
Beberapa saat kemudian, wanita itu siuman. Dia sadar dari pingsannya, saat pelayan rumah, yang ternyata adalah perawat pribadinya, memberikan bantuan medis, yang bisa dia lakukan.
"Andre, Andre..."
Wanita itu, masih memanggil-manggil nama Andre, dengan pelan.
"Apa ada pelayan yang bernama Andre?" tanya sang Kakek, pada bodyguardnya, yang selalu ada di rumah ini.
"Tidak ada Tuan Besar," jawab bodyguard tersebut, dengan membungkukkan tubuhnya.
"Hemmm... terus, siapa yang dia maksud dengan Andre?" tanya sang Kakek lagi, yang tentu saja, anak buahnya itu, tidak ada yang tahu, siapa Andre, yang dimaksud oleh wanita tersebut.
Di Singapura ini, hanya ada dua pengawalnya yang berasal dari Indonesia, dan tahu semua seluk beluk tentang sang Kakek dan wanita-nya itu. Dan mereka berdua juga yang menjaga rumah kecil ini. Sedangkan yang lainnya, adalah anak buah sang Kakek yang memang berwarga negara Singapura.
Sang Kakek berpikir sejenak, dengan nama Andre, yang disebut-sebut dalam keadaan tidak sadar oleh wanitanya itu.
"Andre, Andre..."
Sang Kakek jadi ikut-ikutan menyebut nama Andre, untuk mengingat-ingat, siapa yang ada di sekitarnya pada saat dulu, yang bernama Andre.
"Andre... masa iya Andre yang itu," gumam sang Kakek, yang mengingat satu nama, dengan nama Andre.
Yati, yang sedari tadi hanya diam saja tanpa bertanya ataupun mengatakan sesuatu, mulai memicingkan mata, pada saat mendengar gumaman sang Kakek, yang tidak begitu jelas di telinganya.
Pikir Yati, jika sang Kakek memikirkan satu nama Andre, yang ada di antara keluarganya, itu artinya adalah, Andre yang sama dengan orang yang Yati kenal selama ini.
Yati merasa yakin jika, Andre yang dimaksud oleh sang Kakek adalah Mr Andre. Karena pada saat pesta pernikahannya dulu, dia sempat melihat Mr Andre, yang datang bersama dengan istrinya, dan menjadi tamu yang datang terakhir.
Tapi pada saat itu, Yati pergi menghindar dan mengajak suaminya, Mr Ginting, untuk meninggalkan panggung pelaminan mereka.
Yati juga sempat bertemu dengan Mr Andre, pada saat berada di rumah makan Padang. Pada saat itu, dia sedang dalam perjalanan pulang ke kampung, untuk menjenguk kang Yoga yang sedang sakit parah di rumah sakit.
'Apa hubungannya Mr Andre dengan wanita ini?' tanya Yati dalam hati.
__ADS_1
Sayangnya, wanita itu belum bisa diajak berbicara tentang masa lalunya. Dia hanya menjawab pertanyaan dari sang Kakek dengan jawaban, "Andre. Bros Bunga itu... Andre."
Begitu terus menerus jawaban yang diberikan. Dan tidak ada yang tahu, apa arti dari jawaban tersebut.
"Sepertinya, ini ada hubungannya dengan Andre. Kita harus tahu, siapa Andre yang dia maksud," ujar sang Kakek, memberikan kesimpulan. Meskipun sebenarnya, sang Kakek belum merasa yakin, dengan apa yang dia pikirkan tentang nama Andre.
"Apa Kakek tidak ingat dengan Andre, yang bisa jadi itu adalah nama laki-laki selingkuhannya?" tanya Yati, mencoba untuk menebak-nebak.
"Tidak. Laki-laki selingkuhannya itu tidak bernama Andre. Tapi nama lainnya, yang tidak ada nama Andre_nya." Sang Kakek menjawab dengan tegas, jika tidak ada nama Andre, selain yang dia pikirkan saat ini.
"Lalu, siapa Andre yang disebut-sebut ibu itu?" tanya Yati, yang tidak sabar untuk segera tahu, siapa sebenarnya orang tua kandungnya.
"Aku harus bertanya pada Andre langsung. Apa yang sebenarnya terjadi pada waktu itu. Aku tidak tahu, jika ini ada kaitannya dengan Andre, yang sekarang ini sudah menjadi seorang duta besar," kata sang Kakek, yang membuat Yati terbelalak kaget.
Ternyata, dugaan Yati benar adanya. Jika Andre yang dimaksud oleh sang Kakek tadi adalah Mr Andre. Laki-laki, yang dia cintai selama ini. 'Lalu siapa Mr Andre itu, untuk ibu ini? apa dia adalah ayah dari anak yang dibuang? Itu artinya...'
Yati mengeleng beberapa kali, dengan semua yang dia pikirkan saat ini. Dia tidak tahu, apa yang terjadi pada kehidupannya, yang rumit dan penuh misteri.
