Miss Yeti Bukan PSK Biasa

Miss Yeti Bukan PSK Biasa
Keadaan Ibu


__ADS_3

Malam sudah hampir pagi, saat mobil yang membawa Yati dan sang Kakek, sampai di rumah sakit, di mana ibunya Yati di rawat.


Sang Kakek, langsung mengajak Yati, untuk menemui pihak humas rumah sakit, yang tadi menghubungi dirinya. Dia ingin bertanya, apa yang terjadi pada wanita-nya itu, sehingga bisa dalam keadaan kritis, seperti yang dia laporkan.


Setelah bertemu dengan pihak humas dan dokter di rumah sakit tersebut, diketahui bahwa, ibu Yati mencoba untuk bunuh diri, dengan cara membentur-benturkan kepalanya sendiri, pada tembok di kamar. Ini karena kedua tangan ibu Yati di ikat, jadi dia tidak bisa melakukan apa-apa dengan tangannya, sehingga membenturkan kepalanya saja.


"Bagaimana kalau dibuka saja ikatan tangannya?" usul Yati, yang sangat khawatir dengan keadaan ibunya.


"Kami justru merasa takut, jika tangannya dia pakai untuk mencekik lehernya sendiri,' jawab pihak humas.


"Sekarang bagaimana keadaannya?" tanya sang Kakek, dengan datar. Dia tidak tahu lagi, apa yang akan dilakukan oleh wanita-nya itu, untuk mencari perhatian dari orang-orang.


"Dia ada fi ruangan rawat, dan sedang tertidur karena pengaruh obat penenang."


Sang Kakek dan Yati, menarik nafas lega, mendengar jawaban dari pihak humas rumah sakit.


"Boleh kita melihatnya?" tanya Yati, yang sedari tadi tidak sabar untuk bertemu dengan ibunya.


"Mari kami antar."


Sekarang, mereka semua keluar dari ruangan humas, untuk pergi ke ruangan perawatan medis, di mana ibunya Yati di rawat di sana.


"Bagaimana Kamu bisa membawanya Kiara, jika ibumu dalam keadaan yang tidak stabil seperti ini. Aku tidak yakin, jika Kamu bisa mengatasinya. Dengan banyak tenaga ahli fi sini saja sudah seperti sekarang, bagaimana hanya dengan Kamu, yang tidak tahu menahu soal kejiwaan."


Ucapan yang keluar dari mulut sang Kakek, tidak di bantah oleh Yati. Dalam hati, Yati membenarkan perkataan sang Kakek. Dia memang tidak tahu apa-apa tentang kejiwaan seseorang. Dia menjadi takut jika saat dalam perjalanan pulang ke Indonesia, ibunya mengalami hal yang tidak diinginkan.


"Lalu, sampai kapan Kek?" tanya Yati yang merasa putus asa, dengan keadaan ibunya.


"Tunggu dia agak stabil, dan bisa diajak komunikasi,' jawab sang Kakek, memberikan pendapat.


Tapi sepertinya Yati tidak merasa senang, karena waktu itu tidak bisa ditentukan kapan terjadi. Tidak mungkin bisa dalam waktu dekat, untuk ibunya ada dalam kondisi yang sama, seperti yang dikatakan oleh sang Kakek.


Sekarang, mereka semua sudah sampai di suatu ruangan kaca tertutup, di mana tampak ibunya Yati tertidur dengan tenang. Perawat yang jaga, ada di luar ruang kaca.

__ADS_1


"Saya boleh masuk?" tanya Yati, dengan maksud meminta ijin untuk bisa melihat kondisi ibunya secara langsung.


Dokter dan pihak humas tidak bisa menjawab dengan cepat. Mereka berdua, berdiskusi sebentar, baru kemudian menjawab pertanyaan dari Yati.


"Silahkan," kata dokter, setelah dia berdiskusi sebentar dengan pihak humas.


Yati tersenyum lega, karena diperbolehkan untuk masuk ke dalam ruang kaca. Dia merasa sangat senang, karena bertemu lagi dengan ibunya, meskipun sekarang dengan keadaan yang berbeda dari yang semalam.


Yati masuk ke dalam ruang kaca sendiri. Dengan hati-hati, Yati berjalan mendekat ke tempat tidur ibunya.


Ibunya tampak tertidur pulas dengan dahi dibalut dengan perban. Ada noda merah darah, yang bercampur dengan obat-obatan cair, yang diberikan oleh dokter dan para medis di rumah sakit ini.


Dengan tangan bergetar, Yati menyentuh pipi ibunya. Baru kali ini, dia bisa sedekat itu dengan ibunya, yang tidak bisa memberikan reaksi apapun, karena dalam keadaan tertidur pulas, akibat dari obat penenang yang diberikan padanya.


Sekarang, Yati menyentuh kening ibunya. Meraba luka yang ada di dahinya, karena akibat benturan-benturan, yang dia lakukan pada tembok kamar rumah sakit. Di mana biasanya dia ditempatkan.


Yati mengambil kursi yang ada, tak jauh dari tempat tidur ibunya. Dia duduk, dan memegang tangan ibunya.


