
Yati merasa ragu, apa dia harus menerima panggilan telpon tersebut, atau mengabaikannya saja.
Apalagi saat ini, Yati sedang bersiap-siap untuk berangkat ke kampung halamannya, untuk waktu yang cukup lama. Karena di kampung, Yati bisa lebih tenang dan bisa melupakan semua kesedihannya saat ini.
Tapi karena menghormati yang lebih tua, dan karena sang Kakek juga, dia bertemu dengan ibunya, dia tidak ingin melupakan rasa terima kasihnya, kepada sang Kakek. Meskipun ibunya kini sudah tiada lagi.
..."Ya halo."...
..."Miss Kiara?"...
..."Ya. Ada yang bisa saya bantu Pak?"...
..."Anda masih ingat Saya miss Kiara?"...
..."Ya. Anda adalah asisten pribadi Kakek. Benarkan?"...
..."Ah, syukurlah kalau Anda masih ingat."...
Akhirnya asisten pribadi ataupun pengawal pribadinya sang Kakek menceritakan tentang keadaan sang Kakek saat ini. Berharap agar miss Kiara bisa membantu segala sesuatu untuk kesehatan sang Kakek.
Kesehatannya menurun, tapi tidak mau dirawat ke rumah sakit. Di ajak untuk ikut anak atupun cucunya di rumah mereka, sang Kakek juga tidak mau. Dan yang paling parah, dia hanya diam saja saat di tanya, tidak bicara seperti biasanya.
Pengawal pribadi tersebut juga bercerita bahwa, Mr Ginting tidak ada di Indonesia. Dia ada di Eropa, untuk mengurus bisnisnya di sana.
Namum sayangnya, Mr Ginting menolak panggilan telpon dari sang Kakek, Surya Jaya, atau siapapun yang berhubungan dengan sang Kakeknya itu.
..."Kami minta bantuan pada miss Kiara, jika berkenan, tolong bujuk Mr Ginting, supaya mau datang menjenguk Tuan Besar. Siapa tahu, sakitnya Tuan Besar karena kangen dengan cucunya itu."...
..."Saya? Anda tahu sendiri Pak, bagaimana hubungan Saya dengan Mr Ginting yang sudah berakhir."...
..."Iya, Saya paham Miss. Tapi kepergian Mr Ginting dari Indonesia karena merasa kecewa dengan semua yang sudah terjadi antara Anda, Tuan Besar dan Mr Ginting sendiri."...
Yati menghela nafas panjang, mendengar perkataan dari pengawal tersebut. Dia tidak tahu, apa yang akan dia katakan pada Mr Ginting, yang saat ini sudah bukan siapa-siapa dia lagi.
__ADS_1
Tapi, demi mencegah adanya kesedihan di keluarga sang Kakek, Yati menyanggupi permintaan dari pengawal pribadi tersebut. Meskipun dia tidak berjanji untuk bisa berhasil dengan usahanya kali ini.
Di keluarga besar Mr Ginting, perpisahan antara mereka berdua, hanya beredar luas dengan adanya kabar bahwa, tidak ada kecocokan. Itulah sebabnya, mereka berdua, Mr Ginting dan miss Kiara, memutuskan untuk hidup sendiri-sendiri, sementara waktu, sampai batas tertentu.
Surya Jaya sendiri tidak tahu pasti dengan adanya berita tersebut. Yang dia tahu bahwa, kakak sepupunya itu, Mr Ginting, telah pindah ke Eropa, karena merasa kecewa, dan juga sedih karena perpisahan sementara ini dengan istrinya itu.
Padahal yang Surya Jaya tahu, kakak sepupunya itu sangat mencintai dan menyayangi istrinya. Miss Kiara.
Akhirnya, setelah memberikan jawaban untuk menyanggupi permintaannya tadi, Yati berusaha untuk menghubungi Mr Ginting. Dia hanya merasa jika, sang Kakek hanya kangen dan tidak ingin dicueki oleh cucu kesayangan, yaitu Mr Ginting.
Tapi ternyata nomer handphone Mr Ginting tidak bisa dihubungi. Bisa jadi, nomer handphone milik Yati di privasi Mr Ginting, sehingga dia tidak bisa melakukan panggilan telpon tersebut.
Dengan sangat terpaksa, Yati akhirnya menghubungi pengawal pribadi sang Kakek, untuk mengatakan semua yang sudah dia usahakan.
Pengawal pribadi tersebut memaklumi bahwa, Mr Ginting sulit untuk dihubungi. Dia tidak memaksa pada Yati lagi. Dan dia juga mengucapkan terima kasih.
Yati tidak bertanya apa-apa pada pengawal pribadi tersebut, dan juga tidak mengirimkan pesan ataupun sekedar salam pada sang Kakek.
