Miss Yeti Bukan PSK Biasa

Miss Yeti Bukan PSK Biasa
Tamu Terakhir


__ADS_3

Mr Ginting menoleh ke arah istrinya, Yati. Begitu juga dengan Yati sendiri. Dia juga menoleh ke arah suaminya itu.


Mereka berdua, jadi saling pandang tanpa diminta, dan ini membuat sang kakek tertawa senang.


"Hahaha... jangan khawatir jika ini boom peledak atau semacamnya. Ini hanya sebuah hadiah untuk bersenang-senang saja, untuk malam-malam kalian. Karena Kakek yakin, jika malam nanti, bukan malam pertama buat kalian berdua."


Perkataan sang kakek, justru terdengar ditelinga Mr Ginting sebagai olok-olok untungnya. Dia jadi membuang mukanya, dengan tersenyum miring.


Dan Yati, hanya bisa menahan senyumnya, agar tidak membuat suaminya itu menjadi semakin kesal karena malu.


Tak lama kemudian, sang kakek menarik tangan cucunya, Mr Ginting, dan juga tangannya Yati. Dia memberikan kotak kecil yang dia bawa pada masing-masing satu, karena ternyata, kotak yang dia bawa ada dua.


"Ini tidak seberapa. Kakek hanya meminta pada kalian, untuk bisa menggunakannya, dan memberikan kebahagiaan di hari tua kakakmu ini," kata sang kakek, karena Mr Ginting hanya diam saja tanpa bermaksud untuk menerima kotak itu.


"Kakek tahu, kalian bisa mendapatkan apa saja yang kalian inginkan, meskipun tanpa bantuan dari Kakek. Tapi, tidak sopan jika menolak pemberian di hari bahagia ini," kata sang kakek, melanjutkan kalimatnya yang tadi.


Yati mengangguk mengiyakan perkataan kakek, dan akhirnya Mr Ginting juga mengikuti apa kata kakeknya itu.


Mereka berdua, menerima masing-masing satu kotak pemberian kakek Mr Ginting, yang sudah membuatkan pesta ini juga untuk mereka.


Tak lama kemudian, Surya Jaya naik juga ke atas panggung pelaminan, menyusul kakeknya.


"Kita foto-foto dulu Kek!"


Dengan bersemangat, Surya Jaya membidikkan kamera handphonenya pada mereka bertiga. Mr Ginting, Yati dan sang kakek. Setelah itu, dia juga ber-selfie ria di atas panggung, dengan mengajak kakeknya, dan juga kedua pengantin, yang merupakan sepupunya sendiri.


"Aku juga punya kado buat kalian, tapi ambil sendiri ya! Ini cuma kertas buktinya saja. Hehehe..." Surya Jaya, menyodorkan satu amplop coklat kecil pada sepupunya itu, Mr Ginting.


"Kamu nyuri amplop si kantor ya?" tanya Mr Ginting menuduh adik sepupunya itu.


"Eh, kok Mas Ginting tahu sih?" tanya Surya Jaya heran, karena kelakuan kemarin, ambil amplop coklat dari kantor, ketahuan kakak sepupunya itu.

__ADS_1


"Ini apa?"


Mr Ginting, menunjuk pada sisi luar amplop yang lain. Di sudut atas sebelah kiri, tertera logo dari perusahaan mereka.


Surya Jaya melongo melihat bahwa disitu ada logo perusahaan. Dia akhirnya menepuk jidatnya sendiri, karena melupakan satu hal itu. Dia lupa, jika semua amplop yang masuk ke perusahaan mereka, adalah amplop khusus yang sudah dipesan bersama dengan logonya, saat dibuat.


"Hahaha..."


Sang kakek tertawa terbahak-bahak, melihat kejadian antara kedua cucunya itu. Dia merasa sangat terhibur, dengan tingkah mereka berdua.


"Dasar Kamu, tidak mau modal! Cuma sekedar amplop juga!" Mr Ginting, berkata dengan kesalnya pada sepupunya sendiri, Surya Jaya yang ceroboh.


"Hehehe.. peace Mas!" sahut Surya Jaya cepat, menyadari kecerobohannya sendiri.


"Mas tahu sendiri, jika kemarin-kemarin itu Aku sangat sibuk. Semua pekerjaan yang harus diselesaikan oleh mas Ginting, Aku yang kerjakan. Jadi ya begitulah. Aku tidak sempat pergi ke mana-mana jadinya," kata Surya Jaya lagi, memberikan alasannya kenapa dia mengunakan amplop perusahaan.


Surya Jaya, mengatakan bahwa dia tidak sempat keluar dari kantor hingga semua pekerjaan selesai, dan itu sudah sangat larut. Padahal, pagi ini pestanya dilaksanakan.


Sang kakek dan Yati, hanya tersenyum-senyum, meskipun tadi sang kakek juga sempat ikut tertawa lepas.


