Miss Yeti Bukan PSK Biasa

Miss Yeti Bukan PSK Biasa
Berseteru Dan Tertawa


__ADS_3

Singapura adalah negara tetangga Indonesia, dengan letaknya yang sangat dekat. Negara yang terdiri dari sebuah pulau di lepas ujung selatan Semenanjung Malaya, 137 kilometer di utara khatulistiwa di Asia Tenggara. Negara ini terpisah dari Malaysia oleh Selat Johor di utara, dan dari Kepulauan Riau, Indonesia oleh Selat Singapura di selatan.


Itulah batas-batas wilayah negara Singapura, yang bertetangga dengan Indonesia dengan Malaysia.


Negara yang sangat maju, yang ada di kawasan Asia Tenggara, meskipun dengan luas wilayahnya yang tidak seberapa.


Bandara internasional terbaik, pelabuhan yang maju dan canggih, serta fasilitas perkantoran dan bisnis yang maju, membuat negara ini mampu menjadi negara yang berkembang sangat cepat dibandingkan dengan negara-negara tetangganya, yang mempunyai wilayah luas, termasuk Indonesia sendiri.


Di sinilah Yati sekarang berada. Di bandara Changi Airport, yang merupakan titik fokus status Singapura, sebagai pusat penerbangan kelas dunia, yang saat ini juga telah dikenal sebagai destinasi wisata tak terlupakan.


Dengan beragam penghargaan yang diraihnya, bandar udara Changi ini menawarkan beragam aktivitas menarik, mulai berbelanja dan bersantap hingga hiburan. Bukan hanya sekedar bandar udara sebagai pusat transportasi udara saja.


Mungkin, ini juga yang menjadi daya tarik tersendiri, untuk para pelancong yang datang ke Singapura.


Yati tertegun melihat keadaan bandara Changi airport yang sangat bersih dan rapi. Semua tampak teratur dan tidak membingungkan. Semua susun dan ditempatkan pada posisi yang tepat.


"Kamu mau belanja di sini?" tanya Mr Ginting pada istrinya, miss Kiara.


"Kak. Aku mau!"


Surya Jaya menjawab dengan cepat. Dia yang justru menjawab pertanyaan dari Mr Ginting lebih dulu, sebelum Yati membuka mulutnya untuk bersuara.


"Siapa yang tanya Kamu?" tanya Mr Ginting kesal, karena ulah adik sepupunya itu.


"Hehehe... kirain tadi Surya yang ditanyai," jawab Surya Jaya, yang tidak merasa bersalah, karena sudah membuat mood kakak sepupunya itu jadi buruk.


Yati hanya tersenyum, mendengar perseteruan antara mereka berdua. Dia merasa terhibur dan tidak sepi, saat perjalanan mereka tadi. Dan sekarang, perseteruan itu mereka lanjutkan lagi.


"Sudah. Kita ke mension dulu. Kemarin Aku sudah menghubungi penjaga, untuk merapikan kamar kita."


Mr Ginting mengajak mereka berdua, Yati dan Surya Jaya, untuk pulang terlebih dahulu, untuk beristirahat.


"Memang sudah ada yang jemput kita Mas?" tanya Surya Jaya, dengan maksud untuk mendapat kesempatan berbelanja di Changi airport, Singapura ini. Hal yang menjadi kebanggaan tersendiri, bagi sebagian orang.


"Kalau Kamu mau, tinggal saja di bandara. Tidak akan ada yang melarang juga kok. Asal tidak usah bawa kartu kredit juga!"


Surya Jaya yang awalnya tersenyum dan hampir melompat kegirangan, langsung merenggut karena mendengar perkataan kakak sepupunya, pada bagian akhir.


"Ihsss... gak bisa lihat orang seneng deh!" gerutu Surya Jaya, yang tidak dihiraukan oleh Mr Ginting.


Yati jadi terkikik geli, melihat tingkah laku kedua laki-laki, yang sama-sama tampan itu. Mereka bertiga jadi pusat perhatian sebagian orang, yang kebetulan lewat dan mendengar pembicaraan mereka.

__ADS_1


"Wih, beruntung sekali cewek itu. Diapit dua cowok yang sama-sama keren!"


"Mungkin ke-dua cowok itu bodyguard cewek, yang ada disampingnya ya?"


"Asli. Mau dong Aku diapit mereka berdua, kayak cewek cantik itu!"


"Ke-dua cowok itu, pacarnya cewek yang bersama mereka ya?"


"Memang kuat main bareng?


"Ihhh, Aku jadi pengen..."


Beberapa orang yang lewat, memberikan komentar, dengan bahasa mereka sendiri. Ada yang berbahasa Melayu, Inggris, dan ada juga yang China.


Mereka kebanyakan merasa iri, karena ada seorang cewek yang bersama dengan dua cowok keren.


Tapi, ada juga yang berkomentar dengan nada mencibir, dan meremehkan.


