
"Bi ... Biyan?"
Gugup, Yati tidak tahu harus berkata apa saat melihat keberadaan pemuda tampan tersebut.
Biyan, yang bertugas untuk menjaga dan melindungi Yati dari jauh sebelum Mr Ginting datang ke Bogor tentu saja sangat senang. Selain bekerja, ia juga punya kesempatan untuk bisa melihat Yati secara langsung karena ia memang punya kepentingan pribadi.
Pemuda itu seakan-akan bersinar terang di antara para pengunjung toko yang dua wanita, tiga bersama Yati.
"Lanjutkan saja, aku mau berkeliling untuk melihat-lihat koleksi toko ini."
"Oh, ya ... ya. Baiklah, silahkan!"
Seakan tersadar, Yati segera menghampiri dua pengunjung toko yang masih perlu untuk diperhatikan. Dia membiarkan pemuda itu untuk melakukan apa yang diinginkannya.
"Terima kasih, sudah datang."
Wanita itu mengucapkan terima kasih, sebelum meninggal Biyan yang tersenyum dan belum juga beranjak dari tempatnya berdiri.
Beberapa saat kemudian.
"Aku senang sekali melihat impianmu menjadi nyata. Dan, maaf Mis Yeti. Aku seperti orang yang terlalu banyak ikut campur, tapi ..."
Pemuda itu tidak melanjutkan gumamnya, ketika melihat Yati datang mendekat. Wanita itu sudah selesai melayani dua pengunjung yang baru saja keluar.
"Ap-pa yang membawamu kemari, Biyan?" tanya Yati setengah gugup.
"Tidak ada. Aku hanya ingin memastikan bahwa kamu baik-baik saja di sini. Selain itu, aku merasa lega bisa melihatmu secara langsung."
Wajah Yati memerah mendengar perkataan Biyan. Meskipun ia bukan lagi remaja yang bucin, tapi wanita mana yang tidak senang saat ada yang memperhatikan sedemikian rupa seperti Biyan?
Wanita itu jadi gugup dan tidak bisa berbicara dengan lancar sebagaimana biasanya. Dia sendiri tidak tahu, apa yang ia rasakan ini.
"Ter-ima kasih, Biyan. A-ku merasa senang, dan melihatmu segar dan sehat itu lebih baik." Yati, tersenyum canggung saat selesai bicara seperti itu.
"Bagaimana dengan rencana untuk merekrut karyawan? Kamu tahu, aku siap membantu jika diperlukan," tanya Biyan tiba-tiba.
Mata Yati, terbelalak mendengar pertanyaan tersebut. Dia tidak menyangka, jika pemuda itu mendengar pembicaraannya dengan para pengunjung tadi.
Akhirnya, Yati memberikan jawaban dengan tersenyum canggung. Sebab alasan ini memang benar adanya, buka hanya sekedar alasan belaka.
__ADS_1
"A-ku ... aku belum berani mengambil langkah itu sekarang. T-api tentu saja, jika toko semakin berkembang, aku pasti akan mempertimbangkan tawaran bantuanmu."
"Aku senang mendengarnya, Mis Yeti. Aku ingin melihat kesuksesan toko ini, dan tentu saja, kesuksesanmu."
Senyuman tidak pernah bilang dari bibir Yati, mendengar perkataan pemuda itu, yang justru membuatnya berbunga-bunga.
"Terima kasih atas semua dukunganmu, Biyan. Kamu membuatku merasa beruntung memiliki ..."
"Kamu juga istimewa bagiku, Mis Yeti. Aku akan selalu mendukungmu, baik dalam pekerjaan maupun hal-hal pribadi."
Pemuda itu memotong kalimat Yati, yang belum selesai diucapkan. Ini membuat Yati melebarkan matanya, tidak percaya dengan apa yang didengarnya barusan.
Percakapan antara Yati dan Biyan berkembang dengan membicarakan perihal toko, menunjukkan kedekatan dan dukungan yang mereka miliki. Selain dari tugasnya untuk melindungi Yati, Biyan juga memiliki kepentingan pribadi dan ikatan emosional yang kuat dengan Yati.
'Bagaimana bisa Biyan tahu aku di sini?'
Padahal di dalam hati, Yati bertanya-tanya kenapa bisa ketemu Biyan lagi padahal ia sudah pergi menjauh. Tapi ia tidak mau geer dengan pertemuan mereka, karena bisa saja Biyan secara tidak sengaja ada di Bogor dan bukan datang khusus untuknya.
'Kenapa bisa aku bertemu Biyan lagi, di sini? Setelah semua waktu yang telah berlalu ... Tapi aku tidak boleh membuatnya merasa bahwa aku gugup atau canggung karena pertemuan ini.'
Wanita itu menyangkal, berpikir bahwa dia tidak boleh gugup. Tapi kenyataannya, sedari tadi ia jelas terlihat gugup dan tersenyum tidak lepas alias canggung.
Yati tersadar dari lamunannya, saat Biyan barusan. Dia tidak bisa langsung menjawab, karena harus berpikir sejenak.
'Aku harus tetap tenang dan santai. Bisa saja ini hanya kebetulan, dia mungkin sedang ada urusan di Bogor dan tidak ada hubungannya dengan aku.'
