Miss Yeti Bukan PSK Biasa

Miss Yeti Bukan PSK Biasa
Masih Menjadi Misteri


__ADS_3

Tiga hari kemudian, setelah semua berkas-berkas yang dibutuhkan untuk mengurus semua pekerjaan di Eropa selesai, Mr Ginting bersama dengan Surya Jaya, berangkat ke Eropa.


Mereka berangkat sesuai dengan jadwal rencana kerja, yang sudah mereka susun. Dari beberapa negara yang akan mereka kunjungi nantinya, akan ada negara Perancis, yang terkenal ikon trend center nya, dan juga terkenal sebagai negara paling romantis, diantara negara-negara Eropa lainnya.


Sayangnya, Mr Ginting tidak bisa mengajak istrinya, Kiara, untuk dia bawa dalam perjalanan bisnis kali ini.


"Aku akan mengajakmu ke Eropa, akhir tahun nanti. Ini sudah diijinkan oleh kakek. Jadi, dia tidak mungkin bisa memberikan pekerjaan di waktu itu." Mr Ginting, berpamitan dengan istrinya, yang ikut mengantar dirinya ke bandara.


Dan sekarang ini, mereka berdua ada di anak tangga pertama, sebelum naik ke pesawat jet pribadi, yang biasa di pakai oleh Mr Ginting dalam perjalanannya ke luar negeri.


Surya Jaya sudah duduk manis di dalam pesawat. Dia tidak mau melihat perpisahan antara kakak sepupunya itu dengan sang istri.


"Ck. Pasti ngedrama dulu tuh mas Ginting," kata Surya Jaya sendiri.


Dia mencibir kelakuan kakak sepupunya itu, yang terlihat sedang bucin-bucinnya, dengan sang istri.


"Eh, kan gak salah ya bucin dengan istri sendiri. Kok Aku yang kesal. Hahaha..." Surya Jaya tertawa sendiri, mengingat pikirannya yang jadi terkesan iri, dengan apa yang saat ini dirasakan oleh Mr Ginting, bersama dengan istrinya, miss Kiara.


"Sepertinya, memang benar kata kakek. Aku harus segera menikah, sehingga bisa merasakan kebahagiaan yang sama seperti yang dirasakan oleh mas Ginting. Tapi, Aku sama siapa? Kekasih saja Aku tidak punya. Haduh..." Surya Jaya, kembali mengerutu sendiri, karena menyadari bahwa, dirinya tertinggal jauh dengan kakak sepupunya itu.


"Mas Ginting, buruan! Pihak bandara sudah kasih peringatan, jika tempat parkir pesawat akan diganti!" teriak Surya Jaya, mengingatkan Mr Ginting, yang masih saja berbincang-bincang dengan istrinya di anak tangga.


"Bayi besar itu berisik banget sih!" gerutu Mr Ginting, dengan kesal karena teriakan adik sepupunya itu.


"Sudah Mr, pergilah. Cuma seminggu ini. Besok, jika sudah pulang, kita bisa bermain-main sepuasnya." Yati mengengam tangan suaminya itu, dan juga mengatakan bahwa dia akan menservis dirinya, saat sudah pulang nanti.


"Ah, ini gara-gara kakek gak kasih ijin kamu ikut," ujar Mr Ginting, dengan nada kesal.


Tapi pada akhirnya, Mr Ginting melangkah ke atas juga, meninggalkan istrinya, yang berjalan menjauh dari posisi pesawat.

__ADS_1


Yati terus melambaikan tangan kepada suaminya, yang sekarang sudah berada di dalam pesawat, bersama dengan sepupunya, Surya Jaya, yang jiga ikut melambaikan tangan, sama seperti yang dilakukan oleh Mr Ginting.


Dan begitulah. Dari jauh, Yati melihat keduanya saling tarik-menarik tangan mereka, yang membuat Yati tersenyum sendiri. Dia jadi merasa iri dengan mereka berdua, yang bisa berantem dan saling ejek, meskipun pada akhirnya, mereka berdua tetap saja harus saling membantu dalam urusan pekerjaan.


Kekompakan yang ada pada Mr Ginting dengan Surya Jaya, tentu saja dilihat oleh Yati. Meskipun sebenarnya mereka berdua juga seringkali tampak berantem dan juga bersaing dalam keadaan yang tidak biasa.


Tapi semua itu tidak mempengaruhi apa-apa, untuk hubungan mereka berdua, sebagai saudara dan tekan kerja yang baik.


Yati berbalik, dan tampak tersenyum, saat melihat keberadaan sang Kakek, yang memang sudah merencanakan semua ini.


Jadi, saat pesawat Mr Ginting berangkat, sang Kakek juga akan pergi bersama dengan Yati, ke Singapura, mengunakan pesawat miliknya yang lain. Dan itu, tanpa sepengetahuan Mr Ginting dan Surya Jaya.


"Sudah siap Kiara?" tanya sang Kakek mendekati tempat Yati berdiri.


Yati hanya mengangguk saja. Dia memang sudah siap, karena tidak perlu repot-repot membawa apa-apa, untuk bisa ikut pergi bersama dengan sang kakek ke Singapura.


