
Yati, yang biasanya tegar dan tidak mempedulikan apapun termasuk gunjingan orang lain, kini seakan-akan melow.
Perubahan drastis dalam kepribadian Yati ini terjadi setelah kepergian Mbok Inah. Padahal awalnya, dia dikenal sebagai sosok yang tegar dan acuh tak acuh terhadap gunjingan orang lain. Namun, sejak kematian Mbok Inah, Yati menjadi lebih sensitif dan mudah tersinggung terhadap masalah pribadi.
Hal ini mungkin disebabkan karena dia kehilangan tempat untuk berkeluh kesah dan merasa lemah.
"Ternyata aku tak sekuat itu, Mbok."
Wanita itu berbicara sendiri, seakan-akan sedang berhadapan dengan Mbok Inah.
Sebagai mantan PSK, Yati tidak bisa mengambil sikap tegas agar tidak terus merasakan rasa sakit di desanya. Oleh karena itu, dia pun dengan tekad yang kuat memutuskan untuk pindah dari desa ke kota kabupaten tempat tinggal ayahnya.
Dengan melakukan langkah ini, Yati berharap bisa mendapatkan kesempatan baru dan meninggalkan masa lalu yang menyakitkan di belakangnya. Keputusannya ini diharapkan untuk membangun kehidupan baru yang lebih baik bagi dirinya sendiri di tempat yang berbeda.
Sayangnya, banyak warga-terutama wanita, yang sering membicarakan tentang masa lalu Yati.
Mereka terus menyangkutkan kehidupan sekarang dengan yang dulu-dulu!
"Kalian dengar tidak, berita terbaru tentang Yati?" tanya saah satu ibu yang sedang berkumpul di teras depan rumah.
Kebiasaan orang desa jika ada waktu luang, berbincang dengan tetangga terdekat.
"Opo iku? Ada apa dengan dia?" tanya yang lain.
Ibu tadi menjawab dengan bersemangat. "Jare, Yati mau pindah dari desa ini ke kota kabupaten tempat tinggal ayahnya."
"Oh, ayahnya Yati yang kereng iku? Opo entok?"
"Serius? Baguslah kalau begitu. Dia terlalu banyak menyebabkan masalah di sini. Aku sih seneng dia mau pergi!"
Mereka saling berbincang-bincang, membicarakan tentang Yati.
Jika mereka ada yang senang dengan berita ini, yakinlah bahwa mereka hanya iri dengan kepopuleran Yati, atau takut jika kekasih maupun suami mereka mencari perhatian dari wanita yang mereka bicarakan barusan.
Di tempat lain, ada juga yang membicarakan tentang rencana kepindahan Yati.
"Kamu tau ndak, Yati arep pindah dari desa ini?"
__ADS_1
Seseorang bertanya, tapi juga memberikan informasi untuk orang lain yang mungkin belum tahu.
"Yo, aku mendengarnya. Aku merasa sedih. Meskipun dia agak sulit didekati, dia selalu ada di sini."
Mereka-yang sedang berbincang adalah para pria yang sedang ada di warung kopi.
"Iyo, aku yo merasa kelangan. Meskipun seringkali tidak sependapat, dia tetap bagian dari para wanita yang patut dipuja. Hehehe ..."
"Huhsss! Awas bojomu krungu!"
"Hahaha ..."
"Kowe-kowe yo krungu, kabar Yati arep pindah?" seseorang yang baru saja datang, bertanya pada mereka yang sedang tertawa bersama-sama.
"Iya, aku juga baru tahu ini. Aku merasa lega, setidaknya tidak ada lagi gunjingan tentang dia. Tapi, kita yang tidak bisa melihat wajah cantiknya lagi."
"Tapi sayang juga sih, meskipun kadang menyebalkan, dia punya cerita hidup yang berat. Sakke! Iku lho, ibu-ibu, termasuk bojomu, gak mungkin gak serik karo Yati. Yo ora?" todong orang tersebut.
Yang lain, yang merasa sudah mempunyai istri hanya tersenyum canggung mengingat bagaimana sikap istri mereka dengan Yati.
"Secepatnya, Kang." Yati menjawab singkat tanpa penjelasan berarti.
