
Jamuan makan di istana keluarga kakek Mr Ginting, belum usai. Masih ada beberapa acara yang harus Yati ikuti. Termasuk dengan perkenalan resmi dirinya, sebagai seorang istri dari Mr Ginting.
Yati menunggu dengan tenang. Dia duduk dengan anggun di tempatnya. Tidak menghiraukan pertanyaan demi pertanyaan yang diajukan dan bermaksud untuk memojokkan dirinya.
Dia ingat dengan pesan dari pembimbingnya tadi, sebelum dia berangkat ke istana ini.
"Dalam kelas sosial yang tinggi, kita harus mampu menempatkan diri dan emosi. Tetap anggun dalam menjawab pertanyaan demi pertanyaan dari orang-orang yang ada di sekitar, meskipun itu terkesan meremehkan. Jika tidak ingin menjawab, abaikan dan tinggal pergi saja sambil mengangguk samar. Biarkan mereka dengan spekulasinya sendiri, bahwa miss Kiara adalah wanita yang misterius dan sombong. Karena dalam karakter yang ingin diminta Mr Ginting, Kiara ini adalah wanita yang berkelas dan tidak tersentuh oleh tangan-tangan biasa."
Itulah pesan yang diingat oleh Yati, dan dia pun menerapkannya sekarang ini.
"Miss Kiara. Boleh ikut menemani dan duduk di sini?" tanya seseorang, yang datang mendekat ke tempat duduknya Yati.
Yati mendongak menatap ke arah sumber suara. Ternyata, ada seorang pemuda yang tidak jauh berbeda dengan Mr Ginting, mungkin seumuran.
Yang membedakan antara mereka berdua, hanya tatapan mata pemuda yang sekarang ada di depan Yati. Tatapan matanya, tdiak sedingin Mr Ginting. Ada keramahan yang dia tawarkan dari tatapan matanya.
"Boleh?" tanya pemuda itu lagi, karena pertanyaannya yang tadi, belum di jawab oleh Yati.
"Apa kita sudah kenal?" tanya Yati, tanpa menjawab pertanyaan dari pemuda tersebut. Dia mengabaikan pertanyaan yang diajukan untuknya.
"Oh ya, tadi miss Kiara, sudah memperkenalkan diri begitu datang. Jadi Saya tahu, meskipun miss Kiara tidak tahu siapa Saya," jawab pemuda tadi, kemudian duduk di kursi yang ada di depan Yati. Dia tidak meminta jawaban dari Yati, karena tanpa dijawab, pemuda itu tahu, apa yang akan dia dengar nanti.
Tapi ternyata dugaan pemuda itu salah. Yati, tidak mengatakan apapun, termasuk memintanya untuk pergi. Nyatanya, Yati hanya diam saja dan tidak berbicara apa-apa.
Pemuda tadi menghela nafas panjang. Dia mengulurkan tangannya, untuk berkenalan dengan Yati.
Tapi, ternyata Yati tetap diam dan tidak menyambut uluran tangannya.
__ADS_1
Dengan menahan malu, pemuda itu meringis dan berkata, untuk memperkenalkan dirinya sendiri, "Saya Surya Jaya. Adik sepupu Mr Ginting yang dingin. Hahaha... miss Kiara, harus berusaha untuk mencairkan salju abadi, yang menutupi hatinya kakak sepupuku itu."
"Oh, dia adik sepupu Mr Ginting. Lumayan ramah, dibandingkan dengan Mr Ginting sendiri. Benar juga katanya, jika Mr Ginting itu sama dengan salju abadi. Hahaha, ada-ada saja dia memberikan julukan," kata Yati dalam hati. Dia tidak mengatakan semua itu, karena dia juga tidak ingin ketahuan, jika semua ini hanya sebuah settingan belaka.
"Miss Kiara mau makan kue? kalau mau Saya ambilkan," tanya adik sepupu Mr Ginting, Surya Jaya.
"Tidak, terima kasih."
Yati, menolak tawaran tersebut. Dia memang tidak merasa lapar, atau ingin makan sesuatu. Dia hanya ingin sendiri dan mengamati keadaan yang ada, karena dia harus bisa menghapal, nama-nama dari mereka semua dan juga harus ingat juga, dimana letak-letak penataan ruang dan benda-benda yang ada di rumah ini.