Dia hanya berkata, 'semoga Kakek cepat membaik.'
Apalagi, rencana ada di kampung halaman akan lama, tentu saja, dia juga membutuhkan beberapa barang bawaan yang cukup banyak juga.
Esok harinya, Yati sudah selesai menata semua barang-barang yang akan dia bawa ke kampungnya, di dalam bagasi mobil.
Yati sudah siap untuk perjalanannya kali ini. Tapi, dia tidak memberikan kabar terlebih dahulu, pada mbok Minah. Dia ingin membuat kejutan untuk orang tua yang sudah merawatnya sedari bayi itu.
"Semoga Mbok Minah selalu sehat," gumam Yati, di saat dia sudah masuk ke dalam mobil dan siap untuk berangkat.
Semalam, sebelum tidur, Yati sudah menghubungi Mr Akihiko, jika dia akan pulang ke kampung pagi hari. Di kampung, Yati juga akan lama tinggal dan tidak kembali ke kota dalam waktu dekat.
Mr Akihiko tidak mempermasalahkan soal itu. Dia hanya berharap supaya anak asuhnya itu, segera membaik suasana hatinya. Dan bisa kembali ke kota, untuk melanjutkan pekerjaannya di tempatnya, sama seperti waktu dulu.
*****
__ADS_1
Lembayung senja di ujung jalan menuju ke kampung, tampak indah untuk dilihat. Yati tidak menyia-nyiakan kesempatan untuk melihatnya. Hal yang sudah lama tidak dia lakukan, menatap pergantian waktu, dengan banyak hal yang akan dia lupakan, kemudian akan berganti dengan sebuah harapan yang baru.
Yati berhenti di pinggir jalan. Dia keluar dari dalam mobil, kemudian berdiri di samping mobil. Menatap jauh ke area persawahan, yang luas di depan matanya saat ini.
Senja di pinggir kampung. Orang-orang yang biasa bekerja di sawah, sudah tidak ada. Mereka sudah pada pulang, karena para petani dan pekerja sawah tidak mungkin bekerja hingga malam. Mereka tidak sama seperti orang-orang kota, yang tidak memperhatikan bagaimana waktu mereka habis hanya untuk bekerja.
Kehidupan kampung yang damai dan harmonis. Akan ada banyak waktu untuk keluarga, berinteraksi dengan orang-orang sekitarnya, dalam kegiatan kampung dan keagamaan.
Yati memejamkan matanya, meresapi keindahan alam yang saat ini ada di hadapannya.
Ingin rasanya dia berlama-lama melihat semua ini. Tapi ternyata bedug magrib telah berbunyi. Dan itu tanda jika malam telah mengantikan posisi sang waktu.
Yati kembali ke dalam mobil, menghidupkan mesinnya, kemudian melaju dengan tenang menuju ke arah rumah mbok Minah.
*****
Di Eropa sana, Mr Ginting merasa tidak tenang sama sekali.
Apalagi, ada beberapa panggilan dan pesan yang masuk dari pihak keluarganya, baik dari paman ataupun Surya Jaya.
Bahkan, dari panggilan tidak terjawab yang ada di handphone miliknya, ada nomer milik miss Yeti, yang sangat ingin dia temui.
Mr Ginting sebenarnya merasa sangat kangen dengan mantan istrinya itu. Sayangnya, dia tidak mungkin bisa merubah segala sesuatu yang sudah dia putuskan kemarin.
Saat ini Mr Ginting membaca pesan dari sepupunya, Surya Jaya, yang mengatakan bahwa, sang Kakek sedang dalam keadaan tidak baik-baik saja. Surya Jaya meminta pada kakak sepupunya itu, Mr Ginting, supaya cepat pulang ke Indonesia, dan menjenguk sang Kakek.
Surya Jaya merasa sangat yakin bahwa, kakeknya itu hanya merasa rindu kangen dengan Mr Ginting, yang merupakan cucu kesayangannya.
Mr Ginting tersenyum sinis, saat selesai membaca pesan tersebut. Dia merasa jika, sang Kakek hanya sedang bersandiwara, dan dalam keadaan baik-baik saja.
Dia benar-benar tidak tahu jika, kakeknya itu sedang dalam keadaan seperti orang yang akan pergi dari dunia ini, dalam waktu dekat.
Sayangnya, semua saran dan nasehat dari pihak keluarga ataupun orang-orang terdekatnya supaya dia masuk ke rumah sakit, diabaikan oleh sang Kakek.
__ADS_1
Sang Kakek tidak mau ke mana-mana. Dia hanya ingin berada di rumah, dan menuggu kedatangan cucunya, Mr Ginting.