mamanya Biyan. Dia tahu, bagaimana perasaan wanita cantik tersebut.
Dan saat mereka bicara di teras samping rumah, saat Biyan pergi mandi, barulah Yati tahu, apa yang terjadi pada pacar remajanya itu.
"Anakku Biyan, mengalami oedipus complex."
Tentu saja, Yati merasa kaget, saat mamanya Biyan mengatakan kondisi mental anaknya.
Oedipus complex adalah, ketertarikan seorang pria kepada wanita lebih tua usianya dari dirinya.
Dan ini tidak hanya terjadi pada Yati. Sebelumnya, Biyan juga menyukai kakak iparnya sendiri, istri dari kakak laki-lakinya, yang bernama Elisa.
Akhirnya Yati tahu juga, siapa Elisa, yang sering disebut-sebut oleh Biyan selama ini.
"Tante minta pengertian dari miss Yeti, untuk kelainan Biyan ini. Tolong, jauhi dia. Saya sebagai mamanya, sangat prihatin dengan kondisi Biyan."
Yati semakin curiga, jika sebenarnya Biyan hanya mengunakan dirinya sebagai pelarian dari perasannya yang salah terhadap kakak iparnya itu, Elisa. Istri dari kakaknya Biyan.
"Baik Tante. Saya usahakan untuk bisa menjauhkan diri dan menasehati anaknya Tante itu. Karena sebenarnya, dia lebih sering memanggil nama Saya dengan sebutan El, atau kak El. Sekarang, Saya jadi tahu, kenapa itu bisa terjadi."
Mamanya Biyan, mama Cilla, tentu saja merasa sangat terkejut dengan pengakuan yang diberikan oleh Yati barusan.
Wanita itu tentu saja tidak menyangka, jika pacar anaknya itu dengan gamblang mengatakan apa-apa, yang menjadi pertanyaannya selama ini.
"Saya pikir, dulu Biyan mengalami broken home, tapi ternyata tidak. Ini semata karena kelainan kejiwaan yang dia miliki." Yati melanjutkan kalimatnya, yang sempat dia potong, dengan melihat reaksi mamanya Biyan.
"Dan Tante tahu, Biyan itu ternyata sangat mencintai kakak iparnya."
Terdengar suara helaan nafas panjang, dari mama Cilla, saat mendengar perkataan yang diucapkan oleh Yati tadi.
Wanita cantik itu tentu sangat tahu, apa yang dirasakan dan dialami oleh putranya sendiri, Biyan.
__ADS_1
Itulah sebabnya, mama Cilla mengajak anaknya untuk berkonsultasi dengan dokter spikiater, untuk bisa mengurangi sedikit demi sedikit kelainan anaknya.
Yati hanya bisa mengangguk dan tersenyum, mendengar perkataan mama Cilla.
"Baik Tante. Saya juga berharap agar Biyan bisa kembali normal, dan bisa menjalani hari-harinya sama seperti layaknya seorang remaja yang lain di luar sana."
Tak lama, Biyan sudah kembali. Dia terlihat lebih segar dan lebih tampan. Yati tidak menampik kalau Biyan sangat mempesona, sebagai seorang laki-laki.
Sayangnya, usia mereka berbeda, status sosial mereka yang berbeda juga.
Dan Yati sangat tahu jika mereka berdua, tidak mungkin bisa menjadi satu dalam sebuah hubungan yang lebih jauh dari sekedar pacar biasa.
Yati pamit pulang, tapi Biyan memaksa untuk mengantar Yati. Dan Mama Cilla, tidak bisa mencegah keinginan anaknya itu.
Tapi Yati tetap tersenyum, untuk menyakinkan pada mamanya Biyan, agar tenang dan tidak merasa khawatir, karena Yati akan berusaha untuk bisa menasehati anaknya itu.
Sebisa mungkin, Yati akan melakukan apapun, untuk mengembalikan Biyan ke dalam pelukan keluarganya sendiri.
Dengan hati-hati, Yati berusaha untuk menasihati pacar remajanya itu, agar tidak merasa tersinggung, karena perkataan Yati yang mirip dengan para ibu-ibu di rumah.
