
"Tentu saja, Mr. Ginting. Saya bisa mengantar Anda ke rumah Mis Yeti."
Mr. Ginting tersenyum puas atas kesediaan Biyan. Meskipun ia bisa minta pada anak buahnya yang lain, tapi entah kenapa Mr Ginting sudah merasa cocok dengan Biyan.
"Bagus, terima kasih banyak, Biyan. Aku ingin memberikan kejutan pada Mis Yeti ku. Sudah lama kami tidak bertemu, jadi aku ingin melihat ekspresi terkejutnya."
Biyan mencoba menjaga sikap tenang dengan tersenyum tipis untuk memberikan tanggapan atas pernyataan Mr Ginting.
"Tentu, saya akan dengan senang hati mengantar Anda."
Saat Biyan dan Mr. Ginting pergi ke mobil, Biyan merasa tegang. Dia berusaha tetap fokus pada tugas profesionalnya, meskipun di dalam hatinya ada perasaan yang rumit.
Setiap detik dalam perjalanan menuju rumah Yati terasa penuh dengan ketegangan, membuatnya tidak tenang.
Di dalam mobil, suasana hening seolah mencerminkan perasaan dalam hati mereka. Mr. Ginting terlihat antusias, sementara Biyan berusaha menjaga wajahnya tetap netral. Dia merasa tanggung jawab untuk memberikan layanan yang baik kepada Mr. Ginting, sambil menghindari memberikan tanda-tanda apa pun tentang perasaannya terhadap Yati.
Setibanya di depan rumah Yati, Biyan memberhentikan mobil dengan hati-hati. Dia melihat Mr. Ginting yang tampak gugup dan bersemangat. Biyan mencoba mengatasi rasa canggung yang semakin mendalam.
"Silahkan, Mr."
"Terima kasih, Biyan. Aku menghargai bantuan mu," ucap Mr Ginting saat Biyan membukakan pintu mobil untuknya.
"Tidak ada masalah, Mr. Ginting. Semoga Anda punya kunjungan yang menyenangkan," sahut Biyan dengan tetap mempertahankan senyumnya.
Mr. Ginting mengangguk penuh semangat. Akhirnya, ia tiba juga di rumah Mis Yeti nya, wanita yang sangat ia rindukan.
"Tentu. Kamu boleh pulang dulu. Aku akan mengurus semuanya dari sini," pinta Mr Ginting memberikan pilihan.
"Baiklah, jika ada hal yang Anda butuhkan, jangan ragu untuk menghubungi saya."
Mr. Ginting akhirnya meninggalkan mobil dan melangkah menuju pintu rumah Yati. Biyan melihat pergi dengan perasaan campur aduk, merasa seperti terjebak dalam situasi yang rumit dan sulit diatasi.
"Aku tidak perlu melihat bagaimana mereka bertemu. Aku tidak sanggup," gumam Biyan masuk ke dalam mobil.
Dalam perjalanan pulang, Biyan merenung tentang kebingungannya dan bagaimana ia harus bergerak maju dalam situasi ini. Dia tahu bahwa keputusan yang dia ambil akan memiliki dampak besar pada dirinya sendiri, Mr. Ginting, dan terutama Yati.
__ADS_1
Dalam hati, dia berusaha mencari jalan terbaik untuk menghadapi masa depan yang penuh tantangan ini.
Setelah Biyan tiba di kamar hotel, ia dengan cepat membaca pesan dari saudara kembarnya yang memberitahunya bahwa ibu mereka tiba-tiba masuk rumah sakit dan situasinya tidak stabil.
"Mama ..."
Kepedihan dan kekhawatiran memenuhi hati Biyan, karena ia sangat dekat dengan mamanya, meskipun tidak diperlihatkan didepan orang lain. Tanpa ragu, ia tahu bahwa ia harus segera pulang ke Jakarta untuk mendukung keluarganya dengan menemui mamanya.
Namun, pikirannya terbagi. Di satu sisi, dia merasa bertanggung jawab untuk menjalankan tugasnya terhadap Yati dan memberikan penjelasan pada Mr. Ginting. Di sisi lain, rasa kepedulian dan cinta pada keluarganya membuatnya merasa terdesak untuk pulang segera.
"Ah, aku harus menghubungi Mr Ginting terlebih dahulu!"
Setelah beberapa pertimbangan, Biyan menyadari bahwa ia tidak bisa menunda perjalanan ke Jakarta. Dengan hati yang berat, ia mengambil keputusan untuk memberitahu Mr. Ginting tentang situasi darurat yang dia hadapi.
Takut menganggu, Biyan memilih untuk mengirim pesan dari pada menghubungi secara langsung pada Mr Ginting.
..."Maaf, Mr. Ginting, sesuatu telah terjadi dengan keluargaku di Jakarta. Ibu saya tiba-tiba masuk rumah sakit dalam kondisi kritis. Saya perlu pulang segera."...
Setelah mengirim pesan tersebut, Biyan merasa campur aduk. Ia khawatir dengan tanggapan Mr. Ginting, tetapi juga merasa bahwa ini adalah keputusan yang benar untuk keluarganya.
"Semoga Mr Ginting memahami situasi ku yang sekarang," gumamnya sambil merapatkan bibir.
