
Dengan segala cara untuk bisa mendapatkan kembali Bros Bunga itu, sang Kakek berusaha untuk menemui Yati. Dia juga berusaha untuk mencari tahu, kebenaran dengan latar belakang dari keluarga miss Kiara, yang sebenarnya.
Sang Kakek berpikir bahwa, istri dari cucunya itu, sengaja memasuki kehidupannya, melalui pernikahan. Karena dengan menikahi cucunya, Mr Ginting, miss Kiara akan membalas dendam kepadanya.
Karena pikiran yang dia buat sendiri, sang Kakek merasa semakin cemas. Dia berpikir jika, miss Kiara sebenarnya sudah tahu, kebenaran tentang dirinya di masa lalu. Dan sekarang ini, miss Kiara datang, dengan menikahi cucunya, akan menjatuhkan dirinya secara tidak langsung.
Dengan teror-teror yang bisa dilakukan oleh miss Kiara, yang bisa membuat sang Kakek akan merasa tertekan dan depresi, karena kesalahannya sendiri di masa lalu.
"Apa yang sebenarnya diinginkan oleh Kiara? apa dia sudah tahu dan membuka cip rahasia itu? tapi kenapa dia tidak menyingung soal apapun tentang diriku di masa lalu?"
Berbagai macam pertanyaan dan dugaan, muncul di dalam hatinya sang Kakek. Dia merasa ada sesuatu yang disembunyikan oleh miss Kiara.
"Apa Ginting tahu juga? jika iya, dia sudah bisa dipastikan jika akan semakin membenciku saat ini. Tapi jika Kiara tidak tahu apa-apa, Aku akan dengan cepat, berusaha untuk bisa mendapatkan Bros Bunga itu, kemudian menghancurkan cip_nya, dan mengembalikan Bros Bunga tersebut pada Kiara. Tapi bagaimana caranya?"
Akhirnya, sang Kakek mencoba untuk menghubungi Mr Ginting, untuk bisa bertemu dengan istrinya, miss Kiara.
Dengan langkah pasti, sang Kakek datang ke ruangan cucunya, untuk berbicara dan membuat sebuah alasan, agar bisa meminta bantuan pada miss Kiara, istri dari cucunya itu.
Tok tok tok
Sang Kakek mengetuk pintu ruangan Mr Ginting.
"Masuk!"
Dari dalam ruangan, terdengar suara Mr Ginting, yang mempersilahkan orang yang sedang mengetuk pintu ruangannya, untuk masuk ke dalam.
Clek!
Pintu terbuka, dan sang Kakek masuk ke dalam ruangan tersebut.
"Kakek!" sapa Mr Ginting heran.
Tentu saja Mr Ginting merasa heran dengan sikap kakeknya itu, karena biasanya, jika sang kakek ada perlu dengannya, sang kakek akan meminta dirinya, untuk datang ke ruangan sang kakek, dan bukan sang kakek yang datang ke ruangnya, Mr Ginting, sama seperti yang terjadi sekarang ini.
"Tidak apa-apa. Aku hanya ingin berbicara hal yang tidak penting."
Seperti sudah mengira-ngira, apa yang dipikirkan oleh cucunya itu, sang Kakek langsung mengatakan bahwa, dia tidak kenapa-napa, dan hanya ingin membicarakan sesuatu yang tidak ada hubungannya dengan pekerjaan dan bisnis.
__ADS_1
Mr Ginting mempersilakan kakeknya itu, untuk duduk di sofa tamu, yang di ruangannya.
"Silahkan duduk Kek," kata Mr Ginting, dengan menunjuk ke arah sofa. Sedangkan dia sendiri, berdiri dari tempat duduknya, kemudian melangkah menuju ke arah sofa, untuk bisa ikut duduk bersama dengan sang Kakek.
"Ada yang bisa Ginting bantu?" tanya Mr Ginting, memulai pembicaraan. Dia bersikap sedikit lebih ramah, karena melihat perubahan sikap sang kakek untuk beberapa hari terakhir ini.
"Kakek ingin jalan-jalan sore ini. Tapi Kalian sedang ada banyak pekerjaan. Kakek tua ini, hanya ingin ada teman berbincang-bincang. Apa Kakek bisa minta tolong, ijinkan istrimu, Kiara, untuk menemani Kakek sore ini?" tanya sang Kakek, mengutarakan maksud dan keinginannya, untuk bisa pergi jalan-jalan dengan ditemani oleh miss Kiara. Istrinya Mr Ginting.
Dengan menatap aneh ke arah sang Kakek, Mr Ginting seakan-akan memikirkan sesuatu, tentang permintaan dari kakeknya itu.
"Tenang saja Ginting. Kakekmu ini tidak gila, dengan meminta menantunya yang aneh-aneh. Aku hanya ingin berbincang-bincang dengannya, karena Kakek merasa dia anak yang ramah dan sopan. Kakek menyukai sikap dan perilaku istrimu yang wajar dan tidak terlalu over untuk mencari perhatian dan keuntungan dari keluarga kita ini. Kakek lihat, dia juga tidak seperti layaknya gadis-gadis lain, yang suka pesta dan belanja. Dia sepertinya dididik secara sederhana tapi tetap anggun sebagai seorang wanita. Kakek hanya ingin, mengenalnya lebih jauh sebagai bagian dari keluarga kita saja. Apa Kamu keberatan?"
