Miss Yeti Bukan PSK Biasa

Miss Yeti Bukan PSK Biasa
Memahami


__ADS_3

"Aku tidak bisa membiarkan ini terjadi. Aku tidak akan membiarkan wanita lain merebut Mr. Ginting dari tanganku," gumam Alisa dengan tatapan yakin.


Dengan hati yang penuh tekad, Alisa memantapkan diri dan langkah-langkah yang harus diambilnya. Dia tahu bahwa pertemuan antara Mr. Ginting dan Yati adalah momen penting, dan dia merasa perlu untuk menggagalkan rencana mereka.


Ketika dia melihat Mr. Ginting keluar dari rumah Yati, Alisa memutuskan untuk menghampirinya. Dia berusaha menjaga wajahnya agar tampak biasa, meskipun di dalam hatinya ada gejolak yang tak terbendung.


"Mr. Ginting, apa yang membawa Anda ke sini?" tanya Alisa berusaha tersenyum, pura-pura tidak tahu dan hanya kebetulan saja.


"Alisa?" sapa Mr Ginting terkejut dengan kehadiran Alisa.


"Ya, kebetulan ada proyek mode di daerah sini. Dan ini, saya melihat ada toko suvenir."


Alisa merasa jantungnya berdegup lebih cepat, saat berkata bohong. Walaupun ia sudah mengantisipasi hal ini, tetap saja jantungnya berpacu dengan cepat sehingga membuatnya merasa panik.


Alisa melanjutkan kepura-puraannya dengan berbicara tentang toko suvenir dan proyek mode di daerah tersebut. Dia berusaha untuk tetap tenang dan mengalihkan perhatian Mr. Ginting dari Yati.


Setelah beberapa percakapan ringan, Alisa menemukan kesempatan untuk mencoba mempengaruhi Mr. Ginting.


"Mr Ginting, sendirian? Atau bersama seseorang?" tanya Alisa tetap berpura-pura.


"Hm, tidak ada hubungannya denganmu. Sebaiknya kamu pergi dari sini, Alisa!" jawab Mr Ginting tegas, membuat Alisa menciut juga dengan tekadnya untuk tadi.


"T-api ... saya, saya belum dapat sovenir."


Alisa, berusaha mencari alasan supaya tetap berada di tempat tersebut. Tapi tentu saja itu tidak akan dibiarkan oleh Mr Ginting.


"Tidak, sebaiknya cari sovenir di tempat lain yang lebih besar dan lengkap." tegas Mr Ginting, mengintimidasi.


Alisa mengetatkan rahangnya, tapi ia tetap berusaha untuk tetap tenang. Ia memperlihatkan senyuman terbaiknya, sebab sudah terlatih dengan sikap ini secara profesional. Mengingat kembali, bahwa Alisa adalah seorang model dan perancang busana yang tentunya terbiasa menghadapi audience.


Melihat peluang untuk mendapatkan waktu bersama Mr Ginting, Alisa justru memiliki ide untuk kesempatan ini.


"Saya tidak tahu daerah sini, Mr. Apakah ... Anda bisa menemani saya?" tanya Alisa seperti seseorang yang sedang memohon.


"Aku? Kenapa harus, aku?" tanya Mr Ginting dingin.

__ADS_1


Dia tidak mau berhubungan lagi dengan Alisa, dengan alasan apapun. Tapi setelah berpikir sejenak, Mr Ginting juga tidak bisa membiarkan Alisa tetap berada di depan toko sovenir milik Mis Yeti.


Akhirnya, pria itu menghubungi seseorang yang bisa mengantar Alisa berkeliling mencari sovenir yang diinginkan.


Dengan wajah yang tampak canggung, Mr. Ginting mengangguk akhirnya setelah melihat kebingungan Alisa.


"Baiklah, saya bisa menemanimu sebentar. Tapi kita harus cepat, saya memiliki jadwal yang padat hari ini."


Alisa merasa campuran antara lega dan senang. Dia menyadari bahwa kesempatan ini bisa memberinya waktu untuk mendekatkan diri pada Mr. Ginting dan mungkin membuatnya mempertimbangkan ulang rencananya untuk menemui Yati.


Mereka berdua mulai berjalan bersama. Alisa berusaha menjaga obrolan tetap ringan, mengajukan pertanyaan tentang daerah tersebut dan mengalihkan topik dengan leluasa.


Sementara Mr. Ginting tetap pada dingin, tetapi seiring waktu, dia terlihat lebih dingin lagi dari awal tadi.


