
Alisa, yang dikenal sebagai seorang model dan pengusaha mode ternama, memiliki kecerdasan yang luar biasa dan daya tarik yang memukau. Keindahannya begitu memikat hingga seorang kakek terpikat dan mengajukan permintaan tak terduga.
Kakek tua itu menginginkan Alisa menjadi cucu menantunya! Menjadi istri dari cucu yang ia sayangi.
Sang gadis yang ambisius dan perlu "status", terpesona oleh kekayaan dan pengaruh kekuasaan sang kakek. Alisa tanpa ragu-ragu menerima tawaran tersebut.
Tak perlu lama, ternyata sang cucu begitu penurut. Apalagi sang kakek telah meninggal dunia dan memberi wasiat terakhir untuknya segera menikahi Alisa.
'Akhirnya aku bisa menjadi seperti sekarang,' kata hati Alisa waktu itu.
Pesta meriah, kebahagiaan dan perbincangan tentang masa depan cerah membuatnya melambung tinggi ke atas langit!
Namun, di balik tampilan kebahagiaan yang diperlihatkan di muka umum, kenyataan di dalam rumah tangga mereka jauh dari kata harmonis.
Alisa menemukan bahwa kesenangan materi dan kedudukan tak bisa menggantikan kebahagiaan dan kompatibilitas emosional. Ia merasa seperti terperangkap dalam peran yang tidak sesuai dengannya.
Sebagai bentuk pelarian dari kenyataan yang pahit, Alisa akhirnya menjadikan kesibukan sebagai penyelamatnya. Ia meraih keberhasilan lebih lanjut dalam kariernya, terbang dari satu sesi pemotretan ke sesi lainnya, meluncurkan koleksi mode yang revolusioner, dan bahkan menggelar acara amal yang menginspirasi banyak orang.
Melalui aktivitas-aktivitas ini, Alisa merasa hidupnya memiliki arti dan tujuan yang lebih dalam.
Sementara itu, hubungan Alisa dengan cucu sang kakek semakin terasa seperti hubungan kerja daripada pernikahan. Mereka tetap menjaga penampilan depan umum yang mencerminkan kedekatan, namun di balik pintu kamar masing-masing, keduanya semakin menjauh.
Bahkan, akhirnya mereka memutuskan untuk tidur di kamar yang terpisah, mengisyaratkan pergeseran yang jelas dalam hubungan mereka.
Alisa sering kali merenung tentang arti sejati kebahagiaan dan makna cinta sejati. Meskipun dihadapkan pada kekayaan dan kemewahan, ia menyadari bahwa hal-hal itu tidak bisa membeli kebahagiaan sejati.
Tapi keegoisan akan kemewahan dan kenyamanan membuatnya tidak peduli dengan apapun yang dirasakannya.
Kekayaan dan kekuasaan miliknya, sekarang. Dan itu jika ia masih menjadi istri seorang Ginting yang terhormat!
***
Setahun yang lalu.
"Pesta tadi malam cukup menghibur, bukan?" tanya Alisa, dengan senyum kaku melihat ke arah suaminya.
"Ya, cukup menyenangkan."
Suaminya hanya mengangguk dengan jawaban singkat, tidak memberikan ekspresi apapun karena wajahnya terlihat datar.
Alisa mencoba memulai percakapan lagi, supaya suasana tidak terkesan canggung.
"A-pa rencanamu untuk akhir pekan ini?" tanyanya lagi.
__ADS_1
Wanitanya itu hanya berharap agar sang suami memberikan usulan yang lebih baik sehingga hubungan mereka menjadi lebih hangat.
"Mungkin hanya akan bekerja di proyek pribadi," jawab suaminya tetap datar.
Wanita itu menghela nafas panjang, berusaha menenangkan diri dengan menghangatkan suasana.
"Aku mendengar tentang peluncuran proyek perusahaan barumu. Bagaimana persiapannya?" tanyanya peduli.
Sayangnya, sang suami seolah tidak terlalu tertarik, dengan memberikan jawaban yang tetap datar seperti raut wajahnya.
"Sudah hampir selesai. Aku akan memastikan semuanya berjalan lancar."
"Kau tahu, aku berpikir kita seharusnya menghabiskan lebih banyak waktu bersama. Mungkin bisa pergi ke tempat yang berbeda, menjelajah dan merasakan hal-hal baru."
Alisa mencoba mencairkan suasana, berharap agar suaminya mengerti maksudnya kali ini.
Sebenarnya, ia sudah berusaha bersikap lebih lembut, sabar dan bijak menghadapi sikap suaminya. Hal ini sudah terjadi sejak awal mereka menikah, jadi tidak perlu terkejut.
