Miss Yeti Bukan PSK Biasa

Miss Yeti Bukan PSK Biasa
Warung Makan SEDERHANA Miss Yeti


__ADS_3

Dua hari kemudian, kasus kebakaran yang terjadi pada ruko di depan pasar kecamatan selesai di selidiki.


Menurut pihak kepolisian yang melakukan penyelidikan, kebakaran tersebut akibat listrik yang konslet.


Dan karena yang ada di dalam ruko tersebut adalah bahan-bahan yang mudah terbakar, jadilah api itu menyebar dengan cepat dan besar.


Yati tidak bisa menyalahkan pihak pemilik ruko yang ada di sebelahnya. Ini adalah musibah dan tidak hanya dirinya yang mengalami dampak dari kebakaran tersebut.


Tapi karena kejadian ini juga, dia tidak bisa membuka usahanya. Para pegawai, terpaksa diberhentikan, karena tidak ada lahan untuk usaha.


Yati terpaksa harus menjual mobilnya, dan menggantinya dengan mobil yang biasa. Bukan lagi mobil mewah, sebagai kendaraan.


"Apa Kamu jual saja Nduk tanah yang dari Yoga?" tanya mbok Minah, memberikan usulan, supaya cucunya itu membuka usaha lagi.


"Jangan Mbok. Itu kan buat Mbok," jawab Yati, dengan menggelengkan kepalanya.


"Tapi, Simbok buat apa? Simbok sudah tua, tidak ada yang bisa simbok lakukan untuk rumah dan tanah yang dari Yoga itu," ujar mbok Minah, mengerikan alasan, agar Yati mau menjual tanah tersebut, sebagai modal usaha lagi.


Tapi Yati tetap tidak mau. Dia mengatakan jika, dia akan berusaha untuk mencari cara, agar bisa berusaha lagi, meskipun tidak akan sama seperti yang dia lakukan dulu.


Ayahnya Yati, tuan Wasito, juga menawarkan diri untuk memberinya modal untuk usaha yang baru.


Tapi Yati juga tidak mau menerima tawaran dari ayahnya itu. Dia merasa jika, dia harus mampu mengatasi semuanya sendiri, dan tidak tergantung pada kebaikan orang lain, meskipun itu adalah ayahnya sendiri.


Yati memutar otak. Tabungan sudah tidak ada. Yang ada tabungan, dari uang yang biasanya dia kirim buat Mbok Minah.


"Masa iya Aku pakai uang tabungan ini?" tanya Yati, dengan bergumam seorang diri.


"Apa ya, kira-kira usaha, yang tidak perlu menyewa tempat dan tetap laris?"


Kembali Yati memikirkan sesuatu. Dia sebenarnya ada banyak ide untuk usahanya, tapi dia tidak tahu, apakah bisa atau tidak, untuk ukuran daerah di kampungnya ini.


Dengan sedikit keahlian dirinya dalam memasak makanan Jepang, karena dulu sering melihat koki restoran Jepang milik Mr Akihiko, jadi Yati ingin membuka warung makan, dengan jenis makanan yang berasal dari Jepang juga.


Tapi Yati juga tidak yakin, karena lokasi kampungnya yang tidak strategis.


"Emhhh... bagaimana ya ini?"


Kebingungan-kebingungan yang dialami oleh Yati, membuatnya merasa pusing. Apalagi, sedari rukonya terbakar, dua juga tidak enak makan.

__ADS_1


"Nduk, maem disek. Engko dipikir meneh." ( Nduk, makan dulu. Nanti dipikirkan lagi )


Yati hanya bisa menghela nafas panjang, kemudian melangkah menuju ke arah meja makan.


Di meja tersebut, sudah ada makanan yang biasa di masak Mbok Minah, dan memang dia sukai. 'Apa Aku buka warung makan sederhana saja ya? cari tempat di pinggir jalan atau pasar. Harga sewa tempat, tidak akan semahal ruko juga,' kata Yati dalam hati, saat melihat menu makanan yang sudah terhidang di meja makan.


'Sepertinya ini akan lebih merakyat,' batin Yati.


Tak lama kemudian, Yati dengan Mbok Minah makan siang bersama.


Mbok Minah sengaja masak makanan yang di sukai oleh Yati, meskipun tidak mewah. Ini karena Yati tidak makan dengan benar, sejak rukonya kebakaran.


Mbok Minah merasa ikut prihatin, dengan kejadian itu. Dia juga sudah menawarkan perhiasannya, untuk ganti buat modal. Tapi cucunya itu tidak mau. Yati menolak tawarannya.


Kata Yati, itu adalah emas-emas milik mbok Minah, yang bisa dijual untuk daftar haji plus nanti. Biar tidak usah antri, karena umur mbok Minah yang sudah tua.


