Miss Yeti Bukan PSK Biasa

Miss Yeti Bukan PSK Biasa
Siapa Atasanmu


__ADS_3

Akhirnya Yati menghubungi tuan Wasito juga, untuk bisa bertemu, dan membicarakan tentang apa yang tadi dikatakan oleh ayahnya itu.


Dari pertemuan mereka itu, Yati akhirnya tahu, jika kematian ibunya, ada sangkut pautnya dengan sang Kakek, yang merupakan laki-laki satu-satunya, yang berkuasa atas diri ibunya Yati.


Menurut keterangan yang diberikan oleh tuan Wasito, sang Kakek meminta pada salah satu orangnya, untuk menemui ibunya Yati, sesaat setelah Yati pulang.


Orang itu di minta sang Kakek, untuk terus memata-matai Yati dan ibunya. Dan apapun yang terjadi, orang tersebut akan memberikan informasi dan melapor kepada sang Kakek.


Itulah sebabnya, di saat ibunya itu sudah semakin membaik, dan juga sadar dengan keadaan yang ada pada dirinya, sang Kakek merasa panik, saat mendapatkan laporannya.


Sang Kakek merasa takut jika, wanita-nya itu akan benar-benar sehat. Dan suatu hari nanti, akan datang untuk meminta pertanggungjawaban atas semua yang sudah dia alami. Mungkin juga untuk sesama wanita-wanita yang lainnya juga.


"Lalu, apa yang Anda lakukan, dengan apa yang Anda katakan sebagai balas dendam tadi?" tanya Yati, yang belum mengetahui secara pasti, apa maksud dari perkataan yang diucapkan oleh tuan Wasito, soal balas dendamnya tadi.


"Aku datang ke rumah besarnya. Dan Tuan Besar, langsung merasa kaget. Dia kena serangan jantung, dan saat ini koma di rumah sakit. Paling tidak lama juga koit!"


Suara tuan Wasito, tampak seperti seorang yang sedang dalam keadaan geram. Namum, tampak ada kepuasan tersendiri pada wajahnya, begitu dia selesai berbicara.


Yati menggeleng cepat, untuk jawaban yang diberikan oleh ayahnya itu.


"Anda tahu? Sang Kakek tua itu, juga sudah berjasa, dengan pertemuan-pertemuanku bersama ibu. Ya... meskipun Aku juga tidak bisa memanfaatkan dirinya, sebagai seorang laki-laki yang sudah menyiksa wanita-nya, apalagi dia juga yang menyebabkan ibu pergi dengan cara yang tidak bisa diterima oleh akal, tapi tidak seharusnya Anda melakukan semua itu."


Yati justru menasehati tuan Wasito, yang sudah membuat sang Kakek masuk ke rumah sakit, dalam keadaan kritis.


"Apa yang Kamu katakan? bukankah itu adalah ganjaran yang setimpal untuk semua perbuatannya? Justru Aku berpikir bahwa, itu semua belumlah cukup. Aku sudah memiliki beberapa rencana, untuk menghancurkan dirinya dan juga apa saja yang sudah dia miliki selama ini. Si Andre juga. Karena Andre juga, Aku berpisah dengan ibumu, dan juga dirimu dulu."


Dengan tersenyum sinis, Yati tidak mau jika ayahnya itu sampai melakukan hal-hal yang tadi dia katakan.


Apalagi, ada nama Mr Andre juga, yang disebut oleh tuan Wasito. Ayahnya sendiri.


"Anda tidak perlu repot-repot melakukan semua itu. Aku sudah tahu, orang seperti apa Anda, pada malam, di mana Saya berada di hotel Anda waktu itu."


Tuan Wasito mengerutkan keningnya, mendengar perkataan yang diucapkan oleh anaknya, Yati.


"Apa maksudmu Nak?"

__ADS_1


"Anda tidak bisa melakukan apa-apa, jika tidak karena semua yang dulu sudah Anda pelajari dari sang Kakek. Dan Anda, terlalu percaya dengan apa yang Anda miliki saat ini. Bukankah itu sama saja seperti Tuan Besar Anda? Yaitu sang Kakek. Anda tidak jauh berbeda dengannya."


Yati berkata panjang lebar, tentang bagaimana keadaan ayahnya itu. Dia ingin, ayahnya itu bisa berubah, dan tidak lagi menjadi pengusaha hitam, sama seperti yang dilakukan dulu, s


di saat dirinya masih muda, bersama dengan sang Kakek juga.


