Miss Yeti Bukan PSK Biasa

Miss Yeti Bukan PSK Biasa
Niat Yang Kuat


__ADS_3

Saat pergi dari pertemuan dengan Mr Akihiko di rumah sakit, Rina merasa gelisah dan khawatir. Setiap langkahnya terasa berat, pikirannya terus menerka-nerka kemungkinan dampak dari apa yang baru saja terjadi.


Setiap percakapan yang pernah dia lakukan dengan Mis Yeti tentang Mr Akihiko terasa seperti beban yang semakin berat.


"Apakah aku salah telah berbicara dengan Mis Yeti tentang Mr. Akihiko, waktu itu?" gumam Rina dalam hati, perasaan cemasnya semakin merambat.


Pertemuan tak terduga dengan Yati dan pembicaraan mereka tentang Mr Akihiko terasa seperti rahasia yang menjadi lebih sulit dijaga. Bagaimana jika informasi itu sampai pada Mr. Akihiko dan berujung pada konsekuensi yang tidak diinginkan?


Pikiran tentang anaknya yang sedang dalam proses pemulihan dari sakit membuatnya semakin cemas. Dia tidak ingin situasi ini berdampak negatif pada kehidupan keluarganya.


"Anakku sudah melewati begitu banyak kesulitan selama sakit, dan sekarang aku malah ...," pikirnya, merasa dirinya semakin terjepit dalam situasi yang rumit.


Ketika dia akhirnya tiba di rumah, Rina merenung dalam diam. Dia tidak mau semuanya semakin kacau.


"Aku harus hati-hati dan bijak dalam menghadapinya," ujarnya dalam hati dengan tekad yang kuat.


Wanita itu menyadari bahwa menjaga keamanan keluarganya menjadi prioritas utama, dan dia perlu mengambil langkah-langkah bijaksana untuk menghadapi situasi ini. Meskipun khawatir, dia bertekad untuk melindungi kehidupan yang telah dia bangun sejauh ini.


Setelah merenung sejenak, Rina memutuskan untuk berbicara dengan suaminya tentang situasi yang baru saja dia hadapi. Dia merasa bahwa membicarakan hal ini bersama suaminya mungkin akan membantu mengatasi rasa cemas dan kekhawatirannya.


Rina ingin membagikan beban ini dengan pasangannya dan mencari solusi bersama, agar terasa lebih ringan.


Setelah makan malam bersama keluarga, Rina dan suaminya duduk bersama di ruang keluarga. Dengan rasa hati yang berat, Rina memulai pembicaraan yang menurutnya sangat penting.


"Sayang, ada sesuatu yang ingin aku bicarakan denganmu."


Suaminya mengangguk dan tersenyum, menanggapi perkataan istrinya.


"Tentu, apa itu?" tanya suaminya lembut.


Dengan suara yang lembut namun penuh perasaan, Rina menceritakan pertemuannya dengan Mr. Akihiko dan bagaimana itu terhubung dengan masa lalunya bersama Mis Yeti. Dia juga menceritakan pertemuan yang tak terduga dengan Yati dan perbincangan yang mereka lakukan tentang Mr Akihiko.


Setelah mendengarkan dengan cermat, suaminya merespons dengan beberapa pertimbangan yang ia pikirkan.


"Ini memang situasi yang kompleks dan sulit, sayang. T-api, aku yakin kita bisa menghadapinya bersama."


Rina mengangguk, "Aku hanya khawatir bagaimana ini akan mempengaruhi kita dan anak kita. Terutama mengingat kondisi kesehatan anak kita yang sedang pulih."


Suaminya memegang tangan Rina dengan penuh perhatian, "Kita akan mencari solusi yang terbaik, sayang. Apakah kamu pikir pindah keluar kota masih menjadi opsi?"

__ADS_1


Rina tersenyum lembut, merasa lega bahwa suaminya memahami kekhawatirannya. Dia memang pernah diajak pindah keluar kota, tapi menolak karena berpikir bahwa Jakarta masih tetap menjadi prioritas untuk bidang medis demi kesehatan anaknya.


