
Mereka berdua berjalan beriringan dengan bergandengan tangan keluar dari butik. Tapi pada saat mencapai pintu keluar, ada dia gadis yang baru saja datang dari arah luar dan hampir saja menabrak keduanya.
"Hai Mr Ginting. Ah, maaf. Kami terlalu asyik bercerita jadi tidak melihat ke depan."
Salah satu dari mereka, meminta maaf pada Mr Ginting, tanpa melihat ke arah Yati.
Begitu juga dengan yang satu lagi. Dia hanya tersenyum dan melihat ke arah Mr Ginting dengan tatapan yang menggoda.
Dua gadis ini adalah yang pernah bertemu dengan Yati, dalam jamuan makan di rumah sang kakek. Mereka berdua juga yang sudah pernah mengancam Yati, karena ternyata sudah mendapatkan Mr Ginting, pemuda incaran mereka berdua.
Mr Ginting tidak menyahut. Dia hanya mempererat pegangan tangannya, sehingga Yati merasa aman dan tidak perlu malu dengan adanya kedua gadis itu.
"Wah Mr Ginting baru saja borong ya. Kok tidak nunggu kita sih buat ikutan milihin tadi?" kata gadis yang satunya lagi, saat melihat kedatangan pegawai butik, dari arah belakang dengan tentengan tas-tas berisi baju-baju yang tadi diambil oleh Yati.
"Bukan Saya. Ini untuk istri Saya."
Mereka berdua saling pandang. Mereka merasa sakit hati, karena sudah ketinggalan lagi dengan Yati, yang mereka anggap tidak ada apa-apanya, dibanding dengan mereka berdua yang berkelas tinggi.
"Oh, pasti gak bisa milih kan dia. Selera mode ida biasa saja," bisik yang satu ke yang lainnya.
"Iya sih. Harusnya Mr Ginting kan milih Aku atau Kamu. Sesuai dengan rencana kakek. Tapi malah datang-datang bersama perempuan itu!" jawab yang satunya lagi, dengan kata-kata yang ditekan.
Tentu saja Mr Ginting ataupun Yati, masih bisa dengan jelas mendengar perkataan mereka berdua.
Tapi Mr Ginting dengan percaya diri, menggandeng tangan Yati lebih erat lagi, seakan-akan over protektif, jika ada sesuatu yang akan terjadi pada istrinya itu dengan adanya kedua gadis yang ada di depannya saat ini.
"Minggir Kalian berdua!"
Mr Ginting, berkata kepada mereka berdua, dengan tegas dan tanpa melihat ke arah mereka juga.
Sekarang, Mr Ginting dan Yati, kembali berjalan setelah kedua gadis tadi menyingkir ke samping. Dan dengan gayanya yang elegan, Mr Ginting membukakan pintu mobil untuk istrinya, Yati.
Setelah Yati masuk, Mr Ginting meminta pada supirnya, untuk membuka bagasi dan meletakkan tas-tas belanjaan istrinya.
Dibantu oleh pegawai butik, supir menata tas-tas tersebut, supaya tidak rusak saat perjalanan pulang mereka ke rumah. Dan setelah itu, mereka pun untuk bersiap pulang.
Sedangkan kedua gadis tadi, yang melihat kepergian mereka, dengan wajah-wajah yang terlihat sangat kesal.
__ADS_1
"Huh! sebenarnya siapa sih miss Kiara itu? Aku tidak pernah mendengar nama itu sebelumnya."
"Mana Aku tahu. Itu Mr Ginting ambil dari planet mana? Tahu-tahu, sudah datang dan mengacaukan semua rencana yang sudah ada."
Kedua gadis tadi, masih saja mengerutu tidak jelas. Meskipun Yati dan juga Mr Ginting, sudah tidak ada lagi di sekitar mereka, karena Yati dengan Mr Ginting, sudah pulang.
Tapi, sepertinya kedua gadis itu, masih belum bisa menerima kenyataan bahwa, Mr Ginting, saat ini sudah 'menikah' dan akan melaksanakan pesta pernikahan mereka berdua, sesuai dengan apa yang diatur oleh sang kakek.
"Mbak-mbak. Itu tadi Mr Ginting sedang apa kemari, sama cewek kampung?"
Karena merasa penasaran, salah satu dari mereka, bertanya pada pegawai butik, yang tadi membantu Yati membawakan tas-tas belanjaan, yang berisi baju-baju.
"Fitting baju pengantin Non," jawab pegawai butik.
