
Seminggu sudah berlalu, pasca Yati mengetahui semua tentang dirinya, Bros Bunga, dan sang Kakek, dari Mr Andre.
Tapi Yati juga belum menemukan keputusan yang tepat, untuk dia ambil dari pernikahan kontraknya dengan Mr Ginting.
Yati ingin membicarakan tentang hal ini pada sang Kakek, atau dia harus menunggu hingga rencana yang sudah disusun oleh sang Kakek untuknya berjalan. Padahal dia sendiri tidak tahu, apa rencana untuknya itu.
Besok adalah waktunya pembacaan hasil tes DNA, yang Yati lakukan saat berada di Singapura kemarin, dengan wanita-nya sang Kakek. Dan untuk itu, sang Kakek mengundangnya untuk datang ke rumahnya.
Mr Ginting tidak tahu, jika kakeknya selama ini membuat rencana sendiri untuk istrinya. Dia juga tidak tahu, jika istrinya dari kemarin-kemarin, pergi bersama dengan sang Kakek ke Singapura. Dia hanya tahu bahwa, istrinya itu pergi ke salon atau sewaktu dia ke Eropa, istrinya berada di kamar kostnya.
Entah apa yang akan terjadi nanti, jika Mr Ginting sampai mengetahui semuanya itu.
Yang jelas, saat ini Yati hanya ingin tahu tentang kebenaran yang sesungguhnya, pada dirinya dan wanita-nya sang Kakek.
Itulah sebabnya, dia meminta ijin pada suaminya, Mr Ginting, dengan alasan untuk pergi ke salon. Padahal sebenarnya itu hanya alasan Yati, agar bisa datang ke rumah sang Kakek. Dia ingin tahu hasil dari tes DNA kemarin.
Pada saat Yati datang ke rumah, sang Kakek menyambutnya seperti biasa. Dia memeluk Yati, sama seperti dia sedang memeluk cucunya sendiri.
"Duduk Kiara," kata sang Kakek, setelah melepaskan pelukannya.
Saat ini, mereka berdua ada di dalam ruangan kerja sang Kakek, yang dilengkapi dengan layar monitor yang cukup besar, untuk melakukan pembicaraan dengan cara virtual.
Setelah berbasa-basi sebentar, sang Kakek melakukan panggilan dengan dokter di rumah sakit Singapura sana. Dan tak lama kemudian, layar monitor menampilkan sosok dokter, yang bertanggung jawab atas segala sesuatu pada tes DNA-nya kemarin.
Dari hasil tes tersebut, dinyatakan bahwa, dirinya, Yati, 95% ada kesamaan dengan wanita-nya sang Kakek. Jadi, wanita tersebut adalah ibu kandung dari Yati sendiri.
Mendengar semua itu, Yati terisak-isak sendiri. Dia menangis karena merasa sedih, bahagia dan bersyukur karena telah menemukan ibu kandungnya, yang selama ini tidak dia ketahui keberadaannya.
__ADS_1
Setelah panggilan virtual tersebut usai, Yati menatap ke arah sang Kakek. Dia berkata dengan penuh harap, "Kek. Bolehkah Kiara meminta sesuatu pada Kakek?"
Sang Kakek terdiam sejenak, kemudian mengangguk mengiyakan.
"Bolehkah Kiara meminta ibu. Maksud Kiara, ibu di ajak pulang ke Indonesia," kata Yati, menyampaikan keinginannya untuk membawa ibunya pulang ke Indonesia saja.
"Kenapa? Dia tidak sehat. Dan Ginting tidak tahu apa-apa tentang ibumu."
Jawaban yang diberikan oleh sang Kakek ini, memberikan penjelasan pada Yati, jika sebenarnya sang Kakek tidak mengijinkan dirinya untuk membawa ibunya pulang ke Indonesia.
"Tapi, Kiara ingin merawat ibu Kiara Kek," ujar Yati memberikan alasan.
"Tapi, bagaimana dengan pernikahanmu bersama dengan Ginting nanti? Dia tidak tahu apa-apa tentang semua yang sudah kita lakukan ini?" tanya sang Kakek yang terlihat bingung.
Clek!
Pintu ruang kerja sang Kakek terbuka, tanpa ada orang yang mengetuk terlebih dahulu.
Suara tepuk tangan dari orang yang baru saja membuka pintu, terdengar oleh Yati dan juga sang Kakek.
"Hebat. Kalian berdua hebat! Artis Reza Rahadian dan Dian Sastro saja kalah dengan akting kalian berdua!"
Suara amarah yang ditahan oleh Mr Ginting, terdengar jelas di telinga Yati. Dia bingung dengan perkataan suaminya itu. Tapi pada saat Yati mau berbicara, Mr Ginting mengangkat tangan kanannya sendiri, meminta pada Yati untuk tetap diam dan tidak berkata apa-apa, untuk membela diri.
