Miss Yeti Bukan PSK Biasa

Miss Yeti Bukan PSK Biasa
Akhirnya Tahu


__ADS_3

Tuan Wasito ingat dengan semua kejadian pada masa lalunya. Dia baru menyadari, jika gadis yang tadi dia inginkan, bukan orang lain. Tapi ada hubungannya dengan masa lalunya, dengan wanita-nya Tuan Besar-nya dulu.


Apalagi, saat kacamata hitam besar yang dikenakan Yati dibuka. Tuan Wasito juga sadar jika, ada kemiripan antara wanita masa lalunya itu, di wajah gadis yang ada di depannya saat ini.


"Ka_kamu si_siapa?" tanya Tuan Wasito, memastikan.


"Bukankah Anda bisa sudah bisa menebaknya sendiri?" Yati balik bertanya.


Tuan Wasito tampak menghela nafas panjang. Dia juga memejamkan mata, membuang rasa sesak yang ada di dalam dadanya.


Sekarang, dia mengingat semuanya lagi. Semua cerita masa lalunya, yang tadi sudah di ungkit kembali oleh Yati, di awal-awal mereka berbicara.


"Bagaimana kabarnya?"


Tiba-tiba, Tuan Wasito bertanya, pada Yati, tentang kabar wanita selingkuhannya, yang merupakan ibunya Yati sendiri. Wanita-nya sang Kakek.


"Siapa yang Anda maksud?" tanya Yati, pura-pura tidak paham.


Tuan Wasito menubruk kedua kaki Yati, dengan berlutut. Dia tahu, jika Yati adalah darah dagingnya sendiri, karena Dati bentuk wajah yang dimiliki oleh Yati adalah perpaduan antara dirinya sendiri, dengan wanita yang sudah dia tinggalkan puluhan tahun silam.


Sebenarnya, Tuan Wasito tidak tahu, bagaimana keadaan dari wanita dan anaknya sendiri. Dia sudah memutuskan segala hal tentang mereka, karena mendapatkan ancaman dari Mr Andre.


Itulah sebabnya, dia pergi menjauh dari mereka, dan hidup sendiri dengan segala yang dia inginkan. Tanpa mau tahu lagi, bagaimana keadaan kedua orang yang sudah dia tinggalkan.


Dia berpikir bahwa, anak dan wanitanya itu baik-baik saja. Apalagi, sekarang dia melihat bagaimana keadaan anaknya, yang telah menjadi seorang gadis cantik.


Bahkan dia sempat tidak mengenalinya tadi.


Yati diam. Dia tidak mengatakan apa-apa, tentang ibunya. Dia juga tidak mencegah ayahnya itu, yang masih dalam keadaan memeluk kakinya.


"Maafkan Ayah Nak. Ayah benar-benar, tidak bisa melakukan apa-apa untuk mengetahui keadaan kalian."


Dengan mata berkaca-kaca, tuan Wasito mendongak menatap ke arah Yati, yang masih berdiri dalam diamnya. Sama seperti patung.


"Bagaimana keadaan ibumu?" tanya tuan Wasito lagi.


Yati tetap diam dan tidak menjawab pertanyaan dari ayahnya.


Namun tiba-tiba, Yati tidak bisa menahan air matanya, agar tidak mengalir. Air mata itu jatuh dengan sendirinya, dan mengenai wajah tuan Wasito.


Sekarang, tuan Wasito berdiri dan memeluk Yati dengan cepat.


"Maaf. Maaf."


Hanya kata maaf, yang bisa dia ucapkan.


Dan Yati tidak menjawab apapun. Tetap diam mematung di tempatnya.


*****

__ADS_1


Beberapa saat kemudian, setelah Yati tidak lagi dalam keadaan menangis, tuan Wasito bertanya lagi, bagaimana keadaan dirinya dan ibunya selama ini.


Dan Yati baru bisa berbicara dengan terputus-putus, bahwa ibunya kini telah tiada.


"Ibu... ibu sudah pergi. Dia, dia sudah meninggal di Singapura."


Deg!


"Sing_singapura?"


Tuan Wasito bertanya, mengulang perkataan dari Yati, di mana ibunya meninggal dunia.


Dengan menuntun anaknya, Yati, Tuan Wasito mengajak Yati untuk duduk di sofa, yang ada di loby hotel.


Untungnya, loby hotel sepi, dan tidak ada yang berani masuk, saat tahu jika ada tuan Wasito yang sedang bersama dengan seorang gadis.


Mereka semua berpikir bahwa, tuannya itu sedang melakukan perjanjian atau apapun itu, yang bisa membuat hotel ini semakin ramai nantinya.


Tidak ada yang tahu, apa yang sebenarnya terjadi di loby hotel ini.


Dengan perasaan yang campur aduk, akhirnya Yati menceritakan tentang ibunya, dan juga keadaan dirinya sendiri.


Mulai dari awal hingga akhir. Sampai pad waktu sekarang ini, bagaimana caranya dia bisa bertemu dengan ayahnya, di hotel horror ini juga.


Tuan Wasito, yang selama ini terlihat berwibawa dan menakutkan di mata anak buah dan para pegawainya, menangis tanpa bisa dia tahan.