Pegawai butik, tidak lagi mau memanggil para tamunya dengan sebutan Mbak, karena pernah dimarahi oleh salah satu dari mereka. Itulah sebabnya, pegawai butik memangil mereka berdua dengan sebutan 'non' dan bukan yang lain.
"Fitting baju pengantin? bukannya mereka sudah menikah di Australia sana?" tanya mereka lagi, secara bersamaan.
"Ini hanya untuk pesta saja, sesuai dengan permintaan kakeknya Mr Ginting, Tuan besar. Semua dia yang atur, dan Mr Ginting bersama istrinya, hanya mengikuti apa kemauan dari Tuan besar saja."
Pegawai butik, menjelaskan pada kedua gadis tadi, sama seperti apa yang dia ketahui.
"Lho Non, gak jadi belanjanya?" teriak pegawai butik, dengan bertanya pada mereka.
"Tidak jadi!"
Keduanya serempak menjawab pertanyaan pegawai butik, dengan ketus. Mereka merasa kesal dan juga kecewa. Karena ternyata, selain bisa hidup mewah bersama dengan Mr Ginting, istrinya itu bisa menikmati pesta pernikahan yang sudah direncanakan dan tinggal mengikuti dengan senang hati. Dan. itu, bukan salah satu dari mereka berdua.
"Coba kita yang jadi istri Mr Ginting. Wah... surga dunia ada di tangan kita!"
"Iya. Mau apa saja bisa. Tinggal ngomong, dan semua akan tersedia."
Mereka berdua, sama-sama berkhayal di dalam mobil. Tapi mereka berdua juga merasa sangat menyesal, karena semua itu hanya ada di dalam angan-angan mereka saja. Semua sudah terlambat sekarang.
*****
Dia dalam perjalanan, Mr Ginting menutup sekat mobil, yang memisahkan antara bagian depan dan belakang.
__ADS_1
Sekarang, dia bebas dari pengamatan supirnya.
"Kamu kenal mereka berdua?" tanya Mr Ginting ingin tahu.
"Bukannya mereka berdua keluarga Mr Ginting?" jawab Yati, balik bertanya.
"Tidak. Aku tidak mengenal mereka."
Yati memicingkan matanya, menatap wajah suaminya itu.
"Mr Ginting yakin?" tanya Yati lagi.
Mr Ginting mengangguk pasti. Dia memang tidak mengenal kedua gadis tadi, karena terlalu banyak saudara jauhnya, yang kemarin-kemarin diperkenalkan oleh kakeknya.
Ada yang dengan alasan bahwa mereka akan dijodohkan, atau hanya sekedar rekan bisnis di kemudian hari.
Kakek Mr Ginting, memang banyak sekali rencana dan alasan, yang dia gunakan untuk membuat cucunya itu bisa pulang ke Indonesia.
Tapi dia salah, karena disaat Mr Ginting pulang ke Indonesia, dia justru sudah membawa kabar yang mengejutkan, bahwa dia sudah menikah di Australia.
Meski awalnya pulang ke Indonesia sendirian, tapi tak lama kemudian, istrinya ikut datang juga menyusulnya ke Indonesia. Dimana waktu itu, Yati baru saja dia ajak ke rumah kakeknya.
"Tapi, mereka berdua ada di rumah kakek waktu itu," kata Yati, mengingat semua yang dia temui di rumah kakeknya Mr Ginting, untuk pertama kalinya.
Kedua gadis itu juga, yang sudah mengancamnya waktu itu.
"Masa sih?" tanya Mr Ginting tidak percaya. Mungkin dia tidak terlalu memperhatikan penampilan tamu yang datang di rumah kakeknya waktu itu.
"Iya. Bahkan, Saya sempat berbicara dengan mereka juga kok, sewaktu Mr pergi bersama dengan kakek, sebelum kakek ingin berbicara dengan Saya," jawab Yati menjelaskan.
"Tapi Aku tidak tahu."
Mr Ginting tetap saja tidak tahu. Sekarang, dia menekan-nekan jari-jari tangan Yati, entah dengan tujuan apa. Yati sendiri juga tidak tahu.
Tapi tak lama, Mr Ginting berkata, "nanti malam, Aku tidur di kamar."
Yati menolehkan kepalanya dengan cepat ke arah suaminya. Dia merasa salah dengar, dengan perkataan suaminya tadi.
__ADS_1
Mr Ginting yang tahu jika Yati kaget dan heran, hanya pura-pura tidak tahu dan membuka sekat pembatas yang tadi dia tutup.