Kepergiannya kali ini, untuk melihat keadaan wanita-nya sang Kakek, yang diduga sebagai ibunya Yati.


Beberapa saat kemudian, Yati dan sang Kakek, sudah berada di dalam pesawat, dalam perjalanan mereka ke Singapura.


Tadi, saat berangkat ke bandara, Yati tidak mau diantar oleh supir atau pelayan lain. Dia yang menyetir sendiri, dan Mr Ginting hanya duduk di sampingnya.


Untungnya, Yati berasalan jika dia ingin datang ke kost-kostan, yang sudah sangat lama dia tinggalkan. Dia akan merasa lebih aman jika berada di kost-kostan, dibanding berada di rumah Mr Ginting, tanpa adanya Mr Ginting di rumah.


Yati berasalan jika, tidak akan ada yang tahu jika dia adalah istri dari Mr Ginting, jika dia ada di kost. Dan itu tidak akan membuat musuh ataupun lawan bisnis Mr Ginting, bisa mencelakai dirinya, dibandingkan saat dia berada di rumah sendiri, di rumah Mr Ginting, yang tentunya diketahui oleh siapapun juga, bahwa dia adalah istri dari seorang Mr Ginting.


Dan ternyata, Mr Ginting setuju dengan usulan dari istrinya itu. Dia hanya berpesan agar istrinya itu segera menghubungi bodyguard, jika ada sesuatu yang terjadi. Karena Yati tidak mau di kawal salah satu dari mereka.


"Apa Kamu siap bertemu dengan wanita itu?"

__ADS_1


Tiba-tiba saja, sang Kakek bertanya kepada Yati, soal kesiapan dirinya.


"Ya," jawab Yati pendek.


Sang Kakek menghela nafas panjang, saat mendengar jawaban dari istri cucunya itu. Dia tidak yakin jika, menantunya ini adalah anak dari wanita-nya, yang saat ini sedang depresi, akibat ulahnya sendiri.


Sang Kakek merasa tidak bersalah dengan keadaan wanita-nya yang sekarang. Dua berpikir bahwa, semua itu adalah hal yang seharusnya, karena sudah berani mengkhianati dirinya selama ini. Bahkan, ada buah cinta mereka berdua yang lahir.


Sang Kakek jadi geram saat ingatan semua pengkhianatan yang dilakukan oleh dua orang terdekatnya. Hal yang sampai saat ini tidak pernah dia percayai.


"Semoga dia kenal dengan Bros Bunga itu," Gumam sang Kakek, yang terdengar dengan jelas di telinga Yati.


"Apa dia tidak mengenal siapa-siapa lagi?" tanya Yati ingin tahu.


Sang Kakek hanya mengeleng sebagai jawabnya, kemudian menghela nafas panjang.


Yati merasa yakin jika sang kakek banyak sekali yang dipikirkan. Dadanya pasti terasa penuh sesak. Apalagi, Yati merasa sangat yakin jika ada sesuatu yang disembunyikan oleh sang Kakek, dengan semua ini.


Tapi Yati tidak tahu, apa yang sebenarnya diinginkan oleh sang Kakek, selain Bros Bunga yang dia miliki itu.


"Kek," panggil Yati, memberanikan diri.


"Ya, ada apa Kiara? apa Kamu butuh sesuatu? Aku panggil pramugari jika Kamu perlu minum atau makan," kata sang Kakek menebak.


"Tidak. Tidak Kek. Aku... Aku hanya ingin tahu, apa yang membuat Kakek mau melakukan semua ini. Bukankah tidak ada untungnya juga buat Kakek, jika wanita-nya Kakek itu tidak bertemu denganku? Dan Kakek bisa meminta Bros Bunga itu dengan mudah. Bukankah Aku sekarang ini adalah istri dari cucunya Kakek?"


Yati mencoba untuk memancing, apa yang sebenarnya ingin dilakukan oleh sang Kakek, dengan semua yang mereka lakukan saat ini.


Sang Kakek tampak tersenyum, mendengar pertanyaan dari Yati.

__ADS_1


"Aku tidak bisa membencinya dari hatiku. Tapi, Aku juga tidak bisa memaafkan semua kesalahannya padaku dulu. Tapi, Aku juga ingin tahu, siapa sebenarnya anak yang dulu dia gendong. Karena ada beberapa orang yang bicara dan Aku dengar secara tidak langsung, setelah Aku membawa anak itu pergi, bahwa, dia tidak pernah terlihat hamil. Tapi entah dari mana anak itu bisa ada bersama dengannya."


Sekarang, Yati mengerutkan keningnya bingung, setelah mendengar penjelasan dari sang Kakek. Dia jadi merasa tidak tenang, karena teka-teki asal usul dirinya, ternyata belum juga ada titik terang, yang bisa menjawabnya. Semua masih menjadi misteri, yang tidak bisa dia pecahkan, meskipun dari beberapa cerita yang dia dengar. Baik dari keterangan yang diberikan oleh sang Kakek atau dari cerita yang dia dengar melalui mulut mbok Minah selama ini.


__ADS_2