
"Alisa, kamu harus mengambil keputusan yang paling bijaksana. Jangan sampai ambisi besar kamu mengorbankan segalanya," kata sahabat Alisa, melalui telepon.
Alisa berbicara dengan sahabat terdekatnya, mencari dukungan dan nasehat dalam menghadapi situasi sulitnya yang sekarang ini.
"Aku tahu, tapi aku merasa dilema. Bagaimana jika aku tidak mendapatkan dirinya? Aku takut akan menyesal di kemudian hari."
"Keputusan ini adalah milikmu, tapi pertimbangkan baik-baik. Bukan hanya tentang apa yang kamu inginkan sekarang, tapi juga tentang apa yang akan kamu ingat dalam jangka panjang," sahut temannya lagi, memberikan peringatan.
Sahabatnya tahu, jika saat ini Alisa lebih berambisi dengan merubah rencananya, dari hanya mengincar harta Mr Ginting menjadi lebih.
Alisa menginginkan hati dan cintanya Mr Ginting juga!
Hal yang tidak mungkin, sebab Alisa sudah berusaha sedari dulu. Tapi nyatanya tetap nihil.
"Kamu benar, jika aku nekad melanggar perjanjian, aku bisa kehilangan segalanya yang aku raih selama ini. Tapi apakah aku siap?" tanyanya tidak yakin.
Teman Alisa menjawab dengan lembut, memberikan penjelasan supaya Alisa tidak salah jalan.
"Keputusan besar seperti ini selalu datang dengan risiko dan pertimbangan. Pertanyaannya adalah seberapa besar kamu menghargai apa yang sudah kamu capai dan seberapa besar kamu ingin mengejar apa yang kamu inginkan. Pertimbangkan baik-baik apakah ambisi kamu mencari cinta, juga sebanding dengan apa yang bisa kamu korbankan. Ingatlah bahwa hidup penuh dengan peluang dan perubahan, jadi meskipun ini sulit, bukan berarti ini satu-satunya kesempatan bagimu."
Alisa merenung, meresapi kata-kata sahabatnya. Ia tahu bahwa keputusan ini akan membentuk jalannya di masa depan.
Dalam keheningan sejenak, ia berterima kasih atas dukungan dan nasehat yang diberikan temannya.
"Baiklah. Terima kasih atas saran dan masukannya, aku cukup terbantu."
"Gern geschehen. Denken Sie daran, alles muss geopfert werden und Sie mussen sich fur eines entscheiden."
"Iya, sama-sama. Ingat Alisa! Semua ada yang harus dikorbankan dan kamu tidak bisa memilih keduanya!"
"Ya, aku tahu."
Tuuttt ...
Perbincangan mereka selesai. Dan Alisa harus bisa membuat keputusan untuk memutuskan permasalahannya ini.
Alisa duduk sendirian di kamar hotel. Matanya memandang keluar jendela sambil merenung dalam-dalam. Di tangannya, ia memegang secarik kertas yang berisi penjelasan detail tentang keputusan yang harus diambil.
Dua pilihan besar terbentang di hadapannya, masing-masing dengan konsekuensi yang sangat berbeda.
"Aku harus bisa," gumamnya menyakinkan diri.
Pilihan pertama adalah untuk tetap mengikuti rencana awalnya, yang sudah ia perjuangkan dengan keras selama ini. Rencana tersebut telah membawanya meraih banyak kesuksesan dan pencapaian. Namun, itu juga berarti ia harus merelakan perasaannya terhadap Mr Ginting dan tetap fokus pada tujuan awalnya.
Di sisi lain, ada pilihan yang lebih berisiko dan emosional. Alisa ingin mengambil langkah untuk mengungkapkan perasaannya kepada Mr Ginting. Ini berarti mengambil risiko kehilangan semua yang sudah ia raih, tetapi juga membuka pintu untuk kemungkinan mendapatkan cinta yang ia inginkan.
"Hemmm ... tapi sepertinya tidak ada kesempatan untuk yang kedua ini," katanya kemudian, mengingat semua usahanya gagal.
