Miss Yeti Bukan PSK Biasa

Miss Yeti Bukan PSK Biasa
Kelilingi Negara Vrindavan


__ADS_3

"Kalian tidak boleh lengah meskipun sedang menikmati bulan madu, karena bisa saja mereka mengikuti kalian sampai ke India."


Aji, memperingatkan Yati dan Biyan pada saat mereka mau berangkat. Hal ini dilakukan, sebab bisa saja orang-orang Mr Akihiko bergerak cepat ke sana karena merasa tidak mendapatkan pengawasan.


"Terima kasih, kak Aji."


"Saya juga telah menghubungi beberapa rekan, yang bisa membantu memantau situasi di sana. Meskipun saya tahu, orang-orang mendiang ayahmu, Tuan Sangkoer, juga orang-orang yang handal."


Mr Andre, juga memberikan pesan kepada mereka berdua untuk menghubungi beberapa orang yang bisa diandalkan di sana selain dari orang-orangnya Aji di India.


Sejak kematian Tuan Besar Sangkoer Shing, Aji yang menjalankan semua usaha dan bisnis ayah angkatnya itu, melalui tangan-tangan orang yang dipercaya. Apalagi Biyan, sempat tinggal dan belajar di sana.


"Jika ada tanda-tanda kegiatan mencurigakan, beri tahu kami segera."


"Ya, Kak Aji."


Tim mereka bekerja secara bersama-sama untuk melindungi dan memastikan keamanan mereka dari upaya sabotase Hiroshi, asisten Mr Akihiko. Mereka memanfaatkan semua sumber daya dan jaringan yang mereka miliki untuk memastikan bahwa segala sesuatu tetap terkendali.


Sementara Hiroshi terus berusaha mencapai tujuannya, dia juga menyadari bahwa tim Yati dan Biyan tidak akan menyerah begitu saja.


Pertempuran ini berlanjut, dan keduanya bertekad untuk memenangkan pertarungan ini untuk keadilan dan keamanan mereka sendiri kedepannya nanti.


***


"Welcome to India, kota yang lebih tenar dengan sebutan negeri vrindavan saat ini, karena berbagai makanan yang viral."


"Hahaha ... tapi tidak semua tempat sangat menakjubkan, seperti yang ada di video-video viral itu, kan?" tanya Yati, memastikan.


"Tentu saja tidak, Ai. Sama seperti Jakarta, ada tempat yang sedikit kumuh, tapi ada yang bersih, rapi, dan teratur."


Yati dan Biyan memilih India sebagai destinasi bulan madu mereka, mengeksplorasi keindahan budaya, sejarah, dan alam yang kaya di negeri yang penuh warna ini.


Mereka tiba di Jaipur, kota yang mempesona dengan istananya yang megah dan jalan-jalan berbatu. Di sini, mereka mengunjungi Hawa Mahal yang ikonik, menikmati senja di Jal Mahal, dan menjelajahi pasar-pasar tradisional yang ramai.


Malam itu, Yati dan Biyan duduk di tepi kolam renang hotel mereka di Jaipur, di bawah cahaya bulan yang bersinar terang.


"Koi. Biyan, ini begitu indah, bukan?" Yati bertanya dengan tersenyum lembut.

__ADS_1


"Ya, benar-benar indah. Tapi tidak seindah kamu, Ai."


Biyan melihat matahari terbenam, kemudian melihat ke arah wajah istrinya dengan membandingkan. Tapi tentunya Yati juga tahu, jika Biyan sedang merayunya.


"Hehehe ... Kamu selalu tahu cara membuatku tersenyum, Ai." Yati tertawa dengan malu-malu.


"Itu karena setiap senyummu adalah matahari bagiku," ucap Biyan dengan menyentuh tangan Yati.


Mereka berdua saling memandang dengan mata penuh kasih, mengungkapkan perasaan cinta mereka yang mendalam.


Sore itu, mereka belum pergi berjalan-jalan untuk mengeksplorasi berbagai tempat dan wahana yang ada di kota jaipur.


"Ai aku sangat beruntung memiliki kamu di hidupku. Kamu membuat segalanya begitu istimewa. Terima kasih," ucap Yati, seraya mencium punggung tangan suaminya.


"Kamu juga membuat hidupku menjadi sesuatu yang luar biasa, Ai. Bersamamu adalah anugerah terbesar," sambut Biyan, membawa Yati ke dalam pelukannya.


Mereka memandang bintang-bintang yang mulai bermunculan, menikmati momen kebersamaan mereka dalam ketenangan senja yang beranjak malam.


"Ai, Yati. Ada sesuatu yang ingin kukatakan padamu," ucap Biyan, dan mengeluarkan kotak kecil dari sakunya.


"Apa itu, Koi?" tanya Yati dengan tatapan mata berbinar-binar bahagia.


"Yati, aku ingin menghabiskan sisa hidupku bersamamu. Apakah kamu mau, selamanya denganku?" tanyanya kemudian.


Padahal, tanpa pertanyaan tersebut tentu saja Yati akan menemaninya menghabiskan waktu hingga akhir hayat. Mereka berdua sudah terikat dalam sebuah ikatan hubungan pernikahan yang suci.


