
Jakarta.
Biyan, dengan wajah yang masih menyimpan kesedihan dari duka yang belum usai, duduk di ruang keluarga. Ia merasa perlu untuk membicarakan hal ini dengan saudara-saudaranya.
Mereka duduk bersama dalam suasana yang hening, atmosfer yang ada seakan menahan napas Biyan yang tegang.
"Kak Aji, a-ku ingin membicarakan sesuatu yang sangat penting. A-ku, aku telah memikirkannya dengan baik." Biyan, memulai pembicaraan.
"Tentu, Biyan. Kami mendukungmu, apa yang ingin kamu katakan?" tanya Aji, kakak tertuanya.
"Aku, meminta izin untuk pergi ke luar kota. Ini, terkait cintaku."
Semua mata memandang ke arah Biyan, karena selama ini hanya diam saja yang tidak pernah membicarakan tentang perasaan hati ataupun cinta.
"Siapa?" tanya Aji, lagi.
"Dia ... aku dia lebih tua dariku, tapi aku sangat mencintainya. Lebih dari itu, mama sebelum meninggal memberikan restu untuk cinta ini, tanpa memandang siapapun."
Biyan, tidak langsung menjawab dengan menyebutkan nama. Tapi ia justru memberikan keterangan atas Restu yang diberikan namanya sebelum meninggal.
Kakak Pertamanya, tentu saja memahami bahwa ini tidak mudah bagi Biyan. Apa yang mamanya katakan memang penting, demi masa lalu Biyan, yang kelam.
Tapi sebagai seorang saudara yang tertua, Aji tentu saja harus lebih bijak dalam menghadapi adik-adiknya.
"Apakah kamu sudah memikirkan segala konsekuensinya?" tanya Aji, dengan hati-hati.
(Kisah Aji dan keluarganya, ada di novel Anak Genius, Namaku Aji.)
"Sudah, kak. Aku tahu ini tidak mudah, tapi aku siap menghadapinya. Aku ingin memulai hidup baru dengannya," jawab Biyan, dengan tekad niatnya.
"Kami akan mendukungmu, Biyan. Yang penting adalah kebahagiaanmu. Kami akan berada di sampingmu, tak peduli apapun yang terjadi." Kakaknya yang perempuan, tersenyum memberikan dukungan.
__ADS_1
Setelah mendapatkan dukungan dari keluarganya, Biyan mempersiapkan diri untuk perjalanan panjang menuju daerah tempat tinggal Yati.
Pagi-pagi buta, ia meninggalkan rumahnya di Jakarta dengan hati yang penuh dengan harapan. Mobilnya melaju perlahan-lahan menuju jalan tol yang akan membawanya ke destinasi yang diinginkannya.
Selama perjalanan, Biyan merenungkan tentang keputusannya. Ia mengingat momen-momen bahagia bersama Yati dan bagaimana ia telah melewati berbagai cobaan bersama-sama. Meskipun perjalanan ini jauh dan melelahkan, tekadnya tidak goyah.
Saat matahari telah hampir sore,, Biyan tiba di daerah tempat tinggal Yati. Udara segar dan pemandangan pedesaan menyambutnya. Karena ia sudah pernah datang bersama dengan Mr Ginting, tanpa kendala berarti, Biyan sudah tiba di depan rumah Tuan Wasito.
"Maaf, saya ingin bertemu dengan Mis Yeti. Hm ... maksudnya, Yati." Biyan, menyampaikan maksud kedatangannya pada penjaga rumah.
"Tunggu sebentar, njeh!"
Biyan, mengangguk mengiyakan permintaan dari penjaga yang suruh menunggu. Sedangkan penjaga itu sendiri masuk ke dalam rumah memberitahukan pada, Yati.
Tak lama kemudian, ketika Yati membukakan pintu dan mereka berdua bertemu, senyum di wajah Biyan tidak bisa disembunyikan. Mereka saling memandang dengan perasaan masing-masing.
"Biyan?"
Tapi pertemuan yang membahagiakan ini tidak berlangsung lama. Sesaat Biyan dan Yati bertemu, suasana terasa tegang. Mereka sama-sama menyadari bahwa ada ketegangan yang datang di udara.
Mr Andre, pria paruh baya yang dekat dengan Yati dan menjadi cinta pertamanya, berdiri di depan mereka. Ekspresinya campur aduk, mencerminkan rasa keterkejutan dan kompleksitas perasaannya.
