Miss Yeti Bukan PSK Biasa

Miss Yeti Bukan PSK Biasa
Tidak Ada Yang Tahu


__ADS_3

"Ini bunganya kurang banyak, terlalu sedikit. Untuk bunga yang di panggung gak usah terlalu banyak. Malah menutupi pengantin, dan fokus pandangan jadi ke bunga, bukan pada istri Saya."


Yati hanya bisa diam saja, saat Mr Ginting, memberikan beberapa komentar untuk penataan ruang dan panggung pelaminan mereka untuk pesta besok.


Dia hanya terus ada di samping suaminya itu, dan ikut melihat-lihat tempat dimana besok dia akan jadi pengantinnya.


Yati tidak pernah menyangka, jika dia akan merasakan kebahagiaan sebagai seorang pengantin perempuan, yang tentu saja, menjadi impian bagi setiap gadis di dunia ini.


Tapi Yati juga sadar, jika ini semua hanya sebuah rekayasa semata. Dan dia, tidak tahu bagaimana nasibnya sendiri, untuk waktu ke depan nanti.


Apakah akan sama seperti pernikahan kontraknya yang dulu, bersama dengan Mr Johan, ataukah akan berakhir dengan sebuah tragedi yang tidak pernah dia bayangkan sebelumnya.


Tapi Yati tidak pernah bermimpi, untuk bisa mengakhiri semuanya ini, sama seperti yang sering terjadi pada sandiwara-sandiwara pernikahan yang ada di film ataupun sinetron televisi. Ataupun berakhir seperti cerita yang mungkin saja, sama seperti novel-novel percintaan juga.


Yati tidak pernah berpikir sejauh itu, karena dia akan terbiasa dengan situasi yang sama seperti saat ini, untuk waktu kedepannya nanti.


Dan dirinya, di larang untuk larut dan memiliki perasaan yang lebih, jika tidak ingin terpuruk setelah semuanya ini selesai. Hal yang tentunya sangat sulit, karena kebiasaan bertemu, bersama, tentu akan menghasilkan berbagai macam perasaan yang berbeda juga di dalam hati.


Tapi Yati, yang sudah mendapatkan pengajaran secara langsung sebagai gheisa, tentu harus bisa menjaga perasaan hatinya sendiri.


"Yoseman, Kamu tidak ada usulan ataupun keinginan untuk pesta besok?"


Yati sedikit terkejut, saat Mr Ginting bertanya kepadanya.


Yati lupa jika sekarang ini, hari ini, mereka berdua sedang melakukan tugas yang sudah di sepakati mereka semalam, saat berada di rumah sang kakek, untuk mengoreksi persiapan pesta mereka.


Akhirnya Yati mengeleng, dan tidak menjawab pertanyaan dari suaminya itu. Dia tidak tahu apa yang mau dia kritik. Karena sebenarnya dia juga tidak tahu, harus menilai dari mana semua yang sudah dipersiapkan oleh EO untuk pesta mereka berdua ini.


Para petugas EO yang mendampingi Mr Ginting dan Yati, hanya bisa mengangguk dan mencatat semua yang dikatakan oleh Mr Ginting.

__ADS_1


Mereka pastinya akan patuh dan melakukan semua yang diinginkan oleh Mr Ginting.


"Ya sudah, itu saja tadi. Istri Saya tidak ada yang mau dirubah lagi, cukup yang Saya bilang tadi saja."


"Baik Mr," jawab petugas EO.


"Kita pulang sekarang?" tanya Mr Ginting beralih pada Yati.


Yati hanya bisa mengangguk saja. Dia juga tidak tahu, mau kemana setelah ini. Dia hanya ingin beristirahat, untuk mengistirahatkan tubuhnya, persiapan pesta yang tentunya akan menguras tenaga.


"Kita istirahat saja ya. Aku juga tidak mau balik ke kantor. Mau tidur, biar besok tidak ngantuk dan capai," kata Mr Ginting, dengan mengajak Yati keluar dari dalam gedung.


Mereka berdua, pulang ke rumah diantar oleh supir yang tadi mengantar mereka juga saat berangkat.


"Kenapa Kamu tidak berbicara apa-apa tadi!" tanya Mr Ginting dengan tiba-tiba, saat diperjalanan pulang ke rumah.


"Maksud Mr, saya harus bicara apa?" tanya Yati bingung.


"Kamu tidak mau mengatakan pesta pernikahan yang sesuai dengan mimpi Kamu?" tanya Mr Ginting, menjelaskan maksud dari pertanyaannya yang tadi.