Lagi, Yati justru berbicara dalam hati, dengan menatap Biyan tanpa berkedip. Tetapi tak lama kemudian, ia mengedip-ngedipkan matanya untuk membuatnya kembali sadar.
"A-ku merasa sangat senang dan bersyukur. Ini adalah langkah besar dalam hidupku. Terima kasih atas dukunganmu, Biyan."
Akhirnya, Yati bisa memberikan jawaban juga. Tapi tentunya tetap terlihat gugup, dan Biyan tersenyum tipis melihat kegugupan wanita yang mendapat tempat tersendiri di dalam hatinya.
'Apa yang harus kukatakan? Aku ingin tahu bagaimana perasaannya saat ini. Tapi aku tidak ingin membuatnya merasa tidak nyaman,' batin Biyan dilema.
"Tidak perlu berterima kasih, Mis Yeti. Aku senang melihatmu bahagia dan sukses," ungkap Biyan pada akhirnya.
Sekarang, mereka berdua sama-sama terdiam, hanyut dalam pikiran masing-masing. Tidak ada yang memulai pembicaraan dan justru mereka berbicara sendiri-sendiri dalam hati.
'Ini adalah situasi yang rumit. Aku harus menjaga sikap antara kenyamanan dan harapan yang mungkin tidak ada hubungannya,' batin Yati.
__ADS_1
'Apakah aku harus menceritakan semuanya? Aku ingin memberitahunya, tetapi aku tidak ingin menambah beban atau konflik.' Biyan juga berbicara sendiri dalam hatinya.
Setelah puas berbicara sendiri dalam hati, akhirnya Yati membuka suara. Wanita itu bertanya pada Biyan, tentang kesibukannya yang sekarang.
"Jadi, bagaimana dengan kehidupanmu? Apa yang kamu sibukkan sekarang ini, Biyan?"
"Aku ... melakukan beberapa perubahan dalam hidupku. Tapi tidak ada yang terlalu menarik untuk diceritakan," jawab Biyan, yang tentu saja tidak menceritakan segalanya.
'Sepertinya Biyan juga memiliki rahasia dan perasaan yang rumit. Ini adalah pertemuan yang aneh,' batin Yati menangapi.
"Baiklah, Biyan. Jika kamu tidak ingin bercerita, aku menghormatinya dan tidak memaksa. Aku hanya ingin kamu tahu bahwa aku menghargai dukunganmu dan kerja kerasmu."
Biyan kembali tersenyum, mendengar tanggapan Yati atas jawabannya yang tidak ingin menceritakan kehidupannya sendiri.
'Aku tidak bisa mengungkapkan semuanya sekarang. Tapi aku tidak ingin kehilangan kamu, Mis Yeti.'
Biyan, masih tidak bisa membicarakan tentang tujuannya datang ke tempat Yati yang sekarang. Dia terikat tugas dari Mr Ginting, tapi juga perasannya tidak ingin menunda.
"Terima kasih, Mis Yeti. Aku selalu ingin yang terbaik untukmu," ujar Biyan, yang yang diajukan Yati.
Percakapan Yati dan Biyan seperti perasaan dan keadaan mereka yang tidak pasti. Ada sesuatu yang rumit untuk diucapkan. Keduanya tampak menjaga keseimbangan antara kenyamanan dan kemungkinan harapan yang ada dalam pertemuan ini.
Dan Biyan tidak mau membuang kesempatan untuk bisa mendapatkan wanita itu. Ia tahu resikonya jika Mr Ginting bisa ketemu Yati. Itulah sebabnya, ia memutuskan untuk mengutarakan isi hatinya yang ingin memiliki Yati, dengan membangun rumah tangga bersama-sama.
"Emh ... Mis Yeti, ada yang ingin a-ku sampaikan. Meskipun mungkin ini tidak sesuai dengan situasi saat ini, tapi aku merasa ... ini adalah saat yang tepat untuk mengungkapkannya."
Perkataan Biyan yang tidak lancar dan gugup, membuat Yati mengerutkan keningnya bingung. Dia deg-degan menunggu kalimat yang akan diucapkan Biyan selanjutnya.
Tapi kenyataannya, pemuda itu tidak juga berbicara lagi. Ini membuat Yati terpaksa harus bertanya.
"Apa yang ingin kamu sampaikan, Biyan?"
"Hahhh ... Sejak pertama kali kita bertemu, perasaanku terhadapmu ada, khusus. Dan itu tidak pernah berubah. Aku ingin jujur mengatakan bahwa ... aku masih memiliki perasaan yang kuat terhadapmu. A-ku tahu aku pergi untuk menjauh, tetapi hatiku tidak pernah berpindah."
Yati terkaget-kaget mendengar pengakuan Biyan kali ini. Meskipun dulu mereka pernah memiliki hubungan, tapi ini tentu saja berbeda.
"Bi-yan ... a-ku, aku tidak tahu harus berkata apa. Ini ... a-ku ..."
Wanita itu bingung, gugup dan berbagai macam rasa yang campur aduk datang menguasai hati dan perasaannya. Dia tidak bisa memberikan respon yang sebagaimana seharusnya.
__ADS_1