Miss Yeti Bukan PSK Biasa

Miss Yeti Bukan PSK Biasa
Harus Ada Kepastian


__ADS_3

Kejutan demi kejutan dalam kehidupan ini, kadang-kadang membuat kita tidak pernah percaya, bahwa apa yang terjadi itu memang nyata.


Kita pikir, itu hanya sebuah mimpi buruk yang terjadi pada waktu yang tidak kita inginkan.


Mungkin, begitulah permainan takdir Tuhan. Semua itu terjadi untuk mengingatkan diri kita sendiri bahwa, tidak ada yang tidak mungkin untuk dilakukan oleh Tuhan, jika dia ingin.


Namun percayalah. Semua pasti ada arti dan hikmahnya, jika kita bisa melihatnya dari sisi lain yang lebih baik.


Nilai-nilai dari setiap kejadian, bisa jadi cerminan dan pengalaman untuk kita berhati-hati kedepannya. Begitu juga untuk orang-orang di sekitar kita. Mereka semua, bisa menjadikan apa yang kita alami sebagai contoh, dan juga kewaspadaan diri, jika itu adalah sesuatu yang tidak baik.


Begitu juga dengan apa yang dialami oleh Yati selama ini.


Sedari bayi, keberadaannya tidak diinginkan oleh orang-orang disekitarnya. Meskipun untuk kedua orang tuanya, tidak diketahui, apakah mereka memang ingin dia ada atau tidak.


Tapi keadaan dan waktu itu, memaksa mereka untuk tidak memilih keinginan itu. Bahkan, untuk mempertahankan diri mereka sendiri saja, keduanya tidak bisa. Karena ada kekuasaan dan kekuatan yang lebih, yang memaksa mereka untuk melepaskan bayi mereka.


Yati menghela nafas panjang. Dia, yang masih muda dan mungkin, untuk gadis seusianya masih ada di bangku kuliah, atau setidaknya baru saja lulus, sudah harus menghadapi berbagai macam masalah dalam kehidupan ini.


Sedari kecil, dia hidup dalam olok-olok teman-temannya. Dibully, dan direndahkan, sudah menjadi makanan sehari-hari Yati.


"Weee... gak punya ibu!"


"Bapak juga Yati gak punya tuh!"


"Anak haram ya?"


"Yati orang mana sih? kok lain dari kita ya?"


"Ah, sok cantik!"


"Dasar Yati gembel. Miskin weee..."


"Mbok Minah pasti bukan simbahnya!"

__ADS_1


Beberapa ejekan dan olok-olok dari teman-teman serta orang-orang disekitar rumah, kini seakan-akan kembali terdengar lagi oleh Yati. Dia meringis miris, membayangkan bagaimana keadaan dirinya sendiri, yang tentu saja, tidak pernah dia inginkan. Bahkan, tidak mungkin diinginkan oleh orang lain juga.


Tapi apa daya, begitulah jalan nasib yang harus Yati lalui. Dan semua itu, sudah dia anggap sebagai bagian dari kehidupannya.


Sekarang dia tahu, pada saat semuanya hampir terbuka. Ibu itu menyadarkan dirinya, kenapa dia berbeda dibandingkan dengan teman-temannya yang lain.


Sosok ibunya itu memang berbeda, jika dibandingkan dengan para wanita di kampungnya. Mungkin karena dia wanita asli dari Kalimantan, yang menurut sejarah asal-usul orang-orang sana, mereka adalah keturunan China, dari Mongoloid dan Yunan.


Mungkin karena itu juga, kulitnya tetap putih dan bersih, meskipun wanita itu tidak bisa merawatnya, karena keadaan dirinya.


Sama seperti kulitnya Yati, yang tidak perlu memakai pemutih, dia memang sudah putih bersih sedari kecil. Meskipun sering bermain-main di sawah atau kebun, karena dia ikut bersama dengan mbok Minah.


"Kek," panggil Yati, pada saat mereka duduk di kursi tamu rumah wanita itu.


"Ya. Apa Kamu sudah bisa menceritakan tentang dirimu pada Kakek?" tanya Kakek, yang tidak ingin memaksa Kiara untuk bercerita. Dia masih memperhatikan bagaimana cucunya, Mr Ginting, seandainya tahu, apa yang dia lakukan pada istrinya ini.


Mr Ginting pasti akan marah besar, jika sampai tahu jika kakeknya mengajak istrinya pergi dari rumah dengan semua kepentingan yang kakeknya miliki.


Sang Kakek tidak mau, jika cucunya itu, yang saat ini sudah mulai berubah dan melunak sikapnya, jadi dingin dan tidak menghormatinya lagi. Dan semua itu juga karena pengaruh dari istrinya, Kiara, yang membuatnya sedikit demi sedikit bisa hangat, termasuk pada kakeknya sendiri.


Tapi, tentunya Yati tidak menceritakan tentang pernikahan kontraknya yang dulu, bersama dengan Mr Johan.


Dia juga tidak menceritakan tentang Mr Andre, yang sudah dua kenal, jauh sebelum dia menikah dengan Mr Ginting.


Dia tidak mau jika, terjadi sesuatu pada laki-laki itu. Karena dugaannya yang tadi, soal nama Andre, belum sepenuhnya benar.