Yati hanya tersenyum tipis mendengar pertanyaan dari suaminya itu. Dia sendiri tidak tahu, pernikahan seperti apa yang dia impikan selama ini. Karena itu semua, tidak mungkin bisa terjadi dalam kehidupannya, selama dia masih menjadi gheisa. Dan jika dia sudah tidak lagi menjadi seorang gheisa, apa mungkin dia masih memiliki kesempatan untuk bisa menjadi seorang pengantin yang sebenarnya.


Yati tidak pernah mengetahui tentang kehidupannya nanti, jika dia sudah tidak lagi menjalani semua pekerjaannya yang sekarang ini.


Mr Ginting melihat ke wajah Yati dengan menyelidik. Dia tidak tahu, apa yang sekarang ini dipikirkan oleh istrinya itu. Dia hanya berharap, agar Yati bisa menjadi istrinya, yang bisa membuat kakeknya tetap merasa yakin, jika mereka berdua benar-benar sebagai sepasang suami istri.


Mr Ginting tidak tahu, bagaimana sebenarnya perasaan hatinya sendiri. Meskipun ada sesuatu yang tidak seharusnya dia rasakan pada istrinya, yang saat ini duduk di sampingnya.


"Aku harap ini hanya fatamorgana, yang tidak menjadi kenyataan." Mr Ginting berkata sendiri di dalam hati.

__ADS_1


Dia juga tidak tahu, dan tidak busa berharap banyak, dari seorang gheisa, yang saat ini sudah masuk ke dalam kehidupannya, tanpa dia sadari, meskipun sebenarnya dia sendiri yang memulai.


*****


Di kampung, kang Yoga sudah di rawat di rumah sakit. Dia harus menjalani opname selama beberapa hari, untuk bisa memulihkan kesehatannya. Dan sekarang, dia sedang ditunggui oleh mbok Minah, yang menjaganya agar bisa membantu segala sesuatu yang mungkin bisa di lakukan mbok Minah, karena dia tidak bisa melakukannya.


Padahal Mbok Minah juga tahu, jika ada perawat yang menjaga dan memastikan bahwa kang Yoga akan baik-baik saja.


Tapi tentu saja orang kampung merasa tidak nyaman, jika tidak ada yang menunggu orang yang sedang sakit di rumah sakit.


Hal yang biasa dilakukan oleh orang-orang, jika ada kerabat dan keluarga yang sedang di rawat.


Orang tua kang Yoga, juga sama. Tapi sayangnya, hanya bapaknya saja yang masih bisa datang untuk menunggui, berganti dengan mbok Minah.


Ibunya kang Yoga, sudah tidak bisa karena sedang dalam keadaan sakit juga di rumah.


Itulah sebabnya, hanya mbok Minah dan bapaknya saja yang bisa secara bergantian untuk menuggu kang Yoga di rumah sakit.


"Mbok Minah. Maafkan Yoga ya mbok. Mbok Minah jadi repot untuk ngurusi Yoga, yang seharusnya sehat dan tidak merepotkan mbok Minah yang sebenarnya harus dirawat karena usia Mbok yang jauh berbeda dengan Yoga sendiri."


Kang Yoga tentu merasa tidak enak hati, karena harus merepotkan mbok Minah yang sudah tua, untuk menjaganya di rumah sakit ini.


Sebenarnya, mbok Minah sudah di minta untuk pulang dan tidak usah repot-repot menjaga kang Yoga. Tapi karena mbok Minah juga tidak ada kesibukan dan dia merasa kasihan dengan kang Yoga, akhirnya dengan suka rela, Mbok Minah ikut menjaganya. Meskipun kadang-kadang dia juga pulang ke rumah dan tidak kembali untuk seharian. Mbok Minah akan istirahat di rumah jika ada bapaknya kang Yoga yang datang menjaganya.


"Tidak apa-apa Yoga. Mbok juga tidak ada pekerjaan kok di rumah. Dari pada bengong sendiri, lebih baik di sini, menemani Kamu. Wong ya gak ngapa-ngapain juga kan. Gak ada yang bisa Mbok kerjaan juga, cuma menemani ngobrol ngalor ngidul tok! hehehe..."


"Hehehe... iya Mbok. Terima kasih ya," jawab kang Yoga, yang ikut terkekeh kecil, saat mendengar perkataan mbok Minah.


Sekarang, mereka berdua sedang berbincang-bincang tentang Yati.

__ADS_1


Mbok Minah ingin tahu, bagaimana kabar cucunya, yang katanya sedang sibuk-sibuknya, dan tidak busa pulang ke kampung selama dua tahun ke depan.


Entah sedang sibuk kerja apa cucunya Yati. Mbok Minah tidak pernah tahu. Yang dia tahu bahwa, cucunya Yati akan lama lagi untuk bisa pulang, jika sudah memberinya kabar seperti itu. Yati hanya akan bisa memberikan kabar lewat pesan setelahnya, dan tetap mengirimi dia uang, sama seperti biasanya.


__ADS_2