
Setelah beberapa saat kemudian, Yati sudah selesai didandani. Bukan hanya sekedar mencoba baju pengantinnya, tapi juga di makeup sedikit, untuk menunjang penampilannya, meskipun ini hanya sekedar fitting baju biasa, bukan acara yang sebenarnya.
Yati di minta untuk tetap berada di ruang rias terlebih dahulu oleh pegawai butik. Dia ingin melihat Mr Ginting, yang tadi juga di dandani oleh temannya yang lain.
Jika Mr Ginting sudah siap, barulah Yati akan dibawa keluar olehnya.
Dan beberapa menit kemudian, Yati diajaknya keluar, untuk menemui Mr Ginting. Calon mempelai pria nya Yati.
Yati berjalan dengan anggun, keluar dari ruangan untuk ganti dan meriasnya tadi, dituntun oleh salah satu pegawai yang tadi mendandaninya.
"Bagaimana Mr Ginting?"
Pegawai butik, mempersilahkan Mr Ginting untuk mengomentari tentang penampilan Yati sekarang. Dia ingin tahu, jika ada sesuatu yang kurang pas, akan diperbaikinya nanti.
Mr Ginting tertegun. Dia melihat ke arah istrinya itu, Yati, dengan pandangan yang tidak percaya, jika yang berada di depannya saat ini adalah istrinya sendiri. Wanita yang semalam memberikan satu pengalaman yang tidak akan pernah bisa dia lupakan seumur hidupnya.
"Jika ada yang dirasa kurang, silahkan dibicarakan. Nanti kami akan memperbaikinya," kata pegawai yang saat ini ada di dekat Mr Ginting.
Tapi sepertinya Mr Ginting tidak mendengar perkataan pegawai butik tersebut. Dia tetap diam ditempatnya, dan terus melihat ke arah Yati tanpa berkedip.
"Mr. Mr Ginting," panggil Yati dengan berbisik-bisik, di samping Mr Ginting.
Mr Ginting tersadar dari lamunannya dan gelagapan karena namanya yang disebut oleh Yati.
"Eh, emhhh ya. Apa ad yang Kamu rasa kurang?"
Untuk menutupi kegugupan dan lamunannya, Mr Ginting pura-pura bertanya kepada Yati, tentang bagaimana kondisi gaun pengantin yang saat ini dia kenakan.
"Jika ada sesuatu yang tidak nyaman, Kamu bisa bilang. Pihak butik akan memperbaikinya." Mr Ginting, berkata lagi, menjelaskan pada Yati untuk bicara soal gaun pengantin yang dia kenakan itu. Ini karena besoknya, Yati juga yang akan memakainya lagi, di saat pesta berlangsung.
"Tapi apa ini sudah cocok denganku?" tanya Yati, meminta pendapat pada suaminya, Mr Ginting.
Dia memperlihatkan gaun pengantinnya, dengan sedikit berputar, ke kiri dan ke kanan, supaya Mr Ginting bisa melihat lebih jelas lagi.
__ADS_1
Mr Ginting akhirnya memberi beberapa masukan pada pegawai butik, untuk menyempurnakan gaun pengantin tersebut.
Yati tampak tersenyum, melihat Mr Ginting yang perhatian dan tahu, apa yang kurang dari penampilannya. Meskipun Yati sendiri tidak mengetahui, karena mengenakan gaun pengantin itu saja, dia sudah kesusahan dan tidak nyaman.
Mr Ginting tahu, jika Yati merasa sedikit kesusahan dan tidak nyaman saat memakai gaun itu. Apalagi besok, saat acara berlangsung. Yati pasti akan merasa tersiksa dengan hanya mengenakan pakaian tersebut.
Dengan tersenyum yang disembunyikan, Mr Ginting justru ingin mengerjai Yati, nanti di saat acara pesta pernikahan mereka berlangsung.
Tapi saat ini, Mr Ginting hanya diam saja dan tidak mengatakan apa-apa tentang gaun uru lagi, setelah selesai tadi memberitahu pada pegawai butik, untuk memberikan beberapa perbaikan untuk gaun pengantin yang dikenakan oleh Yati.
Sekarang, Yati kembali ke dalam ruangan, untuk melepaskan gaun tersebut.
Begitu juga dengan Mr Ginting. Dia melepaskan pakaiannya juga, dan berganti dengan pakaiannya sendiri.
Dia kembali melihat-lihat koleksi baju yang mungkin bisa dia ambil untuk Yati. Tapi, dia ingin melihat Yati yang memilihnya sendiri.
