
Yati bergidik ngeri, saat mendengar suara-suara aneh, yang terdengar dari arah kamar samping.
Dia berusaha untuk menutupi telinganya, supaya tidak lagi bisa mendengar suara-suara tersebut.
Sayangnya, bertambah malam, suara-suara itu semakin banyak terdengar, bahkan dari tempat-tempat yang berbeda-beda.
Sebenarnya, Yati merasa sangat tidak nyaman karena suara-suara itu. Meskipun sebenarnya dia juga sering melakukan hal yang sama seperti yang sedang dilakukan oleh beberapa orang di dalam kamar lainnya, di hotel ini. Tapi tentu saja, itu sangatlah berbeda, karena situasi yang tidak sama seperti yang sedang terjadi saat ini.
Tadi, saat pelayan hotel datang membawa pesanan makanan Yati, pelayan tersebut sudah memberinya peringatan, untuk tidur dengan mengunakan handset saja. Agar tidak mendengarkan apapun, yang bisa saja terdengar setiap saat pada malam hari di hotel ini.
Awalnya, Yati berpikir bahwa, itu adalah gurauan pelayan hotel saja. Tapi ternyata, sekarang Yati membuktikannya sendiri, jika apa yang dikatakan oleh pelayan hotel tersebut benar adanya.
Yati mencoba untuk melihat keadaan luar kamar, melalui tirai jendela.
Dengan hati-hati, Yati mengintip keluar, untuk melihat apa saja yang bisa dia ketahui tentang hotel ini.
Dan sungguh di luar dugaan Yati, jika hotel ini menawarkan jasa wanita-wanita muda.
Di halaman hotel, tampak mobil-mobil terparkir lebih banyak, dibandingkan saat Yati datang tadi. Di dekat parkiran, ada pesta yang diadakan oleh beberapa orang, dengan minum-minuman, bersama dengan wanita-wanita muda yang menemani mereka.
"Jadi, hotel ini tampak sederhana dari luar dan sepi dari pengunjung, karena ini to sebabnya. Wah, sudah seperti di kota besar saja. Dan Aku tidak menyangka, jika pemilik hotel ini menawarkan banyak servis dengan adanya aparat-aparat yang berjaga-jaga, mengunakan pakaian biasa."
Yati bergumam seorang diri, dia dalam kamarnya. Dia tidak mungkin bisa di tipu dengan penampilan para aparat penegak hukum tersebut, meskipun dengan mengunakan pakaian biasa, layaknya masyarakat pada umumnya.
Tiba-tiba, dari arah samping kamarnya Yati, terdengar teriakan wanita, tapi setelah itu, di susul dengan suara tawa yang terdengar sangat bahagia juga.
Entah apa yang sebenarnya terjadi di dalam kamar tersebut. Yati tidak mau berpikir yang tidak-tidak tentang apa yang saat ini dia dengar.
"Tu_tuan Wasito. Ayolah Tuan, Aku sudah tidak tahan lagi. Jangan buat Aku menuggu lama untuk sampai ke puncak."
Yati kembali mendengar perkataan seorang wanita, dari kamar sebelah yang lain. Suaranya begitu jelas. Dan dia sangat yakin, jika seseorang yang bernama Wasito itu, bisa membuat wanita-wanita puas dengan dirinya.
Kini Yati tidak tahan lagi. Dia mencari handset di dalam tasnya, supaya tidak lagi mendengar suara-suara aneh tersebut.
Setelah memakai handset, Yati berpikir jika, dia perlu tahu, tentang siapa Tuan Wasito itu. Meskipun dia tidak yakin, apakah Wasito yang ini adalah ayahnya atau bukan.
Dia harus memastikannya, supaya tidak merasa penasaran.
"Ya. Aku harus tahu, siapa sebenarnya Wasito, pemilik hotel horor ini."
Tanpa menunggu lama, Yati bisa tertidur pulas, karena tidak lagi mendengar suara-suara aneh, yang membuat bulu kuduknya berdiri.
__ADS_1
Begitu juga dengan perasaan-perasaan aneh, yang tiba-tiba datang.
Untungnya, Yati segera menyadari ketidak nyamanan itu, dan menuruti kata-kata dari pelayan hotel, supaya dirinya tidur dengan mengunakan handset saja.
Ternyata, itulah yang dimaksud oleh pelayan tersebut. Karena bisa jadi, pelayan itu tidak bisa mengatakan secara langsung, dengan apa yang akan Yati alami.
Meskipun pelayan itu juga tidak tahu, apa yang biasanya dilakukan oleh Yati selama ini.
*****
Pagi sudah datang kembali, menggantikan posisi malam yang mencekam.
Tampak suasana hotel, yang sudah kembali seperti semula pagi ini. Sama seperti yang terlihat pada waktu sebelum malam hari.
Yati mengeliat, merenggangkan otot-otot tubuhnya, yang terasa capek. Apalagi, matanya juga masih terasa berat untuk dibuka.
"Hemmm, dingin banget," gumam Yati seorang diri, dengan menarik selimut.
