
Cup
"Emhhh ..."
Yati menggeliat di dalam selimut, saat mendapatkan kecupan manis dari suaminya.
"Masih capek? Maaf, ya. Aku ..."
Cup
Yati tidak membiarkan suaminya menyelesaikan kalimatnya. Ia membalas kecupan singkat pada bibir suaminya, yang sekarang justru memeluknya erat.
"Ehh ... i-ni, aku tidak bisa nafas, s-ayang ..." rengek Yati, karena pelukan Biyan terlalu ketat pada tubuhnya.
"Hehehe ... kamu sih," sanggah Biyan, yang justru menyalahkan Yati.
"Kok, aku?" tanya Yati bingung.
Tanpa mengeluarkan sepatah kata lagi, Biyan langsung menghujani Yati dengan ciuman yang bertubi-tubi pada bibir dan anggota tubuhnya yang lain.
Mendapatkan perlakuan dan serangan mendadak, Yati tentu saja terkejut. Tapi ia juga tidak menolaknya, cepet ia juga menikmati dan mensyukuri segala perlakuan suaminya yang sangat normal ini.
Dalam waktu beberapa menit kemudian, mereka saling berpelukan dengan kasih sayang, menandai awal dari kehidupan baru mereka bersama-sama di pagi hari. Mereka siap untuk menghadapi masa depan dengan keyakinan dan cinta yang mendalam satu sama lain.
"Bagaimana jika kita berangkat, lusa?" tanya Biyan, minta pertimbangan dalam waktu keberangkatan mereka.
"Lusa? Tapi ... kita belum pesan tiket pesawat dan persiapan yang lainnya, sayang."
"Ada kak Aji, yang mengurus semuanya. Pesawat pribadi ayah Sangkoer, sudah disediakan dan sambil menunggu keberangkatan kita."
Biyan memberikan penjelasan secara cepat, singkat dan jelas, supaya istrinya itu tidak lagi memiliki alasan untuk menolak.
Kini, Yati dan Biyan duduk bersama, setelah cumbuan singkat barusan, membicarakan rencana bulan madu mereka.
Dengan cekatan, Biyan membuka peta India dari ponselnya, sementara mereka saling berpandangan dengan senyuman penuh kebahagiaan.
"Aku benar-benar berharap dapat membawamu ke Himachal Pradesh. Keluarga angkatku, dari ayah Sangkoer, ada yang tinggal di sana. Dan mereka akan senang sekali jika kita bisa menghabiskan waktu bulan madu kita di sana."
"Benarkah? Lalu, bagaimana dengan agen yang kamu pegang?" tanya Yati, merasa senang tapi juga memikirkan kesibukan di Indonesia.
"Tenang, ada orang-orang yang bisa memegang kendali."
__ADS_1
Akhirnya, Mereka membicarakan lagu yang lebih detail tentang perjalanan mereka lusa, dengan membayangkan momen-momen romantis di tengah pemandangan pegunungan India yang menakjubkan.
Mereka membayangkan bisa berjalan-jalan dengan bergandengan tangan menikmati keindahan alam, dan belajar tentang banyak hal mengenali negara Hindustan tersebut.
"Aku, akan menghubungi kak Aji. Memberinya kabar tentang persiapan kita untuk berangkat ke India," ujar Biyan, yang langsung menekan nomor ponsel kakaknya.
Yati, hanya mengganggu dan mendengarkan saja saat suaminya berbincang-bincang dengan kakaknya.
"Ya, kak. Kita siap ke India, lusa. Bagaimana dengan pesawatnya?" tanya Biyan, mempertanyakan kesiapan transportasi udaranya.
"Tentu saja siap, Biyan. Kakak tinggal menghubungi Kapten, agar di persiapkan segala sesuatu untuk penerbangan kalian."
"Terima kasih, kak Aji."
"Ya, nikmati saja hari-hari kalian berdua. Dan, dalam untuk istrimu. Jangan diforsir, biarkan ia beristirahat juga!"
"Hahaha ... kakak bisa saja! Kakak sudah merasakannya terlebih dahulu, jadi tidak perlu memberi aku nasehat. Hahaha ..."
"Hahaha ... dasar adik tidak tahu terima kasih, sudah di nasehati!"
Klik!
Saat ini, waktu malam kembali datang. Biyan dan Yati duduk bersama di balkon kamar hotel, menatap bintang-bintang yang bersinar terang di langit malam, bersaing dengan sinar lampu neon diberbagai gedung tinggi di kota Jakarta ini.
"Apa kamu bahagia, Yati?" tanya Biyan tiba-tiba.
"Apa yang kamu tanyakan, sayang?" Yati bertanya balik, dengan menghadap ke arah suaminya.
