
Matahari pagi, bersinar cerah di balik bukit, yang menghalangi sinarnya, untuk bisa menyinari secara langsung, ke kampung halaman Yati, yang memang terletak di balik bukit.
Tapi tetap saja, kejayaan sinar matahari, tidak bisa di kalahkan begitu saja. Dia tetap bisa menerobos masuk, melalui celah-celah sekecil apapun, untuk bisa menyebarkan pesonanya.
Meskipun sekarang ini, di kampung Yati sudah sedikit maju, untuk pembangunan dan pemikiran penduduk dan masyarakatnya, tapi tetap saja, untuk tata letak geografis tidak mungkin bisa berubah.
Tapi karena itu juga, pemandangan di kampung halamannya Yati, tetap terlihat cantik dan sedap untuk dipandang.
Apalagi di waktu pagi dan sore hari. Pemandangan alamnya akan semakin indah, dengan panorama alam yang tidak bisa diabaikan begitu saja, oleh pandangan mata.
Saat ini, Yati berjalan-jalan, bersama dengan mbok Minah. Menikmati keindahan kampung di pagi hari, dan udara yang tetap saja terasa segar, karena belum ada polusi udara di kampungnya ini.
Namun, udara pagi yang terasa dingin, tetap saja terasa, sama seperti saat Yati masih kecil dulu.
Itulah sebabnya, sekarang ini, Yati dan mbok Minah, mengunakan pakaian tebal atau sweater, untuk menghalau rasa dingin yang mereka rasakan.
"Mbok, gunung di sana itu pernah meletus gak sih?" tanya Yati iseng. Karena selama dia ada di kampungnya ini, dia belum pernah mengalami atau tahu, jika gunung yang ada di dekat kampungnya ini, pernah meletus.
Yati juga tidak pernah mendengar, tentang cerita dari riwayat meletusnya gunung itu. Bahkan, saat masih berada di bangku sekolah, Yati juga tidak pernah mendengar, ada gurunya yang membahas tentang gunung dan mengatakan bahwa, gunung yang ada di daerahnya itu mengeluarkan suara ataupun muntahan lahar. Baik lahar panas ataupun lahar dingin.
Mbok Minah tersenyum, sebelum menjawab pertanyaan dari Yati. Dia menghirup udara segar, untuk memenuhi rongga dadanya, setelah itu mengeluarkannya secara perlahan-lahan.
"Gunung itu mati Nduk. Tidak mungkin bisa meletus."
Jawaban yang diberikan oleh Mbok Minah, membuat Yati semakin ingin tahu, bagaimana ceritanya, gunung itu bisa dikatakan *mati.
Gunung berapi mati atau padam adalah gunung berapi yang tidak pernah tercatat mengalami erupsi dan kemungkinan tidak akan mengalami erupsi karena tidak lagi memiliki suplai magma*.
"Gunung tersebut tidak mungkin bisa meletus, karena tidak ada yang bisa dia keluarkan dari dalam inti perutnya. Itulah sebabnya, gunung yang ada di kampung kita ini tidak pernah meletus."
Yati mengangguk-anggukkan kepalanya, mendengar penjelasan yang diberikan oleh mbok Minah padanya.
Mbok Minah juga menceritakan tentang cerita leluhur, yang turun temurun, lewat cerita mulut ke mulut, orang-orang terdahulu, yang mengkisahkan legenda tentang gunung tersebut, hingga tidak bisa mempunyai magma, dan menjadi gunung mati.
Yati memulai mendengarkan cerita mbok Minah. Dan ternyata, cerita itu tentang kisah Aji Saka, yang percaya sebagai cikal bakal keturunan orang-orang jawa.
Dari cerita ini, bisa di ambil kesimpulan bahwa, siapapun yang memegang dan menjalankan amanat, hendaklah dilakukan sebaik dan sekuat yang dapat kita lakukan. Orang yang memegang dan menjalankan amanat dengan baik akan mendapatkan kehormatan di kemudian hari.
Aji Saka ini, di percaya sebagai cikal bakal keturunan orang-orang jawa, yang konon katanya, berasal dari dataran India sana.
Aji Saka juga, yang membuat tulisan Jawa yang kita kenal sebagai huruf Jawa.
Aji Saka datang ke daratan timur, dari daerah asalnya, untuk mengalahkan raksasa jahat, untuk membuat kerusakan di mana-mana.
__ADS_1
Dan di akhir kisahnya ini, Aji Saka yang sudah tiada, dimakamkan di daerah Jawa Timur.
"Terus, kisah ini ada hubungan apa dengan gunung itu Mbok?" Yati belum paham, karena cerita mbok Minah tidak ada sangkut pautnya dengan gunung yang tadi dia tanyakan.
"Sumber air panas dan ada juga letupan-letupan besar seperti Bledug di sebelah timur gunung itu, adalah tempat di sumber panas dan Magna dari gunung itu. Dan itu untuk menjaga keamanan para warga sekitar gunung, supaya tidak mengalami bencana alam berupa gunung meletus. Dan itu adalah jasa dari Aji Saka."