"Tentu saja, Ai. Dengan segenap hatiku, aku mau." Yati, menjawab pertanyaan suaminya dengan tulus.


Mereka memeluk erat satu sama lain, merasakan kebahagiaan dan kehangatan di dalam hati mereka.


Momen ini akan selalu menjadi kenangan yang indah bagi mereka berdua, menandai awal dari perjalanan hidup yang mereka tempuh bersama. Mereka menyadari bahwa cinta mereka adalah cahaya dan jalan yang akan membimbing mereka melalui setiap perjalanan dan rintangan dalam kehidupan mereka bersama.


Malam semakin larut, membuat keduanya harus segera masuk ke dalam kamar, menghabiskan waktu yang lebih intim. Membuat hubungan menjadi semakin erat bukan hanya sebuah perkataan di bibir saja.


Esok harinya, mereka berjalan-jalan menjelajahi kota Jaipur sebelum melanjutkan perjalanan sesuai dengan rencana.


"Kita akan menghabiskan dua hari di sini, baru sore hari ke Agra." Biyan, mengingatkan rencana mereka.

__ADS_1


"Iya, aku ikut saja Ai. Kemanapun, dimana pun, yang penting bersamamu tentu saja aku mau." Yati, tersenyum manis saat memberikan tanggapan atas pernyataan suaminya.


Dua hari kemudian, mereka benar-benar melanjutkan perjalanan mereka ke Agra, di mana mereka tersentuh oleh keindahan Taj Mahal, simbol cinta abadi. Mereka menjelajahi kompleks Mughal yang megah, memandang matahari terbenam di Taman Mehtab Bagh, dan menikmati makan malam romantis di restoran dengan pemandangan Taj Mahal.


Saat matahari perlahan tenggelam di balik Taman Mehtab Bagh, Yati dan Biyan berdiri di tepi sungai Yamuna, mengagumi keindahan Taj Mahal yang mempesona.


"Taj Mahal adalah simbol cinta yang begitu mengharukan, bukan?" Yati bertanya dengan tersenyum lembut, memandang ke arah wajah suaminya dengan intens.


"Ya, Ai. Ini membuatku teringat akan cinta kita yang akan terus abadi," terang Biyan dengan memeluk tubuh istrinya.


Yati mendongak menatap Biyan dengan penuh kasih, tak menyangka bahwa pria yang lebih muda darinya itu bisa berlaku dewasa, hangat dan nyaman. Dengan Biyan juga, Yati merasa terlindung.


"Kamu adalah segalanya bagiku, Koi. Aku bersyukur memiliki kamu di hidupku," ucap Yati, dengan menyentuh wajah suaminya.


Biyan kembali memeluk Yati dengan lembut, sesekali mengecup pucuk kepala Yati beberapa kali. Pria itu merasakan kebahagiaan dalam keadaan seperti sekarang ini, seperti tanpa beban.


"Sama-sama, Ai. Aku tidak bisa membayangkan hidup tanpamu," ucapnya masih dengan memeluk Yati.


Setelah itu, mereka kembali berjalan-jalan menjelajahi kompleks Mughal yang megah, kemudian mereka memutuskan untuk makan malam di restoran dengan pemandangan Taj Mahal yang memukau.


Lampu-lampu gemerlapan memancarkan cahaya lembut, menciptakan atmosfer yang begitu romantis sebagaimana yang biasa dilihat-lihat di sosial media.


"Setiap momen bersamamu adalah hadiah terindah, Ai." Biyan menatap mata Yati, dengan penuh cinta.


"Sama, Koi. Aku merasa begitu beruntung bisa berbagi hidup ini denganmu," sahut Yati dengan tersenyum bahagia.


Mereka saling memegang tangan, merasakan kekuatan cinta yang mengalir di antara mereka.


Saat mereka saling berbincang seperti itu, Taj Mahal bersaksi atas cinta abadi mereka. Makan malam romantis ini akan selalu menjadi salah satu momen terindah dalam kisah cinta mereka yang tak terlupakan. Mereka menyadari bahwa bersama, mereka akan mengarungi kehidupan dengan cinta dan kebahagiaan yang abadi.


Dua hari kemudian, untuk selanjutnya, mereka berangkat ke Varanasi, kota suci di tepi Sungai Gengga. Di sini, mereka menyaksikan upacara pagi di Dasaswamedh Ghat, mengelilingi jalanan berliku kota tua, dan merasakan spiritualitas kota ini dalam kunjungan ke kuil-kuil dan ghats.


Di Varanasi, Yati dan Biyan merasakan kekayaan spiritualitas dan tradisi kota suci ini bagaimana umat Hindu di India.


"Apa semua duduknya beragama Hindu, makanya terkenal dengan Hindustan?" tanya Yati pada Biyan, yang sudah mengenal India jauh lebih baik dibandingkan dirinya.


"Tidak juga. Ada beberapa agama lain selain Hindu, sebagai agama mayoritas di sini."

__ADS_1


"Lalu, mendiang ayah Sangkoer Shing itu beragama ..."


__ADS_2