Biyan mencoba mempertahankan ketenangan.
"Maaf, saya Biyan."
Biyan, perkenalkan dirinya sendiri. Ia tahu siapa Mr Andre, secara Mr Andre ini cukup terkenal juga sebagai mantan pejabat negara dan juga pengusaha.
Apalagi, Biyan juga sudah mengetahui bagaimana wajah Tuan Wasito, ayahnya Yati. Jadi, ia justru berpikir yang tidak-tidak saat melihat keberadaan Mr Andre bersama dengan Yati, di rumah ayahnya Yati ini.
Mr. Andre memandang Biyan dengan tatapan tajam. "Saya tahu siapa Anda, Tuan muda Biyan," ucapnya dengan nada dingin.
__ADS_1
Ternyata, Biyan juga cukup dikenal, sebagai selain memiliki usaha penjaga keamanan atau bertindak dia juga adalah salah satu anak dari mendiang pengusaha besar, Aji Saka.
Yati, yang berada di antara mereka, tampak gugup. Ia mencoba menenangkan suasana. "Mr Andre, Biyan ini adalah__
"Saya mengerti, Yati."
Mr Andre, memotong kalimat Yati, yang ingin menerangkan siapa sebenarnya Biyan. Pria paruh baya tersebut juga sebenarnya merasa khawatir jika kedatangan pria muda didepannya ini memiliki tujuan khusus.
Mr. Andre menarik nafas dalam-dalam sejenak sebelum akhirnya mengangguk. "Saya mengerti, Yati. Yang terbaik untukmu adalah yang terpenting."
Meskipun Mr Andre memberikan persetujuannya, kehadirannya masih meninggalkan rasa ketegangan. Biyan mencoba untuk tidak menunjukkan kekhawatirannya, tetapi ia merasa perlu untuk menghormati situasi kedua orang yang ada di depannya juga.
Masa lalu Yati, tentu saja memiliki banyak hubungan dengan para pria. Dan itu bukanlah pria-pria biasa, termasuk Mr Andre.
"Mari ... kita duduk dulu," ajak Yati, mencoba untuk mencairkan suasana yang tegang.
Sekarang, mereka semua duduk bersama untuk membicarakan tentang situasi ini. Percakapan itu tidak mudah, tetapi mereka berusaha untuk membuka hati satu sama lain dan mencari jalan ke depan.
Di dalam hati Yati, perasaan bercampur aduk seperti ombak di lautan yang tenang. Setelah bertahun-tahun, Mr Andre tiba-tiba muncul kembali dalam hidupnya, membawa kembali kenangan-kenangan manis masa lalu. Mereka pernah berbagi banyak hal bersama, dan kehadiran Mr Andre membangkitkan kembali rasa-rasa yang terpendam.
Di sisi lain, ada Biyan. Pria yang telah menjadi masa lalunya juga. Mereka telah melewati begitu banyak cobaan bersama, dan Biyan adalah orang yang memahami dan mencintainya sepenuh hati. Yati, juga merasa nyaman dan aman bersama Biyan.
'Bagaimana ini? Kenapa seperti ini terus?' tanya Yati dalam hati.
Kemarin, saat berada di Bogor, ada Mr Ginting dan Mr Akihiko, yang permasalahannya sudah bisa ditenangkan. Tapi kini, ada Mr Andre dan Biyan yang datang bersamaan juga.
Setiap kali Yati memandang Mr. Andre, dia teringat akan masa-masa indah mereka bersama. Namun, setiap kali matanya bertemu dengan mata Biyan, dia merasakan kehangatan dan dukungan yang tak tergantikan. Hatinya berkecamuk, terjebak dalam pertarungan emosional yang sulit.
'Aku, harus bisa membuat keputusan yang tepat untuk masa depanku sendiri. Aku, juga berhak bahagia dalam kenyamanan dan ketenangan.'
Yati tahu dia harus membuat keputusan sulit. Dia sadar bahwa pilihan ini akan memengaruhi seluruh hidupnya. Pertarungan antara hati dan logika terus berlanjut di dalam dirinya, menciptakan kebingungan dan kekhawatiran yang mendalam.
__ADS_1
Tetapi, di tengah semua kebingungannya, Yati tahu bahwa pilihan yang paling penting adalah memilih apa yang benar-benar membuat hatinya bahagia, bahkan jika itu berarti mengambil risiko dan menghadapi ketidakpastian.