Mbok Minah kembali menjelaskan, apa hubungan gunung tersebut, sehingga tidak lagi bisa meletus dengan ceritanya Aji Saka.
Penjelasan Mbok Minah juga diketahui dari berita masa lalu, tentang sejarah gunung tersebut. Karena beribu-ribu tahun sebelum Masehi, gunung tersebut pernah meletus dan mengakibatkan kematian serta kerusakan yang sangat besar, pada sekitarnya. Bahkan, hingga ke luar pulau.
Itulah sebabnya, Aji Saka membuat saluran, untuk mengalirkan magma dan panas bumi, yang bisa membuat gunung aktif, ke tempat lain, sehingga tidak jauh dari tempat gunung itu berada, ada sumber air panas dan juga letupan-letupan besar dan kecil, yang keluar dari dalam bumi, sama seperti letupan jika gunung sedang meletus.
Ada juga sumber api abadi, tak jauh dari kedua lokasi sumber air panas dan Bledug tersebut.
( Untuk lebih jelasnya, silahkan cari di internet, untuk kisah-kisah Aji Saka 🙏🙏🙏 )
Sekarang, Yati sedikit lebih paham, dengan penjelasan yang diberikan oleh mbok Minah padanya.
"Pantes saja ya mbok, daerah sumber air panas dan Bledug itu menjadi daerah yang kering dan tandus. Apalagi dengan adanya sumber api abadi yang ada di daerah sana juga. Meskipun begitu, akhirnya daerah sana juga menjadi daerah tujuan wisata, yang cukup potensial. Dan yang pasti, kampung kita tetap aman."
"Hehehe... betul itu Nduk."
Setiap kejadian, pasti ada sesuatu yang bisa fi ambil khikmahnya.
Dan itu, sudah pasti di rencanakan sedemikian rupa, oleh Sang penciptaNya. Yaitu Tuhan Yang Maha Kuasa.
*****
Klunting
Klunting
Klunting
Handphone milik Yati berdenting di atas meja makan.
Mbok Minah yang sedang memasak menoleh ke arah handphone tersebut, karena Yati sedang mandi.
Klunting
Klunting
Klunting
__ADS_1
Handphone tersebut, masih terus berbunyi, tanda jika orang yang sedang melakukan panggilan berusaha untuk bisa mendapatkan perhatian dari yang di hubungi.
"Nduk, hapene muni terus kie lho!" ( Nduk, hapenya bunyi terus ini lho! )
Mbok Minah berteriak dari dapur, agar Yati yang sedang berada di dalam kamar mandi, mendengar suaranya.
"Njeh Mbok. Jarke wae. Mengko tak telpon balik wonge." ( Ya Mbok. Biarkan saja. Nanti Aku telpon kembali orangnya )
Akhirnya mbok Minah tidak lagi peduli, saat handphone milik Yati kembali berdenting, kemudian mati berhenti dengan sendirinya.
Tak lama kemudian, saat Yati selesai mandi, dia mencari keberadaan handphonenya di atas meja makan.
Saat melihat notifikasi yang ada di layar handphonenya, ada nama Mr Akihiko, dengan panggilan tak terjawab sebanyak lima kali.
"Mr Akihiko? Ada apa ya?"
Yati bertanya-tanya, sebelum akhirnya mencoba untuk memanggil balik panggilan telpon dari Mr Akihiko, yang tidak terjawab olehnya.
Tut tut tut!
Tut tut tut!
Panggilan telpon dari Yati, tidak langsung diterima oleh Mr Akihiko.
Dan baru panggilan yang kedua, Mr Akihiko menjawab panggilan tersebut.
..."Halo miss Yeti. Sudah selesai dengan liburannya?"...
..."Eh, Mr Akihiko. Bukannya Yeti baru lima bulan di kampung? Belum ada satu tahun."...
..."Ah, itu terlalu lama miss Yeti. Aku ingin, Kamu yang mengantikan posisi miss Marisa, di sini. Bagaimana?"...
Yati tertegun mendengar jawaban dari Mr Akihiko. Dia tidak pernah menyangka, jika posisi miss Marisa, yang kosong karena miss Marisa yang meninggal dunia, ditawarkan untuk Yati.
Bahkan, Yati sendiri tidak merasa yakin, jika bisa ada di posisi miss Marisa, dengan memegang peranan yang sama, di tempat usahanya Mr Akihiko.
Yati tidak lupa, jika dia masih berstatus sebagai pegawai Mr Akihiko, yang selalu tunduk pada aturan yang berlaku di sana.
Meskipun sebenarnya, Yati juga punya keinginan untuk bisa lepas, dan berusaha sendiri. Tapi, dia juga masih ada beberapa hal yang harus dia lakukan di kota besar, dan itu harus dia selesaikan dengan masih menjadi anak buahnya Mr Akihiko sendiri.
Yang tentunya, ada beberapa orang besar dan berpengaruh, untuk bisa membantunya. Dan memberinya kemudahan, dalam urusannya kali ini.
Yati juga harus mengatur semua hal, yang akan dia rencanakan besok. Dia tidak ingin ada kegagalan, dalam urusannya nanti.
__ADS_1