Padahal sebenarnya, mbok Minah juga sudah daftar untuk umum.


Meskipun kadang kala, Mbok Minah merasa khawatir, dengan uang yang dia gunakan untuk pendaftaran haji tersebut.


Itu semua karena mbok Minah tahu betul, bagaimana keadaan dan caranya Yati mendapatkan uang. Meskipun dia juga tidak bisa melakukan apa-apa, karena itu sudah menjadi keputusan yang diambil oleh Yati sendiri.


*****


Tiga bulan kemudian.


Di sebuah warung Makan SEDERHANA Miss Yeti.


"Miss, mau lontong pecel dua. bungkus ya!"


"Aku lontong sayur saja. Makan di sini."


"Miss. Aku pesen buat acara arisan bisa gak? Dua puluh lima bungkus. Lontong pecel, sama lontong sayurnya."


Kesibukan di warung makan sederhana, yang baru di buka Yati, selama tiga bulan ini, sudah sangat menyenangkan.


Warung tersebut, menjual menu makanan yang sederhana saja.


Ada lontong pecel, lontong sayur, nasi lodeh, rames dan berbagai macam jenis minuman. Baik yang dingin atau panas.

__ADS_1


Dan yang paling penting, selalu ramai dikunjungi oleh pembeli.


Yati ada di bagian depan, yang memegang pesanan dan kasir, dibantu oleh dua orang pelayan.


Sedang di bagian dapur, ada dua orang koki, yang dipekerjakan oleh Yati dari tetangganya juga, dengan Mbok Minah sebagai pengawas dapurnya.


Warung sederhana ini dibuka setiap hari, dari jam sembilan pagi, hingga jam lima sore.


Yati tidak membuka warungnya sampai malam, karena merasa kasihan dengan pegawainya. Terutama pada Mbok Minah, yang tentunya akan sangat kelelahan, jika harus berada di warung hingga malam hari.


Tuan Wasito, ayahnya Yati, juga sering mampir ke warung anaknya itu, jika sedang bepergian dan ada waktu luang.


Tuan Wasito sengaja mengunjungi anaknya, Yati, dengan cara seperti itu, karena Yati yang tidak mau, jika ayahnya terlalu sering datang ke rumah.


"Alhamdulillah ya Nduk. Iki wes kentean. Padahal gek jam loro awan." ( Alhamdulillah ya Nduk, ini sudah habis. Padahal baru saja jam dua siang )


Mbok Minah tersenyum senang, karena warungnya tutup dengan cepat. Dagangan sudah habis, dan mereka tidak mau menambah jumlah masakan mereka.


Yati tidak mau, jika harus masak hingga jumlah besar, dan akhirnya malah tidak laku.


Warung makan sederhana ini, sengaja membuat makanan dalam jumlah yang sama setiap harinya. Tidak pernah dikurangi, atupun dilebihkan.


Jika habis, berarti warungnya tutup lebih awal. Dan jika ada yang lebih, dan waktunya sudah tutup, makanan akan dibagikan kepada para pelayan, dan juga tukang becak dan siapa saja yang lewat atau ada di sekitar warung tersebut.


Itulah sebabnya, warung makan sederhana Miss Yeti, cepat dikenal oleh masyarakat di daerah tersebut.


Bahkan, ada juga orang-orang dari luar daerah, sengaja datang berkunjung ke warung makan miliknya Yati ini, dengan maksud untuk tahu lebih dekat dengan pemilik warung. Yaitu Yati, yang di kenal dengan sebutan Miss Yeti.


Mungkin mereka merasa penasaran, dengan nama miss Yeti. Padahal, warung itu hanya menyediakan menu biasa, yang sederhana. Tapi pemiliknya justru mengunakan nama Miss, dan bukan Mbak, yang biasa digunakan untuk warung-warung pada umumnya.


"Kenapa mengunakan sebutan Miss?"


"Biasanya Mbak, Mbok, Mak, atau Lek kan ya? kok ini Miss."


"Miss Yeti? namanya unik."


Begitulah orang-orang yang bertanya, karena merasa penasaran dengan nama tersebut.


Nama Miss Yeti, mereka anggap sebagai nama yang unik dan tidak biasa. Sehingga banyak orang yang akhirnya datang, untuk mendapatkan jawaban atas pertanyaan demi pertanyaan yang mereka miliki.

__ADS_1


Itulah sebabnya, warung makan sederhana ini cepat sekali terkenal dan sering tutup lebih awal. Karena banyaknya pembeli yang datang untuk melihat siapa pemilik warung yang sebenarnya.


__ADS_2