Miss Yeti Bukan PSK Biasa

Miss Yeti Bukan PSK Biasa
Makan Malam Di Kampung


__ADS_3

Tok tok tok!


Tok tok tok!


"Ya sebentar!"


Dari dalam rumah, terdengar suara mbok Minah yang mengatakan untuk menunggu, bagi yang datang ke rumahnya.


Mobil Yati yang berhenti di depan rumah Mbok Minah, tidak terdengar dari dalam. Karena mobil tersebut memang tidak bersuara dengan keras, dan mbok Minah, juga sudah agak terganggu pendengarannya.


Clek!


Pintu terbuka, Mbok Minah muncul dari dalam rumah.


"Ya Allah Nduk! Awakmu tah. Kirain siapa tadi yang berkunjung malam-malam, baru habis magrib."


Mbok Minah tentu saja merasa kaget. Dia tidak menyangka jika, Yati yang datang ke rumahnya. Dia tidak mendapat kabar apa-apa, jika cucunya itu akan pulang ke rumah.


Dia juga tidak mendapat kabar dari Yati, tentang ibunya yang saat ini sudah tiada.


"Lho, ibumu dhi? jare arep di ajak muleh ke kampung," tanya mbok Minah, menanyakan tentang keberadaan ibunya Yati. Ibu kandungnya Yati.


Tapi Yati tidak langsung menjawab pertanyaan dari mbok Minah. Dia hanya tersenyum dan bertanya dengan maksud bercanda. "Aku gak di suruh masuk ke dalam rumah ini Mbok?"


"Eh, eh. Lah ayok masuk!"


Mbok Minah jadi gugup, karena mereka berdua memang masih berdiri di depan pintu, dan belum juga masuk ke dalam rumah.


Yati pun tersenyum mendengar jawaban dari mbok Minah, yang terlihat gugup, karena lupa mengajaknya masuk ke dalam rumah. Dia segera merangkul mbok Minah, begitu sudah masuk bersama dengan mbok Minah.


"Maaf Mbok. Maaf."


Hanya kata maaf yang bisa Yati katakan. Dan ini membuat mbok Minah bingung.


"Ayok lenggah disek, ( duduk dulu ) Ada apa? kok minta maaf," tanya Mbok Minah, yang masih merasa bingung dengan apa yang dilakukan cucunya, yang baru saja datang dari kota.


Yati melepaskan pelukannya pada mbok Minah. Dia mengikuti apa yang dikatakan oleh Mbok Minah, yang membawanya untuk duduk terlebih dahulu.


Yati terisak-isak sendiri, meskipun sebenarnya dia tidak ingin memperlihatkan tangisan pada mbok Minah.


Tapi air matanya mengalir dengan sendirinya, tanpa bisa dia tahan.

__ADS_1


Mbok Minah hanya menepuk-nepuk punggung tangan cucunya itu, tanpa mengatakan apa-apa. Dia ingin, cucunya itu berhenti menangis dengan sendirinya, karena jika dia bertanya atau meminta pada Yati untuk tidak menangis lagi, justru cucunya itu akan lebih terisak lagi dengan air matanya yang mengalir lebih deras lagi.


Setelah beberapa saat kemudian, tangisan dan air mata Yati berangsur-angsur berhenti. Hanya terdengar isakan kecil, dengan usahanya Yati, yang ingin segera berhenti sendiri.


Karena sudah merasa lebih lega saat selesai menangis, Yati baru bisa bicara dengan Mbok Minah dengan baik.


Dia menceritakan tentang keadaan ibunya, dan apa saja yang terjadi di Singapura sana, selama dia menunggui ibunya kemarin-kemarin.


Hanya pada mbok Minah, Yati bisa bercerita tentang apa saja, tanpa ada yang ditutup-tutupi. Karena hanya pada Mbok Minah juga, Yati percaya, bahwa mbok Minah menerima dirinya apa adanya tanpa syarat apapun.


Mbok Minah adalah satu-satunya orang, yang Yati percaya selama ini. Tidak Mr Akihiko, miss Marisa, atupun Mr Andre, yang sudah membawa hatinya. Mereka semua, hanya tahu jika Yati baik-baik saja. Tidak pernah merasakan kesedihan, atupun keluhan yang dirasakan.


Tapi tentu saja tidak untuk mbok Minah. Dia adalah orang pertama, yang akan tahu bagaimana perasaan Yati.


Rasa sedih dan kecewa, serta rasa apa saja yang sedang dirasakan oleh cucunya itu, mbok Minah tentu akan tahu, tanpa harus Yati katakan terlebih dahulu.


Karena mbok Minah juga, yang telah merawat Yati sejak kecil. Jadi dia sangat paham, dengan apa yang dirasakan oleh Yati saat ini.