Yati juga tidak mengatakan siapa nama aslinya. Di mana kampung halamannya, dan siapa yang merawatnya selama ini.


Sang Kakek menghela nafas panjang. Ada raut sedih yang tampak pada wajah tua-nya. Mungkin dia merasa bersalah pada kehidupan seorang anak, yang sudah terpisah berpuluh-puluh tahun lamanya, dengan orang tua kandungnya sendiri.


"Maafkan Kakek Kiara. Tapi Kakek sendiri tidak tahu, kenapa Kakek bisa sejahat itu dulu."


Yati hanya terdiam mendengar perkataan dari sang Kakek, yang menyatakan penyesalannya.

__ADS_1


"Tapi Aku juga tidak tahu, siapa sebenarnya ayah kandungmu. Dulu, Kakek pikir ayahmu adalah laki-laki yang kabur sebelum Kakek datang, tapi tadi, saat ibumu menyebut nama Andre, Kakek jadi ragu, apakah mungkin, ayahmu adalah Andre?" kata sang Kakek, melanjutkan kata-katanya yang tadi.


Kemungkinan demi kemungkinan bisa saja terjadi. Dan itu harus dibuktikan dengan cara tes DNA, jika ingin kepastian. Tapi mereka, dia laki-laki yang diperkirakan sebagai ayahnya Yati, tidak ada di ada diantara mereka berdua.


Jadi itu juga sulit untuk dilakukan.


"Aku akan bertanya pada Andre, mengenai semua ini," ujar sang Kakek memutuskan.


Tentunya, sang Kakek juga masih merasa khawatir dengan hilangnya mikro chip rahasia, yang ada pada Bros Bunga itu.


Entah siapa sekarang yang membawa Bros Bunga tersebut. Entah laki-laki yang kabur atau Andre? Sang Kakek belum bisa memastikan sendiri.


"Maksud Kakek Andre siapa? apa Kakek mengenal dan tahu di mana dia berada?" Yati pura-pura bertanya, dan tidak tahu apa tentang Andre.


"Tentu saja Kakek tahu siapa Andre, dan di mana dia sekarang berada. Andre adalah menantu sepupu Kakek sendiri, dan sekarang dia menjadi duta di negara Amerika sana. Dulu, dia adalah anak buah Kakek sendiri, yang cukup tahu banyak tentang semua kegiatan Kakek dimasa lalu."


Meskipun Yati tidak tahu secara pasti, apa dan bagaimana masa lalu sang Kakek, setidaknya, dari semua cerita yang dia dengar, Yati bisa menyimpulkan bahwa, sang Kakek tidak sebaik sekarang ini. Ada sesuatu yang dia sembunyikan, dan tentunya itu bukan hal yang baik.


"Kiara butuh tes DNA dengan ibu itu Kakek. Siapa tahu, dia bukan ibu kandung Kiara."


Tiba-tiba saja, Yati mengatakan keraguannya. Dia pikir, sama seperti yang sang Kakek pikirkan di awal pembicaraan mereka, saat datang ke Singapura ini.


Ada banyak kemungkinan-kemungkinan yang bisa saja terjadi. Dan Yati tidak mau ada kesalahpahaman lagi. Praduga yang tidak ada buktinya, perlu dibuktikan sekarang.


Sang Kakek yang mendengar permintaan dari Kiara, mengerutkan keningnya. "Kenapa Kamu tidak yakin? Apa karena wajahmu tidak mirip dengan dia?" tanya sang Kakek ingin tahu.


"Tidak. Kiara tidak ingin memiliki harapan kosong. Kiara ingin sesuatu yang pasti. Karena selama ini, hidup Kiara sudah tidak pernah pasti. "


Jawaban yang diberikan oleh Yati, membuat sang Kakek tersenyum. Tapi dia tetap mau membantu istri dari cucunya itu.


"Kakek akan bantu Kamu, untuk melakukan tes DNA di Singapura ini. Ini karena Kamu sudah mau ikut dalam rencana Kakek. Meskipun pada akhirnya, Kakek tidak menemukan apa yang Kakek inginkan. Tapi setidaknya, ada satu nama yang bisa jadi, dia adalah kunci dari semuanya. Aku harus bertanya pada Andre secara langsung, agar dia tidak bisa mengelak lagi."


Yati mengangguk setuju, dengan perkataan sang Kakek. Dia tidak peduli dengan semua yang diinginkan oleh Kakek suaminya itu. Dia hanya ingin mendapatkan kejelasan dari asal usulnya selama ini.

__ADS_1


"Nanti akan kita ambil sampel darah dan rambutnya, untuk dilakukan tes ke rumah sakit. Jangan khawatir Kiara. Di rumah ini, jika hanya untuk mengambil darah saja, ada perawat yang bisa melakukan. Kamu tidak perlu takut, jika tes ini akan ada banyak rekayasa. Kakek tidak akan ikut campur untuk urusan hasil dari tes DNA nanti."


Dari jawaban yang diberikan oleh sang Kakek, membuat Yati semakin curiga, jika sang Kakek bisa melakukan apa saja, bahkan diusianya yang tidak lagi muda. Lalu, bagaimana kiprah sang Kakek dimasa mudanya dulu? pasti lebih, dari apa yang Yati bayangkan kemarin-kemarin.


__ADS_2