
Yati tidak bercerita pada Mr Ginting, tentang semua pembicaraan antara dirinya dengan sang kakek. Ini karena, Mr Ginting tidak ada kaitannya dengan permalasahan yang mereka miliki, terkait dengan Bros Bunga tersebut.
Semua ini hanya antara Yati sendiri, dengan sang Kakek. Karena ternyata, Yati berkaitan dengan masa lalu sari sang Kakek sendiri.
Mr Ginting sendiri, tidak lagi bertanya-tanya pada istrinya itu, tentang apa saja yang dibicarakan oleh sang Kakek pada istrinya. Dia berpikir bahwa, sang Kakek memang benar-benar hanya sekedar kesepian, dan ingin ditemani jalan-jalan. Dan karena istrinya itu mau menemani sang Kakek, dengan senang hati, sang Kakek akhirnya membelikan beberapa barang dan juga perhiasan kalung mutiara pada istrinya itu.
Padahal sepengetahuan Mr Ginting, istrinya itu miss Kiara tidak maniak belanja. Ini sudah dia buktikan sendiri, saat berada di butik milik keluarganya, saat mereka berdua sedang fitting baju pengantin.
Yati sudah selesai membereskan barang-barang belanjaannya yang tadi. Setelah itu, dia melangkah menuju ke arah kamar mandi. Dia ingin berendam dengan air hangat, yang beraroma sakura kesukaannya. Dengan demikian, Yati bisa menenangkan diri sendiri, dengan semua masalah yang dihadapi.
Karena sesungguhnya, berhadapan dengan sang Kakek, tidak pernah dibayangkan oleh Yati sendiri.
Perkiraan Yati dulu, dia hanya akan menghadapi pertentangan masalah pernikahannya, bukan dengan masa lalunya, yang tidak di sangka-sangka, justru mendapat titik terang, dengan pengakuan dari sang Kakek sendiri.
"Aku tidak peduli, seandainya kehilangan Bros Bunga itu. Aku hanya ingin tahu, bagaimana ibuku, dan juga ayahku." Yati bergumam seorang diri, sambil mempersiapkan segala sesuatunya, untuk dirinya berendam di bathtub.
Clek!
Pintu kamar mandi terbuka. Yati menoleh dengan cepat, melihat siapa yang datang. Dan ternyata, yang datang adalah Mr Ginting. Suaminya sendiri.
"Mr!" sapa Yati terkejut.
"Kenapa?" tanya Mr Ginting, yang seperti melihat keterkejutan pada wajah istrinya itu.
"Aku... Aku baru mau mandi," ujar Yati memberikan alasan.
"Aku juga mau mandi. Kenapa tidak sama-sama. Kita bisa saling menggosok punggung, yang tentunya tidak bisa Kamu lakukan sendiri."
Perkataan dari suaminya itu, membuat Yati merasa heran. Padahal, tidak biasanya Mr Ginting jadi berlaku aneh seperti ini. "Apa ini karena Aku menolaknya untuk hamil, dan memberikan dia anak?" tanya Yati dalam hati.
Yati berusaha untuk tidak berpikir tentang permintaan dari Mr Ginting, yang tentunya melanggar aturan dari isi kontrak pernikahan mereka.
"Mr Ginting yakin, mau ikut mandi disini? Tidak muat bagaimana?"
Alasan yang dikatakan oleh Yati, sebenarnya tidak masuk akal. Bathtub kamar mandi kamarnya ini, besar dan mungkin saja muat untuk berendam jika hanya dua orang saja.
__ADS_1
Saat Mr Ginting melirik ke arah bathtub, tentu saja, Yati menjadi menutup mulutnya sendiri. Dia lupa, jika kamar mandi ini, adalah miliknya Mr Ginting, dan bisa dipastikan bahwa, suaminya itu juga paham dan tahu dengan pasti, bagaimana keadaan kamar mandi yang sekarang mereka berdua tempati.
Dan akhirnya, keinginan Mr Ginting tidak mungkin ditolak oleh Yati.
Mereka berdua dengan saling diam, berendam bersama dalam satu bathtub. Meskipun pada akhirnya, semua tidak mungkin hanya diam-diam saja.
*****
Beberapa hari kemudian, sang Kakek memberitahu pada Mr Ginting, untuk perjalanan bisnisnya ke beberapa negara Eropa sana. Dan perjalanannya kali ini, hanya dengan Surya Jaya saja. Dia akan berpindah-pindah tempat, dari satu negara, ke negara lain, yang masih berada di kawasan Eropa.
"Jadi Aku tidak bisa membawa istriku?" tanya Mr Ginting, dengan nada kesal.
"Hanya satu minggu saja Ginting. Jika Kamu ajak Kiara, kasihan dia. Ini bukan untuk berlibur, jadi kerjaan lebih banyak, karena di negara Eropa sana, tidak sama seperti di Asia, yang sudah seperti rumah sendiri untuk Kamu."
Sang Kakek memberikan beberapa nasehat dan juga arahan, agar tugasnya itu bisa lancar dan tidak tersendat-sendat, jika hanya adanya miss Kiara, yang ikut serta dalam perjalanan mereka ke Eropa sana.
"Kamu bisa ajak istrimu, Kiara, untuk jalan-jalan ke Eropa akhir tahun ini,. Tapi Kamu harus bisa menyelesaikan semua pekerjaan ini tepat waktu. Pikirkan tawaran dari Kakek Ginting." Sang Kakek memberi kesempatan pada cucunya itu, untuk berpikir sejenak.
