
"Selamat sore, Tuan Wasito. Kami sangat mengutuk dan juga prihatin atas kebakaran di ruko Anda. Kami tahu Anda memiliki beberapa saingan dalam bisnis. Apakah Anda memiliki pandangan, kira-kira siapa yang mungkin ingin merusak bisnis Anda?"
Petugas kepolisian datang, bertanya pada tuan wasito, mengingat penyelidikan mereka tidak menemukan hasil yang maksimal.
"Selamat sore juga, Pak. Saya, Yati. Saya, akan mewakili ayah saya karena beliau tidak bisa berbicara dengan lancar."
Yati, memperkenalkan dirinya sebagai anak dari Tuan Wasito. Mewakili ayahnya dalam menangani semua bisnis yang dimiliki Tuan Wasito, juga dengan kasus kebakaran ruko yang terjadi dua hari kemarin.
"Oh, baiklah. Kami, berdoa semoga Tuan Wasito cepat kembali sehat dan pulih seperti sedia kala."
Terima kasih, Pak."
Di samping Yati, Tuan Wasito duduk dengan tersenyum tipis, menganggukkan kepalanya meskipun hanya samar.
Akhirnya, petugas kepolisian kembali bertanya tentang kecurigaan Yati maupun Tuan wasito, seandainya mereka memiliki beberapa nama yang bisa mereka curigai atas kasus yang mereka tangani.
"Maaf, kami benar-benar tidak memiliki bukti konkret, apalagi kami juga pada saat kejadian sedang berada di Bogor." Yati, berikan keterangan sesuai dengan faktanya.
"Oh, jadi saat itu Anda bersama Tuan Wasito tidak berada di rumah?" tanya petugas kepolisian.
"Ya," jawab Yati pendek.
Tuan Wasito, ikut menggangguk. Pria tua itu membenarkan perkataan anaknya dengan wajah tenang.
"Kami memahami situasinya, Tuan Wasito, Mbak Yati. Apakah Anda pernah memiliki ancaman atau pengalaman yang mencurigakan dalam beberapa waktu terakhir?" tanya petugas kepolisian, lagi.
"Saya pribadi tidak menerima ancaman apa pun," jawab Yati cepat.
Wanita itu memang tidak pernah menerima pesan ancaman lewat ponsel ataupun media sosial. Namun, Yati sadar jika ada beberapa kemungkinan ini terkait dengan masa lalunya yang rumit kemarin-kemarin.
Tapi Yati maupun Tuan Wasito, hanya diam dan tidak membicarakan hal yang tidak seharusnya diketahui oleh publik maupun pihak kepolisian.
__ADS_1
Mereka berpikir bahwa urusan Yati dengan beberapa pria masa lalunya, tidak ada kaitanya dengan kasus ini.
"Sayangnya, tidak ada saksi mata yang melihat langsung kebakaran tersebut. Namun, ada beberapa kamera pengawas di sekitar lokasi. Mungkin bisa membantu?" tanya Yati, meminta penjelasan tentang penyelidikan mereka.
Meskipun Yati sudah tahu, jika CCTV yang berada di rukonya sudah rusak, tapi kemungkinan yang berada di jalan atau tempat lain bisa menjadi acuan untuk penyelidikan.
"Itu pasti akan membantu. Kami akan menggali lebih dalam ke dalam rekaman cctv yang ada disekitar ruko. Kami akan memberikan yang terbaik untuk menyelesaikan kasus ini. Terima kasih atas kerjasamanya, Tuan Wasito, Mbak Yati."
"Terima kasih, Pak. Kami berharap kasus ini bisa cepat terpecahkan dan keamanan kami bisa pulih kembali."
Akhirnya, petugas kepolisian pamit. Mereka bersalaman, dan petugas kepolisian meninggalkan rumah Tuan Wasito dengan beberapa keterangan yang sudah didapatkan.
"Ayah, Yati masih tidak bisa percaya bahwa ruko kita terbakar beberapa hari yang lalu. Ini benar-benar mengerikan."
Tuan Wasito mengangguk.
"Ya, Nduk. I-ni a-dalah sit-tuasi y-ang sul-liitt. K-ita, k-ita h-arus te-ttaaap kuat dan ber-rusaha meng-atasi semua i-ni."