Mr Ginting, mendengar perkataan sang kakek yang panjang, dalam memberikan penjelasan kepadanya.
"Kakek mau kemana?" tanya Mr Ginting pada akhirnya. Dia merasa jika sang Kakek ada tujuan lain, dari keinginannya untuk bisa berbincang-bincang dengan istrinya sore ini.
"Kakek ingin mengajaknya jalan-jalan ke mall atau taman, dengan menikmati sore hari. Toh, Kakek dan Kiara, sama dengan seorang kakek dengan cucunya bukan? Apa Kamu berpikir bahwa kami akan dilihat oleh orang lain dengan pandangan sebagai Sugar baby dan sugar Daddy?"
Sang Kakek mengatakan, apa-apa yang mungkin akan menjadi pemikiran orang lain, terhadap dirinya dan miss Kiara nanti, jika sedang berjalan bersama-sama.
Ternyata, Mr Ginting menghubungkan permintaan dari sang Kakek siang ini, dengan perkataan sepupunya, Surya Jaya, bahwa sebenarnya sang Kakek merasa kesepian, karena tidak ada teman untuk berbincang-bincang dan berbagi perasaan. Apalagi, dihari-hari tuanya, tentu menginginkan banyak hiburan, dari anak-anak, cucu-cucu, dan jika ada cicit-cicitnya.
Tentu saja, sang Kakek ingin terhibur. Apalagi, anak-anak dan juga cucu-cucunya, sudah tidak ada lagi yang serumah dengannya. Semuanya sudah ada di rumah masing-masing dengan kesibukannya masing-masing juga.
Hanya Mr Ginting dan Surya Jaya, yang menemaninya bekerja di kantor yang sama.
"Setiap orang orang tua, apalagi dengan orang yang sudah seperti Kakek ini, pastinya ingin yang terbaik untuk anak dan cucu-cucunya. Begitu juga dengan Kakekmu ini Ginting. Tidak ads teriakan dan tangisan anak-anak lagi, di rumah Kakek. Jadi terasa sunyi dan sepi. Kakek ingin Kamu dan Kiara pindah ke rumah Kakek. Atau nanti, saat Kirana hamil. Apalagi jika sudah melahirkan, pasti rumah Kakek akan ramai dan tidak lagi terasa sepi seperti sekarang ini."
Mr Ginting menghela nafas panjang, mendengar jawaban dan penjelasan dari kakeknya itu.
Tapi, Mr Ginting juga tidak mungkin mengatakan tentang keadaan dan kebenaran pernikahannya dengan miss Kiara.
Mr Ginting tidak mau jika, sang kakek akan merasa kecewa, dan juga marah besar terhadap dirinya. Dan yang lebih parahnya lagi, bisa-bisa, sang Kakek justru akan mengusirnya, dan mencoret namanya dari daftar ahli waris. Padahal sebenarnya, warisan itu adalah miliknya, yang diwariskan dari kedua orang tuanya, yang sudah meninggal dunia, akibat kecelakaan pesawat.
Akhirnya, Mr Ginting memberikan ijin untuk sang Kakek, yang ingin mengajak istrinya, untuk pergi jalan-jalan, untuk menghilangkan rasa sepi.
"Aku telpon Kiara dulu, biar dia bersiap-siap," kata Mr Ginting, kemudian berdiri untuk mengambil handphone miliknya.
__ADS_1
Mr Ginting segera menghubungi istrinya di rumah.
Tut
Tut
Tut
..."Halo Sayang?" ...
Sapa Yati dengan nada manja, saat menerima panggilan telpon dari suaminya. Mungkin karena tadi, mereka berdua baru saja berbincang-bincang lewat pesan, dan membuat mereka berdua saling rindu, tanpa harus mengucapkan secara langsung.
Sang Kakek yang mendengar sapaan manja dari istri cucunya, tersenyum tipis.
..."Ehemmm... Begini, Kamu sekarang siap-siap ya. Minta pada supir untuk mengantar ke kantor."...
..."Maksudnya? kenapa harus ke kantor, Kamu saja yang pulang Sayang." ...
Yati justru mengartikan beda dengan apa yang dimaksud oleh suaminya itu. Dia berpikir jika, Mr Ginting, menginginkan dia datang ke kantor karena perasaan rindunya, yang tidak busa dia bendung.
..."Kakek mau mengajakmu jalan-jalan sore ini. Dan ini juga ada Kakek di ruangan ku."...
..."Ha, ada Kakek? kenapa tidak mengatakannya Sayang. Aku kan jadi malu..."...
Sang Kakek yang ikut mendengarkan semua pembicaraan mereka berdua, hanya bisa tersenyum-senyum sendiri.
..."Sudahlah. Segera bersiap dan berangkat!" ...
..."Ok Sayang." ...
Klik!
"Hahaha..."
Sang Kakek langsung tertawa lepas, begitu panggilan telpon Mr Ginting ditutup.
Sedangkan Mr Ginting sendiri, menjadi sangat malu, dan itu tampak jelas dari wajahnya yang sudah memerah sedari tadi.
__ADS_1