
Di jantung kota Berlin, seorang wanita cantik bernama Alisa tersenyum tipis ketika mengamati pemandangan kota dari jendela apartemennya. Namun, senyuman itu cepat pudar ketika ia menemukan sebuah surat rahasia yang tersembunyi di antara dokumen bisnis sang suami.
Dalam surat itu terungkap rencana tersembunyi suaminya, yang ternyata melakukan perjalanan bisnis yang tak biasa.
Alisa merasa jantungnya berdebar keras saat membaca kata-kata yang tercetak jelas di atas kertas tersebut. Rasa cemas dan rasa ingin tahu memenuhi pikirannya.
Wanita itu tercengang saat menemukan foto-foto lama sang suami, bersama seorang wanita cantik yang terlihat begitu akrab dengannya.
"Apakah ini ... wanita ini adalah mantan istri kontrak Ginting yang telah lama berpisah!"
"Kamu benar-benar berpura-pura selama ini! Aku tidak bisa percaya aku ditipu olehmu!"
"Ginting, apa yang ada dalam pikiranmu? Kamu berani melakukan ini setelah hubungan kita yang telah lama terjalin?"
Dengan ragu-ragu, ia bertanya sendiri. Ia jadi ingin mulai melakukan penyelidikan sendiri, mengikuti jejak perjalanan bisnis yang dilakukan sang suami.
Berkali-kali Alisa merenung tentang penemuannya ini. Apakah suaminya masih memiliki perasaan untuk mantan istrinya?
Mengapa ia merahasiakan hal ini dari Alisa?
Dan yang lebih penting, apa yang seharusnya Alisa lakukan sekarang?
Hatinya berkecamuk antara rasa cemburu dan keinginan untuk menghadapi sang suami dengan kebenaran yang ia temukan.
"Sudah cukup dengan rahasia dan kebohonganmu! Aku tidak akan lagi dipermainkan seperti ini!"
"Bagaimana kamu bisa melakukannya? Aku merasa dikhianati dan dihancurkan olehmu!"
Saat matahari terbenam di cakrawala Berlin, Alisa mengambil nafas dalam-dalam. Dia tahu bahwa saatnya telah tiba untuk menghadapi sang suami dan mengungkapkan semua yang telah ia temukan.
Apa pun hasilnya, wanita itu ingin mengetahui dan mengakhiri semua kegundahannya selama ini.
"Kamu seharusnya menghormati dan jujur kepadaku, bukan menyembunyikan segala hal ini!"
"Perasaan dan kepercayaanku padamu hancur berantakan sekarang!"
"Jangan berani-berani mendekatiku lagi sebelum kamu memberi penjelasan yang masuk akal, Ginting!"
"Jika kamu berpikir aku akan melupakannya dengan mudah, kamu sangat salah!"
Meskipun Alisa tidak bisa datang langsung menemui suaminya di Indonesia, dia merasa bahwa dia harus menghadapi situasi ini dengan kepala dingin dan rencana yang matang.
__ADS_1
Dia tahu bahwa tindakan yang gegabah hanya akan memperburuk segalanya.
Dengan hati yang berat, Alisa memutuskan untuk mengambil pendekatan yang tak terduga namun elegan. Khas wanita berkelas!
"Aku tidak seburuk dugaan mu, Ginting!"
Pertama, Alisa mulai mengumpulkan informasi lebih lanjut tentang mantan istri kontrak suaminya beberapa tahun lalu. Dia berbicara dengan teman-teman dekat Ginting, termasuk sepupu atau yang lainnya, yang mungkin tahu tentang hubungan masa lalu sang suami.
Melalui percakapan dengan hati-hati, Elisa mencoba mengumpulkan informasi tentang apa yang sebenarnya terjadi dan mengapa suaminya merasa perlu mencari tahu tentang keberadaan mantan istri kontraknya.
Setelah memperoleh pemahaman yang lebih dalam, Elisa merencanakan sebuah hadiah tak terduga untuk sang suami.
"Ini bisa menjadi terapi kejut, untukmu, hahaha ..."
Wanita itu memutuskan untuk mengirimkan kotak misterius berisi foto-foto lama sang suami bersama mantan istrinya, bersama dengan surat yang isinya merangkum perasaan dan pertanyaan yang melingkupi hatinya.
Alisa ingin memberi suaminya kesempatan untuk membuka diri dan berbicara jujur tentang perasaannya.