"Ya, aku berharap kita bisa melanjutkan rencana itu. Ini mungkin saat yang tepat untuk memberi anak kita lingkungan yang lebih tenang dan aman," jawabnya kemudian, setelah berpikir sejenak.


Dengan tulus, suaminya berkata, "Kita akan melihat apa yang bisa kita lakukan. Yang pasti, kita akan menghadapi ini bersama-sama."


Perbincangan mereka membawa rasa kelegaan dan harapan baru bagi Rina. Dia merasa lebih kuat dengan dukungan suaminya di sisinya. Meskipun situasinya rumit, mereka berdua bertekad untuk menemukan jalan keluar yang terbaik untuk keluarga mereka.


Sayangnya, meskipun sudah mendapat dukungan dari suaminya dan merasa telah menemukan jalan keluar, dalam hati Rina masih merasa cemas dan khawatir.


Pikirannya terus terbayang oleh nasib Yati, wanita yang pernah dia temui dan bicarakan dengan Mr Akihiko. Dia khawatir tentang apa yang bisa terjadi pada Yati jika kemarahan atau frustrasi Mr Akihiko meledak.


Setiap kali dia membayangkan konfrontasi yang mungkin terjadi antara Mr. Akihiko dan Yati, hatinya berdebar kencang.


"Apa yang terjadi jika Mr Akihiko melampiaskan kemarahannya pada, Mis Yeti? Dia tidak berhak mendapat masalah karena aku," pikir Rina dengan gelisah.


Rina merasa tidak nyaman dengan rahasia yang tak terduga ini. Dia ingin Yati aman dan bebas dari potensi dampak negatif yang bisa datang dari keputusan untuk membicarakan masalah Mr. Akihiko.


"Apa yang aku bisa lakukan untuk membantu Yati? Bagaimana aku bisa memastikan dia aman?" pikirnya dalam ketidakpastian.


Dia berpikir bahwa kepergian Yati karena ceritanya waktu itu, sehingga wanita itu merasa bersalah.


"Ini semua salahku. Seharusnya aku tidak lagi ikut campur masalah mereka," keluhnya dengan membuang nafas panjang.


Terkadang, rasa bersalah muncul dalam dirinya, merasa bahwa dia takut terlibat dalam masalah ini dan memberikan kontribusi pada situasi yang semakin rumit.


Tapi dia tahu bahwa dia perlu berfokus pada keluarganya dan mengambil langkah-langkah bijak untuk melindungi masa depan mereka. Dalam hati, Rina berdoa agar semuanya bisa berakhir baik, baik bagi keluarganya maupun bagi Yati yang tidak bersalah dalam situasi ini.


"Mis Yeti. Aku harap kamu baik-baik saja, entah dimana pun keberadaanmu saat ini."


***


Di tempat lain, di waktu yang sama.


Dengan langkah mantap dan tekad yang bulat, Mr. Ginting bersiap-siap untuk pergi ke Bogor. Dalam pikirannya, dia memikirkan Yati, wanita yang sudah lama dia cari.


Pikirannya melayang pada kenangan dan harapannya untuk bertemu dengan Mis Yeti nya lagi, setelah sekian lama.


Dia mengenakan mantel dan mengambil tasnya, memastikan bahwa semua yang dia butuhkan telah siap. Mr. Ginting merenung sejenak, merasa bahwa saat ini adalah kesempatan yang lama dia nantikan. Setelah usaha dan pencarian yang berlarut-larut, akhirnya dia merasa dekat dengan jawaban yang dia cari.

__ADS_1


"Sudah tiba waktunya, Mis Yeti."


"Semoga, kamu masih mau menerimaku dengan baik."


Di tempat lain di pikirannya, kekhawatiran dan pertanyaan mungkin juga muncul. Bagaimana pertemuan ini akan berjalan? Apa yang akan Yati katakan padanya? Apakah dia masih mengingatnya?