__ADS_1
"Ya, aku harus memilih!"
Sambil menggenggam erat secarik kertas, Alisa merenung tentang masa depan yang akan ia pilih. Ia memikirkan bagaimana keputusannya akan mempengaruhi karirnya, hubungannya dengan teman-teman, dan tentu saja, perasaannya sendiri. Ia tahu bahwa tidak ada jawaban yang mudah, dan harus mengambil waktu untuk merenung dan memutuskan dengan bijak.
Dalam keheningan malam, Alisa akhirnya mengambil napas dalam-dalam dan mengambil keputusan. Langkahnya yang ragu tapi penuh ketidakpastian. Ia yakin bahwa apa pun yang ia pilih akan membentuk jalan hidupnya dengan cara yang ditentukan mulai dari sekarang.
***
Keesokan harinya, Alisa kembali bertemu dengan Mr Ginting dan pengacara mereka.
Alisa duduk di depan Mr Ginting, tatapannya tetap teguh meski hatinya berdebar kencang. Setelah sesaat, ia akhirnya mengambil nafas dalam-dalam.
"Mr. Ginting, ada sesuatu yang ingin saya bicarakan. Saya siap untuk mengambil keputusan," kata wanita itu membuka pembicaraan.
Aura tegang yang tercipta, karena Mr Ginting tidak menyapa dan tidak memulai pembicaraan. Bahkan pria itu bersikap seolah-olah tidak ada Alisa di depannya.
"Apa keputusan Anda, Nona Alisa?" tanya pengacara.
Asisten pribadi Mr Ginting, sudah siap dengan notes yang digunakan untuk mencatat apapun hasil pertemuan kali ini.
"Saya ingin mengakhiri semuanya," kata Alisa dengan mantap.
"Saya telah mempertimbangkan dengan matang dan hati-hati. Saya ingin mengakhiri hubungan kita dan meminta cerai," imbuhnya lagi.
"Anda, yakin?" tanya sang pengacara.
Alisa menelan ludah, mencoba untuk tetap tenang meski perasaannya terombang-ambing.
Mr Ginting sendiri, mengerutkan keningnya mendengar keputusan tersebut. Hal yang tidak ia percaya dengan mudah.
Ternyata, Alisa justru mengakhiri semuanya dengan meminta cerai dari Mr Ginting. Ia akan melepaskan semuanya. Ia ingin hidup baru tanpa berpikir banyak hal.
Alisa kembali mengangguk dengan mantap, walaupun dalam hati ia merasakan getaran emosi yang rumit.
"Iya, Saya sudah memutuskan dan saya yakin dengan keputusan ini."
Keputusan Alisa untuk meminta cerai dari Mr Ginting adalah langkah berani yang mengubah arah hidupnya secara drastis.
Dalam langkah ini, ia memilih untuk memprioritaskan keinginan untuk memiliki kebebasan dan kedamaian hatinya pribadi di atas segala hal yang telah ia raih bersama Mr Ginting.
Keputusan dibuat Alisa, untuk mengambil kendali atas hidupnya sendiri, dan ia siap melepaskan beban yang telah lama ia rasakan.
"Kamu, tidak sedang merencanakan sesuatu?" tanya Mr Ginting dengan memajukan tubuhnya sedikit.
"Tidak ada, Mr."
Cepat, tegas dan yakin. Alisa memberikan jawaban tersebut tanpa berpikir panjang.
__ADS_1
Dengan memutuskan untuk hidup tanpa beban dan tidak banyak memikirkan hal-hal yang telah terjadi, Alisa ingin merangkul masa depan yang lebih ringan.
Wanita itu ingin menemukan kebahagiaan dan kedamaian dalam dirinya sendiri, tanpa tergantung pada hubungan atau pencapaian materi.
"Saya, sangat yakin untuk keputusan ini, Mr." Alisa, kembali menegaskan.
"Bagus," sahut Mr Ginting datar.
