
Yati sudah berangkat ke kampung. Dan Mr Ginting, jadi sendiri di rumah besarnya. Tidak ada siapa-siapa yang busa dia ajak bicara, sehingga dia membuka laptopnya, untuk mengerjakan pekerjaan yang akan dia bawa ke Singapura beberapa hari ke depan.
"Untung Aku ajak juga si Surya. Dia bisa membantu pekerjaanku juga nantinya."
Mr Ginting bergumam sendiri dengan masih melihat ke layar laptopnya.
Dia baru saja mulai mengerjakan pekerjaan saat telponnya bergetar. Ada panggilan telpon yang masuk.
Drettt
Drettt
Drettt
Saat di lihat, layar handphone miliknya menampilkan nama sepupunya, Surya Jaya.
"Ngapain dia telpon?" tanya Mr Ginting sendiri.
Tapi dia sedang malas untuk menjawab panggilan telpon tersebut. Dia membiarkan panggilan itu berhenti dengan sendirinya.
Drettt
Drettt
Drettt
Ternyata Surya Jaya masih belum kapok, dan mengulang kembali panggilan telponnya pada Mr Ginting.
Surya Jaya sudah terbiasa diabaikan oleh sepupunya yang dingin dan tidak punya perasaan itu. Jadi, jika hanya sekali saja panggilan telpon darinya tidak diangkat, itu sudah biasa. Dan Surya Jaya akan mencoba terus, supaya Mr Ginting merasa terganggu dan mengangkat panggilannya, meskipun dengan marah-marah.
..."Apa?"...
..."Kan bener."...
..."Apa yang bener?"...
..."Itu marahnya."...
..."Ck. Kalau tidak ada yang penting, tidak usah telpon. Aku sedang sibuk!"...
..."Kakakku ini, kapan tidak sibuk? Tidak pernah kan? Ayolah Mas, sekali-kali kita keluar bersama secara biasa, bukan karena pekerjaan ataupun kepentingan keluarga."...
..."Apa maksud Kamu?"...
..."Ajak miss Kiara pergi ke jalan-jalan, layaknya pasangan baru. Ke Mall atau nonton, bukan ke hanya ke butik atau jamuan makan saja."...
Mr Ginting merasa bahwa, adik sepupunya itu sedang mengajari dan mendikte nya. Padahal, saat ini, dia sedang merahasiakan kepulangan Yati ke kampung halamannya.
__ADS_1
Jika dia sampai keceplosan dan tidak hati-hati, bisa terbongkar semua rahasianya selama ini.
..."Aku tidak ada waktu."...
Akhirnya, Mr Ginting memberikan alasan pada Surya Jaya, jika dua sedang tidak ada waktu, karena harus mengerjakan pekerjaan yang akan dia bawa ke Singapura besok.
..."Kamu juga kerjakan yang aku kirim kemarin. Jangan sampai, tiba di Singapura belum beres! Aku akan lempar Kamu ke Indonesia lagi, jika sampai itu terjadi....
..."Hahaha... tenang saja. Surya Jaya tidak pernah terlambat untuk tugasnya."...
Mr Ginting mengingatkan pada Surya Jaya, dengan pekerjaan yang harus dia bawa ke Singapura besok. Dia tidak mau, jika ada alasan yang tidak jelas dari adik sepupunya itu.
Tapi ternyata, Surya Jaya tidak terpengaruh dan dengan percaya diri mengatakan bahwa, dia sudah siap dengan pekerjaannya, yang akan dibawa mereka berdua ke Singapura.
..."Ya sudah. Pokoknya Aku tidak mau keluar rumah bersama denganmu."...
..."Ah bilang saja, Mas Ginting mau memproses keponakan buatku. Hahaha... bikin yang banyak ya Mas!"...
Klik!
Mr Ginting memutus hubungan telpon dari Surya Jaya, tanpa memberitahu sebelumnya.
Dia merasa sangat jengkel, karena perkataan Surya Jaya, yang seakan-akan tahu, jika istrinya sedang tidak berada di rumah, sehingga mengolok-olok dirinya, dengan mengatakan demikian.
Bagi Mr Ginting, itu sangat menjengkelkan.
"Miss. Mau istirahat dan makan di mana?" tanya supir pada Yati, tapi masih dalam posisi menyetir dan tetap menatap ke arah depan.
"Mana saja Pak. Yang penting Bapak bisa beristirahat sebentar, dan kita juga bisa makan." jawab Yati, dengan melihat ke arah pinggir jalan.
Di sana, berderet toko-toko pusat oleh-oleh yang biasa ada di jalan jalur Pantura. Ada juga warung-warung makan besar dan kecil, yang menawarkan berbagai macam jenis makanan. Baik dari daerah Jawa ataupun luar Jawa.
"Miss Kiara tidak apa-apa, makan di tempat seperti itu?" tanya pak supir lagi.
