Miss Yeti Bukan PSK Biasa

Miss Yeti Bukan PSK Biasa
Menuju Kebahagiaan


__ADS_3

"Maaf, t-api ... aku belum bisa memberikan jawaban sekarang."


Mr Andre dan Biyan, memandang ke arah Yati. Meskipun sudah memperkirakan akan hal ini, tapi keduanya berharap Yati bisa memberikan keputusan secepatnya supaya mereka tidak terombang-ambing dalam harapan.


"Mis Yeti, saya datang sebenarnya bukan meminta padamu untuk kembali padaku. A-ku, cukup tahu diri." Mr Andre, akhirnya angkat bicara.


Tuan Wasito, yang hanya dia menyimak, tampak tersenyum samar saat mendengar perkataan Mr Andre. Pria tua itu, tahu apa yang sebenarnya diinginkan oleh Mr Andre.


"Mr Andre ... yakin?" tanya Yati memastikan.


"Ya, dan saya ke sini untuk menyambung silaturahim dengan Tama. Mengetahui ia sehat, dan bahagia bersamamu aku sudah senang, Mis Yeti."


Senyuman terbit di bibir wanita itu, meskipun ada sedikit perasaan yang mengganjal di dalam hatinya. Tapi, ia juga tahu bahwa ada beban satu berat yang baru saja lepas dari pundaknya.


"Maaf," ucap Yati, menunjukkan wajahnya.


Sekarang, giliran Biyan yang serba salah. Tapi, sebisa mungkin ia berusaha tetap tenang, supaya bisa menyampaikan apa yang ingin Ia sampaikan.


"Maaf, aku baru bisa datang, Mis Yeti. Sewaktu di Bogor kemarin, aku mendapatkan kabar jika mama Cilla sakit, sehingga aku harus kembali ke Jakarta."


Biyan, melanjutkan ceritanya jika sekarang mamanya telah sepuluh hari yang lalu. Ia terpaksa tidak muncul, karena sedang berduka.


Dan sekarang, saat dia sudah mendapatkan restu mamanya sebelum mamanya meninggal, akhirnya dia datang menemui Yati.


"Tante ... Tante Cilla, meninggal dunia?" tanya Yati, yang cukup terkejut dengan berita kematian mamanya Biyan.


"Ya, dan mama tidak lagi mempermasalahkan wanita mana yang akan menjadi istriku, termasuk kamu, Mis Yeti."


Mendengar semua penjelasan Biyan, Yati tersenyum tipis. Tapi, wajahnya langsung sendu begitu mengingat bahwa dia tidak sempat datang ke pemakaman mamanya Biyan.


"Maaf, Biyan. A-ku, aku tidak tahu."


"Tidak apa-apa, Mis Yeti. Aku, tidak mempermasalahkan."

__ADS_1


Mr Andre dan Tuan Wasito, saling pandang melihat bagaimana Yati dan Biyan berinteraksi. Mereka, Pria-pria yang telah memiliki banyak pengalaman hidup, sudah makan asam garam kehidupan sejak lama, sama-sama tersenyum tipis melihat dua pasang mata di hadapan mereka yang memancarkan cinta.


Meskipun pernah dekat dan ingin memiliki Yati, tapi Mr Andre cukup tahu diri. Dia tidak akan merusak hubungan dengan baiknya dengan Tama atau Tuan Wasito, seperti masa lalu mereka.


Kemarin, saat ia datang ke daerah Semarang ini, selain untuk memastikan semuanya baik-baik saja dia memang ingin menemui hati dan memastikan wanita itu mendapatkan kehidupan yang lebih baik.


'Aku ingin menebus kesalahanku di masa lalu, dan melihat Mis Yeti bahagia, aku tentu saja ikut bahagia.'


Begitulah Mr Andre berbicara dalam hati, merasa senang karena Yati mendapatkan pendamping yang bisa diandalkan.


Meskipun tidak mengenal dekat Biyan, setidaknya mister Andri mengetahui keluarga besar dari almarhum Aji Saka, papanya Biyan. Dia juga tidak mau jika Yati kembali bersama Mr Ginting, sebab meskipun sang kakek atau Tuan Besar-nya sudah meninggal dunia, setidaknya wasiat itu tidak boleh dilanggar.


"A-ku ... a-ku sen-nangg, An-andree. A-ku, ba-hagia mel-lhat Y-ati men-nemukaann keb-bahagiaannya."


"Ya, Tama. Dia berhak bahagia. Kita, sudah sama-sama menghancurkan kehidupan ibunya di masa lalu. Jadi, kita harus memastikan kebahagiaannya yang sekarang."


Dua Pria itu, kembali saling pandang dan sama-sama tersenyum. Mungkin, satu sama lain masih memiliki keterikatan sebagai seorang sahabat rekan kerja yang dulu sama-sama memiliki rasa terhadap ibunya Yati. Apalagi secara tidak langsung, penderitaan ibunya Yati adalah disebabkan oleh mereka berdua.


