
Malam itu, angin sepoi-sepoi menerpa taman yang diterangi oleh cahaya bulan purnama. Yati dan Biyan duduk bersama di teras samping yang terhampar dengan bunga-bunga yang harum. Suasana tenang dan damai mengisi udara.
"Suasana seperti ini mengingatkan aku dengan kenangan masa kecil, sama Mbok Minah." Yati tiba-tiba berbicara dengan senyum lembut, tapi matanya berkaca-kaca.
"Mbok Minah?" tanya Biyan, yang tidak pernah mengetahui siapa, Mbok Minah.
"Hemmm ... Ya, dia perempuan hebat yang membesarkan aku."
Akhirnya, Yati menceritakan tentang kisah hidupnya di masa kecil, yang tidak pernah mengetahui siapa sebenarnya kedua orang tuanya.
Yati juga menceritakan bagaimana ia bisa sampai berada restoran Jepang miliknya Mr Akihiko, kemudian nekad menjadi seorang "Gheisha" di sana.
"Setelahnya, kamu sudah mengetahuinya bagaimana jalan cerita kisah hidupku, Biyan."
"Tapi, bagaimana dan apa hubungannya dengan Mr Andre, Mr Ginting dan ..."
"Kamu yakin, mau mendengar?" sahut Yati, memotong pertanyaan Biyan yang belum selesai.
Wanita itu, memang belum menceritakan semuanya bagaimana ia bisa sampai menjalani tugas "Gheisha" yang terakhirnya dan justru membongkar rahasia jati dirinya dan menemukan sang ayah, mendiang Tuan Wasito.
Kemarin, beberapa kisah memang sengaja tidak diceritakan oleh Yati, takut jika Biyan tidak mau menerima masa lalunya yang terlalu pahit. Tapi, ia juga ingin memulai semuanya dengan kejujuran.
"Tentu, apa kau meragukan cinta dan niatku?" tanya Biyan, meyakinkan wanitanya.
Meskipun sedikit banyak Biyan sudah mengetahui dari Mr Ginting dan Mr Andre, tapi ia ingin lebih mengenal Yati, melalui kisah yang diceritakan oleh wanita itu sendiri.
Akhirnya Yati berbagi cerita dengan sesekali menghapus air matanya, ingat dengan segala kesedihan dan kisah hidupnya yang berliku-liku.
Waktu berlalu begitu cepat, dan seiring dengan itu, cahaya bulan semakin bersinar.
Ketika percakapan berakhir, mereka berdua terdiam sejenak, menikmati keheningan yang nyaman di antara mereka. Tiba-tiba, dengan disengaja, tangan Biyan menyentuh lembut punggung tangan Yati.
Yati mengangkat matanya dan bertemu dengan mata Biyan dalam keheningan yang penuh makna. Wajah mereka bersentuhan begitu dekat, dan di bawah cahaya bulan, suasana terasa penuh dengan ketegangan yang manis.
"Biyan ..."
Yati memanggil dengan suara lembut, membuat Biyan tersenyum dengan mata yang berbinar-binar dengan cintanya.
"Yati ..."
__ADS_1
Mereka berdua bisa merasakan detak jantung mereka saling berdenting. Tidak ada kata-kata yang diperlukan. Mereka saling memahami dalam keheningan yang penuh makna.
Di bawah cahaya bulan purnama yang memancar dengan lembut, Yati dan Biyan menemukan kedekatan dan kebersamaan yang begitu istimewa. Mereka tahu bahwa momen ini akan selalu terkenang dalam hati mereka, mengukir jejak cerita cinta diantara mereka.
Yati dan Biyan terus memandang satu sama lain dengan mata yang penuh kasih sayang. Keheningan di antara mereka terasa hangat dan menguatkan, seolah-olah dunia di sekitar mereka memperlambat langkahnya waktu untuk membiarkan momen ini berlangsung selamanya.
Yati akhirnya memutus keheningan dengan suara lembut, mengungkapkan apa yang dirasakannya.
"Biyan, a-ku ... aku ingin tahu seberapa berartinya kehadiranku dalam hidupmu?" tanyanya pada sang calon suami.
"A-ku ... merasa sangat beruntung bisa berbagi semua ini denganmu," ujarnya melanjutkan kalimat.
"Yati, aku merasakan hal yang sama. Kehadiranmu memberiku semangat dan motivasi. Bersama-sama, kita bisa menghadapi apapun."
Biyan menjawab dengan suara pelan penuh kelembutan, membuat Yati memejamkan mata saat keningnya dikecup bibir Biyan.
Mereka saling berpegangan tangan, merasakan getaran kehangatan di antara jari-jari mereka. Mereka bisa merasakan bahwa takdir telah membawa mereka bersama, dan mereka siap untuk menghadapi setiap tantangan yang mungkin datang.
Sementara itu, bulan terus bersinar terang di langit malam, memberikan suasana romantis pada momen istimewa mereka. Mereka membiarkan kebersamaan mereka tumbuh, menjanjikan untuk selalu mendukung dan saling melindungi.
Malam itu, di bawah cahaya bulan purnama yang mempesona, Yati dan Biyan membangun fondasi yang kuat untuk kisah cinta mereka. Mereka menyadari bahwa bersama-sama, mereka dapat mengatasi segala rintangan dan membangun masa depan yang cerah.
"A-ku suka suasana malam seperti ini. Rasanya begitu tenang dan indah." Yati berkata dengan tersenyum.