"Aku bisa belajar di mana saja. Aku juga tidak perlu repot-repot belajar, jika hanya mengerjakan pekerjaan sekolah atau tes yang mudah bagiku."
Yati tahu, keluarga Biyan tentu pandai-pandai dalam pelajaran sekolah mereka. Karena tadi, Yati sempat melihat tropi-tropi dan juga kalung-kalung mendali, yabg berjejer di lemari kaca. Tak jauh dari sofa ruang tamu.
Ada juga beberapa foto, yang memperlihatkan keadaan pada saat pemberian tropi dan medali, yang ada pada bingkai foto.
Tapi tetap saja, Yati harus bisa memberikan alasan yang jelas, agar Biyan bisa menerima alasan darinya, agar tidak sering-sering berkunjung ataupun pergi bertemu dengannya.
Entah di terima atau tidak, Yati hanya bisa memberikan alasan-alasan itu, supaya Biyan bisa kembali pada keluarganya sendiri, yang tentu akan lebih mendukungnya dalam segala hal, dan dalam keadaan apapun dirinya.
*****
Besoknya, Yati berbicara dengan Mr Akihiko, untuk rencananya, yang ingin mengundurkan diri dari pekerjaannya.
__ADS_1
Mr Akihiko tentu merasa sangat terkejut, dengan keputusan yang diambil oleh Yati.
Apalagi, dari kemarin-kemarin, Yati tidak pernah menyingung soal apapun, termasuk rencananya ini.
Mr Akihiko jadi curiga, jika apa yang dikatakan oleh Yati, ada hubungannya dengan mantan suaminya dulu. Yaitu Mr Ginting.
"Tidak. Ini murni keputusan yang Saya ambil Mr. Saya merasa cukup lelah, dengan semua hal yang sama setiap harinya."
Yati mengemukakan beberapa alasan, yang bisa diterima oleh seorang Mr Akihiko, supaya keputusannya itu didukung oleh atasannya itu.
"Apa ini tidak terlalu cepat? Kamu belum juga genap tiga puluh tahun miss Yeti. Masih ada waktu yang panjang, untuk pekerjaan dan kehidupan ini. Kenapa mau pensiun cepat?"
Pertanyaan demi pertanyaan, diajukan oleh Mr Akihiko pada Yati.
Sedangkan Yati sendiri, tidak bisa menjawab dengan mudah, apa yang ditanyakan oleh Mr Akihiko padanya.
*****
Di kamar kostnya, Yati berpikir banyak hal. Sama seperti yang dikatakan oleh Mr Akihiko padanya tadi, dia juga merasa belum siap secara mental, untuk meninggalkan dunianya ini.
Yati berpikir lagi, karena meskipun sekarang ini dia ada usaha di kampung, tapi dia masih membutuhkan banyak modal, agar usahanya itu tetap berjalan dengan baik, dan tidak kekurangan modal, sehingga busa tutup dengan cepat, alias bangkrut.
Kini, Yati bertekad untuk mengumpulkan uang untuk modal dia pensiun dari pekerjaannya ini. Dia tidak mau juga, jika selama ada di dalam lingkaran usaha milik Mr Akihiko, apalagi selama hidupnya harus menjadi seorang gheisa terus menerus.
"Aku harus bisa. Aku juga ingin hidup bersama dengan mbok Minah, dan menjaganya. Aku tidak mungkin selamanya ada di dalam hidup, yang sebenarnya Aku sendiri tidak inginkan untuk ada di sini."
Begitulah kira-kira keputusan yang diambil oleh Yati. Dia akan tetap bekerja untuk beberapa tahun ke depan, dengan niatan untuk mengumpulkan uang, sebagai bekal hidupnya di kampung, saat sudah pensiun dari kantor milik Mr Akihiko ini.
Yati menyusun semua rencana itu, di dalam hatinya. Dengan tekad yang bulat, dia akan berhenti pada usianya yang tidak lama lagi menjadi tiga puluh tahun.
Sama seperti yang dikatakan oleh Mr Akihiko padanya, kemarin itu.
Dan jika memungkinkan, Yati akan mempercepat waktunya, jika dia merasa sudah cukup dengan apa yang dia targetkan.
__ADS_1