Wanita itu juga mencurigai hal yang dicurigai polisi, jika ada saingan bisnis, tetapi polisi belum memiliki bukti yang cukup untuk menyalahkan siapa pun. Jadi mereka harus bersabar dan biarkan pihak kepolisian menyelidiki lebih lanjut.
****
"Semua sudah sesuai dengan rencana, Mr."
"Hahaha ... Bagus sekali! Rencana ini berhasil membuat bisnis Tuan Wasito hancur. Mis Yeti pasti akan sangat terganggu, dan itulah saat yang tepat untuk menawarkan tawaranku kembali!"
Di lain pihak, di tempat yang berbeda, seseorang sedang tertawa terbahak-bahak melihat laporan yang diterimanya dari sang asisten. Orang itu berpikir bahwa, dengan kejatuhan bisnis Tuan Wasito, maka Yati akan hidup sengsara dan tidak betah karena kekurangan uang sehingga menerima tawarannya.
Orang itu pun merenung sejenak, merencanakan langkah selanjutnya untuk mendekati Yati dalam situasi yang lebih rumit dari sebelumnya.
"Membakar ruko milik Tuan Wasito, hanya awal saja. Saya ingin membuat rencana yang jauh lebih besar, yang akan meruntuhkan segalanya. Ini adalah saat yang tepat untuk menjalankan rencana besar saya dan mengambil alih seluruh bisnis Wasito secara perlahan-lahan. Mis Yeti, tidak akan tahu apa yang akan menimpanya."
__ADS_1
Orang itu justru ingin membuat rencana yang jauh lebih besar dibandingkan hanya membakar ruko milik Tuan Wasito!
Semua rencana yang disusun, begitu rapi sehingga tidak ada orang yang akan mencurigainya
"Semua sudah berjalan dengan baik. Semua detail telah dirancang dengan sangat hati-hati, dan tidak ada yang akan mencurigainya. Saya akan terus bergerak di balik layar, mengawasi setiap langkah mereka, sementara rencana besar ini berjalan. Mereka tidak akan pernah tahu apa yang menghantui mereka."
Orang itu berkata dengan senyum puasnya, menghiasi wajahnya yang seperti tidak pernah menua.
"Tapi Mr, kita tidak bisa melakukannya secara terus-menerus apalagi jarak kita sangat jauh dari daerah mereka."
"Tidak! Itu sangat mudah, dengan beberapa orang kepercayaan yang memantau di sana!"
Orang itu, justru membantah nasehat yang diberikan oleh asistennya. Sepertinya ambisi besar, telah membuatnya tidak mau menerima nasihat maupun saran dari orang lain, meskipun orang itu adalah asisten yang sangat ia percaya.
"Hiroshi. Lakukan sesuai dengan yang aku harapkan!"
"Baik, Mr Akihiko."
Hiroshi, sang asisten, tidak bisa membantah ataupun menolak lagi kecuali "mengiyakan" semua permintaan dari sang Bos.
Setelah sang asisten keluar dari ruangannya, Mr Akihiko tersenyum tipis dengan seringai liciknya. Ternyata, semua yang menimpa Tuan Wasito dengan Yati adalah rencana dan ulah dari Mr Akihiko!
Seperti yang pernah dikatakan oleh Rina, jika Mr Akihiko, tidak mungkin melepaskan dengan begitu mudah anak-anak yang pernah membuatnya beruntung. Apalagi ini Yati, yang dikenal sebagai Mis Yeti.
"Kira lihat, Mis Yeti. Seberapa kuat dan tegar kamu mengahadapi keadaan yang sangat menakutkan dan menyedihkan, yaitu keadaan dengan kemiskinan."
Mr Akihiko bergumam sendiri, berpikir bahwa Yati dulu mau menerima menjadi "Gheisha", juga karena keadaannya yang miskin.
Itulah sebabnya, Mr Akihiko berpikir bahwa kekayaan Tuan Wasito adalah miliknya Yati selama kerja dengannya. Jadi ia merasa berhak untuk menghancurkan atau pun tidak, atas kekayaan yang dimiliki oleh Yati.
Pria Jepang itu tidak tahu, jika Yati pernah mengalami kebangkrutan, karena kebakaran toko pakaiannya. Apalagi, warung makan yang ia kelola juga bangkrut setelah kematian Mbak Inah.
__ADS_1
"Aku, akan membuatnya tidak bisa lepas dari tawaranku!"