Bahkan, saat baru bertemu untuk Berkenalan saja, sang suami yang waktu itu baru menjadi "calon" memang sudah dingin. Mengartikan bahwa ia sangat terpaksa.
"Sepertinya kamu cukup sibuk dengan jadwalmu sendiri, benarkan?" tanya sang suami dengan mengangkat alis.
Wanita itu merasa tertantang, dengan pertanyaan yang mengandung sindiran tersebut. Ia sadar jika jarang berada di rumah, sebab menyibukkan diri dengan pekerjaannya.
Terdengar hembusan nafas dingin, yang sama datarnya dengan raut wajah tersebut.
Hingga akhirnya, suara sang suami membuatnya mencibir keadaan mereka berdua selama ini.
"Aku pikir kita sudah cukup mendukung satu sama lain, setidaknya ... di depan publik.,"
"Hehh, kenapa? Itu tidak seperti yang kulihat dalam hubungan kita."
Wanita itu bertanya, dengan nada getir. Tapi ia sadar jika hubungan mereka ini tidak normal. Tidak bisa sana seperti pasangan suami istri lainnya', dengan saling mendukung dalam cuaca cinta.
Sayangnya, wajah sang suami tetao terjaga, memiliki ketenangan yang kuat biasa. Seakan-akan apapun yang terjadi pada mereka tidak berpengaruh dengan apapun.
"Mungkin kamu punya harapan yang terlalu tinggi. Kita berdua tahu mengapa kita ada dalam pernikahan ini," ungkap sang suami, tidak memikirkan perasaan wanita itu
Wanita itu membuang nafas kasar, dengan tersenyum sumbang.
"Aku tidak akan menjalani hidupku hanya untuk memenuhi ekspektasi orang lain. Aku ingin lebih dari sekadar penampilan belaka," ucapnya tegas.
"Tentu, tentu saja. Kau punya pilihanmu sendiri."
__ADS_1
Sang suami menaikkan satu alisnya, dengan suara yang datar tanpa emosi.
Dengan mata terpejam, wanita itu berbicara dengan segenap perasaan yang entah bagaimana cara membuangnya.
"Aku ingin hidup yang lebih bermakna, bahkan jika itu berarti melangkah keluar dari bayanganmu."
Mendengar pernyataan wanita itu, sang suami justru menyahuti dengan dingin. "Seperti itu yang kau inginkan. Aku tidak akan menghalangi langkah dan keinginanmu."
Dan dari jawaban ini, wanita itu mengambil napas dalam-dalam kemudian mengeluarkannya perlahan-lahan.
"Baiklah, kalau begitu. Kita berdua perlu merenungkan apa yang sebenarnya kita inginkan dari hidup ini, baru kita bisa bicara lagi."
Setelahnya, wanita itu berdiri kemudian berjalan menuju ke arah kamar mandi.
Pria itu hanya mendengus dingin, membuang arah pandang matanya ke tempat lain. Ia tahu, jika sang istri sebenarnya tidak betah berada dalam hubungan yang hanya sekedar "sandiwara" saja.
Beberapa minggu kemudian.
Alisa mendekati suaminya, yang saat ini sedang berada di ruang kerjanya seperti biasa.
Tapi kali ini tampak berbeda, ada aura tak biasa yang membuatnya seperti lebih tegang dari biasanya.
"A-ku, aku harus berbicara denganmu tentang sesuatu yang penting."
Tik tik tik
Diam. Pria yang duduk di kursi kerjanya, hanya melihatnya sekilas kemudian mengalihkan atensinya kembali pada kertas-kertas di atas meja yang memang sedari tadi diperiksa.
"Kau ... kau masih mendengar apa kataku, bukan?" tanyanya dengan menuntut sebuah jawaban.
"Lanjutkan," sahut pria itu dingin.
Perhatian dah atensi sang suami, kini telah teralihkan padanya. Tidak lagi melihat ke arah kertas-kertas yang ada di depannya.
"Ginting. A-ku merasa kita tidak bisa terus hidup seperti ini. Perasaan kita berdua terjebak dalam rutinitas yang hampa. Kita memang sudah bersama karena situasi tertentu, tapi aku merasa kita perlu mempertimbangkan kebahagiaan masing-masing."
Pada awalnya, suara wanita itu tersendat, seakan-akan gugup dan tidak bisa mengatasi keadaannya sendiri. Tapi tak lama setelah itu, suara wanita itu lancar dan sukses menyatakan apa yang ingin disampaikan.
"Apa yang ingin kau katakan?!"
Tajam!
Suara dan sorot mata suaminya sangat tajam. Ini benar-benar tidak nyaman.
__ADS_1