Surya Jaya, hanya meringis canggung, karena tawarannya tidak diterima oleh Yati.
"Kamu sedang apa di dekat istriku?"
Tiba-tiba, dari arah belakang, muncul Mr Ginting, yang dengan dinginnya, bertanya dengan tidak suka pada adik sepupunya itu.
"Pergi sana!" usir Mr Ginting, tanpa perasaan.
"Ya ampun. Kasar bener," kata Yati dalam hati, melihat bagaimana Mr Ginting memperlakukan adik sepupunya.
Dengan tersenyum tipis ke arah Yati, Surya Jaya pergi dari tempat duduknya dan meninggalkan Yati, yang saat ini sudah ada kakak sepupunya, Mr Ginting sendiri, yang juga merupakan suaminya miss Kiara.
"Dia bicara apa tadi?" tanya Mr Ginting pada Yati.
Yati tidak menjawab pertanyaan dari Mr Ginting. Dia hanya menggeleng sambil terus mengaduk-aduk minuman yang ada di depannya. Jus mangga.
"Kamu tidak bicara tentang kita kan pada dia tadi?" tanya Mr Ginting lagi, yang sepertinya merasa khawatir, jika Yati bercerita tentang hubungan mereka berdua yang sebenarnya.
__ADS_1
"Tidak. Aku tidak berkata apa-apa."
Yati, menjawab pertanyaan dari Mr Ginting dengan pelan dan anggun. Tentu saja, orang-orang yang melihat mereka berdua, berpikir jika mereka sedang rayu merayu.
Padahal yang sebenarnya terjadi tidak sama seperti yang mereka lihat. Yati benar-benar bisa melakukan tugasnya dengan baik. Mr Ginting, tersenyum dengan puas. Dan karena itu juga, orang-orang jadi semakin percaya, jika Yati adalah benar-benar wanita yang dicintai oleh Mr Ginting.
Itu karena selama ini, Mr Ginting jarang tersenyum pada wanita manapun. Dia tidak pernah berbincang dengan akrab dengan wanita, apalagi dengan wanita yang tidak dia kenal. Dengan saudara-saudaranya saja, dia jarang berbicara dengan santai, dan membicarakan hal yang biasa. Tentu saja, dia juga jarang terlihat dalam keadaan tersenyum seperti tadi.
"Wah, miss Kiara ternyata sangat beruntung ya. Bisa dapat saljunya abadi yang misterius itu."
"Berarti Mr Ginting itu normal kan, bukan jeruk makan jeruk?"
"Hebat ya miss Kiara. Bisa mencairkan salju dari kutub."
Berbagai macam komentar, terdengar dari mulut-mulut saudara dan kenalan Mr Ginting. Terutama para wanita-wanitanya. Mereka, yang selama ini curiga jika Mr Ginting penyuka sesama, menjadi kecewa, karena tidak berusaha dengan keras, untuk bisa mendapatkan perhatian dari Mr Ginting selama ini.
"Ayo. Aku mau ajak Kamu bertemu dengan kakek secara pribadi," kata Mr Ginting, sambil mengulurkan tangannya, untuk dipegangi oleh Yati.
Yati menyambut uluran tangan Mr Ginting. Sekarang, mereka berdua berjalan beriringan dengan bergandengan tangan, menuju ke suatu ruangan, tempat di mana kakek dan Mr Ginting berbicara secara rahasia tadi.
"Apa yang harus aku lakukan Mr?" tanya Yati pelan.
"Tidak ada. Jawab saja pertanyaan demi yang diajukan oleh kakek nanti. Paling dia cuma bertanya, kapan kita akan melaksanakan pesta pernikahan."
Yati menoleh cepat ke arah 'suaminya' Mr Ginting. Dia pikir, Mr Ginting sudah tahu, apa yang akan ditanyakan oleh kakeknya.
"Kenapa tanya Aku? bukannya tadi sudah bicara dengan Mr? Apa pertanyaannya juga sama?" Yati bertanya-tanya, mengenai pertemuan dan pembicaraan Mr Ginting dengan kakeknya.
__ADS_1
"Tidak usah protes. Ikut dan jawab saja. Diam jika tidak ditanya," jawab Mr Ginting, mengingatkan pada 'istrinya' miss Kiara.