Miss Yeti Bukan PSK Biasa

Miss Yeti Bukan PSK Biasa
Datang Ke Istana Keluarga Ginting


__ADS_3

Mobil mewah dengan model terbaru, yang membawa Yati melaju anggun di jalanan kota. Sang supir, yang terlihat seperti eksekutif muda, dari segi berpakaian maupun fisiknya yang atletis, sungguh tidak tampak jika dia hanya sebagai seorang supir saja.


"Miss. Bisa untuk tidak melihat Saya? Ini akan membawa dampak buruk untuk Saya sendiri, jika ketahuan Mr Ginting. Dan bisa jadi, akan ada hukuman juga untuk Anda."


Tiba-tiba, sang supir menegur Yati, yang kepergok sedang memperhatikan dirinya sedari tadi. Sang supir, ternyata merasa risih dan tidak nyaman, karena Yati, saat ini adalah istri dari bos-nya, Mr Ginting, yang tidak bisa dilawan oleh siapapun. Apalagi hanya seorang supir seperti dirinya.


"Oh maaf. Saya hanya merasa heran dengan semua orang-orang yang ada di sekitar Mr Ginting. Apa kalian semua, sama seperti ini juga?" tanya Yati, yang ingin tahu sedikit saja, tentang bagaimana 'suaminya' itu, Mr Ginting.


"Maaf. Saya tidak bisa menjelaskan. Dan Saya sarankan, lebih baik Anda tidak tahu apa-apa, daripada tahu dan itu akan membuat masalah untuk Anda sendiri," jawab supir tadi, masih dengan menatap ke arah depan, dan tidak melihat bagaimana Yati yang memicingkan matanya menatap ke arah dirinya.


Akhirnya, Yati hanya bisa menghela nafas panjang. Dia tidak mau lagi berbicara apa-apa, karena dia yakin jika, orang-orang yang bekerja pada Mr Ginting, tidak akan ada yang mau menjawab pertanyaan yang dia ajukan. Dan sepertinya, itu berlaku untuk semua orang yang berada disekitarnya juga.


Beberapa menit kemudian, mobil memasuki sebuah rumah yang sangat besar. Rumah ini lebih mirip dengan sebuah istana, dari pada rumah mewah. Tiga kali lipat besarnya, dengan rumah yang dia tempati tiga hari kemarin, saat ada di dalam karantina, yang diminta Mr Ginting.


Mobil berhenti tepat di depan pintu masuk, yang secara otomatis terbuka dan keluarlah seorang wanita dengan pakaian pelayan ala Eropa, yang menyambut kedatangan Yati.


Pelayanan tadi, mengulurkan tangannya, saat pintu mobil dibuka oleh sang supir, dan Yati di persilahkan untuk keluar dari dalam mobil.


Yati mengangguk pada sang supir untuk mengucapkan terima kasih. Dia tidak perlu berkata apa-apa, demi keselamatan dan kenyamanan semua orang.


"Silahkan miss Kiara," kata pelayan wanita tadi. Dia membimbing Yati, dengan berjalan terlebih dahulu, untuk masuk ke dalam rumah.


Yati hanya mengangguk saja, mengikuti langkah pelayan tersebut. Dia juga tidak bertanya apa-apa, kepada pelayan wanita itu.

__ADS_1


"Aku seperti Cinderella yang tidak tahu apa-apa, kemudian masuk ke dalam istana yang besar. Tanpa Aku ketahui, seperti apa orang-orang yang ada di dalam istana tersebut. Aku benar-benar tidak bisa membayangkan, jamuan makan apa yang aku hadiri ini," kata Yati di dalam hati.


Yati benar-benar merasa menjadi orang lain, dan bukan miss Yeti, seorang geisha, yang sedang menjalankan tugasnya.


"Miss Kiara," sapa seseorang dari lorong lain, yang ada di rumah tersebut.


"Pelayan, tinggalkan kami berdua."


Ternyata, orang yang menyapa Yati adalah Mr Ginting. Dia sengaja menunggu di lorong lain, yang akan menuju ke ruang perjamuan makan keluarga besarnya.


Pelayan wanita tadi pun mengangguk patuh. Dia melangkah mundur, kemudian tidak terlihat lagi oleh Yati. Dia meninggalkan Yati, yang saat ini sudah bertemu dengan 'pangerannya' yaitu Mr Ginting yang misterius, melebihi pangeran yang ada di dalam cerita-cerita dongeng.


"Bagaimana? apa semua sudah diatur sedemikian rupa dan Kamu bisa menghafalnya?" tanya Mr Ginting, yang tentu saja sangat diketahui oleh Yati, apa yang dia maksud sebenarnya.