"Aku sedih, tapi yo seneng. Kamu tidak lagi bekerja seperti dulu, dan keluargaku lebih sejahtera juga karena bantuan darimu, meskipun ada sebagian orang yang merasa jika kamu selalu menciptakan drama untuk orang lain."
Yati diam saja mendengar perkataan kang Taryo. Dia tidak membela diri, atau mengiyakan.
Semua orang berhak memberikan penilaian, meskipun tidak semuanya benar.
"Tapi jujur saja, aku ndak enak. Sedih juga dan siapa yang akan menjadi teman bermain anak-anakku? Juga sopo seng arep dadi bahan obrolan ibu-ibu yen kowe lungo, Yati?"
Untuk yang sekarang, Yati hanya bisa menghela nafas panjang. Dia kesal juga mendengar alasan kang Taryo yang sebenernya sedang menyindir!
***
Meskipun rumahnya belum laku, akhirnya Yati tetap memutuskan untuk pergi. Dia membiarkan rumahnya tanpa penghuni.
Menurutnya, itu bisa diurus seiring berjalannya waktu. Yang penting memberikan rasa nyaman untuk hatinya. Dia pindah ke rumah ayahnya, ikut merawat sang ayah yang semakin hari terlihat lemah karena sakit stroke.
__ADS_1
Keputusan Yati untuk pindah ke rumah ayahnya karena dia sudah tidak punya siapa-siapa lagi. Dia ingin menunjukkan rasa cinta, kasih sayang dan tanggung jawabnya terhadap sang ayah.
Tuan Wasito mengalami sakit stroke sudah saru tahun terakhir ini. Sedangkan Mbok Inah, meninggal dunia satu setengah tahun yang lalu.
Selama sehat, Tuan Wasito sering datang berkunjung ke rumah Mbok Inah. Jadi, ada sebagian warga desa yang tahu bahwa dia adalah ayahnya Yati.
Tapi ada juga yang menyangka bahwa pria itu adalah pelanggan yati di kota kecil mereka ini.
Sekarang, keadaan Tuan Wasito semakin lemah, dan Yati merasa perlu berada di sampingnya untuk merawat dan mendukungnya. Ini adalah tanda kepedulian Yati terhadap keluarga dan kesediaannya untuk mengorbankan kenyamanan pribadi untuk membantu orang yang dicintainya. Meskipun Yati tidak bisa dekat dengan ayahnya, sama seperti dia dekat dengan Mbok Inah.
Tapi karena mbok Inah sudah tidak ada, Yati harus bisa berubah. Hanya Tuan Wasito yang dia miliki sekarang, sebab hingga umurnya yang ke-30 saat ini dia belum mendapatkan jodoh.
"Siapa juga yang mau dengan Yati?!"
Begitulah perkataan beberapa orang yang meragukan jika Yati bisa mendapatkan suami.
Tapi Yati tidak peduli!
Kepergiannya dari desa menuju rumah ayahnya menandai langkah baru dalam hidupnya, di mana dia mencari kedamaian batin dan mencurahkan perhatiannya pada satu-satunya anggota keluarga yang membutuhkan dukungan.
Meskipun langkah ini tidak mudah, Yati telah menunjukkan tekadnya untuk menjalani perubahan demi kebahagiaan dan kesejahteraan dirinya dan orang-orang terdekatnya.
Setelah Yati pergi dengan mobil mewahnya-pemberian Mr Ginting, ada beberapa orang yang membicarakannya lagi.
Yaitu para pemuda yang tidak suka bergosip seperti ibu-ibu.
"Ada yang tahu kenapa Mbak Yati memutuskan pindah?" tanya satu pemuda pada pemuda yang lain.
"Katanya karena dia merasa tidak lagi cocok tinggal di desa ini setelah kematian Mbok Inah," jawab temannya.
"Yah, semoga dia menemukan kedamaian di tempat barunya. Meskipun ada sering berselisih pendapat dengan ibu-ibu, dia tetap bagian dari warga desa yang baik."
"Baik karena dia cantik? Bisa buat cuci mata? Hahaha ... otakmu!"
Mereka berdua akhirnya berbincang dengan saling mengejek satu sama lain, sebagai bahan guyonan.
Di jalan, Yati menghapus air matanya yang sedari tadi menetes. Dia sedih meninggalkan desa yang telah menjadi bagian hidupnya bersama dengan Mbok Inah.
__ADS_1