Jadi, Mr Ginting tidak juga menentukan pilihan dan menuggu kedatangan Yati terlebih dahulu.
Setelah menunggu beberapa saat kemudian, Yati sudah tampak keluar dari dalam ruan ganti. Dia mendekat ke tempat Mr Ginting berdiri, yang ada di antara deretan baju-baju wanita.
Mr Ginting menoleh dan tersenyum, melihat Yati yang sekarang ada di dekatnya. Dia ingin menawari Yati, untuk memilih beberapa potong baju untuknya. Tapi sepertinya, Mr Ginting kesulitan untuk mengatakannya secara langsung pada Yati.
Mr Ginting, melihat ke sekeliling dan kembali melihat ke arah Yati. Dia sedikit bingung, dengan perkataan yang akan dia tawarkan.
"Emhhh... itu, emhhh..."
Yati mengerutkan keningnya mendengar perkataan suaminya yang gugup.
"Mr mau apa?" tanya Yati mencoba untuk membuat Mr Ginting lebih baik saat berbicara.
"Ini Mr, minum dulu."
Yati mengambil sebotol air mineral, yang disediakan oleh pihak butik, kemudian membukakan botol air tersebut untuk Mr Ginting.
__ADS_1
"Terima kasih," ucap Mr Ginting pendek.
Sekarang Yati menunggu suaminya itu, sampai selesai minum air yang dia berikan tadi.
"Lebih baik?" tanya Yati, saat melihat wajah Mr Ginting yang tidak lagi terlihat gugup.
Mr Ginting hanya mengangguk saja. Kemudian menunjuk pada deretan baju-baju yang tergantung rapi.
"Kamu ambil beberapa potong. Setelah itu kita pulang."
Akhirnya, Mr Ginting lancar juga mengatakan maksud perkataannya tadi. Dan Yati, melihat wajah Mr Ginting, untuk menyakinkan dirinya sendiri.
"Iya ambilah. Atau jika Kamu tidak suka, Kamu bisa minta tolong pada pegawai butik itu, untuk mengeluarkan koleksi baju-baju mereka yang terbaru."
Yati mengeleng. Bukan itu maksud dari diamnya. Dia hanya tidak mau menambah koleksi baju yang ada di kamarnya, karena baju-baju, yang ada saja belum semua dia pakai.
"Tapi Mr. Di rumah, maksud Saya, di lemari yang ada di dalam kamar, baju-baju yang Mr Ginting kasih, masih banyak dan belum terpakai. Apa tidak bingung Saya saat memakainya," kata Yati memberi alasan.
Mr Ginting memicing karena curiga, jika Yati tidak normal sebagai seorang wanita. Setahu Mr Ginting, wanita akan merasa sangat senang, jika di tawari untuk memilih sendiri baju-baju yang dia sukai. Meskipun di rumah sudah ada banyak sekalipun. Tapi seorang wanita, akan dengan senang hati, mengambil baju-baju tersebut, karena 'aji mumpung' dan itu pastinya kesempatan yang langka.
Apalagi sekarang ini, Mr Ginting memberikan kesempatan kepada Yati, untuk mengambil baju-baju yang mahal dan tidak ada di mall dan toko-toko pada umumnya.
Butik keluarga Mr Ginting, hanya memproduksi baju yang berbeda. Meskipun ada beberapa potong baju yang sama, itu pasti dengan kombinasi warna yang berbeda juga.
Semua itu bukan tanpa alasan. Keluarga Mr Ginting, tidak mau memakai pakaian yang sama seperti yang dikenakan oleh saudaranya, apalagi jika ada pertemuan dan mereka harus memakai pakaian yang sama juga.
Oleh karena itu juga, produksi baju di butik tersebut, sangat limited edition.
Tapi ternyata Yati tidak begitu tertarik. Dia bahkan menolak tawaran Mr Ginting, untuk mengambil baju-baju tersebut.
"Apa Kamu tidak suka baju-baju itu?" tanya Mr Ginting ingin tahu.
"Bukan Mr. Tapi jika Mr memaksa... baiklah. Saya akan mengambil beberapa potong baju untuk dibawa pulang."
__ADS_1
Karena tidak ingin menyingung perasaan Mr Ginting, yang sudah berbaik hati memberikan kesempatan pada Yati mengambil baju-baju tersebut, akhirnya Yati mengikuti kemauan dari suaminya itu. Dia asal ambil dan menyerahkan kepada pegawai butik untuk membungkus baju-baju yang dia pilih, tanpa mencobanya terlebih dahulu.