Miss Yeti Bukan PSK Biasa

Miss Yeti Bukan PSK Biasa
Berduka


__ADS_3

Beberapa hari berlalu, dan kondisi Tuan Wasito mulai membaik secara bertahap berkat perawatan medis yang teliti. Dia merasa bersyukur atas dukungan dan perawatan yang ia terima di Singapura.


"A-ku ... a-ku benar-benar ber-run-tung memiliki k-alian di s-ini bersamaku. Ter-ima k-asih atas segala ban-tuan dan cinta k-alian."


"Ayah, kami akan selalu ada di sini untukmu."


Tuan Wasito, dengan perlahan-lahan menganggukkan kepalanya. Ia tahu bahwa anak dan calon menantunya, juga Mr Andre, telah setia menemani dan merawatnya.


Masa perawatan di rumah sakit Singapura menjadi waktu yang penuh harap dengan doa-doa akan kesembuhannya. Semua orang berdoa agar Tuan Wasito segera pulih sepenuhnya dan mereka dapat melanjutkan perjalanan hidup dengan penuh kebahagiaan dan cinta.


Sayangnya, itu hanya beberapa hari. Sekarang, saat Yati sendirian menunggu sang ayah, sebab Biyan dan Mr Andre baru saja kembali ke hotel untuk beristirahat dan mencari makanan untuk mereka, kondisi Tuan Wasito justru memburuk.


"A-yah! Ayah?" Yati panik dan segera menekan tombol merah untuk memanggil tim medis.


Tak lama kemudian, dokter dan buah perawat datang ke ruangan untuk memeriksa keadaan Tuan Wasito.


Yati sangat khawatir, sehingga segera menghubungi Biyan dan juga Mr Andre supaya segera datang ke rumah sakit.


Sekarang, Biyan, Yati, Mr Andre dan tim medis bekerja keras untuk memberikan perawatan terbaik, tetapi mereka merasa berat hati menyaksikan keadaannya yang semakin memudar.


"Dok, s-aya ... saya mau bi-bicara dengan ke-keluarga s-aya."


Dengan terbata-bata dan nada suara lemah, Tuan Wasito menyampaikan keinginannya pada dokter yang merawatnya.


"Baik, tunggu sebentar."


Tak lama kemudian, Yati dan Biyan masuk ke dalam ruangan karena permintaan dari tuan mahasiswa sendiri melalui dokter.


"Bi-yan, Y-ati ... a-yah ing-ngin b-icara dengan k-alian."


"Tentu, Ayah. Apa yang ingin ayah sampaikan?" tanya Biyan, mewakili Yati yang sudah berderai air mata.


Tuan Wasito dengan tekadnya, mengumpulkan kekuatan untuk berbicara dengan Biyan dan Yati, mengetahui bahwa saat-saat terakhirnya semakin mendekat.


"J-ika ... jika a-yah sampai meninggal d-unia, tolong ... tolong makamkan a-yah di In-Indonesia. A-yah ingin selalu dekat dengan k-alian."

__ADS_1


Kata-katanya yang terdengar lemah, namun penuh dengan arti yang mendalam, membuat Biyan dan Yati mendengarkan dengan hati yang penuh keharuan, cinta, dan mengangguk. Mereka berjanji untuk memenuhi keinginan terakhir Tuan Wasito.


"Ayah, kami akan memastikan keinginan ayah terpenuhi. Ayah akan selalu bersama kami di hati, hiks ..."


Tuan Wasito juga memiliki permintaan terakhir yang membuat suasana semakin haru.


"Dan ... ten-tang m-akam ibumu, Y-ati ... a-yah ingin k-amu ... makam itu dibongkar dan ... dibawa p-ulang ke Indonesia. A-yah ingin ibumu juga berada di sampingku di tanah air."


Biyan dan Yati saling pandang, merasakan pentingnya permintaan ini bagi Tuan Wasito. Mereka berjanji untuk melaksanakannya dengan cara yang bisa mereka lakukan.


Dalam momen-momen terakhirnya, Tuan Wasito merasa tenang karena tahu bahwa keinginannya akan dihormati oleh orang-orang yang ia cintai.


"Ter-rima k-asih, Nduk."


Setelah Tuan Wasito mengucapkan keinginannya dengan tenang, suasana di sekitar kamar rumah sakit terasa hening, diisi oleh perasaan campur aduk dari kedukaan dan rasa hormat. Biyan dan Yati saling berpegangan tangan, menangis dalam kesedihan namun juga dengan tekad untuk memenuhi keinginan terakhir sang ayah.