Sambil menunggu balasan, Biyan merenung tentang bagaimana ia bisa menyeimbangkan tanggung jawab profesional, perasaannya terhadap Yati, dan kebutuhan keluarganya. Ia merasa bahwa masa depan yang penuh tantangan ini membutuhkan kebijaksanaan dan tekad yang kuat untuk menghadapinya dengan kepala tegak.
***
"Mr ... Mr Ginting?"
"Yes, i m. Mis Yeti."
Di rumah, Yati terkejut dengan kedatangan Mr Ginting yang tiba-tiba. Ia tidak pernah berpikir bahwa Mr Ginting akan menemukannya di tempat yang jauh dari daerahnya!
"Mis Yeti, ada sesuatu yang ingin aku sampaikan dengan jujur. Aku merasa ini adalah waktu yang tepat untuk mengatakannya," kata Mr Ginting dengan wajah tegas.
Tapi itu hanya terlihat dari luar. Sebenarnya, di dalam hati Mr Ginting sangatlah gugup. Ia seperti tidak bisa mengatakan kalimat yang lebih baik daripada yang bisa dikeluarkan.
__ADS_1
Yati merasa tegang, mendengarkan dengan hati yang berdebar-debar. Dia merasa ada hal yang besar akan diungkapkan Mr. Ginting.
"Mis Yeti, aku menyadari bahwa ada sejarah di antara kita dan aku tahu kita pernah terpisah untuk beberapa alasan. Tapi, aku juga merasa bahwa perasaanku terhadapmu tidak pernah benar-benar hilang. Aku ingin tahu, apa kamu juga masih merasa seperti dulu?" tanya Mr Ginting pada akhirnya.
Yati terkejut mendengar perkataan Mr Ginting yang panjang lebar, mengenai hubungan mereka yang rumit.
Wanita itu tidak bisa berbicara dengan lancar untuk memberikan jawaban. Lidahnya terasa kelu, tidak bisa digerakkan.
"Mr ... aku ... kita ini__"
"Mis Yeti, aku ingin kita memberikan peluang kedua pada hubungan kita. Aku merasa telah membuang-buang waktu yang lama, dan aku tidak ingin lagi menyia-nyiakan kesempatan ini. Aku ingin menjalin hubungan denganmu lagi secara serius, seperti yang pernah kita lakukan dulu. Dan ini benar-benar sebuah hubungan yang sesungguhnya."
Yati merasa terpana dan bingung. Dia tidak pernah berpikir bahwa Mr. Ginting akan mengungkapkan perasaan sejauh ini. Di satu sisi, dia merasa terharu dan teringat pada masa lalu yang pernah mereka bagi bersama. Namun, di sisi lain, dia juga tahu bahwa ada banyak hal yang harus dipertimbangkan.
"Mr. Ginting, aku ... aku juga menghargai perasaanmu. T-api kita harus memikirkan banyak hal sebelum mengambil keputusan seperti ini. Kita perlu bicara tentang masa lalu, perubahan yang telah terjadi, dan apakah kita benar-benar siap untuk melangkah ke depan." Yati tidak ingin gegabah.
"Aku paham, Mis Yeti. A-ku ... aku tahu ini tidak mudah dan ada banyak yang harus kita bicarakan. T-api, aku ingin kita melakukannya, karena aku merasa bahwa kita punya perasaan dan kesempatan untuk menjalani hubungan yang lebih baik."
Mr. Ginting masih berusaha meyakinkan Yati, tentang bagaimana dengan perasaannya yang sesungguhnya.
Yati tersenyum lembut, tapi dengan hari yang tidak karuan. Ia bingung akan waktu yang tiba-tiba seperti ini, apalagi kemarin, Biyan juga melakukan yang sama seperti ini.
"A-ku ... aku menghargai tawaranmu, Mr. Ginting. Tapi, sebaiknya kita memberi waktu pada diri kita sendiri untuk berpikir dan berbicara. Ini adalah keputusan besar yang tidak boleh diambil begitu saja."
"Tentu, Mis Yeti. Aku akan menghormati keputusanmu. Aku tidak ingin memaksamu atau merasa terburu-buru. Apapun yang kamu pilih, aku akan menghormatinya."
Mr. Ginting mengangguk setuju dengan pendapat Yati. Dia memaklumi keterkejutan wanita didepannya ini.
Percakapan itu mengakhiri kejutan besar, membuat keduanya merenung tentang masa depan yang tak terduga. Kecanggungan masih ada, tetapi juga ada tanda-tanda kemungkinan baru yang muncul di hadapan mereka.
Dalam perjalanan yang belum pasti, Yati dan Mr. Ginting merasa bahwa ini adalah awal dari banyak pertimbangan dan keputusan yang harus diambil.
"Benar ini rumahnya? Tapi, sesuai dengan informasi memang ini alamatnya."
Di luar rumah Yati, Alisa berdiri dengan perasaan tegang dan niat yang bulat. Dia sengaja datang untuk menggagalkan rencana Mr. Ginting untuk mendapatkan Yati kembali. Hatinya penuh dengan kecemburuan dan ketidakpercayaan terhadap perasaan Mr. Ginting terhadap Yati.
__ADS_1