Wanita itu juga memutuskan untuk menghubungi seorang teman di Indonesia, seorang fotografer profesional.
"Hai, aku butuh bantuan!"
"Ck, tidak pernah berkabar apalagi menelpon, dan saat menelpon tidak pernah punya sopan?" hardik seseorang di kejauhan benua lain.
Kemudian wanita itu menjelaskan rencananya kepada temannya tersebut dan meminta bantuan untuk mengatur pertemuan mereka.
Fotografer itu akan membantunya mengambil foto-foto dan sebagainya, yang bisa digunakan untuk bukti kedepannya nanti.
Setelah selesai melakukan kesepakatan dengan seseorang yang akan membantunya, wanita itu menghubungi sang suami. Dia mencoba untuk mengetes kejujuran suaminya sendiri.
Tut tut tut ...
Sayangnya, panggilannya tidak direspon. Tapi sepertinya ia tidak menyerah, melakukan panggilan sekali lagi.
Tut tut tut ...
"Damn it! He dared to ignore me!"
"Ini tidak bisa dibiarkan, dan aku akan melakukan segala cara supaya kamu kembali takluk!"
Setelahnya, ia mengirim pesan mesra kepada sang suami supaya menerima panggilan telpon darinya. Meskipun sebenarnya ia tahu, bahwa sang suami belum tentu merespon pesannya.
__ADS_1
"Huhfff ... sebaiknya aku mencari hiburan saja, dari pada memikirkan Ginting yang sedang sinting!"
Tak lama, wanita itu keluar dari kamar mewahnya yang ada di lantai dua menuju ke lantai bawah.
Sekarang ia siap untuk keluar mencari hiburan seperti biasa, jika sedang dalam keadaan diacuhkan. Tapi, ini memang lebih sering terjadi dibandingkan tidak, sebab sang suaminya tidak pernah peduli dengannya.
Untung saja ada banyak uang yang bisa digunakan untuk mencari hiburan di luar, termasuk mencari pria muda untuk bersenang-senang.
"Boy, kita ketemu di tempat biasa. I'm headed there."
"Yes, I will wait to feel the satisfying touch," sahut seseorang yang dihubungi wanita tersebut.
Mereka melakukan panggilan telpon selagi berada di perjalanan menuju ke tempat yang mereka sepakati.
Sayangnya, apa yang dilakukan oleh wanita tersebut diketahui seseorang dan memang selalu diawasi oleh perintah dari sang suami wanita tersebut.
Pekerjaan ini sudah dilakukannya sejak 1 tahun yang lalu. Di mana saat itu, sang suami melihat dan mengetahui kecurangan yang dilakukan oleh wanita itu sendiri.
Tapi karena ada beberapa hal yang harus dirahasiakan, sang suami tidak langsung melakukan tindakan melainkan bekerja dengan perlahan-lahan demi mendapatkan semua baby yang harus dikumpulkannya sebelum bertindak.
***
Di Indonesia, seorang pria mendapatkan pesan dan beberapa gambar yang dikirimkan oleh orang yang dipercaya.
"Alisa. Ternyata kamu semakin berani, dan sepertinya kamu merasa di atas angin."
Pria itu bergumam sendiri, tanpa membalas pesan yang diterimanya. Dan pengirim pesan yang ada di benua lain, memang sudah mengetahui bahwa tidak perlu menunggu balasan pesan apapun yang terjadi.
"Aku mau istirahat. Kalian, bisa bekerja sesuai dengan rencana."
"Baik, Mr."
Ruangan kerjanya kembali sepi. Hanya ada suara nafasnya yang terdengar lirih, seakan-akan menahan supaya bisa menahan dirinya untuk tidak bertindak dengan gegabah.
"Kakek. Maaf, jika suatu hari nanti aku tidak meneruskan wasiat yang kakek berikan."
Setelahnya, kedua tangannya meraup wajahnya sendiri dengan mata tertutup. Menyadari jika wasiat yang ia jalankan tidak bisa membuatnya bahagia.
"Seharusnya aku seperti dulu, tidak pernah patuh denganmu."
Wajah pria itu mengeras, tapi tatapan matanya sendu. Kesedihan begitu kentara, menyelimuti wajahnya yang tampan.
__ADS_1
Sekali lagi, pria itu meraup wajahnya dengan menghembuskan nafas panjang.
"Hemmm ... aku akan mengejar kebahagiaanku sendiri, dengan apa yang aku rasakan tanpa peduli dengan apapun."