Mr Ginting tersenyum miring mendengar semua perkataan dan penjelasan dari Surya Jaya. Dia juga sebenarnya tahu, jika adik sepupunya itu memang meng-handle semua pekerjaannya kemarin, karena dia harus mengecek semua persiapan pesta pernikahannya ini.


Di bawah panggung, semua orang yang melihat mereka berempat, yang ada di atas panggung, dengan perasaan senang dan juga iri.


Mereka semua berpikir, jika mereka sangat bahagia dan mempunyai hubungan keluarga yang sangat dekat. Mereka benar-benar menikmati kebersamaan dalam pesta pernikahan Mr Ginting ini.


Terlihat di atas panggung, mereka saling tertawa-tawa, berbincang-bincang dengan akrab, dan terakhir, sang kakek dan Surya Jaya, saling saling berpelukan dengan Mr Ginting dan juga Yati. Mereka juga berfoto bersama dengan tersenyum penuh kebahagiaan. Hal yang selalu diimpikan oleh setiap orang, bahwa kehidupan mereka sangat sempurna dengan kekayaan dan kebahagiaan yang mereka miliki.


Tapi itu ternyata tidak lama berlangsung. Di saat detik-detik terakhir pesta, ada sepasang suami istri yang menjadi tamu di pesta tersebut, datang terlambat.


"Maaf Paman. Aku terlambat datang, karena suamiku ini baru saja sampai. Jika bukan karena pesta pernikahan cucu Paman tercinta, suamiku ini mungkin tidak terlalu memikirkannya, dan tidak akan pulang ke Indonesia, meskipun cuma sehari dua hari saja."

__ADS_1


Terdengar suara seorang wanita, yang sedang menyapa sang kakek. Dia menyebut kakek dengan sebutan paman.


Mr Ginting segera menoleh ke arah sumber suara, yang sedang berbincang dengan kakeknya di sisi pinggir panggung. Dia melihat, jika wanita itu adalah saudara jauh mendiang ibunya. Jadi Mr Ginting hanya bersikap datar saja, karena dia juga tidak terlalu mengenalnya. Wanita itu datang juga karena melihat kedudukan sang kakek, yang memang masih memiliki pengaruh besar terhadap dunia usaha dan juga politik.


Tapi itu dialami oleh Yati. Dia tidak mungkin bisa bersikap biasa saja ataupun datar saat melihat tamu sang kakek. Karena dia melihat, jika suami dari wanita itu adalah, seseorang yang sangat dia kenal. Seseorang yang pernah ada, dan bahkan masih ada di hatinya, hingga saat ini.


Yati tidak mungkin bisa lari dari kenyataan bahwa, suami wanita itu adalah Mr Andre.


Laki-laki yang untuk pertama kalinya memperkenalkan dirinya pada satu pengalaman yang tidak mungkin bisa dia lupakan begitu saja.


Laki-laki pertama yang menyentuhnya secara sempurna.


Dan saat ini, dia ada di sini. Di pesta pernikahannya dengan Mr Ginting. "Apa yang harus Aku lakukan? Aku tidak mungkin bisa menunjukkan wajahku di depannya, tapi Aku juga tidak bisa lari dari panggung ini. Bagaimana ini?" gumam Yati seorang diri.


Mr Ginting, yang melihat keadaan istrinya yang sedang dalam keadaan cemas, jadi merasa ikut cemas juga. Dia tidak tahu, apa yang sebenarnya terjadi pada istrinya itu. "Apa Kamu sakit, atau ada sesuatu yang terjadi?" tanya Mr Ginting, karena dia tidak bisa menebak, apa yang terjadi pada istrinya saat ini.


"Kenapa Aku tidak bisa menebak isi hatinya dan juga pikirannya. Apa yang terjadi padaku?" tanya Mr Ginting dalam hati, karena merasa jika dia sudah kehilangan kemampuan di depan Yati.


"Apa ada yang salah dengan kemampuanku?" tanya Mr Ginting lagi, yang benar-benar tidak bisa membaca pikiran Yati.


"Kamu kenapa?" tanya Mr Ginting pada istrinya, yang semakin gelisah dan tampak berkeringat, meskipun tidak terlihat banyak.


Tapi tentu saja Mr Ginting bisa melihat keringat itu, karena posisi mereka yang sangat dekat.


"Apa Aku bisa beristirahat sekarang. Aku merasa sedikit pusing dan juga capek," jawab Yati, karena merasa jika dia tidak ada kesempatan lagi, untuk bisa menghindari Mr Andre, jika tidak menjawab pertanyaan dari suaminya itu, supaya dibantu olehnya, meskipun tidak secara langsung.


"Ya sudah. Kita turun saja sekarang."


Mr Ginting berdiri dan mengajak Yati untuk meninggalkan panggung pelaminan mereka.


"Ginting!"

__ADS_1


Tapi ternyata, sang kakek memangilnya, sebelum sempat turun dari atas panggung pelaminan, yang membuat Yati semakin merasakan kecemasan yang luar biasa.


__ADS_2