
..."Halo Tuan. Saya sudah selesai dengan tugas Saya. Sekarang Dalam Perjalanan pulang lagi ke kota."...
Pengawal, segera menghuni Tuan Besar-nya, untuk melaporkan semua kegiatan dan tugasnya, yang tadi berurusan dengan bayi, saat mendapat tempat yang ada sinyal, untuk sambungan telponnya. Di tempat, yang lumayan jauh dari perkampungan tadi.
..."Kamu membuangnya di mana?" ...
..."Di perkampungan yang jauh dan sepi Tuan. Ada di daerah luar kota, mungkin seharian baru sampai di tempat ini." ...
..."Ya sudah, segera pulang!"...
..."Baik Tuan. Mungkin pagi hari Saya baru sampai."...
..."Aya tidak apa-apa."...
Setelah panggilan telpon tertutup, dan pengawal selesai dengan laporannya, dia kembali melanjutkan perjalanan menuju ke kota, dalam keadaan pelan dan tidak ngebut seperti tadi, saat baru berangkat.
Namun sayang. Nasibnya tidak seberuntung saat berangkat tadi, dengan membawa bayi. Dari arah berlawanan, ada truk tangki BBM, yang tidak dia lihat dari mana arahnya, sehingga mobilnya menabraknya.
Kecelakaan itu tidak bisa dihindari oleh pengawal tersebut. Dan naasnya, dia terjepit di antara setir dengan tempat duduknya, sehingga kesusahan saat di evakuasi oleh warga.
Begitu berhasil di evakuasi dengan susah payah, pengawal tersebut sudah banyak kehilangan darah, dan keadaannya juga kritis.
Saat mencari identitas korban, polisi menemukan sebuah handphone. Dan dari riwayat panggilan terakhir kali, polisi segera menghubungi Tuan Besar, yang terdapat di handphone milik korban.
Tut
Tut
Tut
..."Halo. Ada apa lagi? sudah sampai di mana?" ...
..."Maaf Tuan. Ini dengan polisi di daerah ****"...
..."Maksudnya? di mana orang yang punya handphone ini?" ...
__ADS_1
..."Pemilik handphone ini kecelakaan. Dia kritis dan banyak kehilangan darah."...
..."Cepat lakukan yang terbaik. Aku akan segera mengutus seseorang ke daerah itu, untuk mengurusnya."...
Setelah mengatakan apa-apa yang dibutuhkan untuk mengurus semua keperluan evakuasi dan kecelakaan tersebut, Tuan Besar memberikan tugas kepada beberapa orang, untuk datang dan mengurus semua hal, terkait kecelakaan yang terjadi pada temannya.
Dan Tuan Besar, hanya bisa menghela nafas panjang. Dia tidak tahu, apakah semua laporannya tentang bayi itu, benar adanya atau hanya sebuah laporan yang masuk dan tidak busa dipertangungjawabkan, sama seperti yang biasa dia lakukan dulu, jika membuat laporan dan dokumen-dokumen penting untuk pekerjaan yang dia urus.
Beberapa hari kemudian, dia meminta salah satu orang di Singapura, untuk mencari rumah kecil di pinggir kota, yang bisa digunakan untuk menyembunyikan wanitanya, agar tidak bisa ditemukan oleh orang lain, atau laki-laki, yang sudah menjadi bagian targetnya saat ini.
Tuan Besar juga tidak mau, jika suatu hari nanti, si gadis akan kabur dan bisa menemukan anaknya lagi.
"Oh iya. Bros Bunga itu!"
Tuan Besar seakan-akan baru ingat, jika Bros Bunga yang menyimpan semua rahasianya, ada pada si gadis. Tapi karena keadaan tidak memungkinkan, dia juga tidak mungkin bertanya atau datang ke rumah si gadis, untuk mencari keberadaan Bros Bunga itu.
Tapi, karena dia juga merasa khawatir dengan Bros Bunga yang dia berikan pada si gadis untuk disimpan, dia menghubungi pelayan, yang mengurus si gadis agar bertanya dan menemukan Bros Bunga tersebut.
Tapi sayangnya, pelayanan memberitahu bahwa, dia tidak menemukan Bros Bunga itu. Dan si gadis hanya bisa diam dan tidak mau menjawab pertanyaan darinya, yang bertanya tentang Bros Bunga tersebut.
"Di mana dia menyimpannya? Apa mungkin dibawa pergi laki-laki brengsek itu?" Tuan Besar, bertanya pada dirinya sendiri.
"Aku akan memaksanya untuk bicara besok!" ucap Tuan Besar, dengan geram dan tangan terkepal.
*****
Esok harinya, Tuan Besar benar-benar datang ke rumah kecil, di mana dia menyembunyikan wanitanya, di gadis, yang sekarang ini sedang tidak baik-baik saja. Si gadis terlihat diam dan tidak bisa di ajak komunikasi.