'Kenapa Aku tidak bisa sama seperti teman-teman yang lain? yang tidak perlu pusing dan susah, hanya untuk bisa tahu, siapa kedua orang tuanya.'
Tapi untuk Yati sendiri, dia tidak pernah tahu, siapa sebenarnya ayah atau ibunya. Tidak ada yang dia kenal. Dia hanya tahu mbok Minah saja selama ini.
"Apa Kamu ada yang ingin ditanyakan pada dia?" tanya sang Kakek pada Yati, dengan menunjuk pada wanita-nya itu.
"Tapi dia sedang tidak stabil Kek. Mungkin, jika Kakek bisa menemukan Andre, yang dimaksud oleh ibu itu, Kiara akan tahu kebenaran yang sesungguhnya." Yati menjawab pertanyaan dari sang Kakek, dengan hanya mengikuti apa yang akan dilakukan oleh sang Kakek sendiri.
"Lalu, siapa sebenarnya Kamu Kiara?"
Deg!
Yati kaget. Dia tidak pernah menyangka jika sang Kakek akan memberikan pertanyaan seperti itu padanya.
"Mak_maksud Kakek?" tanya Yati gugup.
__ADS_1
Dia tidak langsung menjawab pertanyaan dari sang Kakek, karena dia masih ingin melindungi pernikahannya dengan Mr Ginting.
"Aku tahu Kiara. Kamu tidak sama seperti yang pernah diperkenalkan oleh Ginting padaku. Jadi, selain Kamu adalah anaknya, ( dengan menunjuk pada tempat tidur, di mana wanita itu tertidur ) apa yang Kamu sembunyikan dari Kakek?"
Pertanyaan yang diajukan oleh sang Kakek, terkesan mengintimidasi Yati. Dan itu membuat Yati tidak bisa menjawabnya dengan mudah.
Ada beberapa hal yang harus dia pikirkan, sebelum menjawab pertanyaan dari sang Kakek.
"Apa Kakek yakin, jika bayi itu adalah Kiara, dan bayi itu juga bukan anak dari Kakek sendiri?"
Yati, justru memberikan pertanyaan yang sulit untuk dijawab oleh sang Kakek. Meskipun dia tidak tahu, apa rahasia di balik Bros Bunga tersebut. Tapi menurut Yati, tidak mungkin hal yang biasa, jika sang Kakek sampai melakukan segala cara, untuk bisa mendapatkan Bros Bunga itu.
Sekarang, Yati melihat sang Kakek yang berjalan ke arah tempat tidur, dan mengambil baju bayi yang masih ada di dalam pelukan wanita-nya.
Dia mencopot Bros Bunga itu, dari tempatnya berada. Dan sekarang, dia tampak melihat dan memutar-mutar Bros Bunga tersebut, untuk diperiksa.
Beberapa saat kemudian, terdengar umpatan yang diucapkan oleh sang Kakek. Karena dia tidak menemukan apa yang dia cari selama ini. "Sial! Sudah tidak ada lagi di sini."
Bros Bunga itu tidak ada artinya, jika apa yang ada di sana juga sudah tidak ada lagi.
"Di mana sebenarnya?" tanya sang Kakek, tidak tahu ditujukan untuk siapa pertanyaannya itu.
"Kiara. Apa Kamu mengambil sesuatu dari Bros Bunga ini?" sang Kakek bertanya kepada Yati, dengan menunjukan Bros Bunga yang ada di tangannya.
"Tidak. Kiara tidak tahu apa-apa Kek m memangnya ada apa di Bros Bunga tersebut?" jawaban yang diberikan oleh Yati, membuat sang Kakek juga kebingungan.
"Jika bukan Kamu, siapa lagi?" tanya sang Kakek mendesak.
Tapi Yati tetap mengeleng, dan menjawab jika dua tidak tahu apa-apa, tentang Bros Bunga. Dia hanya tahu bahwa, Bros Bunga itu adalah sebuah bukti, yang bisa digunakan untuk mencari keberadaan kedua orang tua kandungnya. Orang tua yang tidak pernah Yati tahu, siapa dan di mana mereka berada.
"Kamu yakin?" tanya sang Kakek lagi, karena Yati tetap menjawab tidak tahu.
Tapi Yati juga tetap mengeleng, untuk pertanyaan yang diberikan oleh sang Kakek.
__ADS_1
Sang Kakek tampak menghela nafas panjang, kemudian membuangnya perlahan-lahan. Dia merasa sia-sia, dengan semua yang sudah dia lakukan ini.
Berbeda dengan Yati, yang merasa senang, karena setidaknya, dia bisa tahu, siapa dan bagaimana ibunya. Meskipun untuk saat ini, mereka berdua masih tetap tidak bisa bersama-sama, karena kejiwaan ibu tersebut yang terganggu.