Mr Ginting menatap beberapa dari mereka yang berkomentar. Dia kesal karena mendengar perkataan yang tidak bisa dia terima.


"Tidak usah mencampuri urusan orang lain!" gertak Mr Ginting, dengan tatapan matanya yang tajam.


"Sudah Mas. Biarin saja sih mereka. Tidak kenal juga kan?" Surya Jaya, mencoba untuk menenangkan hati kakak sepupunya itu.


"Tapi Aku tidak suka!" bentak Mr Ginting, pada Surya Jaya.


Surya Jaya jadi meringis, saat mendengar bentakan kakak sepupunya. Dia merasa tidak enak hati, karena ada beberapa orang yang mendengar dan melihat kejadian itu.


Yati, yang sedari tadi hanya bisa diam saja, mencoba untuk menenangkan hati suaminya. Dia mengelus-elus lengan Mr Ginting, dan tersenyum manis ke arahnya.


Mr Ginting menghela nafas panjang, untuk meredakan emosi yang ada di dalam hatinya.


"Hah, sudahlah. Ayok kita pulang!"


l


Akhirnya, Mr Ginting mengajak mereka berdua untuk berjalan kembali, menuju ke arah luar bandara. Dia area parkir, sudah ada mobil yang menunggu mereka, bersama dengan supirnya juga.


Tapi ternyata, mobil sudah ada di depan pintu keluar. Mereka bertiga, tidak perlu repot-repot berjalan mencari keberadaan mobil tersebut, ke area parkir yang sangat luas.


"Welcome Mr Ginting, Mr Surya dan miss Kiara," ucap supir tersebut, yang memang sudah diberitahu oleh Mr Ginting.

__ADS_1


Mr Ginting hanya mengangguk saja. Begitu juga dengan Surya Jaya. Sedangkan Yati, yang dikenal dengan nama miss Kiara, tersenyum dan juga membungkuk sopan, sama seperti tanda hormat pada kebanyakan orang di negara China, Korea dan juga Jepang.


Supir, yang juga bertugas untuk mengawal mereka, membuka bagasi mobil, untuk memasukkan beberapa barang bawaan yang tidak terlalu banyak itu.


Apalagi, Yati juga tidak membawa baju ganti, karena kata Mr Ginting, istrinya itu bisa memilih baju sendiri, di butik miliknya.


Butik itu berada tepat di depan bangunan mension miliknya, dan dikelola oleh anak buahnya, yang semuanya adalah orang-orang yang sangat profesional, sehingga butiknya itu tetap berjalan dengan baik, meskipun Mr Ginting tidak pernah mengawasi secara langsung.


Para pegawai butik Mr Ginting, juga menempati mension miliknya, untuk tempat tinggal. Ini untuk memudahkan mereka semua dalam bekerja. Dan itu gratis, beserta makanan untuk mereka juga.


Tentu saja, semua pegawai Mr Ginting berterima kasih untuk fasilitas yang mereka dapatkan. Itulah sebabnya, mereka memiliki loyalitas yang tinggi kepada Mr Ginting, sebagai atasan mereka.


"Apa semua berjalan baik, seperti biasanya?" tanya Mr Ginting, pada supirnya itu.


"Baik Tuan. Semua berjalan, sama seperti yang dilaporkan ke Tuan, setiap satu minggu sekali."


Supir menjawab dengan pasti, karena dia juga sangat tahu, bagaimana kinerja para pegawai di butik dan mension. Dia bisa menjawab seperti itu karena, dia juga ikut tinggal di mension tersebut. Itulah sebabnya, dia tahu banyak hal tentang apa yang terjadi.


"Syukurlah. Nanti Kami akan ada di sini sekitar satu minggu."


Supir hanya mengangguk saja. Kini, dia siap mengantar para tuan-tuan nya itu, untuk pergi ke mension.


Yati hanya bisa diam mengamati. Dia tidak tahu apa-apa di negara ini. Jadi, dia hanya bisa ikut, apa yang diinginkan dan dilakukan oleh suaminya, Mr Ginting.


"Kok cuma seminggu sih Mas, bukannya sepuluh hari ya?" protes Surya Jaya, saat sadar dengan perkataan Mr Ginting.


"Diam. Kamu itu ikut Aku. Ngapain Kamu yang atur?" sahut Mr Ginting cepat, dengan nada kesal.


"Ihsss, marah-marah suka-nya," ujar Surya Jaya dengan memajukan bibirnya.


"Hihihi..."


Yati terkikik geli, melihat tingkah mereka berdua, yang tidak bosan-bosannya membuat ulah.


"Lucu?"


Mr Ginting bertanya dengan nada kesal pada istrinya.


"Hahaha... cantik kok," sahut Surya Jaya, tanpa diminta.


Dan ini membuat Mr Ginting semakin terlihat kesal, karena mendengar adik sepupunya itu sedang memuji istrinya, yang saat ini ada bersama dengan mereka berdua.

__ADS_1


__ADS_2