Ada ketenangan pada diri wanita itu, Setelah semua yang ia lalui beberapa waktu terakhir hingga masa dukanya setelah kehilangan sang ayah.
"Ya, aku juga merasa begitu. Dan malam ini, rasanya lebih istimewa lagi." Biyan, mengangguk setuju dengan mempererat pegangan tangannya pada sang wanita.
Mereka berjalan berdampingan, mendekati kolam kecil yang terdapat di sudut taman. Air kolam mengalir dengan tenang, menciptakan suara gemericik yang menenangkan.
Yati memandang Biyan dengan mata yang penuh rasa terima kasih. Mereka saling memahami dengan mendalam, merasakan kebersamaan yang tak tergantikan.
Saat mereka kembali ke teras, mereka memutuskan untuk duduk di bawah gazebo kecil yang terletak di tengah-tengah taman. Mereka saling berbagi impian dan harapan mereka untuk masa depan.
"Aku ingin bisa memberikanmu dunia, Yati. Aku ingin melihat dan bersamamu dengan bahagia."
Yati dengan lembut, menunduk dengan rona merah di wajahnya.
"Aku sudah memiliki dunia yang luar biasa saat ini, dengan bersamamu di dalamnya."
__ADS_1
Mereka berdua saling tersenyum, merasakan getaran cinta yang hangat di antara mereka. Waktu terasa berjalan dengan lambat, dan mereka membiarkan momen ini berlangsung selama mungkin.
Malam itu, di bawah cahaya bulan purnama, Yati dan Biyan menemukan keintiman yang mendalam di antara hati mereka. Mereka tahu bahwa cinta mereka adalah sesuatu yang istimewa.
Mr Andre, yang menyaksikan kedekatan Yati dan Biyan dari kejauhan, tersenyum bahagia. Dia merasa hangat di hatinya melihat Yati, wanita yang pernah mengisi sebagian besar hatinya, telah menemukan kebahagiaannya.
Dalam kebahagiaannya, Mr Andre juga merasa lega. Dia menyadari bahwa kebahagiaan Yati adalah hal yang paling penting, bahkan jika itu berarti harus melepaskannya untuk selamanya. Dia mengucapkan doa terbaiknya untuk Yati dan Biyan, berharap mereka dapat melalui setiap rintangan dan membangun masa depan yang penuh kebahagiaan bersama-sama.
"Semoga, kalian berdua selalu bagaimana dalam restu alam."
Mr Andre, mengucapkan doa dan harapannya untuk kebahagiaan sang wanita muda, yang pernah mengisi hati dan hari-harinya.
"Lihat Tama, anakmu, yang pernah mengisi hatiku kini akan berbagi dengan pria yang baik."
Mr Andre, kembali berbicara sendiri masih dengan memperhatikan dua insan yang ada di taman, dari tempatnya berdiri di balkon kamarnya.
"Aku berharap, kamu sudah benar-benar ikhlas dan memaafkanku untuk masa lalu kita yang rumit."
Dalam momen ini, Mr Andre merasakan sepenuhnya arti cinta sejati, yang membebaskan dan menginginkan kebahagiaan orang yang dicintai bahkan jika itu berarti melepaskannya pergi. Dengan hati yang lapang, dia memilih untuk membiarkan Yati mengejar kebahagiaannya bersama Biyan, sambil tetap mendukungnya dari kejauhan.
Malam itu, di bawah cahaya bulan purnama, Mr Andre juga merasakan kedamaian dalam hatinya. Dia tahu bahwa keputusan yang diambil oleh Yati adalah yang terbaik, dan dia siap untuk melangkah maju dalam hidupnya dengan semangat yang baru.
Di kegelapan malam, di luar rumah yang terletak di pinggiran kota Semarang, beberapa bayangan bergerak diam-diam di antara pepohonan dan semak belukar. Mereka memakai pakaian gelap dan membawa peralatan yang tersembunyi di balik jas mereka.
"Waspada dan berhati-hatilah! Ini tugas, yang kemungkinan adalah yang terakhir."
"Siap, Bos!"
Salah satu dari mereka berbisik kepada yang lain, merencanakan setiap langkah dengan hati-hati. Mereka terlihat sangat terlatih dalam melakukan aksi mereka. Rencana kejahatan mereka terarah dan tanpa cela.
Mereka mendekati rumah dengan perlahan, mencoba untuk tetap tak terlihat di bawah naungan malam. Di antara mereka terdengar isyarat komunikasi yang hanya bisa dimengerti oleh mereka sendiri.
"Sssttt ... masuk lewat samping dan belakang!"
Namun, di kejauhan, mata tajam dari seorang penjaga keamanan yang sedang berpatroli melintas di sekitar. Dia memiliki naluri yang tajam dan merasakan ada sesuatu yang tidak beres disekelilingnya.
Dengan waspada, penjaga keamanan melacak suara dan gerakan di kegelapan. Dia tahu bahwa di malam seperti ini, kejahatan bisa muncul dari sudut yang tak terduga.
"Aku merasakan hawa dingin dan tidak biasa," gumam sang penjaga dengan mata awas mengawasi sekitar.
__ADS_1
Sementara itu, dalam rumah, Yati dan Biyan masih terjerat dalam momen kebersamaan mereka yang manis. Mereka belum menyadari bahaya yang mengintai di luar, tersembunyi di balik kegelapan malam.