Mungkin pak supir berpikir, jika istri dari bos besarnya itu, tidak terbiasa makan di tempat yang biasa juga.
"Tidak apa-apa. Yang penting kan bisa makan, dan pastinya enak. Hehehe..."
Yati merasa aneh, saat pak supir bertanya demikian. Mungkin dia tidak tahu, bagaimana keadaan Yati yang sebenarnya.
"Saya kan orang kampung Pak. Bahkan busa makan cuma lalap daun singkong rebus. Saya bukan seorang Nyonya besar, seperti yang terlihat. Bapak kan tahu, apa dan bagaimana Saya yang sebenarnya."
Pak supir hanya diam saja, saat Yati menjawab panjang lebar tentang keadaan dirinya.
Tentu saja pak supir tahu banyak tentang Yati. Semua pelayan yang bekerja di rumah Mr Ginting tahu, siapa istri dari Bos besarnya. Dari mana asalnya, dan bagaimana kehidupannya.
Tapi mereka semua adalah orang-orang kepercayaan Mr Ginting, dan selalu patuh padanya. Begitu juga dengan semua rahasia yang ada pada kehidupan Mr Ginting. Mereka semua tentu tidak akan pernah membukanya untuk orang lain, meskipun itu sang Kakek sekalipun.
__ADS_1
Mereka, orang-orang Mr Ginting, adalah orang-orang yang dilatih dari agen yang sama seperti orang-orang kepercayaan sang Kakek.
Jadi, semua privasi dari Bos mereka, tidak ada yang boleh membocorkan. Semua itu sama seperti nyawa mereka sendiri. Karena mereka digaji oleh Bos-bos, orang-orang kaya yang sama seperti sang Kakek dan Mr Ginting, dengan gaji yang sangat pantas, yang belum tentu bisa mereka dapatkan di tempat lain.
Akhirnya, mobil berhenti di depan sebuah rumah makan Padang, yang ada di antara deretan rumah-rumah makan lainnya.
Pak supir memilih warung makan Padang, karena selain makanannya yang enak-enak, di rumah makan Padang biasanya tidak terlalu penuh dan ramai dengan pengunjung. Ini untuk kebaikan Yati, yang harus menyembunyikan identitas dirinya dari dunia luar.
"Di warung makan Padang tidak apa-apa kan Miss?" tanya pak supir saat mobil baru saja terparkir
"Iya, tidak apa-apa Pak," jawab Yati, kemudian membuka pintu mobil sendiri.
Yati tidak mau menunggu sampai supir yang membukanya. Itu bisa menjadi pusat perhatian orang-orang yang ada di sekitar tempat itu. Dan Yati, tidak mau jika itu sampai terjadi.
Seandainya ada yang mengenalnya, entah itu sebagai istri dari Mr Ginting atau sebagai miss Yeti, dia tidak perlu repot-repot memikirkan banyak alasan dan jawaban, jika ada yang menyapa dan bertanya padanya.
Setelah Pak supir keluar juga, mereka berdua bersama-sama masuk ke dalam rumah makan Padang tersebut. Yati menyerahkan pemilihan tempat untuk duduk, pada pak supir.
"Kita duduk di mana Pak?" Yati bertanya dengan melihat ke sekeliling, karena semua kursi, ternyata sudah penuh dengan pembeli.
"Sebentar Miss. Saya ke sana dulu miss Kiara."
Pak supir pamit sebentar pada Yati, untuk menemui pemilik rumah makan.
Yati hanya mengangguk mengiyakan. Dia hanya bisa berdiri saja, karena tidak ada tempat untuk duduk.
"Eh, Miss Yeti bukan?"
Seseorang menyapa Yati, yang sedang menunggu pak supir.
Yati segera menoleh ke arah suara. Dia ingin tahu, siapa yang mengenalinya di tempat yang jauh ini.
Tapi Yati sungguh terkejut, saat melihat wajah orang yang tadi menyapanya.
"Mr_mr Andre!"
Orang yang dikenali Yati sebagai Mr Andre, tersenyum dengan sumringah karena merasa jika ini adalah sebuah keberuntungan baginya.
"Sedang apa di sini?" tanya Mr Andre, dengan mata yang terlihat seperti orang yang sedang rindu.
Tentu saja Mr Andre merindukan Yati. Gadis cantik yang sekarang ini ada di depannya. Itu karena Yati adalah wanita yang selalu ada di hatinya. Meskipun mereka berdua sama-sama tahu, jika mereka berdua juga jauh berbeda.
"Mr Andre sendiri sedang apa di sini?" jawab Yati balik bertanya.
"Ak_aku sedang... maaf, Aku duluan ya."
Yati mengerutkan keningnya, melihat Mr Andre yang sepertinya cemas dan takut-takut. Tapi tak lama kemudian, sikap Mr Andre itu dimaklumi oleh Yati, saat dia melihat siapa yang sekarang Mr Andre datangi.
__ADS_1