"Bu. Ini anakmu. Anak yang Kamu cari-cari, selama ini. Anak yang diambil dan dipisahkan dengan paksa darimu. Apa Kamu tidak merasakan rasa rindu ini Bu? Aku anakku Bu," kata Yati, pada ibunya yang masih dalam keadaan tidur.


Air mata Yati, menetes tanpa bisa dia cegah. Air mata itu, keluar begitu saja, seiring perasaan hatinya yang tidak bisa dia ungkapkan.


Ada rasa bahagia, kangen, sedih, kecewa dan kasihan, melihat bagaimana ibunya selama ini harus mengalami depresi seperti itu.


Tapi Yati juga merasa bersyukur. Karena belum tentu dia dalam keadaan baik-baik saja, jika ada di dekat ibunya, dan tidak dibuang oleh sang Kakek.


Bisa jadi, seandainya dia bersama ibunya, dia juga akan mengalami hal yang sama seperti ibunya juga. Tertekan dengan semua yang dilakukan oleh sang Kakek.


Atau bisa juga dia sudah menjadi gelandangan seumur hidupnya.


Yati tidak bisa membayangkan jika semua itu terjadi. Dan dia menjadi bersyukur, karena dipertemukan dengan mbok Minah yang baik hati.


Yati juga merasa bersyukur, karena dia mau menerima tawaran dari Mr Akihiko, untuk menerima pernikahan kontrak dengan Mr Ginting, yang ternyata membawa dirinya pada kebenaran tentang rahasia dirinya selama ini.

__ADS_1


Hal yang tidak bisa dia dapatkan dari mbok Minah, meskipun mbok Minah juga yang sudah merawatnya sedari bayi.


Dan ternyata, misteri dan rahasia itu, baru Yati ketahui, dari perjalanan hidupnya yang berliku-liku, dan tidak wajar seperti pada orang-orang kebanyakan.


Sekarang, dia bertekad untuk berhenti dari dunia geisha, yang sudah dia jalani, seandainya ibunya bisa sembuh dan dia juga bisa menemukan keberadaan ayahnya, yang belum sempat dia cari-cari. Meskipun dia sudah mendapatkan informasi tentang ayahnya, dari Mr Andre.


Yati merasakan tangan ibunya bergerak-gerak dengan lamban. Dia segera mengalihkan perhatian dari tangan ke wajah ibunya itu.


Tapi sepertinya, ibunya belum tersadar dari pengaruh obat penenang. Matanya masih terpejam dan tidak ada pergerakan dari anggota tubuh yang lain.


"Bu. Ibu mendengar suara ku?" tanya Yati pada ibunya, meskipun dia tidak merasa yakin, jika ibunya mendengarkan suaranya.


Karena tangan Yati masih mengengam tangan ibunya, dia jadi bisa merasakan pergerakan sekecil apapun, dari tangan ibunya itu. Itu tandanya bahwa, ibunya Yati, bisa mendengarkan suara dan semua perkataan yang diucapkan oleh Yati tadi.


Dengan tersenyum senang, Yati mengengam dengan erat tangan ibunya. "Ibu. Ibu bis_bisa merasakan kehadiranku. Aku-aku anakmu Bu. Aku Yati, Yati yang sewaktu masih bayi dipisahkan darimu." Yati berkata, dengan suara bergetar.


Berbagai macam rasa, yang tadi dirasakan oleh Yati, kini terasa semakin membuncah. Dia tidak bisa membendung lagi, tangisan haru dan kesedihan yang ada pada dirinya.


Yati terguguk sambil mengengam tangan ibunya. Pandangan matanya kabur, karena air mata yang terus mengalir begitu saja dari dalam matanya.


Begitu banyak hal, yang tidak bisa Yati ungkapan.


Yang pasti, Yati bertekad untuk menjaga ibunya, meskipun dia harus menetap di Singapura, untuk sementara waktu, sampai ibunya itu bisa kembali stabil, kemudian memungkinkan untuk dibawa dalam perjalanan jauh, untuk dia ajak pulang ke Indonesia.


Dari luar ruangan kaca, sang Kakek dan dokter, bersama dengan humas rumah sakit ini, melihat semua yang terjadi di dalam sana.


Mereka semua, hanya melihat, bagaimana cara Yati, untuk bisa berkomunikasi dengan ibunya itu.


Tapi mereka semua juga tidak tahu, jika wanita tersebut, sudah melakukan pergerakan pada tangannya, dan tidak sepenuhnya tertidur.


Mereka semua juga tidak tahu, apa yang dikatakan oleh Yati, pada ibunya, yang tidak tahu apa-apa tentang dirinya.


Namun semua orang juga tidak tahu, termasuk dengan Yati sendiri bahwa, ibunya bisa merasakan sesuatu yang berbeda, saat ada tangan yang mengengam tangannya, dalam keadaan tertidur seperti sekarang ini. Karena wanita itu, tidak bisa membuka matanya dengan mudah.

__ADS_1


Ada sesuatu yang tidak bisa dia lakukan, karena pengaruh obat penenang itu, membuat matanya terasa berat saat mau dipakai untuk melihat, siapa orang yang saat ini ada di dekatnya, dan juga mengajaknya bicara.


Semua orang, termasuk Yati sendiri, tidak pernah tahu, apa yang terjadi pada ibunya itu.


__ADS_2