"Bagus. Sekarang, Kamu jangan memanggilku dengan sebutan Mr Ginting lagi. Tapi shunjin, atau Kamu bisa juga memanggilku, suamiku. Dan untuk panggilan Kamu sendiri, Saya akan memanggilmu dengan sebutan yoseman, atau bisa juga disebut istriku. Bagaimana, Kamu bisa kan menyebutkan nama itu?" tanya Mr Ginting pelan, namun terdengar menuntut.


Yati hanya tersenyum dan mengangguk mengiyakan permintaan Mr Ginting. Dan sikap Yati ini, membuat Mr Ginting tersenyum, walaupun samar dan tidak terlihat dengan jelas.


"Mahal banget cuma senyum juga. Apa untuk melihat senyumnya, Aku harus membayarnya?" gerutu Yati dalam hati.


"Jangan menggerutu istriku, yoseman. Tidak baik membicarakan shunjin, di dalam hati. Jika ada yang ingin Kamu ketahui atau tanyakan, bicara saja. Mungkin Aku akan dengan senang hati menjawabnya," kata Mr Ginting, yang membuat Yati heran dan kembali mendapat kejutan, karena dugaannya yang dulu, jika Mr Ginting bisa membaca pikiran orang lain, terjadi lagi saat ini.


Akhirnya Yati hanya bisa tersenyum canggung dan membuang nafas dengan kikuk. Dia merasa seperti seorang pencuri, yang ketahuan tuan rumahnya.

__ADS_1


"Bodoh Kamu Yati. Hahaha..."


Yati, mentertawakan dirinya sendiri, karena tidak bisa berkutik lagi di depan Mr Ginting, shunjin nya itu.


"Mari," ajak Mr Ginting, sambil memposisikan tangannya sendiri, supaya di gandeng oleh Yati.


Yati, langsung paham dengan maksud Mr Ginting. Dia memposisikan dirinya sebagai seorang istri untuk saat ini dan kedepannya nanti, jika ada di antara orang-orang yang ada disekitar Mr Ginting.


Yati, memasukan tangannya, ke dalam lengan suaminya itu, dengan bergelayut mesra. Tak lama kemudian, keduanya berjalan dengan sebaik mungkin, sama seperti sepasang suami istri, yang akan menghadiri pertemuan dan jamuan makan bersama dengan keluarga besar Mr Ginting.


Dan ini, adalah babak baru dalam pernikahan Yati bersama dengan Mr Ginting. Yati akan memainkan perannya sebagai seorang istri yang berkelas dan tidak tersentuh juga, sama seperti suaminya, Mr Ginting.


Saat berjalan menuju ke ruang jamuan, Yati merasa deg-degan. Dia sedikit gugup, karena merasa jika ini bukan kelas biasa, layaknya seorang pengusaha, yang biasa dia hadapi. Jamuan ini lebih mirip dengan sebuah pertemuan keluarga istana atau lebih mirip dengan sebuah penentuan nasib. Yati jadi sedikit gugup.


"Tenanglah yoseman, Shunjin ada bersamamu. Tidak akan ada yang berani mendekati mu, karena Kamu adalah istriku."


Mr Ginting, menepuk-nepuk punggung tangan istrinya, Yati, yang saat ini mengadeng lengannya. Dia mencoba menenangkan kegugupan Yati. Mr Ginting merasa maklum, karena ini memang bukan lingkungan kehidupan Yati yang sebenarnya. Yati yang dia ketahui sebagai seorang gadis kampung biasa, dengan segala kesederhanaannya, meskipun sudah menjadi seorang geisha yang menonjol diantara geisha Mr Akihiko yang lain.


Mr Ginting sendiri tidak tahu, apa yang membuatnya memilih Yati, dari pada geisha yang lain, yang ditawarkan oleh Mr Akihiko padanya.


Mungkin, saat ini Mr Ginting tidak mengetahui jawabannya. Dia hanya mau, Yati menjalankan tugasnya sebagai seorang 'istri' yang baik dan tidak mengecewakan dirinya. Hanya itu harapan yang diinginkan oleh Mr Ginting. Karena sebenarnya, Mr Ginting juga belum pernah dekat dengan seorang gadis manapun. Dia hanya belajar dan belajar sedari kecil, untuk menjadi seorang ahli waris dari keluarga Ginting, yang tidak bisa tersentuh oleh tangan-tangan biasa, begitu juga dengan pers dan dunia sosial media.


Keluarga Ginting, sangat tertutup untuk urusan pribadi dan mempunyai hak privasi sendiri terhadap berita-berita yang terkait dengan kehidupan keluarga mereka.

__ADS_1


__ADS_2