Semua pertanyaan itu menghantui pikirannya, tetapi semangatnya tetap tak tergoyahkan.


Dengan satu langkah terakhir, Mr. Ginting mengambil kunci mobil dan menuju pintu. Dia tahu bahwa perjalanan ini mungkin akan membawanya pada kejutan-kejutan yang tak terduga, tetapi dia siap menghadapinya.


"Aku akan pergi sendiri, tidak perlu membawa supir. Ada Biyan dan beberapa orang di sana."


Dalam hatinya, dia merasa beruntung bahwa akhirnya dia memiliki kesempatan untuk menemui Yati dan mengakhiri pencarian panjangnya.


Dengan perasaan lega karena telah menyelesaikan pekerjaan dan mengakhiri hubungannya dengan Alisa, Mr. Ginting merasa seperti orang yang akhirnya bebas dari ikatan. Dia merasa memiliki kontrol atas hidupnya dan memiliki kesempatan untuk mengejar kebahagiaannya sendiri.


"Selamat tinggal Alisa, semoga kamu bisa mengejar mimpi-mimpimu tanpa beban."


Dengan tekad yang kuat, Mr. Ginting tahu bahwa inilah saat yang tepat untuk melangkah lebih jauh. Dia ingin mengambil langkah besar dengan penuh keyakinan.


Tidak hanya ingin berhubungan lagi dengan Yati, tetapi juga ingin melamar Yati untuk menjadi istrinya yang sah. Dia tidak ingin lagi menjalin hubungan berdasarkan perjanjian kontrak semata.


Perasaan cinta dan keinginan untuk membangun masa depan bersama Yati semakin kuat dalam diri Mr. Ginting. Dia ingin menunjukkan tekadnya untuk berkomitmen sepenuhnya dan memberikan cinta yang tulus. Mencari restu dan kebahagiaan bersama Yati adalah prioritas utamanya saat ini.


"Ayo Mis Yeti, kita menikah."


"Ah, apakah seperti itu?"


Dengan hati yang penuh semangat, Mr. Ginting mengambil mobil dan memulai perjalanan ke Bogor dengan membayangkan pertemuannya nanti. Dia tidak sabar untuk menemui Yati dan mengungkapkan perasaannya dengan jelas. Ini adalah langkah besar dalam hidupnya, dan dia berharap bahwa Yati akan menerima tawarannya dengan hati terbuka.


Meskipun perjalanan dari Jakarta ke Bogor terasa lama, Mr. Ginting berusaha bersabar. Setiap menit yang berlalu terasa seperti detik yang lambat, tetapi dia mengingat bahwa ini hanya sekecil bagian dari perjalanan hidupnya yang telah dilewati selama lima tahun tanpa Yati.


Dalam keheningan mobilnya, Mr. Ginting merenung tentang semua perjuangan dan waktu yang telah dia habiskan dalam pencarian Yati.


Setiap momen yang dilewatinya selama lima tahun terasa sebagai perjalanan panjang yang penuh tantangan dan harapan. Dan sekarang, dia semakin dekat dengan akhir dari pencariannya.


"Aku harap semua berjalan lancar, dan Biyan dengan orang-orang yang di sana bekerja dengan baik."


Pandangan Mr. Ginting melintasi jendela, mencerminkan pikirannya yang dalam. Perasaannya yang campur aduk, perasaan kehilangan dan rindu, serta perasaan bahagia yang mungkin akan datang. Dia merasa terdorong oleh tekadnya dan ingin melibatkan Yati dalam setiap langkah yang dia ambil dalam hidupnya yang baru.

__ADS_1


Dalam perjalanan yang tampak tidak berkesudahan ini, Mr. Ginting terus berfokus pada tujuannya. Dia tahu bahwa perjuangannya telah membawanya hingga saat ini, dan dia tidak ingin menyerah pada momen ini.


Terlepas dari seberapa lama perjalanan ini terasa, dia tahu bahwa akhirnya akan datang saat dia berdiri di depan Yati dan mengungkapkan perasaannya dengan sepenuh hati.


__ADS_2