"Aku hanya bertanya, sayang. A-ku ... aku masih tidak percaya jika sekarang ini kita telah menjadi satu dalam ikatan pernikahan."
Mereka saling berpelukan erat, merasakan kebersamaan dan kekuatan dari ikatan mereka. Rencana bulan madu ke India adalah awal dari petualangan yang akan mereka lakukan tak terlupakan bagi mereka berdua untuk kenangan masa depan.
Dan mereka tak sabar untuk memulainya bersama-sama.
"Awalnya aku takut, sayang. Takut jika keluargamu tidak menyukai, aku." Yati, masih tidak percaya diri jika berhubungan dengan keluarga Biyan.
"Kenapa? Kamu cantik, orang kaya juga. Apa yang kamu khawatirkan, hm?" Biyan, tidak menyukai perasaan rendah diri istrinya.
"A-ku ... kau tahu bagaimana masa laluku, sayang. Itulah yang kadang-kadang membuatku merasa tidak layak, mendampingi dirimu."
Cepat Biyan menggelengkan kepalanya beberapa kali, kemudian mencium bibir istrinya dengan lembut.
__ADS_1
Tentu saja, keluarga Biyan sangat mendukungnya, apapun yang menjadi keputusannya. Apalagi mendiang mamanya, telah memberikannya kebebasan.
Apalagi hanya rencana bulan madu mereka ke India, itu tidak menjadi masalah besar bagi keluarga Biyan. Mereka merasa senang bahwa Yati akan dapat menaklukkan Biyan, dengan latar belakang masa lalunya yang cukup rumit soal perasaan hati.
***
Tiba-tiba, suasana bahagia mereka terganggu oleh berita tentang Mr Akihiko, yang katanya menjadi dalang dari semua kejadian di Semarang beberapa waktu yang lalu.
Yati dan Biyan tahu bahwa mereka harus segera mengambil tindakan untuk memastikan kebenaran yang ada.
"Benarkah berita ini? A-ku ... aku sungguh terkejut, Biyan."
"Ini adalah kesempatan untuk mengakhiri semua ini, Yati. Kami harus melaporkan ini kepada pihak berwajib," tegas Biyan, setelah mereka menerima telepon dari Mr Andre.
"A-ku setuju, Biyan. Kita harus memastikan bahwa dia bertanggung jawab atas tindakannya. T-api ... aku ingin bertemu dengannya padanya," punya Yati.
Orang-orang Biyan, memang bekerja sama dengan orang-orangnya Mr Andre dan juga pihak berwenang, yang telah merencanakan strategi untuk menangkap Mr Akihiko.
Semua orang sepakat bahwa tindakan tegas harus diambil dengan hati-hati, tanpa membahayakan nyawa siapapun.
Situasi ini memang tidak terduga, tetapi Yati, Biyan, dan Mr Andre telah sepakat untuk menyelesaikannya dengan bijak dan adil, sesuai hukum yang berlaku. Mereka tahu bahwa ini adalah langkah penting untuk memastikan keamanan dan keselamatan mereka ke depannya.
"Tapi, di mana Mr Akihiko ditangkap?" tanya Yati, saat berada di perjalanan.
Menurut Mr Andre, Mr Akihiko ditangkap di persembunyiannya Yang adil di daerah Lembang."
"Mr Akihiko, bersembunyi di sana?" tanya Yati, yang tidak percaya dengan mudah atas apa yang dilakukan oleh mantan Bos-nya itu.
Tapi nyatanya, memang Mr Akihiko adalah orang yang menjadi dalang dibalik kebakaran yang terjadi di ruko ayahnya yang ada di Semarang.
Memang tidak ada yang pernah percaya jika Mr Akihiko itu tega dan bisa berbuat sedemikian rupa, sebab selain dikenal sebagai sosok pengusaha restoran yang sukses, ia juga ramah pada semua orang.
Koneksi Mr Akihiko, juga tidak kaleng-kaleng. Ada banyak pengusaha dan pejabat negara yang dekat dengannya.
"Tapi, apakah kita bisa memenjarakannya?" tanya Yati, yang masih tidak yakin.
"Tentu saja, dan aku, bersama dengan Mr Andre akan menjadi yang terdepan dalam kasus ini." Biyan, data dengan tegas.
Senyum Yati mengembang, meski tampak ada kerutan ragu yang tidak bisa dihilangkan. Tapi Yati tetap yakin jika suaminya itu akan menjadi tameng terdepan untuknya. Ada Mr Andre, yang juga mendukung mereka.
Lalu, bagaimana reaksi Mr Akihiko, yang akhirnya tertangkap dan kemungkinan besar masa depannya sebagai pengusaha di Indonesia akan ikut terancam?
__ADS_1