Tuan Wasito menatap wajah anaknya itu, untuk meminta penjelasan dari apa yang dikatakan oleh anaknya tadi.


Tapi Yati diam. Dia tidak mengatakan apa-apa, tentang semua hal yang ingin dia sampaikan pada ayahnya itu.


Yati ingin, ayahnya itu bisa sadar dengan sendirinya, tanpa harus dia minta.


"Terima kasih, untuk semua yang sudah Anda lakukan, hingga hari ini. Saya berharap, ini adalah pertemuan kita yang terakhir kalinya," kata Yati, kemudian berdiri dari tempat duduknya.


Saat ini, mereka berdua, Yati dan tuan Wasito, berada di sebuah kafe, tak jauh dari tempat Yati bekerja.


Jika ada seseorang yang melihat keberadaan mereka berdua, tentu saja, orang tersebut akan menganggap bahwa, antara Yati dengan tuan Wasito, ada sesuatu yang terjadi.


Atau bisa jadi, orang tersebut mengira jika keduanya sedang berkencan.


Tuan Wasito berusaha untuk mencegah kepergian anaknya itu, dengan memegangi lengannya.


Dengan sudut matanya, Yati memandang ke arah lengannya, yang sedang dipegangi oleh ayahnya itu.


Yati juga melihat ke sekeliling ruangan, di mana kafe ini sedang dalam keadaan sepi.


Terdengar helaan nafas lega, karena Yati tidak menemukan seseorang yang sedang memperhatikan mereka berdua.


"Lepas Tuan," kata Yati, meminta kepada tuan Wasito, untuk melepaskan tangannya, yang sedang memegang lengannya Yati.


"Dengarkan Ayah dulu!"


Tuan Wasito tidak mau kalah. Dia tidak mendengarkan perkataan Yati. Dan masih memegang lengan anaknya itu.


"Apa yang Anda mau?"

__ADS_1


"Aku ingin, Kamu pulang bersamaku. Kita memulai hidup bersama, yang sebenarnya sudah ada sejak puluhan tahun yang lalu."


Yati tersenyum sinis. Ada kepedihan yang terasa di dalam hatinya. Apalagi, di saat mendengar perkataan dari ayahnya, tuan Wasito.


"Tidak ada yang bisa kita lakukan tanpa ibu. Saya, hanya akan menyelesaikan semua pekerjaan yang sudah Saya sanggupi ini."


"Siapa pemimpin yang memiliki pekerjaan ini? Maksud Ayah, nama atasanmu."


"Kenapa Anda bertanya tentang atasan Saya?"


Yati merasa heran, dengan pertanyaan yang diajukan oleh tuan Wasito padanya.


Ternyata, tuan Wasito ingin meminta waktu pada atasannya Yati, agar memberikan kebebasan kepada anaknya itu.


Tuan Wasito tidak bisa membiarkan waktunya untuk bertemu dengan anaknya itu terbuang dan hanya ada sedikit, karena alasan pekerjaan yang harus dilakukan oleh Yati.


"Maaf. INi sudah di luar batas," kata Yati, mengakhiri pertemuannya dengan ayahnya itu.


"Nak. Apa kita tidak bisa hidup bersama, dalam sebuah keluarga? Sama seperti yang lainnya juga. Kamu dengan Ayah."


"Maaf. Itu semua sudah tidak ada lagi. Ibu juga sudah tiada. Buat apa? Lebih baik, kita hidup sebagai biasanya, dan menjalani kehidupan kita sama seperti biasanya juga."


Tuan Wasito tidak bisa menahan diri. Dia memeluk anaknya, yaitu Yati, dengan berlinang air mata.


Tentunya, tuan Wasito sangat sedih, karena telah di tolak oleh anaknya sendiri.


Padahal yang sebenarnya dipikirkan oleh tuan Wasito adalah untuk kebaikan Yati juga.


Dia tidak ingin, melihat anaknya itu ada di dalam kehidupannya yang sekarang ini. Sama seperti yang dilakukan olehnya, dengan beberapa gadis yang ada di hotel miliknya juga.


Tuan Wasito jadi merasakan hal yang sama, seperti yang dirasakan oleh para orang tua yang lain, jika melihat bagaimana keadaan anak-anak mereka, yang ada pada posisi Yati sekarang ini.


Meskipun sebenarnya, mereka tidak sama juga. Tapi tetap saja, hal itu ada pada lingkaran kehidupan hitam.


Sama juga seperti yang selama ini dijalani oleh tuan Wasito sendiri.

__ADS_1


__ADS_2