Selesai bercerita, Yati kembali menangis. Apalagi, dari kemarin-kemarin, rasa sedih dan duka dia alami.


Mulai dari kenyataan tentang pernikahan dan perpisahannya dengan Mr Ginting. Keadaan ibunya yang baru dia ketahui. Serta bagaimana setelah ibunya, setelah itu.


Ditambah lagi dengan meninggalnya miss Marisa.


Mbok Minah tahu, Yati perlu waktu untuk beristirahat dan menenangkan dirinya.


"Sekarang, Kamu mandi dulu. Mbok siapkan makanan dulu. Setelah itu, kita makan sama-sama."


Yati mengangguk mengiyakan perkataan dari mbok Minah. Dia berdiri dari tempat duduknya, bersama dengan Mbok Minah.


Mereka berdua, berjalan ke arah yang berbeda. Yati ke dalam kamarnya sendiri, sebelum pergi mandi. Sedangkan mbok Minah, berjalan menuju ke arah dapur. Menyiapkan makanan untuk mereka berdua.


*****


Berita kepulangan Yati segera menyebar ke beberapa tetangga dekat. Apalagi, mereka juga melihat mobil bagus, yang biasa dibawa Yati jika pulang ke kampung.


Beberapa tetangga, datang berkunjung ke rumah Mbok Minah. Mereka semua, ingin tahu bagaimana kabar dan keadaan cucunya itu.


Ada juga dari mereka yang bermaksud untuk meminta bantuan pada Yati, supaya dicarikan pekerjaan di kota. Sama seperti yang dulu pernah dilakukan Yati, saat menolong Bu Lek, yang suaminya malas bekerja.


"Yati baru saja datang. Dia baru mandi. Bagaimana kalau kalian datang besok pagi saja. Dia kan butuh istirahat juga," kata Mbok Minah, yang sebenarnya keberatan, dengan kedatangan mereka. Para tetangganya itu.

__ADS_1


Sebenarnya, mbok Minah merasa senang, mereka semua datang, sama seperti biasanya, jika Yati pulang ke kampung.


Tapi karena saat ini hatinya Yati dalam keadaan tidak baik-baik saja, jadi dengan sangat terpaksa, mbok Minah meminta pada para tetangganya itu untuk pulang terlebih dahulu.


"Tapi bilang sama Yati ya Mbok. Kita datang malam ini," kata salah satu dari mereka.


"Iya-iya. Nanti Aku bilang sama dia. Tak absen deh pokoknya. hehehe..." sahut mbok Minah, sambil terkekeh kecil. Karena dia tahu, apa maksud dari perkataan tetangganya itu.


"Hahaha... Mbok Minah bisa saja," kata salah satu dari mereka lagi.


Tapi karena mereka tidak mau jika mbok Minah mengusir dengan kasar, mereka semua patuh dan pamit pulang.


"Ya sudah. Kami pulang dulu ya Mbok. Besok kita ke sini lagi."


"Mantuk riyen Njeh Mbok."


"Tak melu kundur mawon nek ngoten."


Mbok Minah hanya mengangguk saja, saat para tetangganya itu pamit untuk pulang ke rumah terlebih dahulu.


Dia merasa lega, saat pintu rumah kembali dia tutup.


Setelah urusan dengan beberapa tetangganya tadi, mbok Minah kembali ke dapur, untuk menyelesaikan semua pekerjaan memasaknya yang tadi dia tinggal.


Yati keluar dari dalam kamar mandi. Dia menghirup aroma masakan yang dipersiapkan oleh mbok Minah.


"Hemmm... selalu sedap."


"Hehehe... ini makanan kesukaan Kamu. Ayo duduk. Kita makan setelah semuanya selesai."


Tak lama kemudian, keduanya, sama-sama duduk, menikmati makanan yang sudah selesai disediakan.


Dengan lahap, Yati menyantap makanan tersebut, karena sudah lama tidak menikmati makanan yang sama seperti yang di masak oleh Mbok Minah ini.


Mbok Minah juga ikut makan dengan lahap. Karena ada teman, untuk menikmati makanan yang dia masak.


Apalagi saat melihat Yati yang makan dengan lahapnya. Mbok Minah tentu saja, lebih merasa senang lagi di dalam hatinya.


Itu tandanya bahwa, Yati tidak terpengaruh oleh kota, karena masih mau makan makanan kampung, yang dia masak dengan sederhana.


"Eh, ini kerupuk beras-nya, malah lupa piye to Nduk."

__ADS_1


Mbok Minah mengambil kerupuk beras, dari dalam toples besar, khusus untuk tempat kerupuk yang biasa dia buat sendiri.


Dia menyerahkan beberapa lembar kerupuk tersebut pada Yati, sebagai teman makan malam ini.


__ADS_2