Pria tua itu, menutup matanya dengan damai, menyerahkan dirinya pada takdir dengan keyakinan bahwa dia akan selalu bersama dengan anaknya, bahkan di peraduan setelah kematiannya


Tuan Wasito akhirnya menghembuskan nafas terakhirnya. Biyan dan Yati merasakan kehilangan yang mendalam, namun mereka juga merasa lega karena mereka tahu bahwa Tuan Wasito akan beristirahat dengan tenang di samping ibunya di tanah air, dengan keinginannya.


"Ayah ... Hiks hiks hiks ..."


Biyan, menopang tubuh Yati agar tidak jatuh lantai. Ia merasakan tubuh kekasihnya itu seperti tidak bertulang.


Dengan perlahan-lahan, Biyan membawa Yati untuk duduk, memberikan ruang dan waktu untuk tim medis melakukan tugasnya atas jenazah Tuan Wasito.


"Saya, akan mengatur semuanya."


Mr Andre, sekali lagi menggunakan pengaruh namanya untuk mendapatkan izin membongkar makam ibunya Yati.


Tim medis dan staf rumah sakit bekerja sama dengan keluarga untuk memenuhi keinginan terakhir Tuan Wasito. Makam ibu Yati dibongkar dengan penuh penghormatan, dan sisa-sisanya disiapkan untuk diangkut ke Indonesia.


Pemakaman Tuan Wasito di Indonesia dihadiri oleh keluarga, seluruh anak buahnya dan teman-temannya. Suasana haru campur aduk dengan rasa syukur karena mereka bisa memberikan penghormatan terakhir kepada sosok yang mereka cintai.


Setelah semua selesai, Biyan dan Yati mengunjungi makam ibu Yati, meletakkan sisa-sisa ibunya di samping Tuan Wasito. Mereka merasakan bahwa kini, mereka berdua bersama-sama dengan kedua orang yang mereka cintai di tanah air.

__ADS_1


"Ayah, semoga kamu tenang dan bahagia bersama ibu di sana." Yati, berkata dengan segala harapan selesai berdoa.


"Pasti. Ayah pasti bahagia," ucap Biyan, memberikan kekuatan dan penghiburan.


Di tengah kesedihan, mereka juga merasa adanya kedamaian dan kebersamaan yang menguatkan. Mereka tahu bahwa cinta dan kenangan akan terus hidup dalam hati mereka, menginspirasi mereka untuk melangkah maju.


***


Setelah pemakaman, Biyan dan Yati kembali ke rumah besar Tuan Wasito dengan hati yang berat namun juga penuh dengan rasa hormat dan rasa syukur atas kehidupan yang telah dilalui bersama Tuan Wasito.


Mereka menghabiskan waktu bersama untuk merenungkan kenangan indah bersama Tuan Wasito. Mereka tertawa, menangis, dan saling menguatkan satu sama lain di tengah rasa kehilangan yang mendalam.


"Tuan Wasito adalah sosok yang luar biasa, dan aku bersyukur berikan kesempatan untuk mengenalnya." Biyan, mengungkapkan kekagumannya.


"Iya, Biyan. Dia adalah ayah yang sangat baik dan penuh kasih sayang," sambung Yati, mengenang mendiang ayahnya.


Mereka juga membicarakan tentang keputusan untuk membawa makam ibunya ke Indonesia, yang tentunya tidak mudah. Meskipun sulit, mereka yakin bahwa ini adalah cara terbaik untuk menghormati keinginan terakhir Tuan Wasito.


"Untungnya ada Mr Andre, yang bisa membantu banyak dengan kemudahan."


"Ya, beliau memang orang yang bijaksana."


Drettt Drettt Drettt


Ponsel Biyan bergetar, dan ada nama sang kakak Pertamanya, yang melakukan panggilan.


"Ya, halo kak Aji."


"Kami sudah sampai di rumah. Jika suasana berkabung di Semarang sudah selesai, kamu segera lanjutkan acara lamarannya."


Mendengar perkataan kakaknya, Biyan tersadar dengan rencana lamarannya dengan Yati, yang akhirnya tertunda. Tapi, ia juga tidak mau memaksa Yati dalam keadaan berduka seperti ini.


"Ya, kak. Aku akan membicarakan ini dengan, Yati."


"Ingat Biyan, niat baik harus segera disegerakan. Dan cobaan memang selalu datang menghadang, yang penting kalian harus tetap sabar."

__ADS_1


"Ya kak Aji, terima kasih."


Beberapa minggu berlalu, dan Biyan dan Yati akan kembali ke rencana lamaran dengan hati yang lebih kuat dan tekad untuk melanjutkan hidup. Mereka membawa bersama-sama cinta dan kenangan dari masa lalu, dan mereka tahu bahwa Tuan Wasito akan selalu ada di dalam hati mereka.


__ADS_2