"Aku pikir, ijin ke salon, tidur di kost memang benar adanya. Tapi ternyata, Aku salah besar! Apa karena Aku tidak pengalaman, dibanding dengan Kakek? Kenapa Kamu lakukan semua ini?" Mr Ginting, bertanya pada Yati, dengan amarahnya yang tidak bisa dia sembunyikan.
Yati, yang dalam keadaan bingung, karena tidak tahu apa-apa dengan rencana sang Kakek, belum memahami situasi yang sedang dia hadapi saat ini.
__ADS_1
Padahal sebenarnya, semua ini sudah direncanakan oleh sang Kakek, untuk menghancurkan hubungannya dengan cucunya, suaminya Yati. Mr Ginting.
Jadi, sang Kakek menyuruh seseorang, untuk membuat video, yang memperlihatkan keadaan istrinya, Kiara dengan sang Kakek, yang sering bersama-sama, tanpa adanya Mr Ginting diantara mereka berdua. Dan video tersebut, dikirimkan ke handphone milik Mr Ginting, sehingga dia marah karena cemburu dengan sang Kakek, yang dari kemarin-kemarin, membuat alasan untuk bisa mendapatkan perhatian dari istrinya itu.
"Mulai sekarang, Kamu sudah bukan lagi istriku. Kamu bisa bebas dari ikatan pernikahan ini. Dan Kakek, Aku tidak bisa memaafkan kelakuanmu ini. Apa tidak ada wanita lain, yang bisa Kakek ajak untuk bersenang-senang? Ginting sungguh menyesal dan kecewa dengan Kakek!"
Setelah mengatakan semua itu, Mr Ginting memutar tubuhnya, untuk pergi dari ruangan Kakeknya. Dia tidak memberikan kesempatan kepada Yati, ataupun kakeknya, untuk menjelaskan tentang kesalahpahaman yang dia pikir jika itu sebuah perselingkuhan.
Setelah kepergian Mr Ginting yang penuh dengan amarah, Yati terdiam sejenak. Kini dia berpikir, jika semua ini memang sudah direncanakan oleh sang Kakek untuknya. Mengusir Yati dari kehidupan cucunya, meskipun dia harus kehilangan cucunya juga.
"Jadi, ini adalah rencana Kakek?" tanya Yati dengan mata berkaca-kaca. Ada rasa kecewa yang datang, karena harus berpisah dengan Mr Ginting, dan itu karena kesalahpahaman yang tidak benar sama sekali.
Tapi Yati tidak bisa melakukan apa-apa. Mr Ginting sudah terlanjur marah. Sang Kakek juga tidak mau memberikan penjelasan apapun pada cucunya sendiri.
Sang Kakek hanya bisa diam dan tidak menjawab pertanyaan dari Yati. Wajahnya tampak dingin dan tidak seperti biasanya.
"Baiklah. Kiara akan pergi dari rumah ini. Dari rumah cucu Kakek dan dari kehidupannya. Kiara berharap, hubungan Kakek dan Mr Ginting tetap baik-baik saja, meskipun tanpa ada Kiara lagi. Dan kesalahpahaman ini, bisa selesai dalam waktu dekat. Kiara minta tolong pada Kakek untuk yang terakhir kalinya. Tolong, bawa pulang ibu ke Indonesia. Biar Kiara yang merawatnya. Kakek bisa bebas dan tidak perlu merawatnya lagi. Kiara tunggu dalam waktu satu minggu. Jika tidak, Kiara akan bilang semua kebenaran yang selama ini Kakek sembunyikan, pada Mr Ginting."
Dengan bicara banyak pada sang Kakek, Yati berharap agar bisa mendapatkan kesempatan untuk membawa ibunya pulang, dan lepas dari ikatan dan pengawasan sang Kakek.
Yati berharap, kedepannya nanti, ibunya akan sembuh dan bisa menjalani hari-harinya dengan baik dan normal layaknya seorang manusia biasa.
Dan untuk urusannya dengan Mr Ginting, dia akan berusaha untuk menyelesaikan semuanya dengan baik. Meskipun Yati tidak yakin, jika yang dia lakukan nanti berhasil, dan mampu membuat Mr Ginting melepaskan dirinya, tanpa harus melakukan berbagai macam persyaratan, karena masa kontrak kerja sama pernikahan mereka, belum selesai. Sedangkan masalah ini, yang tertuduh sebagai pihak yang bersalah atas kejadian tersebut adalah dirinya sendiri.
Jika kesalahan ada di pihak Mr Ginting, tentu saja yang diuntungkan dengan pembatalan pernikahan mereka adalah dirinya. Karena masih bisa mendapat imbalan penuh, meskipun baru beberapa bulan saja.
Tapi jika dia sendiri yang bersalah, dia juga yang harus menanggung semua konsekuensi yang harus diterima, karena sudah menjadi kesepakatan bersama, dalam perjanjian yang telah mereka tanda tangani bersama-sama.
__ADS_1