Dia belum sadar benar jika, saat ini sedang berada di hotel horor, yang membuat dirinya tidak bisa tidur dengan cepat.
Setengah jam kemudian, Yati tampak mengeliat lagi, dan perlahan-lahan membuka matanya. Dan Yati merasa terkejut, saat menyadari bahwa, dia tidak ada di dalam kamar rumah ataupun kostnya sendiri.
"Hahhh! Kenapa Aku bisa lupa, jika sedang berada di hotel mistis ini!" ucap Yati dengan kesal.
Dengan gerakan cepat, Yati turun dari tempat tidur, kemudian berjalan menuju ke arah kamar mandi.
Dia ingin cepat-cepat keluar dari hotel ini.
Tapi dia juga ingat dengan pemilik hotel, yang bernama Wasito. Yati ingin tahu, siapa Wasito pemilik hotel, yang benar-benar horor menurut dirinya.
Setelah selesai mandi dan berberes, Yati segera keluar dari dalam kamar, dan berjalan menuju ke arah loby hotel.
Suasana terasa sepi, sama seperti waktu Yati datang. Sungguh sangat berbeda dengan waktu malam tadi.
Benar-benar berbeda 100%.
"Mas, ini kunci kamar. Saya mau pergi pagi ini juga." Yati menyerahkan kunci kamar hotel, pada petugas loby.
Ternyata, dari pengamatan yang dilakukan oleh Yati, pegawai hotel ini adalah laki-laki semua. "Apa mungkin wanita-wanita hanya digunakan untuk..."
"Selamat pagi Mbak," sapa seseorang, dari arah belakang Yati.
__ADS_1
Yati menolehkan kepalanya, ke arah belakang. Dia ingin tahu, siapa yang menyapanya. Karena dia tidak mengenal siapa-siapa di daerah yang jauh dari kampung halamannya. Apalagi di kawasan hotel horor seperti ini.
Yati tertegun melihat siapa yang menegurnya. Seorang laki-laki dewasa, yang mungkin bisa jadi, orang itu tidak jauh berbeda dengan Mr Andre, secara usia.
Wajah dan postur tubuhnya, terlihat jelas jika dia memiliki ketampanan dan tubuh yang ideal, sejak masih muda dulu.
Dan Yati semakin curiga, saat orang itu membuka kacamata hitamnya.
Yati tidak menyahuti ataupun bertanya pada laki-laki tersebut. Apalagi, dia yang saat ini sedang mengunakan kacamata berwarna hitam juga, dengan bentuknya yang besar.
Jadi, laki-laki tadi tidak bisa dengan jelas, melihat bentuk wajah Yati yang sebenarnya.
"Apakah Mbak yang memiliki mobil putih itu?"
Yati menoleh ke arah tempat parkir, di mana laki-laki itu menunjuk pada sebuah mobil sport, yang terparkir di sana sejak semalam.
"Ya," jawab Yati pendek.
"Apa semalam bisa tidur dengan nyaman?"
"Maksudnya?" tanya Yati balik.
Sebenarnya, Yati ingin memancing laki-laki tersebut, agar dia bisa mengatakan, apa maksud dari pertanyaan dan kelakuannya saat ini.
Menurut Yati, laki-laki ini ada maksud tertentu padanya. Karena kemungkinan besar, laki-laki ini juga masih dalam keadaan tidur setiap paginya, jika dia baru saja mengalami hal-hal mistis semalaman.
"Begini Mbak..."
Yati tetap diam saja, meskipun dia tahu, jika maksud dari perkataan laki-laki itu yang menggantung dan tidak dilanjutkan lagi adalah, memancing agar Yati menyebutkan namanya sendiri.
"Saya bisa panggil apa untuk menyebutkan nama Anda Mbak. Biar terlihat akrab begitu."
Yati hanya tersenyum tipis, mendengar penjelasan dari laki-laki tersebut. Dia tidak mengatakan apa-apa, dan juga tidak menyebutkan namanya, sama seperti yang diinginkan oleh orang itu.
Sikap dingin Yati, tentu saja membuat laki-laki itu menjadi semakin penasaran dan ingin kenal lebih dekat.
Tapi tidak untuk Yati sendiri. Dia tidak mau ada basa-basi yang hanya akan membuang-buang waktu, karena Yati bukan anak kecil, atau remaja labil yang butuh perhatian lebih. Bahkan, pada seorang laki-laki yang dia harapkan bisa bertemu, dalam waktu dekat.
Dia sudah terbiasa menghadapi laki-laki, dengan segala tipu daya mereka.
Dan Yati akan mengatakan sesuatu pada laki-laki tersebut, dengan menunjukan sesuatu padanya.
__ADS_1
Bisa dipastikan bahwa, laki-laki yang sekarang ada di hadapannya saat ini, tidak akan bisa berkata apa-apa lagi, karena dia akan mendengarkan sesuatu yang selama ini, mungkin sudah dia lupakan, dan tidak ingin dia ingat-ingat lagi.