"Sayang. Kamu ingat tidak, Aku pernah memberimu sebuah Bros Bunga, untuk disimpan. Itu harganya sangat mahal. Apa Kamu tahu, di mana Bros Bunga itu sekarang berada? Kamu menyimpannya di mana?"
Tuan Besar, berusaha sabar dan selembut mungkin, untuk bicara dengan si gadis, agar tidak membuatnya marah dan merasa jika dia sudah tidak marah lagi, dengan semua perbuatannya selama ini.
Tapi ternyata di gadis tidak menjawab sepatah katapun. Dia hanya melihat sekilas ke arah Tuan Besar, dan kembali memandang ke pokok kamar dengan tatapan mata yang kosong.
"Di mana Bros Bunga itu?" tanya Tuan Besar lagi, dengan sedikit keras, karena sudah tidak bisa mengendalikan emosi dan rasa kesalnya.
__ADS_1
"Di mana anakku?"
Si gadis justru bertanya tentang anaknya, dan tidak menjawab pertanyaan dari Tuan Besar-nya.
Dengan menghela nafas panjang, Tuan Besar mencoba untuk melihat keseluruhan ruang kamar. Dia juga berjalan ke tempat-tempat, di mana si gadis biasa menyimpan barang-barang miliknya, juga perhiasan-perhiasan hadiah darinya dulu.
Tapi setelah semua tempat dia buka dan cari-cari, Tuan Besar tidak menemukan barang tersebut. Bros Bunga itu tidak ada di kamar ini. Bahkan, perhiasan-perhiasan hadiah darinya, juga banyak yang hilang dan tidak banyak lagi.
"Apa mungkin laki-laki itu meminta perhiasan-perhiasan hadiah dariku, untuk dia jual dan dia gunakan? Atau Bros Bunga itu juga dia ambil?" gumam Tuan Besar sendiri.
"Tuan, Tuan Besar! Kami tidak menemukan Bros Bunga yang Anda inginkan, di semua tempat di rumah ini."
Semua pelayan dan bodyguard yang ada di rumah ini, tadi diperintahkan untuk mencari keberadaan Bros Bunga yang diinginkan. Tapi ternyata, Bros Bunga itu juga tidak ada di tempat lain, di rumah ini.
"Apa sudah ada kabar tentang laki-laki itu?" tanya Tuan Besar, yang merasa yakin bahwa, Bros Bunga itu dibawa kabur laki-laki selingkuhan si gadis, yang merupakan salah satu dari bodyguardnya sendiri. Laki-laki itu juga membawa kabur beberapa perhiasan yang lainnya juga.
"Aku harus menemukan Bros Bunga itu, bersama dengan laki-laki sialan itu juga!" gumam Tuan Besar dengan geram.
Setelah tidak menemukan barang yang dia cari, Tuan Besar memberikan tugas pada bodyguardnya, untuk mencari keberadaan Bros Bunga itu di beberapa toko perhiasan. Dia juga meminta pada mereka untuk mencari laki-laki, yang tentunya mereka kenal, karena dia juga teman mereka sendiri.
Tuan Besar merasa yakin jika Bros Bunga itu sudah dijual bersama dengan beberapa perhiasan yang di curi.
Dari kejadian ini juga, Tuan Besar memerintahkan pada orang-orangnya, untuk membawa si gadis ke negara Singapura, untuk diasingkan agar tidak lagi bisa bertemu dengan laki-laki itu dan juga anaknya, suatu hari nanti.
Dia tidak mau jika para pengkhianat yang sudah mengkhianatinya itu, bisa hidup tenang dan nyaman. Dia tidak mau jika mereka bisa bertemu dan bersatu, suatu hari nanti.
Dan untuk masalah cucunya, dia akan mengirimnya ke sekolah di luar negeri, yang mempunyai sistem pendidikan yang baik dan ketat, dengan asrama yang mempunyai fasilitas lengkap serta aturan-aturan yang disiplin.
Tuan Besar ingin memberikan pendidikan yang terbaik untuk cucunya. Dan untuk urusan bisnis orang tua sang Cucu, dia akan menjalankan tugasnya sesuai dengan surat wasiat yang ternyata sudah dipersiapkan oleh anaknya, dan itu jauh sebelum kecelakaan pesawat itu terjadi.
*****
Sang Tuan Besar, yang saat ini biasa disebut dengan sang Kakek, menghela nafas panjang. Saat ini, dia menuju ke apartemennya sendiri, di daerah pusat kota.
Dia ingin merawat luka cakaran yang ada di wajahnya, dan tidak ingin menunjukkan dirinya, dalam keadaan seperti itu, di depan cucu-cucunya.
__ADS_1
Dia tidak ingin mendapat pertanyaan dari cucunya, yang tentunya tidak bisa dia jawab dengan jujur.