Miss Yeti Bukan PSK Biasa

Miss Yeti Bukan PSK Biasa
Surya Jaya


__ADS_3

"Sudah disiapkan semua kan?"


Yati menolehkan kepalanya ke arah sumber suara. Dia tersenyum, begitu melihat keberadaan suaminya, yang saat ini ada di belakang tubuhnya.


Sekarang, Yati membalikan badannya, untuk menghadap ke arah suaminya itu.


"Sudah kok. Tidak perlu repot-repot bawa baju ganti kan?" tanya Yati, menirukan ucapan suaminya semalam, saat mereka berdua baru saja selesai bermain game, dan masih dalam keadaan polos di dalam selimut.


Sekarang, dia hanya membawa satu tas jinjing, yang sedang dia pegang.


Mr Ginting hanya tersenyum tipis, mendengar jawaban dari istrinya, miss Kiara.


Dia memposisikan dirinya, untuk digandeng keluar dari dalam kamar, oleh istrinya itu.


Yati yang langsung paham dengan maksud posisi tubuh suaminya, segera berdiri di samping suaminya, dengan memeluk lengan tangannya.


Dan kini, mereka berdua melangkah bersama-sama untuk keluar dari dalam kamar, kemudian menuju ke luar rumah. Mobil sudah menunggu, bersama dengan supirnya, yang akan mengantar mereka berdua ke bandara.


Di bandara, jet pribadi milik Mr Ginting, sudah siap menunggu. Sedangkan Surya Jaya, yang ikut dalam perjalanan mereka ke Singapura, baru saja datang.


Surya Jaya datang lebih awal dari pada Mr Ginting, karena sudah di pesan oleh Mr Ginting bahwa, dia tidak boleh terlambat. Dia akan ditinggalkan, seandainya terlambat, meskipun hanya satu menit saja.


"Mana ini bambang tampan? belum datang juga," gumam Surya Jaya, yang sudah duduk manis di dalam jet pribadi, milik kakak sepupunya itu.


"Mbak. Belum terlihat juga Mr Ginting nya?" tanya Surya Jaya, pada pramugari yang sedang melewatinya.


"Sepertinya belum Tuan. Jadwal penerbangan masih setengah jam lagi. Mungkin dua puluh menit atau lebih, Mr Ginting baru akan datang. Tadi baru saja memberikan kabar pada kapten, jika dia baru jalan dari rumah."


Surya Jaya membelalakkan matanya, mendengar jawaban dari pramugari tersebut.


"Ah sial itu Mas Ginting! Harusnya dia ajak Aku sekalian. Toh rumah juga tidak terlalu jauh. Kenapa Aku tidak cek tadi di rumahnya. Ihsss..."


Surya Jaya mengerutu sendiri, karena merasa sedang dikerjai oleh kakak sepupunya, Mr Ginting.


"Coba Aku cek apa telpon tadi, gak jamuran kan Aku nunggu mereka. Eh, tapi gak apa-apa deh. Ada miss Kiara nanti, yang bisa menemani perjalanan ini. Bisa-bisa Aku suntuk, jika hanya ada mas Ginting aja dalam perjalanan ke Singapura ini."


Dengan tersenyum tidak jelas, Surya Jaya membayangkan perjalanan kali ini, yang untuk pertama kalinya ada istri dari sepupunya, yang bisa dia ajak bicara nanti.

__ADS_1


"Asalkan mas Ginting tidak marah dan cemburu, jika istrinya itu berbincang-bincang denganku. Dia kan protektif terhadap istrinya," kata Surya Jaya lagi, yang merasa tidak nyaman, jika sepupunya dalam keadaan cemburu.


"Ah, Aku jadi ingin mengerjai mas Ginting. Hahaha... bisa ngamuk-ngamuk dia nanti." Surya Jaya, kembali tersenyum, selesai bergumam seorang diri, untuk rencana yang ada di kepalanya saat ini.


Sambil menunggu kedatangan kakak sepupunya dan juga istrinya, Surya Jaya menyusun sebuah rencana, yang akan dia lakukan, untuk membuat sepupunya itu marah dan jengkel, seandainya istrinya di ganggu oleh dirinya nanti.


Dia tampak tersenyum-senyum sendiri, membayangkan bagaimana keadaan mereka bertiga nantinya.


Mr Ginting yang baru saja datang, dan melihat Surya Jaya sedang tersenyum-senyum sendiri, jadi mengerutkan keningnya. Dia merasa ada yang sesuatu, yang sedang dipikirkan oleh adik sepupunya itu.


"Woi! Kesambet lho! Melamun saja kerjanya."


Mr Ginting mengagetkan Surya Jaya, sambil memukul pundaknya dengan keras.


Wajah Surya Jaya pias. Dia terkejut dengan teguran dari kakak sepupunya itu, yang sangat tidak biasa. Padahal, dia sedang melamunkan semua rencana yang sudah dia susun dalam pikirannya selama menunggu kedatangan mereka.


Dengan meringis karena merasa sakit pada pundaknya, Surya Jaya mencoba untuk menenangkan hati dan pikirannya, agar tidak bisa diketahui oleh kakak sepupunya itu.


