Miss Yeti Bukan PSK Biasa

Miss Yeti Bukan PSK Biasa
Ujian Datang Lagi


__ADS_3

Dua tahun lebih, Yati dan Biyan telah membangun kehidupan yang penuh kasih dan bahagia bersama. Mereka telah melewati banyak cobaan dan sukses mengatasi setiap rintangan bersama-sama. Rumah mereka penuh dengan tawa, canda, dan cinta.


Namun, saat ini Yati mulai merasa lemah dan mengalami gejala yang tidak biasa. Setelah pemeriksaan medis, yang dikira Yati hamil, mereka menerima berita yang mengguncang - Yati didiagnosis menderita penyakit yang mematikan.


"Maaf, Mbak Yati dan Tuan Biyan, hasil pemeriksaan menunjukkan bahwa ... Mbak Yati mengidap penyakit yang ..."


"Apa ... apa penyakitnya, Dok?" tanya Yati terkejut.


"Apa, Dok?" begitu juga dengan Biyan.


"Ini adalah situasi yang sangat sulit untuk, Mbak Yati. Penyakit ini adalah suatu hal yang tidak bisa disembuhkan sepenuhnya. Namun, kami akan melakukan segala yang kami bisa untuk memberikan perawatan terbaik dan berusaha semampu kami."


"Kami akan melakukan apa pun, Dok, untuk mendukung. Kami tidak akan pernah menyerah, apapun itu dan berapapun besarnya biaya yang dibutuhkan."


Biyan memegang erat tangan Yati, memberinya dukungan supaya tidak lemah dan putus asa.


Yati menatap Biyan dengan penuh harap, berharap ada keajaiban yang mereka dapatkan, khususnya untuk dirinya yang sedang menghadapi penyakit ini.


"Saya tahu ini adalah berita yang berat. Kami akan mengoordinasikan dengan tim medis untuk memulai rencana perawatan terbaik. Dan, Tuan Biyan, pastikan Mbak Yati mendapatkan dukungan emosional dan fisik yang kuat selama proses ini. Dukungan keluarga sangat penting."


Dokter, memberikan banyak penjelasan untuk Biyan dan juga Yati, mengenai apa saja yang dibutuhkan dalam proses perawatan dan penyembuhan penyakit tersebut.


"K-ita bisa melaluinya, kan, Ai. Biyan?" tanya Yati, dengan suara bergetar karena ingin menangis.


Biyan senyum lembut, memberikan dukungan dan kekuatan yang dibutuhkan oleh isterinya. Ia tahu, Yati juga memikirkan Arya yang masih kecil. Anaknya yang baru berusia satu tahun itu masih membutuhkan mereka, khususnya Yati sebagai mamanya.


Saat ini, Arya sedang bersama keluarga kakaknya, Aji. Ia sengaja menitipkan anaknya di sana supaya ia lebih tenang saat menemani Yati periksa.


"Saya harus memberi tahu Anda bahwa kanker yang diderita Yati berada pada stadium lanjut. Ini adalah situasi yang sangat serius, tapi proses penyembuhan masih bisa dilakukan dengan berbagai usaha."


"Stadium lanjut? Apa artinya, Dok?" tanya Yati dengan perasaan terpukul.

__ADS_1


"Artinya kanker telah menyebar ke bagian tubuh lain di luar lokasi asalnya. Ini membuat proses pengobatan dan pengelolaan gejala menjadi lebih kompleks," terang dokter.


"T-api ... masih ada kemungkinan untuk sembuh, kan Dok?" tanya Biyan dengan cepat.


Dokter mengangguk meskipun perlahan. Meskipun sulit, seorang dokter tentunya ia memberikan semangat kepada pasien agar memiliki perasaan optimis untuk sembuh.


"Aku akan sembuh, Ai?" tanya Yati, dengan air mata yang menetes tanpa ia bisa bendung.


"Tentu saja, sayang. Kita akan hadapi ini bersama-sama. Semuanya akan baik-baik saja," tutur Biyan menenangkan istrinya.


Kanker yang dialami Yati, ternyata telah ada pada stadium lanjut. Hal ini membuat mereka, terutama Yati, merasa pesimis mesin dokter sudah memberikan penjelasan tentang proses penyembuhannya.


"Apa yang harus kita lakukan selanjutnya, Dok?" tanya Biyan berusaha untuk tetap kuat, dengan menggenggam tangan istrinya.


"Kami akan segera memulai rencana perawatan yang agresif untuk mengendalikan penyebaran kanker dan memberikan kenyamanan bagi Yati. Namun, perlu diingat bahwa ini akan menjadi perjalanan yang sulit, baik bagi Mbak Yati maupun bagi Anda, Tuan Biyan."