"Baiklah. Kapan Ginting berangkat?"
Akhirnya, Mr Ginting ikut juga dengan saran kakeknya. Dia pikir, lebih baik pergi akhir tahun saja, sekalian berlibur, dan tidak memikirkan pekerjaan apapun.
"Minggu ini, cepat sekali Kek? Surya Jaya sudah tahu?" tanya Mr Ginting, yang merasa kaget dengan perkataan yang diucapkan oleh kakeknya, saat memberikan tugas kerja kepadanya. Dia berpikir jika itu terlalu cepat dan mendadak.
"Ini harus cepat Ginting. Kakek tidak mau jika, kerja sama ini ada yang timpang. Tidak menguntungkan salah satu pihak. Apalagi jika itu pihak kita sendiri. Kamu mau, jika kita tidak mendapatkan apa-apa, dari produksi yang kita buat untuk mereka, dan hanya mereka saja yang mendapat untung?" tanya sang Kakek memberikan pertanyaan, yang bernada intimidasi.
Keputusan yang diambil oleh sang Kakek, tidak bisa dibantah lagi oleh Mr Ginting, karena semua yang dikatakan oleh sang Kakek, memang benar adanya. Tidak mungkin perusahaan mereka rugi atau tidak mendapatkan apa-apa, karena kesalahan dari satu poin kerjasama, yang tidak benar.
Itulah sebabnya, sang Kakek memintanya untuk segera mendatangi klien-klien yang ada di negara Eropa sana, untuk meninjau kembali beberapa perjanjian, yang dirasa kurang, karena semua belum diputuskan oleh sang Kakek beberapa minggu kemarin.
Sang Kakek saat itu ada di persembunyiannya, karena wajahnya yang terluka akibat cakaran wanita-nya, saat dia datang ke Singapura kemarin.
"Baiklah. Ginting akan memberitahu Surya Jaya, supaya ikut bersiap-siap juga. Kalau dia sih pasti senang, dengan berita ini." Mr Ginting mengerutu sendiri, meskipun sebenarnya sang Kakek juga ikut mendengar gumaman cucunya itu.
Dengan gerakan malas, Mr Ginting menelpon sepupunya, Surya Jaya, supaya datang ke ruang kerjanya.
__ADS_1
..."Sekarang Mas?"...
Surya Jaya bertanya kaget, saat Mr Ginting menelpon durinya, dengan sambungan telpon kantor.
..."Gak, tahun depan aja!"...
..."Kalau tahun depan, ngapain telpon sekarang Mas?"...
..."Serah!"...
Tut... Tut... Tut...
Mereka berdua, justru berdebat sendiri dan itu tidak penting sama sekali. Sehingga Mr Ginting, menutup telponnya itu, tidak pada tempatnya, dan tanpa memberikan informasi yang pasti pada Surya Jaya.
Sang Kakek mengelengkan kepalanya, mendengar perdebatan kedua cucunya itu. Hal yang biasa terjadi, jika mereka berdua sedang bersama. Meskipun sebenarnya, mereka sama-sama bisa bekerja sama dengan baik, dalam menyelesaikan pekerjaan.
Tapi ternyata, tak lama kemudian, Surya Jaya benar-benar datang. Itu karena dia sangat tahu jika, kakak sepupunya itu hanya asal menjawab pertanyaan darinya. Karena panggilan untuknya tadi, juga untuk saat ini, bukan untuk tahun depan.
"Ada apa! Apa ada sesuatu yang terjadi dan Aku tidak tahu apa-apa?"
Surya Jaya masuk tanpa mengetuk pintu terlebih dahulu, dan langsung bertanya juga, tanpa menyapa sang Kakek ataupun Mr Ginting, yang ada di ruangan tersebut.
"Kebiasaan kunyuk!" umpat Mr Ginting, dengan melempar pensil ke arah adik sepupunya itu.
"Hahaha... kunyuk ini juga yang akan membantumu Mas," ujar Surya Jaya dengan percaya diri, sambil menangkap pensil yang dilemparkan oleh Mr Ginting padanya.
"Hemmm..." sahut Mr Ginting tanpa berkata-kata, tapi menunjuk ke arah sang Kakek, dengan dagunya.
"Kakek tercinta. Apakah ada tugas dan pekerjaan yang harus Surya Jaya lakukan? Tapi kalau bisa jangan bersama dengan mas Ginting ya Kek... Aku malas jika dia ikut, dan mengajak istrinya juga. Aku hanya bisa ngiler saja nanti!"
Surya Jaya justru merajuk dan meminta pada sang Kakek, supaya pergi tanpa Mr Ginting. Padahal sang Kakek belum mengatakan apa-apa. Begitu juga dengan Mr Ginting, yang masih diam di tempatnya duduk sedari tadi.
"Apa yang Kamu bicarakan?" tanya sang Kakek memancing Surya Jaya.
"Emhhh... hehehe, gak kok." Surya Jaya, menjawab dengan tidak jelas, apa yang dia maksud tadi.
__ADS_1
"Dasar aneh!" ledek Mr Ginting, pada adik sepupunya itu, yang pengen punya istri, tapi tidak punya kekasih.
Sama seperti dirinya sendiri, waktu sebelum bertemu dengan Yati, miss Yeti, yang saat ini dipanggil dengan nama Reina Akiara. Miss Kiara. Dan itu juga karena adanya syarat yang harus dia lakukan untuk semua yang sudah ditentukan dalam surat wasiat orang tuanya Mr Ginting sendiri.