Saat berjalan di sekitar toko-toko suvenir, Alisa dengan hati-hati menyebutkan beberapa pengalaman yang menarik, termasuk kisah-kisah tentang arti penting pertimbangan dalam membuat keputusan besar. Dia mengarahkan percakapan menuju topik tersebut dengan harapan bahwa pesan yang ingin dia sampaikan akan sampai pada Mr. Ginting.


Sambil berbicara, mereka melihat sebuah toko suvenir yang menarik perhatian Alisa. "Tunggu sebentar, Mr. Ginting. Bisakah kita masuk sebentar?" pinta Alisa dengan ramah.


Mr. Ginting agak ragu, tetapi mengangguk setuju. Mereka masuk ke toko itu, dan Alisa mulai mencari beberapa suvenir. Ketika mereka berdua berjalan di antara rak-rak, Alisa berusaha untuk membawa obrolan kembali pada tema penting yang ingin dia sampaikan.


Mr. Ginting terdiam sejenak, lalu melihat Alisa dengan tatapan yang penuh seakan menyelidik.


"Apa yang kamu, maksud?" tanyanya kemudian.


Alisa merasa ada harapan sehingga bisa berbicara dengan Mr. Ginting. Meskipun tanggapan pria itu tidak sebaik ekspektasinya, dia tahu bahwa perjuangan belum berakhir.


Wanita itu merasa bahwa langkah-langkahnya menuju mengubah rencana Mr. Ginting mulai membuahkan hasil.


Setelah beberapa saat berkeliling di toko suvenir, mereka berdua keluar dan bersiap untuk berpisah. Meskipun masih banyak yang harus ia kerjakan, Alisa merasa lebih percaya diri bahwa ia telah mengambil langkah dalam arah yang benar.


"Terima kasih, Mr Ginting, atas waktunya."


"Hm, silahkan pergi."


Alisa tersenyum canggung mendebar permintaan Mr Ginting yang mengusirnya secara langsung.

__ADS_1


Tidak ada basa-basi lagi, Mr Ginting memang memintanya pergi. Dan Mr Ginting tidak beranjak pergi dari tempatnya berdiri sebelum Alisa benar-benar pergi.


"Sekali lagi, terima kasih Mr Ginting."


Mr Ginting tidak memberikan jawaban apapun, hanya memandang dengan tatapan datar. Ini membuat Alisa menciut, tahu jika usahanya untuk mendekat Mr Ginting gagal!


Setelah Alisa pergi dan menghilang dari pandangannya, Mr Ginting menghubungi seseorang.


"Kamu cari kegiatan Alisa di Bogor! Jika memang ada kegiatan, pastikan lokasinya sejauh mungkin dari target!"


"Baik, Mr." Seseorang menjawab dan siap dengan perintahnya.


"Hm, ingat juga! Jika tidak ada kegiatan yang dilakukan dan sesuai dengan informasi yang ia sampaikan, buat ia pergi dari sini, secepatnya!" perintah Mr Ginting lagi, dengan suara tegas.


"Baik, Mr Ginting."


Klik


Sambungan telepon terputus. Mr Ginting terpaksa menghubungi seseorang, yang lain lagi karena ia baru saja membaca pesan dari Biyan, yang meminta izin pulang ke Jakarta.


"Ck, kenapa mendadak juga?" gumam Mr Ginting tidak habis pikir.


"Eh, mamanya masuk rumah sakit?" tanya Mr Ginting, dengan terkejut.


Pria itu, yang awalnya ingin menghubungi Biyan dan meminta pertanggungjawaban kerja, akhirnya urung. Dia tidak mungkin menekan seseorang dalam situasi seperti ini.


Mr Ginting, meskipun terlihat kejam dan dingin, masih punya hati untuk mempertimbangkan jika itu berurusan dengan orang tua atau keluarga terdekat seperti Biyan saat ini.


Pria itu paham dengan kondisi yang urgen, lagi dia juga merasakan perasaan sepi tidak ada orang tua dalam hidupnya.


..."Kamu tidak perlu khawatir, tenang saja menjaga mamamu. Aku bisa menjaga diri."...


Akhirnya, Mr Ginting mengirim pesan balasan untuk Biyan. Pria itu membiarkan bodyguardnya untuk tetap tenang dengan urusannya di Jakarta.


"Aku pasti bisa, meskipun tanpa Biyan. Masih ada orang-orang yang aku miliki."

__ADS_1


__ADS_2