Yati memandang Biyan dengan penuh kasih sayang, harap semuanya akan bisa mereka lalui sebagai masalah demi masalah yang pernah mereka miliki sebelumnya.


"Ya, sayang, Koi. Kita akan melalui semua ini bersama-sama," sahut Biyan cepat.


Kehidupan mereka sekarang berubah secara drastis. Biyan dengan penuh tekad berjuang untuk mendukung Yati melalui setiap tahap perawatan dan pengobatan. Mereka berdua menghadapi kenyataan ini dengan kekuatan dan kebersamaan yang mereka miliki.


Di tengah tantangan masalah ini, Yati dan Biyan menjalani hari-hari dengan penuh cinta dan kasih sayang satu sama lain. Mereka membagi momen-momen terindah bersama, mengenang kenangan-kenangan indah yang telah mereka buat bersama selama ini.


Tidak ada kata-kata yang dapat menggambarkan betapa kuatnya cinta mereka satu sama lain. Mereka menjalani setiap hari dengan tekad untuk membuat sisa waktu yang mereka miliki bersama-sama menjadi berarti dan berharga.


"Biyan, Ai. Terima kasih telah selalu ada di sisiku. Kamu membuat setiap hari menjadi istimewa," tutur Yati tersenyum lembut.


"Kamu adalah cahaya dalam hidupku, sayang, Koi. Aku tidak akan pernah meninggalkanmu sendirian dalam perjuangan ini."


Biyan menangapi dengan memegang tangan Yati, mengecup kening istrinya dengan sepenuh hati.

__ADS_1


"Kita akan melewati semua ini bersama-sama, Biyan. Kita memiliki cinta yang tak tergantikan. Ada Arya, yang membutuhkan kita." Yati mengusap tangan Biyan, mencoba merenangkan suaminya yang terlihat tegar.


Biyan mengangguk penuh keyakinan, tidak membiarkan kekhawatiran dan keraguan menempati hatinya.


"Tidak ada yang bisa memisahkan kita, sayang. Kita akan menghadapi semua rintangan ini dengan kekuatan cinta kita," ungkap Biyan optimis.


Kehidupan mereka diisi dengan kebahagiaan, walau di tengah kepahitan penyakit yang mengintai. Mereka memilih untuk mengisi hari-hari mereka dengan cinta, membiarkan cinta mereka menjadi sumber kekuatan dalam menghadapi keadaan yang sulit ini.


Setiap momen bersama dianggap sebagai anugerah, dan mereka berjanji untuk selalu saling mendukung dan mencintai satu sama lain hingga akhir.


***


Yati sedang duduk di sofa, wajahnya pucat dan terlihat sangat lemah. Tangannya gemetar saat mencoba mengambil gelas air di meja kecil di dekatnya. Raut wajahnya menyiratkan rasa sakit yang mendalam.


Biyan duduk di sampingnya dengan tatapan prihatin, bantunya mengambil gelas tersebut kemudian disodorkan untuk membantu istrinya minum.


"Sayang, apakah aku harus memanggil dokter? atau ... kita ke rumah sakit saja sekarang," tanya Biyan memegang tangan Yati dengan lembut.


"Tidak usah, Ai. Ini hanya kambuh sebentar. Aku akan baik-baik saja." Yati menggeleng pelan.


Meskipun mencoba untuk tersenyum, Yati tidak bisa menyembunyikan rasa sakitnya yang begitu kuat. Dia mencoba menahan gejolak dalam tubuhnya dengan gigih, namun terlihat bahwa kali ini memang lebih parah dari sebelumnya.


Biyan melihatnya dengan rasa sedih dan kekhawatiran yang dalam, dan Biyan tentu saja tidak tinggal diam saja melihat kondisi Yati yang kesakitan meskipun cara untuk menyembunyikannya. Ia bersikeras untuk membawa Yati ke rumah sakit.


"Sayang, aku khawatir. Kita harus pergi ke rumah sakit sekarang juga. Kita tidak boleh mengabaikan ini," ajak Biyan dengan tegas namun lembut.


"B-aiklah, Biyan. A-ku percaya padamu." Yati mengangguk lemah.


Biyan segera membantu Yati berdiri dan mempersiapkan segala sesuatu yang diperlukan untuk pergi ke rumah sakit. Mereka berdua pergi dengan hati-hati, dengan Biyan selalu mendampingi Yati setiap langkahnya.


Kedua hati yang penuh cinta ini saling menguatkan satu sama lain di tengah cobaan yang begitu berat ini.

__ADS_1


Apakah Yati akan sembuh???


__ADS_2