"Lalu, apa rencanamu, Tama?" tanya Mr Andre.


"An-andree. A-ku, j-ika mas-ssih a-da umur, a-ku ing-iiin dat-tang ke ... ke mak-kam wan-itaku. Ib-bunya Yat-tiihh."


Dengan susah payah, Tuan Wasito mengungkapkan keinginannya yang sangat besar. Selama ini, ia tidak bisa mengatakannya kepada Yati karena keadaan mereka. Apalagi kelihatannya terus menurun, sampai mengalami stroke.


"Ok. Tapi, kamu harus sembuh dulu. Atau, kamu mau menjalani perawatan di sana?" tanya Mr Andre, memberikan penawaran.


"A-ku, ten-ntuu sa-ja ing-giin. T-api, kaa-uu t-ahu sen-ndiri, bag-gaiman-nnaaa ke-ada-aan di Sem-maraaang saat i-ni."


"Aku, akan membantumu memastikan semuanya di sini beres. Kita bisa ke Singapura, secepatnya, Tama!"


Mr Andre, memberikan semangat kepada Tuan Wasito, dengan iming-iming pergi ke Singapura untuk berubah dan berziarah ke makam ibunya Yati.


"Kamu, tenang saja Tama. Aku, pasti bisa menangkap pelaku utama."

__ADS_1


Tuan Wasito, hanya mengangguk-angguk saja, tahu bagaimana kinerja dari Mr Andre. Apalagi sekarang, Mr Andre bukanlah Mr Andre yang dulu. Tetapi jauh lebih kuat dengan segala kekuasaannya yang lebih besar, dibandingkan pada saat masa-masa muda mereka dulu.


***


Di ruang tamu, Yati dan Biyan membicarakan langkah ke depan dari hubungan mereka. Meskipun sudah mendapatkan restu dari almarhum mamanya Biyan, tentu mereka harus mengurus segala sesuatu yang lebih rinci sebelum memutuskan menikah.


"Apakah, kak Aji dan dengan masa laluku?" tanya Yati, yang masih merasa khawatir.


"Kamu, tidak perlu khawatir, mis Yeti. Mereka semua mendukungku," jawab Biyan, berharap supaya Yati tidak merasa berkecil hati.


Tapi, jauh di dalam hati dan pikiran Yati, tentu saja ia merasa khawatir dengan segala sesuatu yang berhubungan dengan masa lalunya.


Dengan pelan tapi pasti, Biyan mengambil tangan Yati, menggenggamnya dengan menganggukkan kepalanya. Ia berharap supaya Yati, tidak merasa ragu dengan segala keputusan yang mereka ambil.


"T-api, a-ku ... aku ..."


"Apakah kamu, mau tahu kenapa kemarin itu aku bersama dengan Mr Ginting?" tanya Biyan, mengalihkan perhatian di Yati.


Mendengar pertanyaan tersebut, Yati mengerjapkan matanya beberapa kali. Dia sampai lupa untuk bertanya tentang hal itu, padahal Ia belum mendapatkan jawaban karena memang tidak bertanya kepada Mr Ginting maupun Biyan pada saat itu.


"Aku, dihubungi dan diminta Mr Ginting untuk mengawalnya dalam perjalanan bisnis. Aku, awalnya tidak tahu jika kalian pernah ada hubungan ..."


Biyan, menceritakan semua yang sudah ia lakukan untuk Mr Ginting. Ia juga menceritakan bahwa semua itu karena profesionalisme, bukan karena kemauannya.


Tapi ia juga merasa bersyukur, sebab dengan mengawal Mr Ginting, ia bisa tahu rumah dan daerah Yati secara langsung dan pasti.


"Pencarian yang aku lakukan, ternyata didukung oleh alam. Benar, kan? Dan itu tandanya, kita memang berjodoh!"


Yati, tersenyum lebar mendengar perkataan Biyan yang begitu percaya diri. Tapi di dalam hatinya, ia juga merasa bersyukur karena akhirnya waktu telah membuktikan dan memberikan jawaban atas semua tanya dan doa-doanya.


"Tapi, aku harus menyelesaikan permasalahan di Semarang ini dulu, sebelum menikah. Apakah kamu, tidak apa-apa?" tanya Yati, khawatir jika Biyan tidak setuju.


"Bertahun-tahun lamanya aku sanggup menunggu waktu ini, masa tidak sanggup punya beberapa hari lagi?"

__ADS_1


Jawaban Biyan, membuat keduanya tertawa kecil. Dan ini adalah awal dari hubungan mereka yang terbuka, menuju hari-hari yang penuh cinta ke depannya nanti.


Lalu, apakah Mr Akihiko akan tinggal diam Yati, nantinya?


__ADS_2