"Ayah memang bukan orang baik sedari dulu. Itulah sebabnya, tuan Andre marah besar, dan mengusir Ayah waktu itu. Tapi ayah tahu, dia juga ingin melindungi Ayah, dari amarah dan amukan Tuan Besar, jika sampai tahu, apa yang sudah Aku lakukan dengan wanita-nya itu."


Dari cerita ayahnya, Yati sekarang menyadari bahwa, semua yang terjadi dulu, karena bukan kesalahan dari satu pihak saja.


Kesalahan itu bukan hanya milik Mr Andre, atau sang Kakek saja. Tapi kesalahan itu juga karena ayah dan ibunya, yang menyebabkan jalan kehidupan dirinya seakan-akan tidak bisa dipercaya seperti sekarang ini.


"Maafkan Ayah Nak. maafkan Ayah."


Tuan Wasito berkali-kali meminta maaf pada Yati, setelah Yati selesai bercerita.


Tidak pernah terpikirkan oleh tuan Wasito, jika anak yang dia tinggalkan puluhan tahun silam, sekarang ini ada di depan matanya. Dan dia juga memiliki kehidupan yang tidak jauh berbeda dengan kehidupannya sendiri.


Jika dia adalah Big Bos dari para gadis di hotel ini, anaknya sendiri, Yati, adalah salah satu gadis yang dimiliki oleh Mr Akihiko, di tempat usahanya Mr Akihiko sendiri.


Tapi tetap saja, itu tidak jauh berbeda dengan apa yang dijalani oleh tuan Wasito sendiri.


Sekarang, tuan Wasito tidak tahu, apa yang harus dia lakukan, untuk anaknya, Yati.


"Sudahlah Tuan. Sebaiknya Saya kembali. Semua sudah jelas, dan misteri apa yang selama ini ada di kehidupanku, sudah terjawab."


Mendengar anaknya itu berpamitan, tuan Wasito tentu saja tidak mau melepaskan begitu saja.


"Tidak-tidak. Kamu tidak boleh pergi. Kamu di sini saja. Jangan pergi lagi Nak!"

__ADS_1


Yati tidak bergeming. Dia sudah memutuskan untuk tetap pergi, dan tidak mau menjalin hubungan apa-apa dengan ayahnya itu.


Cukup tahu, jika ayahnya itu masih hidup dan dalam keadaan baik-baik saja. Meskipun kenyataannya, kehidupan ayahnya itu, tidak dengan cara yang baik juga.


"Jangan pergi Nak! tetap di sini."


"Maaf. Kita sudah beda jalan sedari dulu, meskipun arusnya tetap sama saja."


Setelah itu, Yati cepat berdiri dan berjalan menuju ke tempat parkir, di mana mobilnya berada.


Yati lupa, jika kedua ban mobilnya itu kempes.


Dug!


Kaki Yati menendang ban mobil yang kempes. 'Bagaimana cara Aku bisa pergi dari sini, jika mobilku tidak bisa berjalan dengan kedua ban yang kempes?'


Tuan Wasito, sudah ada di samping Yati berdiri. Dia tersenyum tipis, karena usahanya untuk menahan Yati tetap berada di tempatnya ini berhasil. Meskipun sudah berbeda dengan tujuannya yang tadi.


"Cepat bereskan. Atau aku tidak akan pernah memaafkan dirimu!"


Mata tuan Wasito terbelalak, mendengar perkataan Yati, yang seakan-akan memberinya perintah.


Padahal, selama ini, dialah yang berkuasa dan memberikan perintah. Tidak ada yang berani melawan dirinya.


"Ayah akan mengantarmu pulang. Ayah janji, akan mengantarmu sampai di rumah."


Tapi Yati tetap tidak mau. Dia memaksa ayahnya itu untuk membereskan ban-ban mobilnya yang kempes.


Akhirnya, dengan sangat terpaksa, tuan Wasito memerintahkan pada anak buahnya, untuk memperbaiki ban-ban mobil Yati.


Dia tidak menyangka jika, sifat keras kepalanya, menurun kepada anaknya, yang bahkan tidak pernah hidup bersama dengannya, dan dia didik dengan tangannya sendiri.


Akhirnya, setelah menuggu beberapa jam kemudian, mobil Yati selesai dibereskan.


Tanpa mengucapkan terima kasih, dan juga pamit, Yati pergi begitu saja.


Ini membuat tuan Wasito menghela nafas panjang. Tak lama, dia memerintahkan pada salah satu orang yang dia percaya, untuk menyelidiki siapa dan di mana anaknya itu berada.


Tuan Wasito sudah mencatat plat mobil Yati, sehingga itu memudahkan anak buahnya untuk melakukan penyelidikan.


Sekarang, tuan Wasito masuk ke pos security hotel, untuk melihat ulang cctv yang ada di loby hotel.


Dia merusak sebagian adegan yang tidak pantas, dan mengambil rekaman hari itu. Di mana dia dan anaknya, Yati bertemu.


Tuan Wasito lupa bertanya, siapa nama anaknya tadi. Itulah sebabnya, dia kesulitan melacak sendiri.


Untungnya, dia tadi sudah memberitahu seseorang, untuk mengikuti mobil anaknya itu dari jarak jauh.


Sekarang, dia tinggal menunggu hasil dari laporan anak buahnya.

__ADS_1


__ADS_2