Mr. Ginting melepaskan napas dalam-dalam, lalu menatap mata Alisa dengan serius.
"Baiklah, aku menghormati keputusanmu. Aku berharap yang terbaik saja," ujar Mr Ginting menanggapi.
Alisa merasa campuran perasaan lega dan berat. Ia tahu bahwa keputusan ini akan membawa perubahan besar dalam hidupnya, dan meskipun sulit, ia merasa yakin bahwa ini adalah langkah yang benar bagi dirinya sendiri.
Langkah ini mungkin sulit dan penuh tantangan, tetapi juga merupakan pilihan yang sangat penting dalam perjalanan hidup Alisa. Ia berani membuat keputusan untuk menjalani kehidupan yang sesuai dengan keinginannya dan mengejar apa yang membuatnya merasa bahagia, bahkan jika itu berarti harus melepaskan hal-hal yang mungkin pernah ia pikir penting sebelumnya.
"Aku akan serahkan dua gedung teater yang ada di Jerman untuk mengembangkan usaha dan karirmu."
Tiba-tiba Mr Ginting berkata demikian, membuat Alisa terkejut mendengar tawaran besar dari Mr Ginting. Matanya memperhatikan wajahnya dengan campuran perasaan kagum dan keragu-raguan.
"Mr. Ginting, saya tidak tahu apa yang harus dikatakan ..."
"Aku tahu ini mungkin sulit untuk diterima. Tapi aku ingin kamu tidak menilai aku egois dengan mencampakkan kamu begitu saja tanpa mendapatkan apapun."
Alisa tertegun, masih tidak percaya dengan apa yang baru saja didengar
"Aku ingin membantu mewujudkan impianmu," imbuh Mr Ginting meyakinkan.
Alisa merasa terharu dengan tawaran tersebut, tetapi juga merasa khawatir tentang bagaimana reaksi orang lain, terutama karena situasi antara mereka berdua.
"Mr. Ginting, apakah ini tidak akan menimbulkan spekulasi dan keraguan di kalangan orang?"
"Alisa, kita tidak bisa mengontrol apa yang orang pikirkan atau katakan. Tapi kita bisa mengambil langkah untuk membuktikan bahwa kita dapat menjalani hubungan profesional yang sukses. Aku yakin dengan tekad dan dedikasimu, kamu bisa membuat nama besar sendiri."
Alisa mulai merasa semakin yakin dengan tawaran ini. Ia menyadari bahwa meskipun keputusannya untuk bercerai, ini bisa menjadi awal yang baru untuknya.
"Terima kasih, Mr. Ginting. Aku akan menerima tawaran ini dengan penuh rasa terima kasih dan tekad untuk memberikan yang terbaik."
Mr. Ginting mengulurkan tangannya, "Marilah kita bekerja sama untuk mewujudkan impianmu, Alisa. Tapi, tetap tidak ada apapun antara kita!"
Alisa menggenggam tangan Mr. Ginting dengan rasa percaya diri dan harapan baru. Meskipun hubungan pribadi mereka berubah, ia merasa bahwa ada peluang baru yang menanti di depan, dan ia siap untuk mengambil langkah maju ke arah itu.
Keputusan Alisa untuk merelakan perasaannya dan fokus pada masa depan yang lebih mandiri adalah langkah penuh kedewasaan. Dengan melepaskan keinginannya yang hanya akan membawanya pada jalan yang tidak pasti, Alisa berusaha memilih jalan yang lebih kokoh dan stabil. Ia menyadari bahwa keputusan untuk menjadi istri Mr Ginting mungkin akan menghasilkan perubahan yang lebih besar daripada yang ia harapkan.
"Segera proses perceraian ini dan alihkan dua gedung teater yang ada di pusat kota," pinta Mr Ginting pada pengacara dan asisten pribadinya.
"Baik, Mr."
__ADS_1
Setelah semuanya selesai, Mr Ginting ingin fokus untuk pencariannya yang tertunda.
'Mis Yeti, tunggu aku datang.'