Surya Jaya tahu kelebihan Mr Ginting, yang bisa membaca pikiran orang lain. Itulah sebabnya, dia hanya meringis saat Mr Ginting menatapnya dengan tatapan menyelidik.


"Hehehe... booring Mas nunggu. Sampai jamuran ini!" teriak Surya Jaya, mengalihkan perhatian Mr Ginting.


"Hahaha... mana bisa begitu? nanti juga Kamu cariin jamur ini," sahut Surya Jaya dengan cepat.


Sebenarnya, mereka berdua, Mr Ginting dengan Surya Jaya, memiliki hubungan yang baik dan hangat. Mereka terlihat jauh dan terkesan dingin karena Mr Ginting sendiri, yang tidak bisa mengekspresikan diri untuk membuat suasana menjadi hangat dan hidup, jika mereka sedang bersama-sama.


Hanya Surya Jaya saja yang bisa menghidupkan suasana, jika ada perbincangan atau pertemuan keluarga.


Sedangkan Mr Ginting, hanya pasif dan pasrah saja. Itulah sebabnya, dia lebih dikenal dengan istilah salju abadi dari kutub Utara.


Wajah datar Mr Ginting, memang tidak sama seperti wajah Surya Jaya, yang terlihat ramah dan suka tersenyum jika berpapasan dengan orang lain. Meskipun sebenarnya mereka berdua sama-sama tampan dan gagah.


"Halo Kakak Ipar..."


Surya Jaya menyapa Yati, yang masih berdiri di samping suaminya, dan memperhatikan bagaimana mereka berdua berinteraksi.


Yati, hanya tersenyum-senyum saja, melihat tingkah kedua saudara sepupu itu.

__ADS_1


'Sebenarnya mereka berdua dekat dan punya rasa humor yang sama juga. Tapi sayangnya, Mr Ginting tidak tahu, bagaimana caranya agar bisa mengubah ekspresi wajahnya, karena dia sendiri yang tidak bisa sedikit saja untuk bersikap lebih terbuka dan ramah.'


Yati hanya bisa berkomentar ataupun bicara dengan dirinya sendiri, untuk menilai dua laki-laki yang saat ini sedang ada di hadapannya.


Dia seperti melihat Tom and Jerry, yang sering berantem, tapi sepi jika yang satunya tidak ada bersama dengannya.


"Halo juga Adik sepupu. Apa kabar Kamu?" jawab Yati, dengan sebuah pertanyaan juga.


Yati mengimbangi gurauan yang dilakukan oleh Surya Jaya, untuk menghidupkan suasana yang ada. Meskipun Mr Ginting tidak paham.


Sedangkan Mr Ginting sendiri, hanya menoleh ke arah istrinya itu, dengan memicing. Dia merasa heran dengan sikap keduanya, yang terlihat seperti orang yang sudah kenal dalam waktu yang cukup lama.


"Apa Aku ketinggalan sesuatu?" tanya Mr Ginting dengan pandangan menyelidik curiga, dengan keadaan istrinya, dan juga adik sepupunya itu.


Sekarang, Yati dan juga Surya Jaya, sama-sama berusaha untuk menetralkan kembali wajah mereka berdua, supaya tidak memancing amarah dari Mr Ginting sendiri.


Yati hanya bisa terdiam. Begitu juga dengan Surya Jaya.


Tak lama kemudian, mereka semua diminta untuk menempati posisi masing-masing, sesuai dengan keinginan mereka sendiri.


Ini adalah perjalanan bisnis, tapi juga untuk urusan pribadi, jika mereka bisa menikmatinya.


*****


Sang Kakek mengangguk-anggukan kepalanya, sambil tersenyum sendiri.


Saat ini, dia sedang membaca berkas laporan, yang dia terima dari Mr Andre. Orang suruhannya, yang dia beri tugas untuk menyelidiki, siapa sebenarnya istri dari cucunya, Mr Ginting.


"Ternyata dugaanku benar. Kedua gadis itu berbohong. Mereka berdua hanya merasa iri hati, dengan semua yang sudah terjadi."


Sang Kakek merasa bersalah, karena sudah mencurigai istri dari cucunya sendiri. Padahal, istrinya Mr Ginting itu juga, seorang istri yang dipilih oleh Mr Ginting sendiri. Tanpa ada paksakan dari siapa-siapa.


"Aku hanya ikut merasa khawatir saja. Padahal sebenarnya itu tidak mempengaruhi apa-apa. Ginting sudah dewasa, dan bisa berpikir sendiri, mana yang harus dia lakukan atau tidak."


Sang kakek merasa bersalah. Tapi dia juga merasa lega, dan tidak lagi curiga dengan keberadaan miss Kiara, sebagai istri dari cucunya, Mr Ginting. Calon ibu untuk cucu-cucunya nanti.


Sang Kakek tersenyum sendiri, membayangkan bagaimana keadaan ke depan nanti, saat dia sudah memiliki cicit dari cucu menantunya itu.

__ADS_1


Hal yang sudah dia nanti-nantikan, dan berharap jika semua itu tidak akan butuh waktu yang lama, untuk mendapatkan kabar tersebut.


__ADS_2